NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pidato

Aula Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dubai sore itu tampak sangat megah. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengkilap. Ratusan anak muda Indonesia, mulai dari perawat, kru kabin, hingga teknisi perminyakan, duduk rapi memenuhi ruangan. Mereka semua memiliki tatapan yang sama dengan Bagas beberapa tahun lalu: penuh harap, sedikit cemas, dan membawa beban doa orang tua di pundak masing-masing.

Bagas berdiri di belakang panggung, merapikan setelan jasnya yang berwarna biru dongker. Ia berkaca pada sebuah cermin besar. Di sana, ia melihat seorang pria yang tampak sangat mapan. Tapi jauh di dalam dadanya, ia tetaplah Bagas yang dulu suka mengganjal meja kantor pakai koran bekas.

"Saudara-saudara sekalian, mari kita sambut pembicara kita sore ini, Regional Head of Operations dari Logistics Hub Dubai, Bapak Bagas Pratama!" suara pembawa acara menggema, diikuti riuh tepuk tangan.

Bagas melangkah menuju podium. Lampu sorot mengenainya, memberikan sensasi hangat di wajahnya. Ia menarik napas dalam, membetulkan letak mikrofon, dan menatap ke arah audiens.

"Selamat sore semuanya," buka Bagas dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Melihat wajah teman-teman di sini, saya seperti melihat diri saya sendiri tiga atau empat tahun lalu. Saat itu, saya bukan siapa-siapa. Saya adalah anak SMK yang pernah ditolak kerja berkali-kali karena dianggap tidak punya koneksi. Saya pernah dimaki-maki bos sampai rasanya harga diri saya tidak lebih berharga dari segelas es teh manis di pinggir jalan."

Bagas mulai bercerita. Ia mengisahkan tentang ijazahnya yang sempat hanya jadi penghias lemari, tentang ibunya yang mencuci baju tetangga, hingga tentang filosofi "Kopi Risen". Seluruh aula hening. Cerita Bagas yang sangat jujur dan tanpa bumbu kemewahan palsu itu menyentuh hati mereka.

"Sukses itu bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke puncak, tapi tentang seberapa jujur kita saat masih di bawah. Jangan pernah malu menjadi tukang suruh, jangan pernah malu jadi bawahan yang dibentak. Malulah jika kalian menyerah sebelum mencoba memperbaiki nasib orang tua kalian," lanjut Bagas.

Namun, tepat saat Bagas hendak masuk ke bagian penutup pidatonya, matanya menyisir barisan kursi tengah. Di sana, di baris kelima, duduk seorang wanita yang mengenakan jilbab berwarna pastel. Wanita itu menatap Bagas tanpa berkedip. Jantung Bagas seolah berhenti berdetak sesaat.

Wanita itu adalah Tiara.

Tiara adalah cinta pertama Bagas saat SMK. Dulu, mereka sangat dekat. Bagas sering memberikan cokelat murah yang ia beli dari menyisihkan uang sakunya. Namun, saat kelulusan tiba dan Bagas mulai terombang-ambing sebagai pengangguran, Tiara tiba-tiba menghilang.

Belakangan Bagas tahu dari teman-temannya bahwa orang tua Tiara melarangnya berhubungan dengan Bagas karena Bagas dianggap "tidak punya masa depan" dan "hanya anak tukang las". Tiara akhirnya memilih melanjutkan kuliah di kampus elit dan menjauh dari dunia Bagas yang pengap.

Pikiran Bagas mendadak kacau. Kalimat pidato yang sudah ia hafal di luar kepala seolah terbang ditiup angin gurun. Bayangan saat ia menunggu Tiara di depan gerbang sekolah dengan motor tuanya, hanya untuk diberitahu bahwa Tiara sudah pulang dijemput mobil mewah, kembali muncul dengan sangat perih.

Bagas berdeham, mencoba menguasai diri. Ia meminum air di meja podium dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Kesimpulannya..." Bagas melanjutkan dengan nada yang agak serak. "...dunia akan meremehkanmu saat kamu miskin. Orang-orang akan meninggalkanmu saat kamu tidak punya apa-apa. Tapi jangan dendam. Jadikan penolakan mereka sebagai bahan bakar. Buktikan bahwa mereka yang meremehkanmu hari ini, akan menjadi penonton kesuksesanmu di masa depan. Terima kasih."

Tepuk tangan berdiri (standing ovation) memenuhi aula. Bagas turun dari podium dengan langkah yang agak goyah. Ia menyalami beberapa pejabat kedutaan, namun matanya terus mencari sosok di baris kelima tadi. Saat acara berakhir dan masuk ke sesi ramah tamah, Bagas mencoba menyelinap keluar untuk mencari udara segar.

