Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Tepat pukul sepuluh pagi, mobil mewah Alex meluncur masuk ke area parkir klinik Dr. Runa.
Mobil itu adalah milik Lexi, dipinjamkan pada Alex—seperti semua hal lain yang mereka nikmati. Alex dan Laura tinggal di rumah megah itu, menumpang. Rumah itu adalah milik Lexi, warisan utuh dari orang tua mereka yang sudah meninggal.
Fakta ini, bahwa mereka hidup di bawah atap Lexi, menambah dimensi belenggu Laura.
Bahkan perusahaan yang tengah digeluti suaminya pun milik Lexi,tidak ada satupun yang atas nama Alex.
Alex memegangi tangannya sepanjang jalan. “Kamu harus tenang, Sayang. Kita akan tahu yang sebenarnya. Apa pun yang terjadi, aku akan bersamamu.”
Kalimat itu terasa hampa bagi Laura. Bagaimana Alex bisa bersamanya, jika keberadaan mereka di rumah ini, status finansial mereka—bahkan karier Alex—sepenuhnya bergantung pada Lexi?
Laura mengangguk lesu,bukan karena kecewa dengan keadaan suaminya,namun kecewa dengan takdir nya yang harus mengandung darah daging kakak iparnya sendiri,karena dibawah ancaman.
"Hati hati sayang,," Alex sangat berhati-hati menuntun Laura.
Di ruang periksa, aroma antiseptik membuat Laura sedikit mual. Saat Dr. Runa mengoleskan gel dingin ke perutnya untuk USG, Laura menahan napas. Ia tahu, Dr. Runa adalah dokter yang dihormati, tetapi Laura juga tahu bahwa dalam lingkaran kekayaan Lexi, kesetiaan bisa dibeli.
“Baiklah, Nyonya Alex… Selamat,” kata Dr. Runa. “Anda positif hamil. Dan sejauh yang saya lihat, janin Anda sehat. Selamat, Tuan Alex, Anda akan menjadi seorang ayah!”
Alex memegang tangan Laura dan menciumnya, air mata kebahagiaan membasahi pipinya.
"Sayang,lihat! Ternyata kamu hamil,,bukan sakit,"
Laura tersenyum pahit,rasanya dia mati saja,tidak sanggup melihat kebahagiaan suaminya.
Bagaimana jika suaminya tahu kalau janin yang dia kandung bukan darah dagingnya? Melainkan darah daging kakak kandungnya sendiri?
"Berapa usia kehamilan istri saya dok?" tanya Alex bersemangat.
“Usia kehamilan istri Anda,” Dr. Runa menggeser kursor pada monitor, “Perkiraan saya, berdasarkan ukuran kantung kehamilan, ini sudah memasuki minggu kedelapan. Atau sekitar dua bulan.”
Jelas sang dokter.
Laura melihat Alex, yang kini tampak lega total. Kecurigaan yang mungkin muncul kini sirna.
Usia kehamilan dua bulan, sebulan lebih dari terakhir kali Alex menyentuhnya, adalah alibi yang sempurna.
Lexi sudah mengatur semuanya, dari waktu, dokter, hingga tempat tinggal mereka.
“Dua bulan,” ulang Alex dengan nada takjub. “Kita berhasil, Sayang! Aku akan merayakan ini. Kamu adalah wanita yang luar biasa!”
Alex tidak menyadari bahwa ia merayakan kemenangan kakaknya, dan bahwa 'wanita yang luar biasa' di sampingnya sedang mengandung benih dari pria yang memiliki kuasa atas hidup mereka.
Setelah dokter memberikan resep dan vitamin,mereka kembali ke rumah.
Sepulang dari dokter, euforia Alex terasa meletup-letup. Ia langsung menemui kakak nya yang berada di ruang kerja.
"Kakak,,katakan selamat padaku! Ayo..!" Pekiknya girang.
"Selamat kenapa?.apa kamu memenangkan tender?"
"Bukan."
"Lalu?.apa wanita secantik bidadari tengah menarik perhatian mu?"
"Cik,,bukan..! Aku akan menjadi ayah sebentar lagi kak! Istriku hamil! Dua bulan!" Alex memberi tahu dengan nada menggebu.gebu.
“Benarkah? Dua bulan?” Suara Lexi terdengar sangat gembira. “Itu kabar yang luar biasa, Alex! Aku selalu yakin Laura akan memberimu anak. Sekarang, kamu harus menjaganya dengan baik di rumah kita ini.”
Kalimat terakhir itu—di rumah kita ini—menjadi penekanan terselubung. Lexi mengingatkan mereka berdua, secara halus, siapa pemilik kekuasaan yang sesungguhnya.
"Terimakasih kak,aku akan menjaga Laura,aku akan mengurangi kesibukan ku dikantor."
Alex memeluk kakaknya.
Lexi tersenyum kemenangan,karena yang tengah dirayakan adiknya adalah darah dagingnya sendiri.
Saat malam tiba, Alex berbaring di ranjang, memeluk Laura.
“Mulai sekarang jangan mengerjakan apapun lagi sayang, kamu hanya fokus pada kehamilan mu,hmm?” bisik Alex.
