Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9 Pendopo Bagaskara
Happy reading
Mobil putih yang membawa Hawa tiba di pelataran Pendopo Bagaskara--beriringan dengan Vespa Classic yang dikendarai oleh Rama.
Setelah menyandarkan sepeda motor kesayangannya di bawah pohon tabebuya, Rama berjalan menghampiri Hawa yang sudah keluar dari dalam mobil.
Suasana di pendopo terlihat riuh. Para wisatawan tampak antusias menikmati keindahan karya seni yang disuguhkan oleh keluarga Bagaskara.
"Ayo, Hawa!" Rama memandu Hawa untuk melangkah beriringan menuju pendopo, berbaur dengan para pengunjung yang lain.
Begitu melintasi ambang pendopo, indra penciuman Hawa segera disambut oleh aroma yang begitu lekat dan menenangkan--khas suasana keraton yang agung. Ada wangi kayu jati tua yang lembap, berpadu dengan semburat tajam melati yang mekar di sudut-sudut pelataran.
Di sela-sela riuhnya pengunjung, menguar tipis asap dupa yang aromanya manis menyerupai campuran gaharu dan rempah, seolah menarik Hawa masuk lebih dalam ke lorong waktu yang tenang.
Berbagai karakter wayang kulit berjajar di dinding pendopo, mengapit saka-saka kayu yang menjulang. Di tengah ruang, sebuah batu relief berukir kisah Rama-Sinta berdiri megah, bersanding dengan deretan prasasti batu yang menyimpan rahasia masa lalu.
Mata Hawa membulat sempurna, terpaku pada relief Rama dan Sinta yang tengah bercengkerama dalam tawa yang sunyi. Di atas permukaan batu yang dingin, gestur keduanya begitu luwes--tangan Rama seolah hendak merengkuh bahu Sinta dan Sinta seakan tertunduk malu, menunjukkan betapa kebersamaan mereka dinaungi kehangatan dan kebahagiaan. Seolah-olah sang pemahat memang sengaja menghentikan waktu demi mengabadikan cinta mereka agar tak lekang oleh zaman.
Rama melangkah satu tapak lebih dekat ke arah relief, jemarinya mengusap lembut detail pahatan di sana.
"Kamu tahu, Hawa? Banyak yang salah fokus hanya pada sisi romantis relief ini," ujar Rama pelan, suaranya rendah dan tenang.
"Tapi bagiku, relief Rama dan Sinta ini adalah simbol tentang dharma, pengabdian kepada kebenaran. Rama adalah sosok yang teguh pada prinsip, dan Sinta adalah wujud ketabahan yang luar biasa."
Rama menoleh, menatap Hawa dengan sorot mata teduh.
"Aku seorang Muslim, Hawa. Dan bagiku, menghargai karya seni seperti ini nggak akan melunturkan iman. Justru, ini memperkaya rasa syukurku akan betapa luasnya akal dan rasa yang Tuhan anugerahkan pada manusia untuk menciptakan keindahan."
Ia terdiam sejenak, membiarkan Hawa meresapi kalimatnya.
"Cinta Rama kepada Sinta itu selaras dengan ajaran kasih sayang yang universal. Bahwa... cinta itu menjaga, bukan menyakiti. Dan yang paling penting..." Rama lebih merendahkan suaranya, "...cinta itu memberi kepastian, bukan membiarkan seseorang menunggu dalam ketidakjelasan."
Hawa tertegun. Ia sempat mengira Rama adalah sosok religius yang kaku, namun ternyata... pemikiran lelaki yang berdiri di sisinya itu begitu luas dan terbuka.
"Jadi," Rama melanjutkan, kali ini dengan tatapan mata yang lebih teduh, "aku tidak akan menjanjikan istana untuk gadis yang selalu ku pinta di sepertiga malamku. Aku hanya ingin belajar dari filosofi relief ini; bahwa sejatinya, tugas lelaki adalah memuliakan gadis yang dicinta, bukan justru menodai marwahnya atau menjadi alasan di balik runtuhnya dunia gadis itu."
Hawa sejenak bergeming, menelaah setiap kata yang dituturkan oleh Rama.
Sesak kembali hadir saat sepenggal kalimat itu mengingatkannya pada Damar--sahabat sekaligus cinta pertamanya yang menorehkan luka di hati.
Menyadari gurat sendu yang terlukis jelas di wajah Hawa, Rama segera beranjak. Ia mengajak Hawa melangkah menuju deretan wayang kulit di sisi lain pendopo, lantas berhenti di depan sosok Bagong--wayang dengan mata bulat besar dan perut yang sangat buncit.
Ia menoleh ke arah Hawa dengan senyum yang sedikit mengembang.
"Kamu tahu kenapa Bagong matanya selalu melotot seperti ini?" tanya Rama, suaranya kini lebih ringan, meninggalkan kesan filosofis yang berat tadi.
