Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Meski di tengah gencarnya berita miring mengenai Vania, hadis itu tetap profesional terhadap pekerjaannya, ia juga merasa apa yang terjadi sekarang bukan kesalahannya. Vania bisa kembali percaya diri di depan kamera karena banyak dukungan dari orang-orang di sekitarnya termasuk para fans nya.
Vania berharap dengan menyibukkan diri dns fokus pada pekerjaannya ia bisa kembali bangkit dari rasa sakit. Ia muak jika terus berlarut-larut dalam rasa sakit atas pengkhianatan Deo. Vania juga ingin membuktikan jika ia bisa baik-baik saja setelah berpisah dengan Deo, ia juga ingin membuktikan kalau ia bisa jadi sukses sebagai wanita mandiri. Ia mulai terbiasa dengan status barunya dan mulai menikmati masa sendiri.
"Ayo kita mulai," ucapnya mantap. Ketika kamera mulai berputar, Vania dengan lancar memperkenalkan produk kecantikan yang akan dia ulas. Setiap gerakannya penuh percaya diri, seolah-olah tidak ada badai yang sedang ia hadapi. Tangannya yang lentik menunjukkan penggunaan produk dengan cara yang menarik, sementara suaranya yang merdu menyampaikan manfaat dan keunggulan produk dengan jelas. Di balik layar, beberapa rekan kerjanya memberikan dukungan dengan tepuk tangan setelah setiap take. Mereka tahu betapa kerasnya Vania berjuang melawan rasa sakit akibat pengkhianatan Deo, mantan tunangannya. Namun di sini, di studio ini, dia adalah ratu kecantikan yang tidak tergoyahkan.
Begitu semuanya selesai, Vania menghela napasnya lantas tersenyum senang. Laras sebagai asisten yang sudah lama menemani Vania peka, dia mengambil ponselnya untuk memesan makanan dan minuman untuk Vania. Tak lama berselang makanan dan minuman yang di pesan Laras sampai.
Vania duduk di sofa, kemudian dia mengambil minuman yang susah di sediakan oleh asistennya. Berbicara banyak di depan kamera membuat tenggorokannya kering, sehingga perlu minum untuk kembali menyegarkan tenggorokannya. Ia menghela napas lega begitu merasakan sejuk dari minuman dan AC.
"Vania, tadi Deo hubungin kamu. Dia coba telepon sama video call, tapi sama mbak gak keangkat," ucap Rika sembari memberikan ponsel Vania.
"Iya gak apa-apa, gak usah diangkat sekalian mba. Lagipula gak penting juga." Ujar Vania ketus.
Jemari Vania sibuk menyentuh layar ponselnya, ia membuka akun sosial medianya, banyak sekali notifikasi dari akunnya, namun ia enggan untuk membukanya. Ia hanya penasaran dengan isi pesan yang Deo kirim untuknya.
Deo_prsty
Vania, aku mau minta maaf, aku banyak berbuat salah sama kamu. Aku salah karena dekat lagi sama Karina. Tapi tolong gak gini caranya, kamu upload semua bukti. Fans kamu jadi nyerang aku dan Karina sekarang. Aku mau damai sama kamu.
Vania mendengus melihat pesan dari Deo. " Dasar laki-laki brengsek, giliran dia yang di serang mohon-mohon. Kemarin aja aku yang di serang dia malah playing victim. Salah dia sendiri juga, rasain tuh di serang balik sama netizen," gerutu Vania saat membaca pesan dari Deo.
Ternyata bukan hanya pesan pribadi dari Deo saja, di antara banyak pesan yang masuk ada juga orang pribadi dari Karina.
Karina_
Vania, aku mohon hentikan. Aku minta maaf karena udah hadir di hidup Deo dan buat hubungan kalian renggang. Aku gak sanggup hadapin hujatan orang-orang. Sekarang, aku terkesan jadi perebut di mata orang-orang. Kita damai aja ya, aku akan jelasin semuanya ke kamu. Kita belum pernah ketemu bisa aja semua ini hanya salah paham.
Sekali lagi Vania mendengus. "Kemarin pas banyak yang hujat aku, kalian diem aja kan? Pasti saat itu kalian merasa aman karena perselingkuhan kalian tertutup, sekarang setelah semuanya kebongkar, tiba-tiba kalian hubungi aku dan minta damai. Kalian pikir aku akan peduli, enak aja."
Vania enggan membalas pesan dari Deo maupun Karina. Ia beralih ke sosial media yang lain. Ada pesan dari grup alumni SMA nya, begitu dilihat pesan yang masuk di grup itu sudah mencapai ratusan. Mereka terkejut mendapati kabar pertunangannya yang batal karena adanya orang ketiga.
SMAN angkatan 34
Vania, apa kabar? Yang ada di berita itu bener? Aku kaget Lo liatnya.
Van, sumpah gak nyangka banget. Tenang, aku yakin kamu pasti akan dapat laki-laki yang lebih baik.
Cowok mana lagi yang harus aku percaya. Cowok spek Deo yang romantis banget aja ternyata aslinya sungguh sangat tidak terduga.
Gue cowok, gue minta tolong buat gak sama ratakan kami dengan cowok brengsek kayak Deo. Najis, gak sudi banget gue.
