Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
From Brisbane to Seoul
Matahari pagi di Brisbane seolah ikut merayakan kemenangan Takara. Cahayanya menembus jendela kamar, menyentuh layar ponsel yang menampilkan sebuah email resmi dengan kop surat firma arsitektur yang kemarin ia kunjangi. Kalimat pertama dalam email itu membuat jantung Takara melonjak:
"Congratulations, we are pleased to offer you the position..."
Tanpa sempat memakai alas kaki, Takara berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah berderap yang menimbulkan suara gaduh di seluruh rumah.
"Mama!!!! Aku berhasil!" pekiknya saat melihat Yumi sedang menyiram tanaman di halaman depan.
Takara menghambur dan memeluk ibunya erat-erat, memutar tubuhnya seolah mereka sedang menari di atas rumput hijau yang masih basah oleh embun. "Ma, aku keterima! Besok sudah mulai kerja!"
"Ya ampun, Sayang! Pelan-pelan!" Yumi tertawa lepas, membalas pelukan putrinya dengan bangga. "Mama sudah tahu kamu pasti bisa. Sarjana Amsterdam memang beda!"
Suara pekikan kegembiraan itu rupanya cukup keras hingga melompati pagar kayu yang membatasi rumah mereka. Dami, ibu Jake, yang sedang sibuk memangkas bunga mawar di halaman sebelah, meletakkan gunting kebunnya dan menoleh dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Sayang, ada apa? Kenapa berisik sekali pagi-pagi begini?" tanya Dami sambil menyeka keringat di dahinya, senyum hangat sudah menghiasi wajahnya.
Takara melepaskan pelukannya dari Yumi dan berlari kecil menuju pagar pembatas. "Tante! Aku keterima kerja! Di firma yang kemarin aku ceritain!"
Dami langsung menjatuhkan sarung tangan kebunnya dan mendekat ke pagar, wajahnya tampak hampir sama bahagianya dengan Yumi. "Oh, Takara! Congratulations, dear! Itu berita luar biasa. Tante benar-benar bangga padamu."
Dami mengulurkan tangan melintasi pagar, mengusap lengan Takara dengan sayang. "Jake harus tahu ini sekarang juga. Dia pasti akan melompat kegirangan di Seoul sana."
Takara menyengir lebar, teringat bagaimana Jake begitu percaya diri bahwa ia akan diterima. "Iya, Tante. Mungkin dia bakal klaim kalau itu semua berkat setelan jas yang dia kasih kemarin."
"Tentu saja dia akan bilang begitu," Dami terkekeh. "Nanti malam, kalian harus makan malam di rumah Tante, ya? Kita rayakan kecil-kecilan. Leah juga pasti senang sekali dengar kakaknya yang pintar ini sudah jadi wanita karier."
Setelah hiruk-pikuk kegembiraan di halaman depan mereda, Takara kembali ke kamarnya untuk bersiap. Namun, hal pertama yang ia lakukan adalah meraih ponselnya. Ia ingin menjadi orang yang memberikan kabar ini langsung pada Jake, sebelum Dami mendahuluinya.
📲 Takara: GUESS WHO'S EMPLOYED?! Besok gue mulai kerja, Jake! Doa lo (dan setelan jas lo) beneran manjur.
📲 Takara: Siap-siap denger keluhan gue soal lembur ya, mulai besok status gue resmi jadi budak korporat Brisbane.
Hanya butuh beberapa detik, seolah Jake memang sedang memegang ponselnya menunggu kabar itu.
📲 Jake: I KNEW IT!!! Gak ada yang berani nolak arsitek paling berbakat yang gue kenal. 😎
📲 Jake: Selamat ya, Ra. Gue beneran bangga banget sama lo. Akhirnya satu per satu mimpi kita mulai kejadian, kan?
📲 Jake: Sebagai perayaan, hari ini lo bebas makan donat Auntie May sepuasnya. Gue yang bayar, eh, kan emang udah gue bayar ya buat setahun? Hahaha!
Takara tersenyum menatap layar ponselnya. Ada rasa haru yang menyelip di antara rasa bangganya. Di Brisbane, ia dikelilingi oleh kasih sayang dua ibu dan antusiasme Leah, sementara di belahan dunia lain, ada Jake yang selalu menjadi orang pertama yang merayakan setiap langkah kecilnya.
———
Langkah kaki Takara terasa ringan saat ia melewati pintu kaca otomatis kantor barunya. Interior firma arsitektur ini benar-benar mencerminkan visinya: plafon tinggi dengan ekspos material kayu, tanaman hijau di setiap sudut, dan alunan musik instrumen yang menenangkan. Tidak ada kubikel kaku; yang ada hanyalah meja-meja panjang yang memungkinkan kolaborasi antar tim.
Suasananya jauh dari kata menegangkan. Beberapa senior tampak bekerja sambil menikmati kopi, bahkan ada yang duduk di bean bag dengan laptop di pangkuan.
"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, saya Takara Jessamine. Saya baru bergabung sebagai arsitek junior. Mohon bimbingannya dari para senior sekalian," ucap Takara dengan senyum ramah saat semua mata tertuju padanya di area pantry terbuka.