Hawa menggeleng pelan, rasa sesaknya sedikit teralihkan oleh rasa penasaran.
"Banyak yang bilang dia melotot karena kaget melihat kenyataan hidup," seloroh Rama sambil terkekeh pelan.
"Tapi menurutku, dia cuma protes karena perutnya lebih maju daripada masa depannya. Dia abdi paling jujur; kalau lapar bilang lapar, kalau sedih ya dia tertawakan saja sedihnya sampai sedih itu bingung sendiri mau pergi ke mana."
Rama menatap Hawa, memastikan ada binar yang kembali di mata gadis itu. "Hidup itu kadang perlu dilihat dengan mata Bagong, Hawa. Melotot saja pada masalah, lalu tertawakan sampai dia malu sendiri."
Hawa tertawa kecil sambil menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak menyangka, lelaki yang baru saja bicara soal dharma dan pengabdian itu memiliki sisi komedi yang serenyah ini.
"Ada-ada aja kamu, Ram," ucap Hawa, sisa tawa masih menggantung di sudut bibirnya.
"Bukan ada-ada gajah?" Rama menimpali cepat dengan wajah datar yang dibuat-buat, namun matanya berkilat jenaka.
Tawa Hawa pecah pelan, mengudara di antara pilar-pilar kayu pendopo. Suara itu seolah menyapu bersih sisa sesak yang semula menghimpit rongga dadanya, menggantikannya dengan aliran udara yang lebih ringan dan hangat.
Rama sedikit terperanjat saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya, menyusul suara cempreng yang sangat ia kenali.
Suara itu milik Jatmika, sahabatnya yang paling tak bisa diam.
"Woe, Dab! Ternyata kamu di sini tho?" ujar Jatmika. Pandangannya lantas beralih pada Hawa yang berdiri dengan jarak sopan di sisi Rama.
"Loh, Mbak yang di Warung Merapi itu, kan?" tanya Jatmika antusias begitu Hawa menoleh.
Hawa mengernyit tipis, berusaha mengingat, lalu melengkungkan senyum ramah sambil mengangguk kecil.
"Kok bisa kamu ke sini sama Mbak cantik, Ram?" selidik Jatmika, matanya mengerling penuh tanya.
"Ya bisa. Kami kan satu kampus," jawab Rama santai, berusaha menjaga wibawa di depan Hawa.
Jatmika mendekat, berbisik lirih yang sebenarnya masih bisa terdengar. "Nggak takut kena labrak pacarnya?"
"Nggak. Ngapain takut?" jawab Rama singkat.
"Widih! Niat banget mau nikung, ya?"
Rama mendengus geli, lalu mendaratkan jitakan pelan di kepala sahabatnya yang sering kali bicara tanpa saringan itu.
Hawa tak merasa terganggu, ia justru menikmati interaksi jenaka di depannya. Baginya, melihat Rama yang biasanya tenang dan filosofis kini dipaksa 'turun takhta' oleh celotehan asal Jatmika adalah pemandangan yang menyenangkan sekaligus menghibur.
Saat Rama mengenalkannya, Jatmika dengan antusias mengulurkan tangan. Namun, belum sempat jemari mereka bersentuhan, Rama segera memukul pelan punggung tangan Jatmika.
"Bukan mahram!" tegur Rama tegas, namun santai.
Jatmika terkekeh, menarik kembali tangannya sambil meringis. "Hilih, dasar pelit! Padahal cuma mau salaman, bukan mau ijab kabul!"
Obrolan mengalir ringan, diiringi canda tawa.
Mereka tidak sedang membicarakan kebesaran keluarga Bagaskara sang pemilik pendopo, melainkan rahasia seorang Rama.
Jatmika dengan semangat membeberkan deretan proposal cinta yang berujung di tempat sampah, termasuk tentang Ning Syifa--putri Kyai Maksum yang pesonanya gagal meluluhkan prinsip seorang Dzaki Ramadan Bagaskara.
Hawa tersenyum simpul, sesekali melirik Rama yang tampak salah tingkah.
Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya ketika mengetahui bahwa pria di sampingnya itu bukan sekadar baik, tapi juga memiliki prinsip yang tak tergoyahkan.
Ternyata, di balik ketenangannya, Rama bagaikan benteng yang sulit ditembus. Ratusan proposal dan pesona seorang putri kiai tak cukup kuat untuk meruntuhkan pertahanannya.
Namun, tanpa Hawa tahu, benteng itu sudah lama runtuh hanya untuk satu gadis.
Dia... Hawa Salsabila Ramadhani. Gadis yang saat ini berdiri di sisinya, yang tawa kecilnya jauh lebih berharga daripada seluruh kemegahan saka-saka jati dan ukiran kuno di Pendopo Bagaskara.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen