“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 5 - CH 25 : FLASBACK BARA MAHENDRA
[TIGA TAHUN LALU]
Kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Pukul 20.00 WIB.
Lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit menembus kaca jendela ruangan editor di lantai lima belas agensi kreatif Zeus Visual. Di dalam ruangan ber-AC yang dingin dan wangi diffuser aroma peppermint itu, Bara Mahendra duduk tegak di kursi gaming ergonomis seharga lima juta rupiah.
Penampilannya sangat rapi. Kemeja flanel kotak-kotak merek ternama dilapisi jas kasual berwarna navy. Rambutnya tersisir klimis ke belakang dengan pomade. Wajahnya bersih, segar, dan memancarkan aura pemuda sukses di usia awal dua puluhan.
Bara menekan tombol Enter di keyboard mekanikalnya. Layar monitor ultrawide di depannya menampilkan persentase rendering video yang akhirnya menyentuh angka 100%.
"Akhirnya kelar juga project iklan maskapai ini," Bara menghela napas panjang, meregangkan otot-otot lengannya.
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu kanannya. Bara menoleh dan mendapati Raka, Art Director sekaligus sahabat karibnya sejak zaman kuliah, tersenyum lebar sambil menyodorkan sekaleng kopi dingin.
"Gila lu, Bar. Tiga hari berturut-turut lembur buat finishing color grading. Client sampe ngirim parsel buah tadi sore ke lobi gara-gara puas banget sama preview-nya," puji Raka. Raka adalah pria yang tampan, stylish, dan selalu tahu cara bergaul dengan orang atas.
"Demi bonus akhir tahun, Ka," Bara menerima kopi itu dan membukanya. "Lu tau sendiri kan, target gue tahun depan itu berat. Gue harus beli tanah buat bangun rumah split-level buat Alisa, sekalian nyiapin biaya masuk kuliah buat Dinda."
Raka tertawa pelan, menggelengkan kepalanya. "Lu bucinnya kelewatan, Bar. Duit bonus lu yang ratusan juta itu lu serahin semua ke rekening Alisa? Lu nggak pegang tabungan sendiri?"
Bara tersenyum penuh keyakinan. "Alisa itu akuntan, Ka. Dia lebih pinter ngatur duit daripada gue. Kalau duitnya gue yang pegang, pasti abis buat upgrade PC atau jajan lensa kamera. Mending dia yang kelola buat 'Tabungan Masa Depan'. Lagian, gue udah janji mau ngelamar dia pas ulang tahunnya bulan depan."
"Salut gue sama lu. Pria sejati," Raka menepuk bahu Bara lagi dengan mantap. "Yaudah, gue balik duluan ya. Mau meeting di luar sama vendor. Lu jangan lupa istirahat."
"Yoi. Thanks, Ka. Hati-hati lu."
Setelah Raka keluar dari ruangan, Bara merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel iPhone keluaran terbaru miliknya. Dia membuka aplikasi WhatsApp dan menekan tombol video call pada kontak yang disematkan paling atas: "My Future Wife 💍".
Panggilan itu tersambung dalam nada dering kedua. Di layar, muncullah wajah cantik Alisa. Rambut panjangnya digerai rapi, senyumnya sangat manis hingga membuat lelah Bara seolah menguap begitu saja. Alisa sedang berada di kamar kos eksklusifnya di Bandung. Mereka sudah menjalani LDR (Long Distance Relationship) selama dua tahun.
"Hai, Sayang. Udah kelar lemburnya?" sapa Alisa dengan suara lembut yang selalu berhasil membuat Bara luluh.
"Baru aja render terakhir, Lis. Gimana hari ini? Lancar kerjaan di kantor?" tanya Bara, matanya memancarkan kasih sayang yang tulus.
"Lancar kok. Cuma agak capek aja tadi banyak laporan keuangan," Alisa mengerucutkan bibirnya manja. "Kamu jangan forsir kerja terus dong, Bar. Nanti sakit lho."
"Nggak apa-apa sakit dikit sekarang, biar nanti kita bisa enak," Bara tertawa kecil. "Oh iya, Lis. Bonus dari project maskapai tadi sore udah cair. Gue udah transfer lima puluh juta ke rekening BCA Joint Account kita ya. Berarti total tabungan kita sekarang udah ada seratus delapan puluh juta. Udah cukup banget kan buat DP tanah di pinggiran kota?"
