"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Janji di Balik Air Mata Sang Kakak
Lampu aula Weinstein Grand Ballroom berpendar keemasan, namun bagi Varro, dunia seolah melambat saat ia berdiri di belakang panggung, menatap adiknya yang sudah dibalut gaun putih sempurna. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan dadanya yang terasa sesak.
"Bang... kok diem aja? Nirbi jelek ya pake baju ini?" tanya Nirbi pelan, jemarinya yang gemetar meremas buket bunga mawar putih.
Varro menoleh, matanya sudah memerah. Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar getir namun penuh kasih. "Jelek gimana? Kamu cantik banget, Bi. Mirip Mama. Saking cantiknya, Abang ngerasa nggak pantes jalan di samping kamu buat nganterin ke altar."
Varro melangkah mendekat, merapikan tudung transparan di kepala Nirbi. "Dulu... Abang yang nyuapin kamu makan waktu Mama pergi. Abang yang anter jemput sekolah. Abang yang ngerjain tugas matematika kamu biar kamu nggak nangis. Sekarang... Abang harus kasih tangan kamu ke si Kulkas itu."
Pintu aula terbuka. Musik organ mengalun agung. Varro menggandeng lengan Nirbi, berjalan perlahan menuju altar di mana Calvin sudah menunggu dengan wajah kaku namun matanya tak lepas menatap Nirbi.
Begitu sampai di depan Calvin, Varro tidak langsung melepaskan tangan Nirbi. Ia berdiri di antara mereka, menatap Calvin dalam-dalam.
"Vin," suara Varro bergetar. Ia mengabaikan protokol pendeta sejenak. "Lo inget lima tahun lalu? Hari di mana gue maki-maki lo, gue bilang gue benci lo karena urusan Veyra, dan kita janji nggak bakal saling kenal lagi seumur hidup?"
Calvin terdiam, matanya berkaca-kaca menatap sahabat lamanya. "Saya ingat, Navarro."
"Takdir emang lucu ya," Varro terkekeh sambil menyeka air mata yang akhirnya jatuh ke pipinya. "Gue benci lo lima tahun, gue tutup semua akses dari lo, tapi ternyata... Tuhan malah simpen lo buat jadi pelabuhan terakhir adek gue. Mantan sahabat gue, musuh gue... ternyata lo jodoh adek gue, Vin."
Varro menarik tangan Nirbi dan meletakkannya di atas telapak tangan Calvin.
"Jaga dia, Vin. Tolong... jangan cuma jadi suaminya, tapi jadi dunianya. Gue kasih lo harta gue yang paling mahal. Bukan emas, bukan saham, tapi Nirbita. Dia manja, dia berantakan, dia sering bikin pusing... tapi dia separuh nyawa gue."
Varro mencengkeram bahu Calvin dengan kuat. "Dulu kita saingan buat jadi yang terbaik di kampus. Sekarang, gue tantang lo buat jadi yang terbaik buat adek gue. Kalau sampe dia nangis karena lo dingin atau kasar... gue nggak peduli seberapa kaya lo, gue bakal jemput dia pulang."
Calvin mengangguk pelan, ia meraih tangan Varro dan menjabatnya dengan erat. "Navarro... terima kasih sudah mempercayai saya lagi. Dia bukan hanya asisten saya, bukan hanya istri saya. Dia adalah alasan saya ingin tetap hidup di dunia yang berantakan ini. Saya janji, dia tidak akan pernah merindukan rumah, karena saya adalah rumahnya."
Janji Suci dan Tawa yang Pecah
Varro mundur selangkah, menangis sesenggukan tanpa malu lagi di depan para tamu yang hadir. Ia kembali ke barisan depan, duduk di samping Kakek Abraham yang menepuk-nepuk punggungnya.
"Nirbita Luminara Rein," Calvin memulai janji sucinya, suaranya mantap. "Saya mencintaimu dengan segala ketidakteraturanmu. Saya berjanji untuk mencintaimu, menjagamu, dan menyediakan dunia yang paling aman untukmu. Saya mungkin tidak bisa menjanjikan hidup yang bebas dari noda, tapi saya berjanji akan menjadi orang pertama yang membersihkan air matamu jika kamu sedih."
"Dan aku, Nirbita," sahut Nirbi sambil terisak bahagia. "Berjanji untuk terus mencintaimu, meskipun kamu cerewet soal debu. Aku akan jadi kuman yang paling setia di sisimu."
Saat pendeta menyatakan mereka sah sebagai suami istri, Calvin mencium kening Nirbi dengan sangat lama.
"CIEEEE! JANGAN LAMA-LAMA! INGET ADA ABANG DI SINI!" teriak Varro dari kursinya sambil masih memegang tisu bekas air matanya.
Seluruh tamu tertawa. Kakek Abraham geleng-geleng kepala, sementara Hendrawan (Ayah Calvin) hanya bisa terdiam melihat pemandangan yang begitu manusiawi itu—pemandangan yang tidak pernah ia ciptakan di pernikahannya dulu.
Malam itu, takdir menutup luka lima tahun persahabatan yang retak, dan membuka lembaran baru tentang keluarga yang aneh, steril, namun penuh cinta.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka