NovelToon NovelToon
KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor
Popularitas:128.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan semakin dekat

"Ayah? Ibu?"

Arga terperanjat saat daun pintu terbuka. Di hadapannya, Pak Harun dan Bu Sulis berdiri dengan senyum hangat. Mereka datang menggunakan taksi online, membawa tumpukan kardus dan buah tangan yang melimpah, kebiasaan khas orang tua Laras yang tak ingin putri sulung mereka kekurangan apa pun di perantauan.

"Arga, apa kabar?" sapa Bu Sulis ramah.

"Baik, Bu. Eh, mari masuk. Kok mendadak sekali? Tidak memberi kabar dulu kalau mau datang." jawab Arga, memasang topeng menantu idaman yang ramah, meski dalam hati ia menggerutu. Baginya, kedatangan mertuanya hanya berarti gangguan.

Arga membantu mengangkut kardus-kardus berat itu. Sebagian ia biarkan di teras karena tangannya tak sanggup membawa sekaligus.

"Laras mana, Ga?" tanya Bu Sulis sembari mengedarkan pandangan ke ruang tamu yang tampak sedikit berantakan.

"Ada di kamar, Bu. Baru saja pulang kerja, mungkin sedang mandi." sahut Arga pendek sebelum kembali ke depan untuk mengambil sisa barang.

Di ambang pintu kamar lain, Bu Ajeng mengintip dengan kening berkerut. Begitu menyadari siapa yang datang, ia mendengus sinis." Hah, orang tua Laras? Mau apa lagi besan kampung itu ke sini? Malas sekali aku harus meladeni mereka." batinnya ketus.

Arga masuk kembali membawa dua karung beras hasil panen kebun cengkeh mertuanya dan satu plastik besar yang isinya tampak padat.

"Bu, temui dulu itu orang tua Laras." bisik Arga pada ibunya.

"Ogah, ah. Enggak level Ibu ngobrol sama orang kampung." cetus Bu Ajeng ketus.

"Jangan begitu, Bu. Biar mereka dari kampung, tapi kalau datang selalu bawa harta karun. Lihat itu, ada beras dua karung, minyak satu dus dan entah apa lagi di plastik itu. Ini cukup untuk stok kita tiga bulan. Ibu juga senangkan kalau stok dapur melimpah? Nanti sebagian bisa Ibu kasih ke Mbak Ratih." bujuk Arga dengan suara rendah.

Mendengar kata "stok makanan gratis", mata Bu Ajeng sedikit berbinar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu memasang wajah formal dan melangkah ke ruang tamu.

"Eh, ada tamu. Kok datangnya tiba-tiba begini, Bu Sulis?" sapanya tanpa basa-basi.

"Iya, Bu Ajeng. Mumpung ada perlu di kota, sekalian mampir. Apa kabar? Sudah lama ya kita tidak berbincang." balas Bu Sulis tetap hangat, meski disambut dengan nada dingin.

"Kabar saya selalu baik. Bagaimana mau ketemu, Bu? Ibu jarang ke sini dan saya pun mustahil mau ke kampung Ibu. Cukup sekali saja waktu acara pernikahan empat tahun lalu, saya sudah kapok. Jalannya rusak, suasananya tidak nyaman." ucap Bu Ajeng dengan nada merendahkan.

Bu Sulis tersenyum tipis, melirik suaminya yang memilih diam. Mereka sudah hafal tabiat besan mereka yang merasa paling tinggi itu, padahal mereka tahu persis siapa yang sebenarnya menumpang di sini.

Sementara itu di kamar utama, Laras baru saja selesai mandi ketika Arga masuk.

"Ras, ada orang tuamu di depan." lapor Arga.

Laras tersentak. "Ayah sama Ibu? Kok tidak bilang-bilang?" Laras panik. Bukan karena ia tak senang, melainkan karena kondisi rumah sedang kacau. Kulkas hampir kosong dan dapur berantakan. Ia tak ingin orang tuanya melihat sisi kelam rumah tangga yang ia tutupi selama empat tahun ini.

"Mas, tolong kamu keluar belanja makanan. Di rumah tidak ada apa-apa untuk makan malam." pinta Laras.

"Cek saja barang bawaan orang tuamu itu. Pasti ada yang bisa dimasak cepat. Aku malas keluar, mau mandi dulu." ketus Arga sambil menyambar handuk.

Laras menghela napas, lalu bergegas keluar menemui orang tuanya. "Ayah, Ibu... maaf, Laras baru selesai mandi." ucapnya sambil mencium takzim tangan kedua orang tuanya.

"Baru saja sampai, nduk." jawab Pak Harun lembut.

"Ras, sana buatkan minum. Orang tua datang kok dicuekin. Beginilah kalau tidak diingatkan, Bu Sulis, Laras ini sering tidak peka. Di rumah kulkas kosong saja dia diam saja." timpal Bu Ajeng sengaja menyudutkan Laras di depan orang tuanya.

Pak Harun dan Bu Sulis hanya saling pandang. Mereka tahu putri mereka tidak mungkin se-kikir atau se-ceroboh itu dalam mengurus rumah jika tidak ada tekanan lain.

"Ayah, Ibu, Laras ke dapur sebentar ya. Ibu , tolong temani Ayah dan Ibu mengobrol dulu, Laras mau menyiapkan makan malam." pamit Laras dengan sopan.

Di dapur, Laras tertegun melihat gunungan logistik dari orang tuanya. "Sebanyak ini? Ibu pikir aku mau buka toko kelontong?" gumamnya. "Kalau tidak segera aku simpan, pasti habis dijarah Mbak Ratih atau Mbak Maya."

Ia segera menyeduh teh, lalu memanggil Arga yang baru keluar kamar mandi.