Mata Alisa sedikit melebar, senyumnya semakin mengembang. "Wah, serius?! Kamu emang yang terbaik, Bar. Makasih ya sayang. Duitnya aman kok di aku. Nanti weekend aku cek-cek lagi harga tanah yang kamu mau itu."
"Sip. Tolong disimpen baik-baik ya, Lis. Itu darah dan keringat gue semua," Bara tersenyum. "Gue rela makan mi instan di akhir bulan asal liat saldo tabungan masa depan kita nambah."
"Iya, Sayang. Kamu tenang aja. Aku bakal jaga kepercayaan kamu," Alisa memberikan gestur ciuman jauh ke arah kamera. "Udah malem, kamu pulang gih. Aku juga mau tidur nih, ngantuk banget."
"Oke. Good night, Lis. Love you."
"Love you too."
Sambungan terputus. Bara menatap layar ponselnya yang menggelap dengan senyum mengembang. Dia merasa hidupnya sempurna. Karir cemerlang, sahabat yang mendukung, dan calon istri yang sempurna. Dia memiliki segalanya.
Atau setidaknya, itulah ilusi yang dia yakini.
Tiga bulan kemudian.
Pukul 14.00 WIB. Langit Jakarta mendung gelap.
Bara sedang berada di tengah meeting penting bersama klien agensi ketika ponselnya bergetar hebat di dalam saku celananya. Ada panggilan masuk berturut-turut. Puluhan kali. Semuanya dari ibunya.
Firasat buruk langsung menghantam dada Bara. Ibunya tidak pernah meneleponnya di jam kerja kecuali ada keadaan darurat.
Dengan tergesa-gesa, Bara meminta izin keluar dari ruang meeting dan mengangkat telepon itu di lorong kantor.
"Halo, Bu? Ada apa?"
"Bara... pulang, Le... Dinda, Bar... Dinda..." Suara ibunya terdengar hancur, diselingi isak tangis yang sangat keras dan memilukan.
Jantung Bara seakan berhenti berdetak. "Dinda kenapa, Bu?! Ibu tenang dulu, Dinda kenapa?!" Dinda adalah adik perempuan satu-satunya yang baru berusia delapan belas tahun. Gadis ceria yang selalu menjadi alasan Bara bekerja keras selain untuk Alisa.
"Dinda pingsan di sekolah, Bar. Dia sekarang di UGD RS Cipto... Dokter bilang ginjalnya... ginjalnya gagal fungsi akut. Dinda harus cuci darah dan operasi segera, Bar. Kalau nggak... nyawanya nggak ketolong..." tangis ibunya pecah. "Ibu nggak punya uang, Bar... Rumah sakit minta deposit awal lima puluh juta untuk tindakan darurat hari ini juga..."
Dunia Bara runtuh seketika. Lorong kantor yang terang benderang itu terasa berputar. Kakinya lemas.
"Bu... Ibu tenang. Bara punya uangnya. Bara punya tabungan seharusnya cukup. Bara bakal transfer sekarang juga. Ibu tenang, suruh dokter lakuin tindakan yang paling bagus buat Dinda! Bara nyusul ke sana sekarang!"
Bara mematikan telepon dengan tangan bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras di keningnya. Dia tidak peduli lagi pada meeting, klien, atau bosnya. Dia berlari menuju meja kerjanya, menyambar kunci mobil, dan berlari ke arah lift.
Sambil menunggu pintu lift terbuka, Bara membuka aplikasi mobile banking BCA di ponselnya. Dia harus mentransfer uang muka rumah sakit itu ke rekening ibunya detik ini juga.
Bara memasukkan kode akses. Dia membuka menu transfer. Dia memilih rekening "Tabungan Masa Depan" yang selama ini dipegang oleh Alisa. Kartu ATM dan buku tabungannya memang dibawa oleh Alisa di Bandung untuk 'mempermudah pengelolaan', tapi Bara masih memiliki akses view di m-banking-nya.
Layar loading berputar selama dua detik yang terasa seperti seabad.
