Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AIR MATA BEKU
02:30 AM. Wilayah Udara Internasional, Menuju Lingkaran Arktik.
Deru mesin pesawat kargo C 130 yang mereka tumpangi terasa seperti raungan binatang buas yang sedang sekarat. Di dalam kabin yang tidak memiliki pemanas maksimal, suhu telah merosot tajam. Uap napas keluar dari mulut Raka dalam gumpalan putih yang tebal.
Ia sedang mengencangkan tali harness pada peti logistik terakhir, sementara Bimo sibuk di kokpit, berjuang melawan turbulensi hebat yang disebabkan oleh badai salju Level Merah di luar sana.
Liana duduk di lantai kabin, bersandar pada dinding logam yang bergetar hebat. Ia mengenakan jaket termal tebal, namun tubuhnya masih bergetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena data yang baru saja ia bedah dari koordinat satelit Aether 1.
Raka mendekat, lalu berjongkok di depan Liana. Ia meraih tangan wanita itu, meremasnya pelan untuk memberikan kehangatan. "Li, kau pucat sekali. Apa sistemnya menyerang balik?"
Liana mendongak. Matanya yang biasanya penuh dengan kilatan nakal kini tampak redup dan basah. "Raka... pangkalan apung itu... namanya Project Cocytus."
"Cocytus? Sungai ratapan di neraka?" Raka mengerutkan kening.
"Bukan itu yang menakutkan, Raka," suara Liana bergetar. Ia memutar tabletnya, memperlihatkan skema internal pangkalan yang baru saja ia dekripsi. "Pangkalan itu bukan hanya pusat server. Itu adalah fasilitas kriogenik. Yudha tidak hanya mengunggah otaknya ke jaringan... dia menyimpan ribuan sampel kesadaran orang orang yang dianggapnya aset dalam bentuk digital di sana. Dia sedang membangun perpustakaan jiwa, Raka. Dan kau tahu siapa yang ada di daftar urutan teratas?"
Raka terdiam. Ia sudah bisa menebak jawabannya.
"Kita," bisik Liana. "Dia tidak ingin membunuh kita. Dia ingin mengarsipkan kita. Dia ingin kita hidup selamanya di dalam simulasinya, sebagai tentara abadi yang tidak bisa membangkang karena kode sumber kita ada di tangannya."
Raka merasakan amarah yang dingin menjalar di tulang belakangnya. Ia menarik Liana ke dalam pelukannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang keras. "Dia tidak akan pernah menyentuhmu, Li. Aku bersumpah demi sisa nyawaku."
Liana mencengkeram jaket Raka, menyembunyikan wajahnya. "Aku takut, Raka. Bukan takut mati. Aku takut jika suatu saat nanti, pria yang memelukku ini hanyalah sekadar algoritma yang dirancang Yudha agar aku patuh. Bagaimana kita tahu kalau kita masih nyata?"
Raka memegang dagu Liana, memaksanya menatap matanya. "Kau ingat apa yang terjadi di kamar tadi malam?"
Wajah Liana sedikit merona di tengah pucatnya. "Ya."
"Itu nyata, Li. Rasa sakit di bahuku ini nyata. Ketakutanmu sekarang ini nyata," suara Raka merendah, penuh dengan emosi yang jarang ia tunjukkan. "Yudha bisa meretas satelit, dia bisa meretas bank, tapi dia tidak bisa meretas rasa sakit yang kita rasakan saat kehilangan satu sama lain. Itu adalah satu satunya kode yang tidak bisa dia salin."
Liana tersenyum sedih, ia menyandarkan keningnya pada kening Raka. "Kau selalu punya cara untuk membuat logika militer terdengar romantis."
"Aku sedang mencoba menjadi manusia, Li. Kau yang mengajariku."
Tiba tiba, lampu merah di kabin berkedip kedip, diiringi suara bel yang melengking. Pintu kargo belakang mulai terbuka perlahan, menyemburkan udara beku dan salju yang membutakan ke dalam kabin.
"Persiapkan diri kalian!" suara Bimo menggelegar lewat intercom. "Kita berada tepat di atas target! Tapi radar mereka mulai mengunci kita! Kalian harus melompat sekarang atau kita semua akan meledak di udara!"
Raka berdiri, menarik Liana bersamanya. Mereka memakai masker oksigen dan kacamata pelindung. Angin di luar menderu dengan kecepatan yang bisa merobek kulit.