“Ingat! Fokus pada kehamilan. Kita akan pastikan pewaris kita ini mendapatkan yang terbaik. Di rumah sebesar ini, kita harus menyiapkan kamar bayi yang indah.” sambungnya lagi.
Laura menatap suaminya lekat.
"Kalau aku meminta sesuatu apakah kamu akan berikan sayang?"
Tanya Laura mengabaikan ucapan suaminya.
"Apapun sayang,selagi aku bisa mengabulkan,akan ku kabulkan,ayo katakan apa yang kamu inginkan."
"Aku ingin kita pindah dari sini."
Wajah Alex langsung berubah,ada ketidak sukaan terpancar diwajah Alex,
"Laura ,kamu tahu sendiri kan? Uang kita belum terkumpul untuk membeli rumah."
"Tidak harus milik sendiri mas,ngontrak pun aku mau kok!"
"Apa kamu tidak nyaman dirumah ini?" Tatap Alex lekat.
"Sampai kapan kita menumpang terus pada kakak ipar? Kita harus bisa mandiri sayang,ingat,sebentar lagi kita akan punya anak,tidak baik menumpang terus."
"Baiklah,aku akan coba bicarakan nanti pada kak Lexi,"
"Untuk apa dibicarakan? Tinggal ungkapkan saja kalau kita akan pindah," Sela Laura cepat.
Kalau dibicarakan dulu pasti Lexi tidak akan mengijinkan mereka keluar dari rumah ini.
"Yasudah tidur lah,,jangan pikirkan itu,besok aku akan cari rumah untuk kita,oke?"
"Janji?"
"Hmm,janji." Alex mengecup kening istrinya.
Laura lega sekali karena suaminya berjanji akan membawanya keluar dari penjara ini.
***
Pagi hari Alex sudah bangun duluan.
Dia turun kebawah menginstruksikan pelayan untuk membuat sarapan sehat khusus ibu hamil,lalu menyuruh pelayan lain membuat kan susu hamil untuk dia bawa keatas.
"Sayang,,bangunlah,,minum susu hamil mu," Alex menyodorkan segelas susu hangat kearah Laura.
Baru juga mencium bau susu khusus Ibu hamil itu,mendadak perutnya bergejolak.
Laura berlari ke wastafel lalu memuntahkan isi perutnya.
"Kamu mual? Apa obat yang diberikan dokter tidak bekerja?"
Tanya Alex sembari memijat tengkuk Laura.
"Bau susu yang kamu bawa barusan membuat ku mual,"
"Lah,tapi itu susu khusus Ibu hamil loh! Kalau kamu tidak mau minum bagaimana bayi kita bisa sehat?"
"Pokoknya aku tidak akan minum susu itu,baunya aneh,"
"Aneh bagaimana? Nggak ada yang aneh Laura,penciuman mu saja yang berubah,jauh lebih sensitif sekarang."
Laura tidak menjawab.
Setelah mencuci muka,Laura beranjak dari kamar,turun kebawah,diikuti oleh suaminya.
"Kamu mau sarapan apa sayang? Aku sudah menginstruksikan pelayan untuk membuat sarapan sehat untukmu,tapi takutnya kamu nggak suka juga seperti susu tadi." Ucap Alex.
Ternyata dibawah sudah ada kakaknya,sang pemilik rumah.
"Kakak sudah disini? Kebetulan sekali kak,aku mau mengatakan sesuatu pada kakak."
Alex menarik kursi nya lalu duduk didepan kakaknya.
"Setelah kupikir pikir,mungkin kami akan pindah dari sini kak,"
Duarr..!
Mendengar itu Lexi menoleh cepat menatap adiknya,lalu Laura.
"Kenapa? Alasannya apa sehingga kalian mau pindah dari sini?"
"Karena sebentar lagi kami akan punya anak,tidak elok rasanya menumpang trus,sampai kapan kami bergantung pada kakak? Laura juga tidak nyaman tinggal terlalu lama disini,,lagipula aku sudah punya tabungan untuk mengontrak rumah,menunggu uang ku cukup membeli rumah." Jelas Alex.
Lexi mengepalkan tangannya dibawah meja,melirik Laura dengan ekor matanya,terpancar kemarahan yang tertahan disana.
"Jangan sungkan tinggal disini,selamanya pun kalian disini tidak masalah,rumah ini terlalu besar untuk ku huni sendiri,sudah kubilang berkali-kali pada kalian kan?" Tatap Lexi tegas.
"Aku sebenarnya senang tinggal disini kak,tapi Laura tidak nyaman,mau bagaimana lagi? Aku harus memenuhi keinginannya,takutnya Laura stress,berakibat buruk pada janinnya." Ucap Alex.
Lexi tidak bicara lagi.
Sarapan pagi itu terasa dingin dan tegang. Lexi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya, namun ia berusaha keras mempertahankan sikap kakak yang baik demi Alex.
"Aku sangat menghargai niatmu untuk mandiri, Alex," ujar Lexi, nadanya terkontrol, meskipun rahangnya mengeras. "Tapi ini bukan saat yang tepat. Laura sedang hamil. Pindah rumah, mencari perabotan, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru—semua itu akan menimbulkan stres yang berlebihan. Bukankah lebih baik fokus pada kehamilan Laura?"
bersambung