Lalu, angka saldo itu muncul di layar.
Saldo Efektif: Rp 53.500,00
Bara membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya melotot menatap layar ponsel, berusaha mencerna deretan angka yang sama sekali tidak masuk akal itu.
Lima puluh tiga ribu lima ratus perak?! Ke mana perginya uang seratus delapan puluh juta rupiah yang dia kumpulkan dari hasil begadang, tipes, dan tekanan mental selama dua tahun terakhir?!
"Aplikasi sialan! Pasti lagi error!" Bara mengumpat kasar, merestart aplikasi tersebut dan login kembali.
Angkanya tetap sama. Rp 53.500.
Bara dengan panik membuka menu mutasi rekening. Daftar transaksi terpampang jelas di sana. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di rongga dada.
Penarikan Tunai - Rp 10.000.000 (Dua bulan lalu)Transfer Keluar - Rp 50.000.000 (Satu bulan lalu)Pembayaran Tiket Pesawat & Hotel - Rp 15.000.000 (Dua minggu lalu)Transfer Keluar - Rp 100.000.000 (Tiga hari yang lalu)
Semua transaksi itu dilakukan dari kartu ATM dan akses m-banking utama yang dipegang oleh Alisa. Uangnya tidak hilang karena error sistem. Uangnya ditarik dengan sengaja. Dikuras habis sampai ke akar-akarnya.
Bara menekan nomor Alisa dengan tangan gemetar parah. Dinda butuh uang itu sekarang! Dinda bisa mati!
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Bara menelepon lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hasilnya sama. Alisa mematikan nomornya dan bahkan Alisa memblokir kontaknya.
Kepanikan Bara berubah menjadi rasa takut yang absolut. Adiknya sedang meregang nyawa di ruang UGD, menunggunya membawa uang yang selama ini dia banggakan, uang yang ternyata... hanyalah ilusi.
Bara mencoba menelepon Raka. Raka pasti tahu sesuatu. Raka sering bolak-balik Bandung untuk urusan vendor, mungkin dia tahu di mana Alisa atau apa yang terjadi.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif..."
Nomor Raka juga mati. Keduanya mati di saat yang bersamaan.
Logika Bara sebagai Lead Editor yang terbiasa menyusun potongan video untuk mencari benang merah cerita, kini bekerja dengan kecepatan mengerikan. Dia menyatukan puzzle itu. Raka yang selalu tahu jumlah bonusnya. Raka yang sering dinas ke Bandung. Alisa yang tiba-tiba susah dihubungi setiap akhir pekan. Dan sekarang, keduanya menghilang di saat yang bersamaan, bersama uang seratus delapan puluh juta miliknya.
Bara tidak peduli lagi. Dia berlari keluar dari gedung agensi, menerobos hujan deras yang mulai turun di Jakarta. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan gila menuju Bandung. Persetan dengan batas kecepatan, persetan dengan bahaya. Dia harus menemukan Alisa. Dia harus mengambil uang itu kembali untuk nyawa adiknya.
Perjalanan tiga jam terasa seperti neraka. Begitu sampai di Bandung, Bara langsung melesat menuju alamat kos eksklusif Alisa.
Pukul 18.00 WIB. Hujan di Bandung turun lebih deras.
Bara menerobos masuk ke area parkir kos mewah itu. Namun, langkahnya terhenti mendadak.
Di lobi kos yang terang benderang itu, berdiri dua orang yang sangat dia kenal.
Alisa. Gadis itu mengenakan dress mahal yang belum pernah Bara lihat sebelumnya, menenteng tas branded seharga puluhan juta. Dan di sebelahnya, merangkul pinggang Alisa dengan posesif, adalah Raka. Sahabatnya sendiri.
Mereka berdua sedang berdiri di depan sebuah koper besar, tertawa lepas melihat layar ponsel Raka. Raka mencium kening Alisa dengan penuh kasih sayang.
"Udah pesen Grabcar ke bandara, Yang? Kita flight jam delapan lho. Liburan ke Bali pake duit si tolol Bara emang paling nikmat," suara Raka sayup-sayup terdengar, diiringi tawa renyah Alisa.
