NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Langit malam menggantung tenang di luar jendela kamar Arcelia. Cahaya lampu kota memantul samar di kaca, menciptakan bayangan lembut di dinding kamarnya.

Arcelia duduk di meja belajar, buku terbuka di depannya. Pena masih ia pegang, tapi tidak bergerak sejak lima belas menit lalu.

Tulisan di halaman itu hanya berisi satu baris.

Tidak selesai.

Pikirannya terus kembali pada percakapan yang ia dengar sore tadi.

"Kita sedang diserang."

Ia menghela napas pelan, menutup bukunya.

"...Diserang bagaimana maksudnya…?"

Ia bukan anak kecil lagi. Ia tahu kata itu jarang dipakai dalam urusan biasa.

Tapi keluarga Virellia juga tidak pernah terlihat seperti keluarga yang mudah goyah.

Setidaknya… selama ini.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Arcelia menoleh.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan. Mamanya berdiri di sana dengan senyum lembut yang selalu membuat Arcelia merasa tenang sejak kecil.

"Kamu belum tidur Sayang?"

Arcelia menggeleng kecil. "Masih ada tugas Ma."

Mamanya melangkah masuk, duduk di tepi tempat tidur Arcelia.

"Kamu kelihatan banyak pikiran."

Arcelia terdiam beberapa detik. Ia ingin bertanya. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi melihat wajah ibunya yang terlihat sedikit lelah, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

"...Sekolah agak capek hari ini Ma."

Mamanya menatapnya lembut, seolah tahu Arcelia tidak sepenuhnya jujur… tapi memilih tidak memaksa.

"Kamu harus istirahat yang cukup ya Sayang."

Ia mengusap pelan rambut putrinya sebelum berdiri.

Arcelia menatap punggung ibunya saat wanita itu keluar kamar. Perasaan hangat bercampur rasa bersalah muncul bersamaan.

"...Kenapa rasanya aku malah takut bertanya…?" pikirnya

Pagi berikutnya datang lebih cepat dari yang Arcelia harapkan.

Ia turun ke ruang makan dengan langkah sedikit lambat. Aroma kopi dan roti panggang sudah memenuhi ruangan, tapi suasananya terasa berbeda.

Papanya duduk dengan ekspresi lebih serius dari biasanya. Tablet bisnisnya terbuka, layar menampilkan grafik yang bergerak naik turun. Kaiven sedang berbicara pelan dengannya. Nada suaranya terkendali… tapi tegang.

Mirella Mamanya, menata meja makan seperti biasa, berusaha menjaga suasana tetap normal. Elvarin duduk sambil menggoyang-goyangkan kaki, tidak terlalu menyadari perubahan suasana.

"Pagi Pa, Ma, Abang, Adek," sapa Arcelia pelan.

Semua menoleh hampir bersamaan.

"Pagi Sayang," jawab Papa mamanya, senyumnya muncul lebih terang dari biasanya.

“Pagi Dek/Kak" jawab abang dan adek nya bersamaan

Arcelia duduk, mulai menyuap sarapannya perlahan. Suara sendok beradu dengan piring terdengar lebih jelas karena percakapan hampir tidak ada.

Ia melirik papanya.

Papanya menatap layar tablet, rahangnya sedikit mengeras.

Arcelia menunduk lagi.

"...Ini bukan perasaanku saja." batinnya

Sekolah hari itu terasa seperti pelarian kecil baginya. Setidaknya di sana, ia bisa berpura-pura semuanya masih normal.

Saat Arcelia masuk kelas, ia langsung melihat Kaelion sudah duduk di tempatnya. Buku terbuka, pena bergerak menulis sesuatu dengan fokus penuh.

Ia duduk di kursinya tanpa bicara. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang aneh tapi tidak canggung.

"Kamu kelihatan lelah."

Arcelia menoleh cepat. Ia tidak sadar Kaelion memperhatikannya.

"Hanya kurang tidur."

"Kamu banyak pikiran."

Itu bukan pertanyaan. Pernyataan.

Arcelia menatapnya beberapa detik, sedikit heran bagaimana pria itu bisa membaca ekspresinya seakurat itu.

"Kamu juga kelihatan seperti orang yang jarang tidur."

Kaelion tidak langsung menjawab. Ia menutup bukunya perlahan.

"Aku terbiasa."

Jawaban singkat itu membuat Arcelia mengangkat alis sedikit.

"...Orang ini misterius sekali."

Suara hatinya bergumam.

Pelajaran berlangsung seperti biasa, tapi Arcelia menyadari sesuatu. Kaelion bukan hanya pintar… ia cepat menangkap materi bahkan sebelum guru selesai menjelaskan. Setiap kali guru mengajukan pertanyaan sulit, jawabannya selalu singkat dan tepat.

Tanpa pamer.

Tanpa emosi.

Hal itu membuat banyak siswa mulai memperhatikannya. Dan bisikan-bisikan kecil mulai terdengar lagi di sekitar kelas.

Saat istirahat, Arcelia duduk di bangku taman sekolah, membuka kotak makan yang Mamanya siapkan. Angin siang berhembus pelan, membawa aroma rumput segar.

Ia baru saja menggigit roti isi ketika seseorang duduk di sebelahnya.

Kaelion.

Arcelia menoleh, sedikit terkejut tapi tidak menolak keberadaannya. Beberapa detik mereka hanya duduk diam. Suara siswa lain bercampur tawa terdengar samar di kejauhan.

"Kamu dekat dengan keluargamu," kata Kaelion tiba-tiba.

Arcelia menatapnya. "Kenapa kamu bilang begitu?"

"Kamu selalu bicara tentang mereka tanpa sadar."

Arcelia terdiam.

Ia tidak sadar melakukan itu.

"...Aku memang dekat," jawabnya pelan.

Kaelion menatap halaman taman di depan mereka.

"Itu bagus."

Nada suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. Hampir… seperti seseorang yang berbicara dari pengalaman pribadi. Arcelia ingin bertanya. Tapi nalurinya mengatakan pria itu tidak akan menjawab.

Sore hari,

Arcelia pulang lebih awal karena latihan dibatalkan. Begitu ia masuk rumah, ia melihat Kaiven berdiri di ruang tamu, sedang berbicara melalui telepon dengan nada suara tertahan.

"...Aku bilang, hentikan penyebaran berita itu sekarang."

Ia berhenti bicara saat melihat Arcelia.

Kaiven langsung menutup telepon.

"Kamu sudah pulang Dek?"

Arcelia mengangguk. "Bang… ada apa sebenarnya?"

Kaiven menatapnya beberapa detik. Ekspresinya melembut.

"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan Dek." Jawaban klasik.

Dan Arcelia tahu itu.

"Bang."

Nada suaranya lebih pelan kali ini.

"Aku bukan anak kecil lagi."

Kaiven menghela napas, mengusap rambutnya frustasi.

"Abang tahu."

Hening beberapa detik.

"Tapi tugas kami melindungi Mama, kamu dan Varin Dek."

Kalimat itu terdengar tulus. Tapi juga… membuat jarak yang tidak disukai Arcelia.

Malam itu,

Arcelia berdiri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu rambutnya pelan. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan. Ia menyandarkan tangan di pagar balkon.

"...Kalau keluarga kita benar-benar dalam masalah…"

Ia menatap langit gelap.

"...Aku tidak mau hanya diam."

Untuk pertama kalinya, tekad kecil mulai tumbuh di dalam dirinya.

Belum besar.

Belum kuat.

Tapi cukup untuk membuatnya sadar… Ia ingin tahu kebenaran. Dan apa pun yang terjadi nanti… Ia ingin berdiri bersama keluarganya.

Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Arcelia masih berdiri di balkon kamarnya, memandangi jalanan kota yang mulai sepi. Lampu kendaraan yang melintas terlihat seperti garis cahaya yang bergerak perlahan di kejauhan. Tangannya menggenggam pagar balkon lebih erat tanpa sadar.

Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa gelisah seperti ini. Biasanya, rumah adalah tempat paling tenang baginya. Tempat di mana semua masalah terasa lebih ringan.

Tapi sekarang…

Rumah justru terasa penuh rahasia. Suara pintu balkon terbuka membuat Arcelia menoleh.

Kaiven berdiri di sana, membawa dua gelas cokelat hangat. Uap tipis mengepul dari permukaannya.

"Dek kamu kalau banyak pikiran, selalu berdiri di sini," katanya santai.

Arcelia menerima gelas yang disodorkan Abangnya.

"Abang juga sering memperhatikan aku ternyata ya."

Kaiven tersenyum tipis, lalu bersandar di pagar balkon di sampingnya. Beberapa detik mereka hanya diam, menikmati hangat minuman dan suara angin malam.

"Bang," Arcelia akhirnya membuka suara.

"Kenapa Dek?"

"Bisnis keluarga kita… sedang ada masalah, ya Bang?"

Kaiven tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan di bawah mereka, ekspresinya sulit dibaca.

"Kamu dengar sesuatu Dek?"

Arcelia ragu sejenak.

"...Sedikit."

Kaiven menghela napas panjang.

"Bukan masalah kecil," katanya pelan.

Jantung Arcelia berdegup lebih cepat.

"Tapi juga bukan sesuatu yang tidak bisa kita hadapi."

Nada suaranya terdengar berusaha meyakinkan… bukan hanya Arcelia, tapi mungkin dirinya sendiri.

"Ada yang mencoba menjatuhkan perusahaan kita Dek," lanjut Kaiven.

Arcelia menatap Abangnya, matanya membesar sedikit.

"Dengan cara?"

"Rumor. Manipulasi kontrak. Tekanan ke mitra kerja."

Arcelia menggigit bibirnya pelan.

"...Siapa Bang?"

Kaiven menggeleng. "Itu belum pasti Dek."

Jawaban itu justru membuat perasaan Arcelia semakin berat.

"Kamu tidak perlu ikut memikirkan ini," kata Kaiven lagi.

Arcelia menatap Abangnya tajam.

"Tapi, aku juga bagian dari keluarga ini Bang."

Kaiven tersenyum kecil. Ada rasa bangga di matanya.

"Iya, Abang tahu."

Ia mengusap kepala Arcelia seperti kebiasaannya sejak mereka kecil.

"Tapi kamu tetap Adek Abang."

Arcelia mendengus pelan.

"...Kalimat itu tidak membantu."

Kaiven tertawa kecil, sesuatu yang akhir-akhir ini jarang Arcelia dengar.

Malam semakin larut setelah Kaiven kembali ke kamarnya. Arcelia duduk di tempat tidur, menatap ponselnya tanpa benar-benar membaca apa pun. Pikirannya terus berputar.

Rumor bisnis.

Tekanan mitra.

Serangan tersembunyi.

Semua terdengar seperti cerita orang dewasa yang biasanya jauh dari kehidupannya.

Tapi sekarang…

Ia berada tepat di tengahnya.

Keesokan paginya,

Arcelia bangun lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menghela napas panjang sebelum berdiri.

"...Aku harus tetap normal."

Ia bergumam pelan, mencoba menata pikirannya.

Ruang makan pagi itu kembali dipenuhi aroma makanan hangat. Mamanya sedang menuangkan teh, sementara Papanya membaca laporan bisnis dengan ekspresi serius seperti hari sebelumnya.

Namun kali ini, Arcelia memperhatikan lebih detail. Lingkaran tipis di bawah mata papanya. Gerakan Mamanya yang sedikit lebih pelan dari biasanya.

Kaiven yang terus memeriksa ponselnya. Hal-hal kecil yang dulu mungkin tidak ia sadari. Sekarang terasa jelas.

"Kamu kelihatan semangat pagi ini," kata Mama Mirella sambil tersenyum.

Arcelia membalas senyum itu.

"Aku cuma bangun lebih cepat."

