di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Runtuhnya Emas, Bangkitnya Asura
Langit di atas Hutan Tulang Kering seolah terbelah.
Cahaya keemasan yang menyilaukan memancar dari tubuh Tetua Li yang melayang di udara. Ratusan pedang energi emas yang terbentuk di belakang punggungnya bergetar, mengeluarkan suara dengungan yang membuat telinga sakit.
"Ye Yuan! Kau telah mencabut akar keluargaku! Malam ini, aku akan mencabut nyawamu, menguliti tulangmu, dan membakar jiwamu dalam lentera abadi!"
Tetua Li meraung, kewarasannya sudah lama hilang. Dia mengarahkan jarinya ke bawah.
"Hujan Pedang Emas: Pemusnahan!"
Wuuush! Wuuush! Wuuush!
Ratusan pedang energi itu meluncur turun seperti hujan meteor. Kecepatannya jauh melebihi panah, kekuatannya cukup untuk menembus baja setebal sepuluh senti.
Di bawah sana, Ye Yuan mendongak. Angin tekanan dari serangan itu sudah merobek sisa pakaian di tubuh bagian atasnya, memperlihatkan dada bidangnya yang kini berwarna perunggu gelap.
Dia tidak bisa lari. Area cakupannya terlalu luas.
"Kalau begitu, hancurkan saja."
Ye Yuan memutar pedang patahnya. Api biru Bintang Dingin menyala di sepanjang bilah hitam itu, menciptakan perisai pusaran api dan es.
[Sutra Hati Pedang Asura: Benteng Neraka!]
BUM! BUM! BUM! BUM!
Hujan pedang emas menghantam perisai putaran Ye Yuan. Ledakan demi ledakan mengguncang hutan. Tanah di sekitar Ye Yuan ambles sedalam tiga meter, menciptakan kawah raksasa. Debu dan serpihan energi emas beterbangan liar.
Ye Yuan merasakan setiap hantaman itu. Tulang lengannya bergetar hebat. Darah merembes dari pori-pori kulitnya. Perbedaan empat tingkat kultivasi (Level 1 vs Level 5) adalah jurang yang sangat dalam. Qi Tetua Li jauh lebih padat dan melimpah.
"Hahaha! Bertahanlah! Teruslah menari seperti tikus!" tawa Tetua Li menggema.
Dia tidak berhenti. Dia terus memborbadir Ye Yuan dengan gelombang Qi, memaksa pemuda itu tetap bertahan di posisi defensif.
Di dalam kawah debu, Ye Yuan menggertakkan gigi. Kakinya terbenam ke dalam tanah sampai lutut.
"Dia mencoba menguras tenagaku sampai mati," analisis Ye Yuan cepat. "Aku tidak bisa menang dalam adu stamina."
Dia harus mengambil risiko.
Ye Yuan tiba-tiba menghentikan putaran pedangnya. Dia membiarkan satu pedang emas menembus bahu kirinya.
JLEB!
"Ugh!" Ye Yuan menahan teriakannya.
Darah muncrat. Tapi dengan menerima serangan itu, dia mendapatkan celah.
Ye Yuan mencengkeram pedang energi yang menancap di bahunya, menyerap sisa Qi-nya, lalu meledakkan Qi di kakinya.
BOOM!
Dia melompat keluar dari kawah debu, melesat lurus ke langit menuju Tetua Li seperti roket hitam.
"Kau mencari mati dengan mendekat?!" Tetua Li mencibir. Dia mengayunkan pedang aslinya—sebuah pedang emas berkilauan (Senjata Roh Tingkat Menengah).
"Tebasan Raja Singa Emas!"
Aura singa raksasa muncul, menerkam Ye Yuan di udara.
Ye Yuan tidak menghindar. Dia tidak bisa menghindar di udara.
Matanya menyala ungu gila.
"Pedang Asura... Makan darahku!"
Ye Yuan menggigit lidahnya, menyemburkan kabut Darah Esensi (darah kehidupan) ke pedang patahnya.
Pedang itu meraung. Warna hitamnya berubah menjadi merah darah yang mengerikan. Aura Api Bintang Dingin bercampur dengan Niat Membunuh Asura, menciptakan lidah api ungu tua.