"Pagi, Takara! Kami sudah lihat portofoliomu. Keren juga ya pengalamanmu di Amsterdam," sahut seorang pria berkacamata yang sedang menyeduh teh.
Seorang wanita senior dengan rambut pixie yang modis tiba-tiba menyahut sambil tersenyum menggoda, "Katanya lulusan sana ya? Biar suasana makin seru, coba dong perkenalan pakai bahasa Belanda. Biar kami tahu rasanya punya kolega rasa Eropa."
Beberapa orang lain ikut bersorak kecil, memberi semangat. Takara tertawa kecil, sedikit malu namun ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali memori percakapan sehari-harinya di Amsterdam.
"Goedemorgen allemaal. Mijn naam is Takara Jessamine en ik ben erg blij om hier bij dit bedrijf te werken. Ik hoop dat we goed kunnen samenwerken om geweldige gebouwen te creëren," ucap Takara dengan aksen yang sangat fasih.
(Selamat pagi semuanya. Nama saya Takara Jessamine dan saya sangat senang bekerja di perusahaan ini. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik untuk menciptakan bangunan yang luar biasa.)
Seketika, ruangan itu dipenuhi tepuk tangan.
"Wah, kedengarannya seperti suara mesin jet yang halus ya!" canda salah satu arsitek junior lainnya, membuat suasana langsung cair.
Senior berambut pixie itu, yang belakangan Takara ketahui bernama Clara, mengetuk meja panjang di tengah ruangan, memberi kode agar semua orang berkumpul.
"Kebetulan sekali Takara si anak baru muncul saat kita ada proyek besar," kata Clara sembari membuka sebuah gulungan blueprint digital di layar besar. "Kita rapat di sini saja ya membahas proyek bangunan agensi di Korea Selatan sana."
"Wah?!" Pekik Takara spontan. Jantungnya berdegup kencang. Agensi di Korea? Pikirannya langsung melayang pada gedung bertingkat tinggi tempat Jake menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berlatih.
Clara menoleh, sedikit terkejut dengan reaksi antusias Takara. "Oh iya, aku dengar juga kamu berasal dari Korea Selatan ya?" tanya Clara.
"Oh iya Kak, saya aslinya dari sana, tapi sudah dari usia enam tahun pindah ke Brisbane," jelas Takara mencoba menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar terlalu bersemangat.
"Oke, good! Ada sang ahli bahasa Korea juga berarti di sini," Clara menjentikkan jarinya dengan puas. "Kamu akan kami sertakan ya, Takara, dalam proyek ini. Apalagi kami sangat butuh ide inspiratifmu soal bangunan ramah lingkungan yang memberikan banyak ruang bernapas bagi gedung besarnya nanti."
Takara mendekat ke arah layar. Proyek itu ternyata adalah desain untuk sayap baru sebuah gedung agensi hiburan besar di Seoul, sebuah area yang nantinya akan digunakan sebagai pusat pelatihan terintegrasi, lengkap dengan taman vertikal di tengah gedung agar para trainee dan artis di sana tidak merasa terkurung dalam beton.
"Pihak agensi di Seoul ingin gedung ini punya nuansa 'green sanctuary'," lanjut Clara.
"Mereka merasa artis-artis mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di ruangan tertutup tanpa cahaya matahari. Itu sebabnya pengalamanmu di Amsterdam sangat berharga. Kita ingin membawa nuansa keterbukaan kanal dan cahaya alami ke dalam desain ini."
Takara menatap sketsa awal di layar. Ia tahu persis bagaimana rasanya berada di dalam gedung agensi yang kaku dan tertutup. Ia ingat keluhan Jake lewat telepon tentang bagaimana dia merindukan udara segar Brisbane saat sedang terjebak di ruang latihan selama 15 jam sehari.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Kak," ucap Takara mantap. "Saya punya banyak ide tentang bagaimana memaksimalkan ventilasi alami dan rooftop garden yang fungsional."
Sepanjang rapat, Takara mencatat dengan teliti. Pikirannya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Ini bukan sekadar proyek profesional baginya; ini adalah kesempatannya untuk membangun "ruang bernapas" bagi Jake. Jika ia berhasil memenangkan desain ini, secara tidak langsung ia sedang menciptakan tempat yang lebih nyaman bagi laki-laki yang ia sayangi itu untuk bekerja.
Begitu rapat selesai, Takara kembali ke mejanya dengan perasaan yang meluap-luap. Ia ingin segera mengirim pesan pada Jake, namun ia sadar ini adalah kerahasiaan perusahaan.
📲 Takara: Jake, tebak siapa yang baru saja dapet proyek pertama di Seoul?
📲 Jake: HAH? Lo mau pindah ke Seoul?!
📲 Takara: Nggak pindah, tapi kantor gue lagi garap proyek gedung agensi di sana. Gue masuk tim intinya!
📲 Jake: NO WAY! Agensi siapa? Jangan bilang agensi gue?! Kalau iya, tolong desainkan satu ruangan rahasia buat kita makan donat Auntie May ya? Hahaha!
Takara tersenyum penuh rahasia. Ia belum tahu apakah itu benar-benar agensi Jake atau bukan, namun satu hal yang pasti: takdir seolah sedang menggambar garis lurus yang menghubungkan meja kerjanya di Brisbane dengan kehidupan Jake di Seoul.