"Mas, bawa teh ini ke depan. Aku mau membereskan dapur. Oh ya, tolong bilang ke Ibu, malam ini Tiara tidur di kamar Ibu dulu. Kamarnya mau dipakai Ayah dan Ibu. Kalau Ibu keberatan, bilang padanya aku tidak segan meminta mereka berdua yang pindah dari rumah ini." ancam Laras dingin.

Arga terdiam. Ia tidak berani membantah karena malam ini ia punya misi khusus, meminjam uang pada Laras untuk mahar pernikahan sirinya dengan Angel minggu depan, emas 30 gram dan uang tunai 50 juta.

**

Sambil menunggu magrib, Bu Ajeng sibuk dengan ponselnya. Sebuah pesan masuk dari temannya.

[Bu Ajeng, jadi ikut ke Bali tidak? Tinggal Ibu saja yang belum bayar tiket. Besok mau saya booking. 15 orang lainnya sudah lunas. Kalau tidak jadi, kabari segera.]

Bu Ajeng menggigit bibir. Ia tidak punya uang karena Laras belum memberikan jatah tambahan, sementara utang Dimas sebesar 25 juta dan utang Maya 15 juta pada Laras belum juga dibayar.

"Maaf ya Pak, Bu, saya balas pesan arisan dulu. Biasa, teman-teman mengajak liburan ke Bali hari Minggu besok." ucap Bu Ajeng sombong. "Sebenarnya rencana awal mau ke Jepang, tapi ada kendala soal password teman-teman, jadi tertunda."

Pak Harun menahan tawa. "Maksud Ibu, paspor?"

"Eh, iya itu maksud saya. Maklum, banyak pikiran. Ngomong-ngomong, Pak Harun dan Bu Sulis sudah pernah ke luar negeri?"

"Pernah, dulu ke Jepang saat merayakan kelulusan SMA Laras." jawab Pak Harun santai.

Bu Ajeng mencibir, "Halah, paling ke Jepang jadi TKI, kan? Atau jangan-jangan cuma ke 'Kampung Jepang' di kota sebelah naik bus umum? Sudah, miskin mah miskin saja, tidak usah malu di depan saya."

Pak Harun dan Bu Sulis hanya bisa mengelus dada. Mereka memilih diam, tidak ingin merusak suasana dengan pamer bahwa rumah mewah yang ditempati Bu Ajeng sekarang sebenarnya adalah hadiah ulang tahun untuk Laras, yang dengan lancangnya diakui Arga sebagai hasil keringatnya sendiri.

"Ayah, Ibu... ayo istirahat dulu ke kamar. Sebentar lagi magrib." ajak Laras yang muncul dari dapur, memotong kesombongan ibu mertuanya.

1
Ariany Sudjana
haha Bu Ajeng jadi gembel 🤣🤣
Anyelir
oh iya kak, mampir yuk ke ceritaku juga kalau kakak berkenan
Noona Rara: Okay kak. Makasih juga sudah baca novelku
total 1 replies
Anyelir
Selamat Arga, semoga semakin sukses kedepannya dan dapat jodoh yang baik
Anyelir
salah sendiri kamu selingkuh ratih. padahal dimas udah memanjakanmu sampai korupsi di kantor
tapi malah sekarang kamu ditinggal sama selingkuhanmu
Uthie
Ekhemm.. Damar 😂😁
Uthie
Tuhhh kan bener.. dasar manusia licik 😡
Uthie
Wadduuhhhh... sepertinya tuhh si Bu Ajeng nikah sama Ayahnya Arga dengan warisan bapaknya dehhh ... dan bisa jadi Dinas dan Maya adalah anak bawaan Bu Ajeng dan suami pertamanya dulu... sedang Tiara mungkin adik SE ayah dengan Arga baru 🤨🤨🤨
Ariany Sudjana
congrats yah Arga, tetap bekerja dengan baik dan jadi berkat bagi tempat kerja kamu
Uthie
settujjju 👍😁😁
Ariany Sudjana
Maya kamu bodoh, kamu menjual semua barang, dab dihabiskan di meja judi. bukan Rangga yang tidak berguna, tapi kamu yang ga berguna jadi istri. setelah bangkrut dan habis semua, apalagi yang akan kamu jual untuk judi? owh masih ada diri kamu yah, laku pasti 🤣🤣😂😂
Lee Mbaa Young
Mau bgaimanapun nnti aku wes gk sreg kl Laras ma Damar.
wes gk banget soale nikah ae ortu ikut campur dan Damar 👎👎👎.
wes males pokok lek ortu ikut campur trus anak gak mandiri harta punya ortu wes big no banget.
Anyelir
plot twist banget bu sukma itu
Ariany Sudjana
hahaha gimana rasanya Ratih? kamu sudah mengkhianati Dimas demi hadi, dan sekarang hadi memutuskan hubungan dengan kamu 😂😂
Lee Mbaa Young
Rangga kalah ma istri sdh sprti itu gk cerai saja ttp bertahan. sebentar lagi miskin km, kayaknya naya ngambil surat rumah buat di gadai.
pdhl tau istri nya sprti itu tp ttp bertahan ya wasalam.
Uthie
Hahaha....penipu pantas nya memang sesama penipu saja 😏
Uthie
tinggal menunggu waktu😡
Ariany Sudjana
owh ternyata Bu Sukma membalaskan dendam kakaknya ke Bu Ajeng? masalahnya apa yah? apa sudah pernah diceritakan sebelumnya? saya sepertinya terlewat
Uthie
biar hancur akibat ulahnya sendiri 😏😏😡
Uthie
segera di tampar kebenaran tuhhhh mereka 😡
Uthie
bunga segera sampah-sampah itu 👍😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!