"Bagas?" sebuah suara lembut menghentikan langkahnya di koridor dekat taman belakang kedutaan.

Bagas berbalik. Tiara berdiri di sana. Ia tampak jauh lebih dewasa, namun matanya masih memiliki binar yang sama dengan yang diingat Bagas dulu.

"Tiara? Kamu... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bagas, mencoba terdengar biasa saja meskipun batinnya bergejolak.

"Aku bekerja di salah satu bank internasional di sini sebagai staf analis. Aku baru sampai di Dubai dua bulan lalu," jawab Tiara pelan. Ia menunduk, meremas tas tangannya. "Pidato mu tadi... sangat hebat, Gas. Aku tidak menyangka kamu akan menjadi sehebat ini."

Bagas tersenyum pahit. "Aku juga tidak menyangka akan bertemu kamu di sini. Terakhir aku dengar, kamu sudah punya kehidupan yang sempurna di Jakarta dengan lingkungan 'kelas atas'-mu."

Tiara mendongak, matanya berkaca-kaca. "Gas, aku minta maaf soal dulu. Orang tuaku... mereka sangat keras. Aku tidak punya keberanian seperti kamu untuk melawan dunia. Aku tahu aku pengecut karena pergi saat kamu sedang susah."

Bagas menatap langit Dubai yang mulai berwarna jingga. "Tiara, aku sudah memaafkan segalanya. Justru karena kamu pergi, aku jadi sadar bahwa aku tidak boleh terus-menerus jadi orang susah. Terima kasih sudah meninggalkanku dulu. Tanpa rasa sakit itu, mungkin aku tidak akan sampai ke Dubai."

Kata-kata Bagas terdengar dingin meskipun ia tidak bermaksud jahat. Ia hanya ingin menegaskan bahwa ia bukan lagi Bagas yang bisa disogok dengan senyuman Tiara. Ia sudah belajar dari kerasnya Pak Baron dan liciknya Marco.

"Gas, apakah kita masih bisa... berteman?" tanya Tiara penuh harap.

Bagas diam sejenak. Ia teringat kembali pada Ibunya di Jakarta yang selalu bilang jangan pernah memutus tali silaturahmi. Tapi ia juga tahu, ada luka yang sudah mengering dan tidak perlu dikorek lagi.

"Dubai itu sempit, Tiara. Kita pasti akan sering bertemu di acara-acara komunitas Indonesia. Sebagai teman sesama perantau, tentu saja boleh. Tapi sebagai orang dari masa lalu... sepertinya pintu itu sudah tertutup rapat," jawab Bagas tegas.

Bagas berpamitan dan berjalan pergi meninggalkan Tiara yang masih mematung di koridor. Ia masuk ke mobil dinasnya yang sudah menunggu di depan kedutaan. Di dalam mobil yang dingin karena AC, Bagas menyandarkan kepalanya ke kursi.

Ia baru saja memenangkan pertarungan melawan masa lalunya yang paling emosional. Ia tidak lagi tergiur oleh kecantikan Tiara yang dulu ia puja-puja. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri.

Ponselnya berbunyi. Ada kiriman foto dari Bapak. Foto sebuah rumah baru yang sedang dibangun di atas tanah yang dibeli Bagas di samping rumah lama mereka. Bapak menulis: "Gas, tukang bangunannya nanya, keramiknya mau warna apa? Bapak bilang terserah anak bapak yang ganteng yang sudah sukses di Dubai."

Bagas tertawa lepas. Rasa sedih setelah bertemu Tiara tadi langsung hilang seketika. "Keramik warna emas saja, Pak! Biar silau kayak masa depan kita!" balas Bagas sambil tersenyum lebar.

Bagas menyadari, cinta sejati bukan tentang siapa yang ada saat kita di puncak, tapi siapa yang tetap memegang tangan kita saat kita jatuh di lumpur. Dan orang-orang itu adalah Ibu dan Bapaknya.

Keberhasilan Bagas tercium oleh sebuah perusahaan multinasional raksasa di Eropa Mereka menawarkan kontrak untuk memimpin divisi logistik di Jerman. Namun, tantangannya adalah Bagas harus membawa serta keluarganya jika ingin mengambil kontrak jangka panjang tersebut.

Bagas menghadapi dilema besar antara karier global yang makin meroket ke benua biru (Eropa) atau tetap berada di zona nyaman Dubai demi kedekatan geografis dengan Indonesia. Kita akan masuk ke dalam pergolakan batin antara ambisi dan bakti.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!