Kamu tau? Kamu baru aja nonton podcast klarifikasi kamu. Beneran gak nyangka banget.
Vania membaca satu persatu pesan dari teman-temannya, ia pikir teman-temannya akan memojokkan dirinya. Tenyata dia salah, justru mereka banyak yang mendukungnya, membuat Vania merasa terharu. Vania bingung ingin membalas apa, ia bahkan nyaris menitikkan air mata karena rasa peduli teman-temannya, ia tak menyangka ternyata mereka percaya kepadanya.
Vania
Terima kasih buat kalian yang masih percaya sama aku, gak nyangka banget. Maaf aku baru bisa balas pesan kalian karena memang butuh waktu untuk menyendiri dan sekarang aku baik-baik aja. Makasih banyak ya kalian.
Ketika Vania sedang asyik membaca pesan satu teman-temannya, ada panggil masuk dari nomor tak di kenal. Gadis itu sedikit was-was, khawatir jika yang meneleponnya adalah Deo. Ia memilih untuk menolak panggilan tersebut, tapi tak lama berselang nomor asing itu kembali meneleponnya. Akhirnya Vania memberanikan diri menerima telepon dari nomor asing itu.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Vania.
"Apa benar ini dengan Vania Zahira?" Ucap seorang pria dari sebrang sana.
"Halo mbak? Mbak dengar saya?"
"Ah iya, ada apa ya pak?"
"Saya dari kepolisian mau memberi tahu kalau orang tua anda dan beberapa orang yang bersma mereka sedang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan."
Vania terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan laki-laki di seberang telepon yang mengakui sebagai polisi itu. " Bapak jangan sembarang ngomong ya, kalau bapak mau nipu gak gini caranya, pak." Sentak Vania.
Belum sempat Vania mendengar jawaban dari laki-laki itu. Salah atau staf managemen menghampirinya. " Van, euuum anu ada yang ngabarin gue kalau orang tua dan beberapa staf yang ngawal mereka mengalami kecelakaan sekarang mereka di rumah sakit."
Vania sontak menoleh ke tim managemen. Seketika lidahnya kelu, matanya terbelalak dan sekujur tubuhnya menjadi kaku. Percakapannya dengan pihak kepolisian diakhiri tanpa sepatah katapun. Napas Vania mulai sesak mendengar kabar buruk mengenai kedua orang tuanya.
"Salah kali itu, aku mau tunggu kabar dari mamah dan papah, mereka pasti baik-baik aja," elak Vania.
"Mba, yang sabar ya. Yang dibilang mas itu bener. Ibu sama bapak mengalami kecelakaan, mobil yang dipakai juga memang mobil yang digunakan untuk mengantar bapak dan ibu selama di sana," kata Laras seraya memeluk Vania.
"Gak! Mamah dan papah bilang mereka akan baik-baik aja. Kayaknya kabar itu salah deh, mereka pasti nipu Ras."
Salah satu tim managemen Vania menunjukkan foto kerusakan mobil staf papanya yang terlihat setengah hancur. Mata Vania membulat begitu melihat foto itu, matanya memerah menahan tangis. Ia tercengang ketika melihat bagian kerusakan pada mobil di posisi tengah mobil yang artinya kendaraan lain menabrak bagian tengah mobil yang membawa papahnya.
Vania menjadi sesak napas, tubuhnya terkulai lemas hingga jatuh dari sofa. Di saat masalahnya dan Deo belum sepenuhnya selesai, ada lagi cobaan yang menimpanya hari ini.
"Ras, cepat pesan tiket pesawat kita berangkat hari ini, kita susul mamah dan papah." Titah Vania.
"Kita ke rumah dulu ya mbak, kita packing sekalian ganti baju dulu,"ujar Laras.
" Gak usah! Aku mau kita berangkat sekarang. Cepet cari tiket pesawat atau kereta sekarang juga, ini menyangkut papah dan mamah!"
Kedua asistennya dan dua staf yang mendampingi Vania bergegas dengan penuh kecemasan. Mereka berusaha keras mencari tiket pesawat atau kereta dengan keberangkatan paling mendesak. Sebagian dari mereka berusaha menghubungi supir pribadi Vania, berbicara dengan nada mendesak pada supir pribadi Vania agar segera datang dan membawa mereka ke Bandara atau stasiun. Sementara yang lainnya bergerak cepat merapihkan dokumen dan barang penting yang diperlukan Vania.
Setelah persiapan mereka rampung, mereka menggotong Vania yang tubuhnya lemas, kaki-kakinya terasa tak berdaya, seolah tiada pijakan di lantai. Langkah mereka tergesa-gesa meninggalkan studio, menuju ke luar ke udara terbuka yang dingin. Di luar, cahaya matahari yang pucat menerpa wajah pucat Vania yang tiba-tiba menjerit kesakitan. Tangisannya pecah, seraya ia menatap langit yang tak berawan dengan raut muka yang hancur lebur. Realisasi pahit menyeruak dalam benaknya, menyadarkan dirinya akan tragedi mengerikan yang dialami kedua orang tuanya. Kecelakaan maut itu bukan sekadar mimpi buruk, melainkan kenyataan yang harus dihadapinya. Kedua orang yang paling dicintainya, terenggut dalam sekejap, meninggalkan dirinya dalam gumpalan kesedihan yang tak terperi.