Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTIMASI DI BALIK TEMBOK SAFE HOUSE
Vila itu berdiri kokoh di puncak bukit yang terisolasi, dikelilingi oleh barisan pohon pinus yang menjulang tinggi seperti barisan penjaga yang bisu. Arsitekturnya yang didominasi oleh beton ekspos berwarna abu-abu dingin, kaca-kaca besar antipeluru, dan struktur baja hitam yang masif memberikan kesan bahwa tempat ini bukan dirancang untuk kenyamanan domestik, melainkan untuk pertahanan militer. Di sini, di dalam safe house yang tersembunyi ini, dunia luar seolah berhenti ada. Tak ada lagi hiruk-pikuk Melbourne yang sibuk, tak ada lagi sorot kamera media yang haus skandal, yang tersisa hanyalah Vivien dan Maximilian dalam sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh rahasia yang menyesakkan.
Vivien melangkah masuk ke dalam aula utama. Langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi—kini sudah kotor oleh lumpur, noda aspal, dan debu gudang—bergema di atas lantai batu alam yang dingin. Ia merasa seperti baru saja keluar dari kiamat kecil yang menghancurkan seluruh sistem kepercayaannya. Maximilian masuk di belakangnya, langkahnya tetap tegap meskipun ada beban yang terlihat di bahunya. Pria itu mengunci pintu baja ganda dengan sistem pemindaian biometrik yang rumit, lalu memberikan instruksi cepat kepada Gideon melalui interkom di dinding marmer.
"Periksa perimeter setiap sepuluh menit. Pastikan semua sensor inframerah aktif. Jika ada pergerakan sekecil apapun di bawah bukit, aktifkan sistem pertahanan tingkat dua tanpa perlu melapor padaku," perintah Maximilian. Suaranya stabil, tanpa getaran sedikitpun, seolah-olah baku tembak yang baru saja mereka lalui hanyalah gangguan kecil dalam jadwal harian yang padat.
Maximilian kemudian berbalik menghadap Vivien. Ia melepaskan jas tuksedonya yang sudah sobek di bagian bahu karena gesekan saat ia menjatuhkan Vivien ke lantai gudang untuk melindunginya tadi. Jas itu ia lempar ke sofa kulit seolah tak berharga, menyisakan kemeja putih yang kini dipenuhi bercak darah—darah dari pria yang ia tembak, atau mungkin darahnya sendiri.
"Kau berdarah, Maximilian," bisik Vivien. Suaranya gemetar, hampir tenggelam dalam keheningan ruangan itu. Ia menunjuk ke arah lengan atas Maximilian di mana warna merah mulai menyebar di kain putih kemejanya.
Maximilian melirik lengannya sejenak, seolah baru menyadari ada luka sayatan peluru di sana. "Hanya goresan. Aku pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari sekadar luka bakar peluru," ucapnya datar. Matanya yang gelap menatap Vivien dengan intensitas yang sulit dijelaskan—campuran antara amarah yang tersisa, rasa posesif, dan kelelahan yang luar biasa. "Mandilah dulu. Ada kamar tamu di atas. Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kuburan."
Vivien menaiki tangga spiral kayu dengan sisa-sisa kekuatannya. Di lantai atas, ia menemukan kamar tidur utama yang sangat luas namun sangat maskulin. Tanpa menunggu lama, ia masuk ke kamar mandi yang dindingnya dilapisi granit hitam. Ia menyalakan pancuran air panas dengan volume penuh. Saat uap air mulai memenuhi ruangan, Vivien meluruh di lantai pancuran. Ia tidak peduli lagi pada gaun pengantinnya yang basah kuyup. Ia menangis tanpa suara, membiarkan air menghapus debu, bau mesiu yang menempel di pori-porinya, dan bayangan wajah ayahnya di rekaman tadi.
Bagaimana bisa Ayah melakukannya? Bagaimana bisa aku mencintai kenangan tentang seorang pembunuh? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya seperti badai yang tidak akan pernah mereda.
Satu jam kemudian, setelah mengganti pakaiannya dengan jubah mandi tebal berwarna putih yang ia temukan di lemari, Vivien keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai. Ia menemukan Maximilian sudah duduk di tepi tempat tidur yang luas. Kemeja putihnya sudah dilepas sepenuhnya, memperlihatkan punggungnya yang lebar, kokoh, namun dipenuhi oleh sejarah kekerasan yang tidak pernah Vivien ketahui. Ada bekas luka tembak lama di belikatnya, dan bekas sayatan memanjang yang menceritakan bahwa hidup pria ini tidak pernah damai.
Maximilian sedang mencoba membersihkan luka di lengan kanannya sendiri dengan tangan kiri yang gemetar karena posisi yang sulit. Botol antiseptik dan kapas berserakan di atas nakas.
Tanpa berkata apa-apa, Vivien mendekat. Ia mengambil botol antiseptik itu. Maximilian membeku sesaat ketika merasakan jemari Vivien yang lembut namun dingin menyentuh kulit lengannya yang panas.
"Biarkan aku melakukannya. Kau tidak bisa menjangkau sudut itu dengan benar," ucap Vivien pelan, nyaris menyerupai bisikan.
Maximilian tidak menolak. Ia justru memunggungi Vivien sedikit, memberikan akses pada lukanya. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka, namun kali ini ada semacam frekuensi aneh yang menghubungkan mereka. Vivien mulai membersihkan luka itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani luka pada dirinya sendiri. Ia bisa merasakan otot-otot di lengan Maximilian yang menegang setiap kali kapas itu menyentuh luka yang terbuka.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa hidupmu semengerikan ini?" tanya Vivien sambil mulai membalut luka itu dengan perban bersih. Matanya tertuju pada bekas luka panjang di punggung Maximilian. "Bekas luka ini... bukan dari gudang tadi, kan?"
Maximilian menarik napas dalam, bahunya naik turun perlahan. "Itu adalah hadiah dari sepuluh tahun yang lalu. Saat aku mulai menggali kuburan untuk keluargamu, orang-orang suruhan ayahmu mencoba mengirimku ke kuburan yang sama terlebih dahulu. Bekas luka itu adalah pengingat bahwa di dunia ini, kau harus menjadi orang yang memegang pedang paling tajam jika ingin tetap hidup."
Vivien menyelesaikan balutannya. Ia tidak langsung menjauh, melainkan tetap duduk di samping Maximilian di tepi ranjang yang empuk. "Max... jika semua yang kau katakan benar... jika ayahku benar-benar pengkhianat... apa yang akan terjadi padaku setelah semua ini selesai? Setelah kau mendapatkan dokumen di Jakarta itu?"
Maximilian berbalik, menatap Vivien lurus ke dalam manik matanya yang sembab. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa inci, begitu dekat hingga Vivien bisa mencium aroma sisa alkohol, besi, dan aroma tubuh pria itu yang kuat.
"Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik Alfarezel. Aku akan memastikan setiap sen yang dicuri ayahmu dikembalikan dengan bunga yang menyakitkan. Dan ayahmu... dia akan menghadapi pengadilan versiku sendiri," suara Maximilian merendah, berubah menjadi bariton yang menggetarkan udara. "Tapi kau, Vivien... kau adalah variabel yang tidak pernah bisa aku selesaikan dalam persamaanku."
Tangannya yang besar dan kasar perlahan terangkat, mengusap pipi Vivien. Sentuhannya yang biasanya penuh dengan intimidasi kini terasa berbeda—begitu lambat, hampir penuh keraguan. "Aku membencimu karena kau memiliki darah Aksara yang mengalir di nadimu. Tapi aku juga membenci diriku sendiri karena setiap kali aku melihatmu terluka, ada sesuatu di dalam dadaku yang ikut hancur."
Wajah Maximilian mendekat. Vivien merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu telah habis. Logika di kepalanya berteriak bahwa pria ini adalah musuhnya, pria yang baru saja menghancurkan martabat keluarganya. Namun, hati yang lelah dan tubuh yang baru saja diselamatkan dari kematian memiliki keinginannya sendiri.
Maximilian menciumnya. Ciuman itu tidak memiliki kelembutan romansa biasa; itu adalah ciuman yang sarat dengan rasa lapar, amarah, dan keputusasaan yang sudah dipendam selama bertahun-tahun dalam dendam yang sunyi. Vivien awalnya menegang, tangannya mengepal di atas dada Maximilian yang bidang, namun perlahan-lahan kepalannya melunak. Ia mulai membalas ciuman itu, mencengkeram bahu Maximilian seolah pria itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai yang sedang menenggelamkannya.
Di dalam keheningan safe house yang dingin, di antara tembok-tembok beton yang menjauhkan mereka dari dunia, batas antara dendam dan obsesi menjadi benar-benar kabur. Mereka adalah dua jiwa yang rusak oleh dosa orang tua mereka, mencoba mencari sedikit saja kehangatan di tengah tumpukan es pengkhianatan.
Namun, saat Maximilian akhirnya menarik diri, matanya kembali menunjukkan kedinginan yang familiar. Ia bangkit berdiri dan mengenakan kemeja bersih tanpa menoleh lagi pada Vivien.
"Ciuman itu tidak mengubah kontrak kita, Vivien," ucap Maximilian sambil merapikan kerahnya di depan cermin. "Ciuman itu hanya cara tubuhmu berterima kasih karena aku tidak membiarkanmu mati di gudang tadi. Tidurlah. Besok pagi, tepat pukul enam, kita berangkat ke Jakarta. Persiapkan mentalmu, karena di sana kau akan melihat wajah asli dari semua orang yang selama ini kau panggil keluarga."
Vivien terdiam di atas tempat tidur, menatap punggung Maximilian yang menjauh menuju pintu. Bibirnya masih terasa panas, namun hatinya membeku kembali. Ia menyadari bahwa intimasi barusan hanyalah sebuah jeda dalam perang yang lebih besar.
Besok, mereka akan kembali ke Jakarta. Kembali ke rumah di mana benang merah ini pertama kali terjalin dan kemudian dipatahkan dengan darah. Vivien tahu, di tanah kelahirannya nanti, ia harus memutuskan: apakah ia akan menjadi Aksara terakhir yang melawan, atau menjadi Alfarezel pertama yang membantu menghancurkan masa lalunya sendiri.