Dunia Bara berhenti berputar. Hujan membasahi seluruh tubuhnya, tapi dia tidak merasakan dinginnya air. Dia merasakan hawa dingin yang jauh lebih mematikan menyelimuti hatinya. Hawa pengkhianatan murni.
Semua pengorbanannya. Malam-malam tanpa tidurnya. Janji-janji masa depannya. Semuanya diremukkan dan diinjak-injak tepat di depan matanya oleh dua manusia yang paling dia percayai.
"ALISA! RAKA!" raungan Bara memecah suara hujan. Itu bukan suara teriakan marah biasa. Itu adalah jeritan seekor binatang terluka yang jiwanya baru saja dicabut paksa.
Alisa dan Raka menoleh. Wajah mereka seketika berubah pucat pasi melihat Bara berdiri di tengah guyuran hujan, dengan mata memerah dan tubuh bergetar hebat.
Bara melangkah maju. Tangannya mengepal sangat keras hingga buku-buku jarinya berdarah karena kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
"Duit gue... balikin duit gue..." suara Bara terdengar serak dan parau, air matanya bercampur dengan air hujan. "Dinda kritis di rumah sakit... Dia butuh uang itu buat operasi, Lis... Gue mohon... Balikin uangnya..."
Bara, sang Juara Nasional, pria yang selalu menjaga gengsi dan penampilannya, kini berlutut di atas aspal yang basah. Dia membuang seluruh harga dirinya. Dia tidak peduli dengan perselingkuhan mereka. Dia tidak peduli hatinya hancur. Yang dia pedulikan hanyalah nyawa adiknya.
"Gue mohon, Raka... Lis... Adik gue bisa mati... Ambil ceweknya, ambil semuanya, tapi balikin uang gue buat berobat Dinda..." Bara memohon dengan suara yang menyayat hati.
Namun, jawaban yang dia dapatkan adalah keheningan yang kejam.
Raka menarik Alisa mundur, memasang wajah sinis. "Duit apa, Bar? Rekening itu atas nama Alisa. Uang yang masuk ke sana ya haknya Alisa. Lu aja yang bego ngasih duit cuma-cuma tanpa hitam di atas putih."
Alisa menatap Bara dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah atau empati di matanya yang cantik. "Maaf, Bar. Uangnya udah kepake buat modal usaha aku sama Raka di Bali. Lagian, aku nggak bisa hidup sama cowok yang kerjanya cuma lembur di depan komputer tiap hari. Aku butuh kepastian nyata, bukan janji rumah split-level yang entah kapan jadinya."
Sebuah mobil Grabcar berhenti di depan lobi. Raka dengan cepat memasukkan koper mereka ke dalam bagasi, lalu menarik Alisa masuk ke dalam mobil.
"Lu urus urusan keluarga lu sendiri, Bar. Anggap aja uang itu ongkos karena Alisa udah nemenin lu selama dua tahun ini," ucap Raka sebelum membanting pintu mobil.
Mobil itu melaju pergi, membelah hujan, meninggalkan Bara yang masih berlutut di atas aspal basah sendirian.
Bara menatap kepergian mobil itu dengan pandangan kosong. Ponselnya di dalam saku jas yang basah kuyup kembali bergetar. Sebuah panggilan dari ibunya.
Bara mengangkatnya dengan tangan yang kaku.
"Bar..." Suara ibunya kali ini sangat tenang. Terlalu tenang, sebuah ketenangan yang mematikan. "Dinda... Dinda udah nggak ada, Nak. Adiknya udah pergi..."
Ponsel di tangan Bara jatuh membentur aspal. Layarnya pecah berserakan.
Malam itu, di bawah guyuran hujan kota Bandung, Bara Mahendra yang lama mati. Jiwanya yang penuh kasih sayang, kepercayaannya pada manusia, dan sifatnya yang naif, ikut mati bersama adiknya.
Dan dari abu kehancuran itu, lahirlah sosok koki tiran yang baru. Sosok yang bersumpah tidak akan pernah lagi mempercayai siapapun dalam urusan uang. Sosok yang membangun benteng kapitalisme untuk melindungi hatinya yang hancur. Sosok yang kelak akan menukar mouse desainnya dengan sebuah golok daging.