Ia duduk, mulai menyantap sarapannya. Elvarin bercerita tentang kegiatan sekolahnya dengan penuh semangat, membuat suasana sedikit lebih hidup. Arcelia bersyukur adiknya belum merasakan ketegangan yang sama.

Sekolah terasa lebih sibuk hari itu. Beberapa siswa membicarakan acara kompetisi antar sekolah yang akan datang. Poster kegiatan mulai ditempel di lorong-lorong.

Arcelia berjalan menuju kelas sambil membaca pengumuman itu sekilas.

Ia hampir menabrak seseorang saat berbelok di lorong.

"Maaf—"

Ia berhenti.

Kaelion berdiri tepat di depannya.

"Kamu terlihat melamun," katanya datar.

Arcelia menghela napas kecil. "Kebiasaan buruk."

Mereka berjalan bersama menuju kelas tanpa rencana, langkah mereka otomatis searah.

"Kamu tidak latihan kemarin?" tanya Arcelia.

"Ada urusan keluarga."

Jawaban itu membuat Arcelia menoleh sedikit.

Nada suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.

"Kamu dekat dengan keluargamu?" tanya Arcelia tanpa sadar.

Kaelion terdiam beberapa detik.

"Cukup."

Jawaban singkat. Tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Arcelia merasa itu bukan jawaban sederhana.

Ia tidak bertanya lagi.

Saat pelajaran berlangsung, guru tiba-tiba mengumumkan pembagian kelompok proyek semester.

"Kelompok ditentukan berdasarkan undian."

Suara keluhan kecil langsung terdengar dari beberapa siswa. Arcelia duduk tegak, menunggu namanya dipanggil.

"Arcelia Virellia…"

Ia mengangkat tangan sedikit.

"...Kaelion Ravert…"

Arcelia menoleh refleks.

"...dan dua anggota lainnya."

Beberapa siswa mulai berbisik lagi. Arcelia hanya menatap papan tulis, mencoba tetap tenang.

"...Kebetulan sekali."

Suara hatinya bergumam.

Setelah kelas selesai, mereka berkumpul untuk membahas proyek. Dua anggota lainnya lebih banyak membicarakan pembagian tugas, sementara Arcelia dan Kaelion memperhatikan dengan tenang.

"Aku bisa bagian riset," kata Arcelia.

"Aku bagian analisis data," tambah Kaelion singkat.

Pembagian tugas berlangsung cepat dan efisien. Arcelia meliriknya sekilas.

"...Kerja sama dengannya terasa mudah."

Ia sendiri sedikit terkejut dengan pikiran itu.

Sore harinya,

Arcelia pulang dengan perasaan sedikit lebih ringan dibanding hari sebelumnya. Namun perasaan itu tidak bertahan lama.bSaat ia memasuki rumah, ia melihat Mama Mirella duduk di ruang tamu dengan ekspresi yang jarang Arcelia lihat.

Cemas.

"Ma…?" panggil Arcelia pelan.

Mama Mirella langsung menoleh, mencoba tersenyum.

"Kamu sudah pulang Sayang."

"Ada apa Ma?"

Mirella ragu sejenak sebelum menjawab.

"Papa kamu dipanggil rapat darurat dengan dewan perusahaan."

Jantung Arcelia terasa seperti jatuh.

"Masalahnya serius?"

Mama Mirella mengangguk pelan.

Arcelia menatap lantai, merasakan perasaan berat kembali memenuhi dadanya.

Malam itu,

Arcelia duduk di kamarnya, menatap buku proyek sekolah yang terbuka. Tapi pikirannya jauh dari tugas itu. Ia teringat ucapan Kaiven semalam.

"Ada yang mencoba menjatuhkan perusahaan kita."

Arcelia menutup bukunya perlahan.

"...Siapa pun mereka…"

Ia menatap jendela kamarnya, melihat bayangan dirinya sendiri di kaca.

"...Aku tidak akan membiarkan keluarga kita jatuh."

Tekad itu terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Dan tanpa Arcelia sadari… Langkah kecil yang ia ambil hari ini, akan membawanya jauh lebih dalam ke masalah yang belum ia pahami sepenuhnya.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!