"Ingat rencananya," teriak Raka di tengah kebisingan. "Kita mendarat di sisi barat pangkalan, di area pembuangan limbah panas. Suhu air di sana cukup hangat untuk mencegah kita membeku seketika. Aku yang akan membuka jalan, kau tetap di belakangku!"
Liana mengangguk, namun sebelum mereka melompat, ia menarik tangan Raka. "Raka! Jika kita terpisah di bawah sana... jangan cari aku dulu! Hancurkan server utamanya! Itu prioritas kita!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Liana! Jangan minta aku melakukan itu!" balas Raka dengan emosi yang meluap.
"Ini bukan tentang kita lagi! Ini tentang ribuan jiwa yang terjebak di sana!" air mata Liana membeku di pipinya segera setelah keluar. "Janji padaku, Raka! Selesaikan misinya!"
Raka menatap Liana dengan tatapan yang hancur, namun ia tahu Liana benar. Sebagai prajurit, misi adalah segalanya. Namun sebagai pria, Liana adalah dunianya. "Aku akan menyelesaikan misinya... dan aku akan membawamu pulang. Itu janji pribadiku."
Mereka melompat.
Jatuh bebas di tengah badai salju Arktik terasa seperti dipukuli oleh ribuan jarum es. Raka berusaha menjaga posisi Liana tetap dalam jangkauan visualnya. Mereka mengembangkan parasut kecil di ketinggian rendah untuk menghindari deteksi radar.
Byurr!
Mereka menghantam air yang sangat dingin. Meski berada di area pembuangan limbah panas, suhu airnya masih cukup untuk membuat jantung terasa seperti berhenti berdetak. Raka segera berenang ke arah Liana, menariknya menuju tangga darurat logam yang membeku di dinding pangkalan apung Cocytus.
Mereka memanjat dalam diam, gigi mereka berkerat karena menggigil hebat. Setelah mencapai dek dalam yang terlindungi, Raka segera mengeluarkan pistol peredam suaranya.
Suasana di dalam pangkalan itu sangat mengerikan. Tidak ada suara manusia. Hanya dengung mesin raksasa dan deretan tabung kriogenik yang berjejer seperti barisan nisan di pemakaman modern.
"Ini neraka yang dia bangun," bisik Liana sambil memeriksa panel akses terdekat. "Raka... sistemnya menyambut kita. Yudha tahu kita sudah masuk."
Sebuah layar di dinding tiba tiba menyala, menampilkan wajah Yudha yang kini tampak lebih stabil dan jernih, seolah olah dia telah menyempurnakan bentuk digitalnya.
"Selamat datang di rumah, anak anakku," suara Yudha bergema dari speaker langit langit, terdengar lembut namun penuh ancaman. "Raka, kau tampak lelah. Liana, kau tampak takut. Kenapa berjuang begitu keras untuk dunia yang akan hancur oleh kebodohannya sendiri? Di sini, kalian bisa abadi. Kalian bisa mencintai tanpa takut kehilangan."
"Cinta tanpa kebebasan itu bukan abadi, Yudha! Itu penjara!" teriak Liana, jemarinya mulai meretas protokol keamanan pintu utama.
"Kebebasan adalah ilusi yang diciptakan oleh otak organik yang terbatas, Liana. Mari, biarkan aku membebaskan kalian dari beban itu."
Pintu di ujung lorong terbuka, dan puluhan drone tempur dengan sensor mata merah keluar, mengunci posisi mereka.
"Li, cari terminal pusat! Aku akan menahan mereka di sini!" Raka mendorong Liana ke arah lorong samping.
"Raka, tidak! Mereka terlalu banyak!"
"Pergi, Liana! Itu perintah!" Raka melepaskan tembakan pertama, menghancurkan satu drone di barisan depan. "Aku akan menyusulmu! Aku janji!"
Liana ragu sejenak, matanya menatap Raka dengan tatapan yang penuh luka. "Kau harus kembali, Raka! Kau berutang satu kehidupan padaku!"
Liana berlari menghilang di tikungan lorong. Raka berdiri tegak di tengah lorong sempit, menjadi tameng hidup bagi wanita yang ia cintai. Peluru demi peluru melesat, percikan api menerangi ruangan yang beku itu. Raka bertarung dengan kemarahan seorang pria yang tidak lagi memiliki rasa takut, karena ia tahu, di ujung lorong sana, Liana sedang berjuang untuk masa depan mereka.
Setiap tembakan yang ia lepaskan adalah sebuah pernyataan bahwa manusia tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin, dan bahwa cinta yang nyata tidak akan pernah bisa diarsipkan.