[Teknik Terlarang Asura: Tebasan Pembelah Jiwa!]
Ye Yuan menebas lurus, membelah aura singa emas itu menjadi dua.
KRAK!
Singa energi itu hancur. Ye Yuan menembus sisa-sisa ledakan dan tiba tepat di depan wajah Tetua Li yang terkejut.
"Apa?!" Tetua Li panik. Dia buru-buru mengangkat pedang emasnya untuk menangkis.
TRAAAAAANG!
Benturan dua senjata roh di udara menciptakan gelombang kejut yang meratakan pepohonan dalam radius seratus meter di bawah mereka.
Pedang patah Ye Yuan menghantam pedang emas Tetua Li.
Kali ini, tidak ada yang terpental. Mereka terkunci dalam adu kekuatan.
"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?! Aku Pembentukan Fondasi Tingkat Lima!" Tetua Li menyalurkan seluruh Qi-nya, menekan Ye Yuan ke bawah.
Otot-otot lengan Ye Yuan mulai robek. Tulangnya berbunyi krek. Dia mulai kalah dorong. Tubuhnya perlahan turun.
"Tingkat kultivasi hanyalah wadah," geram Ye Yuan, darah mengalir dari tujuh lubang di kepalanya karena tekanan balik. "Yang menentukan kemenangan adalah... seberapa besar kau ingin lawanmu mati!"
Ye Yuan melepaskan pegangan tangan kirinya dari gagang pedang.
Tetua Li terkejut. "Dia melepas satu tangan? Dia gila!"
Tapi tangan kiri Ye Yuan tidak diam. Dia mencengkeram bilah pedang emas milik Tetua Li dengan tangan kosong!
SREEET!
Telapak tangan Ye Yuan teriris dalam, hampir putus. Tapi Tubuh Pedang Perunggu-nya menahan tulang jarinya agar tidak patah. Dia mencengkeram pedang musuh itu sekuat tenaga, menguncinya.
"Sekarang kau tidak bisa lari," bisik Ye Yuan sambil menyeringai darah.
"Lepaskan! Tanganmu akan putus!" teriak Tetua Li panik. Dia mencoba menarik pedangnya, tapi cengkeraman Ye Yuan seperti catut besi mati.
Ye Yuan mengabaikan rasa sakit yang tak terbayangkan di tangan kirinya. Dia memfokuskan seluruh sisa Qi dan jiwa ke tangan kanannya yang memegang pedang patah.
"Ingat nama ini di neraka, Li Batian."
Ye Yuan menusuk.
Bukan ke dada, bukan ke leher.
Dia menusuk ke arah pedang emas yang dia pegang.
[Kemampuan Pedang Asura: Penghancur Senjata!]
Ujung pedang patah Ye Yuan yang dialiri Api Bintang Dingin dan Niat Asura menghantam titik lemah di pedang emas Tetua Li.
TING!
Suara dentingan kecil terdengar. Lalu... retakan rambut muncul di pedang emas itu.
Mata Tetua Li melotot. "Tidak... Senjata Roh Tingkat Menengahku..."
PRANG!
Pedang emas kebanggaan Tetua Li hancur berkeping-keping di udara. Pecahannya berhamburan seperti kaca.
Hancurnya senjata roh yang terikat jiwa membuat Tetua Li memuntahkan darah segar. Qi pelindungnya hancur seketika.
"Uaaagh!"
Pertahanan terbuka lebar.
Ye Yuan tidak berhenti. Tusukannya berlanjut.
Bilah pedang patah hitam itu menembus dada Tetua Li, menembus jantung, dan keluar dari punggung.
Hening.
Angin berhenti berhembus.
Dua sosok itu melayang sesaat di udara, sebelum gravitasi menarik mereka jatuh.
BRUK!
Mereka mendarat keras di tanah hutan yang hancur. Ye Yuan berada di atas, menindih Tetua Li, pedangnya masih menancap di dada musuhnya.
Tetua Li terbatuk, darah kental keluar dari mulutnya. Tangannya yang gemetar mencoba meraih wajah Ye Yuan, tapi tenaganya sudah hilang.
"Ka... kau..." Tetua Li menatap Ye Yuan dengan pandangan yang mulai kabur. Kebencian di matanya perlahan digantikan oleh ketakutan murni. "Kau... monster..."
Ye Yuan menatapnya dingin. Napasnya sendiri tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi karena kehilangan banyak darah.
"Aku bukan monster," kata Ye Yuan pelan. "Aku hanya hasil dari apa yang kau dan anakmu ciptakan."
"Sekte... tidak akan... melepaskanmu..." bisik Tetua Li dengan napas terakhirnya. "Tetua Agung... akan tahu..."
"Biarkan mereka datang," jawab Ye Yuan.
Dia memutar pedangnya.
Cahaya kehidupan di mata Tetua Li padam.
WUUUNG!
Pedang patah Ye Yuan bergetar gila-gilaan. Ini adalah darah dan jiwa dari seorang kultivator Pembentukan Fondasi Tingkat Lima. Makanan terenak yang pernah ia rasakan sejak bangkit.
Aura merah pekat menyelimuti mayat Tetua Li. Dalam hitungan detik, tubuh itu mengering. Qi, Darah Esensi, bahkan sisa-sisa jiwanya dilahap habis oleh Pedang Asura.
Energi balik mengalir deras ke tubuh Ye Yuan. Luka di bahu dan tangan kirinya yang nyaris putus mulai menutup dengan kecepatan yang terlihat mata telanjang. Rasa sakit berganti dengan rasa penuh tenaga.
Ye Yuan mencabut pedangnya. Dia berdiri, terhuyung sedikit, lalu tertawa. Tawa yang kering, serak, dan lelah.
"Sudah berakhir."
Dia memungut Cincin Penyimpanan (Storage Ring—tingkat lebih tinggi dari kantong) dari jari mayat Tetua Li yang sudah kering.
Dia memeriksa isinya dengan cepat.
Mata Ye Yuan terbelalak.
"Kaya... Sangat kaya."
Di dalam cincin itu ada:
15.000 Batu Roh.
Teratai Roh Penyambung Tulang (yang baru dibeli di lelang).
Berbagai pil tingkat tinggi, manual sekte, dan surat-surat rahasia.
Ye Yuan mengambil Teratai Roh itu. Bunga itu masih memancarkan cahaya putih lembut.
"Ironis," gumam Ye Yuan. "Kau membeli ini untuk menyelamatkan anakmu, tapi sekarang ini menjadi milikku untuk menyempurnakan tubuhku."
Ye Yuan menyimpan semuanya. Dia melihat ke arah Kota Angin Hitam. Cahaya obor pengejaran yang lain masih terlihat di kejauhan, tapi mereka tidak berani mendekat setelah melihat ledakan pertempuran tingkat tinggi tadi.
"Aku tidak bisa kembali ke Sekte Pedang Surgawi," putus Ye Yuan. "Membunuh Tetua adalah dosa yang tak termaafkan. Token jiwa Tetua Li pasti sudah pecah di Aula Leluhur sekte. Mereka akan mengirim tim penegak hukum."
Ye Yuan menoleh ke arah selatan, ke kedalaman Pegunungan Binatang Buas yang tak berujung, yang mengarah ke kekaisaran lain.
"Dunia ini luas. Sekte Pedang Surgawi hanyalah kolam kecil."
Ye Yuan menyarungkan pedangnya. Dia merobek lengan baju Tetua Li, mencelupkannya ke dalam genangan darah, dan menulis sesuatu di atas batu besar di sebelahnya.
"Hutang Lunas. Jangan Mencari, Atau Mati."
Setelah itu, Ye Yuan berbalik. Dia mengaktifkan Langkah Hantu Asura, melesat menghilang ke dalam kegelapan hutan yang tak berujung.
Malam itu, nama Ye Yuan menghilang dari daftar murid sekte.
Namun malam itu juga, legenda tentang "Asura Pedang Patah" mulai menyebar di dunia persilatan.
Satu tahun kemudian...
Di sebuah gurun pasir merah di perbatasan Kekaisaran Api, seorang pendekar pedang misterius muncul, membawa pedang hitam yang diperbaiki dengan logam aneh, mencari jalan menuju Ranah Inti Emas.
Tapi itu adalah kisah untuk babak selanjutnya.