Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Ultimatum Seorang Gadis”
Cessa tidak keluar kamar.
Pagi berganti siang, siang merambat ke sore, dan pintu kamar itu tetap tertutup rapat. Tidak ada suara langkah kaki berisik. Tidak ada teriakan khasnya. Tidak ada tawa yang biasanya membuat seluruh rumah Dirgantara terasa ramai.
Yang ada hanya keheningan.
Dan itu membuat Brain semakin pusing.
“Dia belum makan?” tanya Brain untuk kesekian kalinya.
Tasya menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lelah. “Sejak semalam. Aku sudah bujuk, tapi dia cuma bilang nggak lapar.”
Brain mengacak rambutnya frustasi. “Lusa dia ujian akhir. Kalau sampai dia nggak ikut—”
Kalimatnya terputus.
Karena pintu kamar Cessa tiba-tiba terbuka.
Gadis itu berdiri di ambang pintu. Rambutnya berantakan. Matanya sembab. Namun tatapannya… keras. Terlalu keras untuk gadis delapan belas tahun.
“Ayah,” ucapnya singkat.
Brain dan Tasya menoleh bersamaan.
“Aku nggak mau sekolah,” lanjut Cessa datar.
Tasya langsung berdiri. “Cessa, jangan begitu. Ini masa depan kamu.”
“Aku nggak peduli,” jawab Cessa cepat. “Aku nggak mau apa-apa kalau bukan sama Benny.”
Nama itu jatuh seperti bom di ruang keluarga.
Brain menghela napas panjang. “Kita sudah bahas ini. Apa yang kamu minta nggak masuk akal.”
“Menurut siapa?” Cessa menantang. “Menurut ayah?”
“Iya. Menurut ayah,” suara Brain meninggi. “Dia sahabat ayah. Usianya jauh di atas kamu. Ini salah.”
Cessa tersenyum kecil. Sinis. “Kalau salah, kenapa dia balas ciumanku?”
Tasya tersentak. “Cessa!”
Brain membeku.
Ucapan itu menusuk tepat di dadanya. Ia tahu Benny bukan lelaki sembarangan. Tapi mendengar pengakuan itu langsung dari mulut putrinya sendiri tetap membuat kepalanya berdengung.
“Dia nggak pernah bilang gitu,” jawab Brain dingin.
“Karena ayah lebih percaya sahabat ayah daripada anak ayah sendiri?” suara Cessa bergetar.
Keheningan menggantung.
Tasya melangkah mendekat. “Sayang, dengar bunda. Kamu lagi emosional. Ini bukan keputusan yang bisa kamu buat sekarang.”
Cessa menggeleng keras. “Bunda nggak ngerti. Aku nggak main-main.”
Brain mengepalkan tangan. “Kalau kamu nggak sekolah, ayah nggak akan mengabulkan apa pun yang kamu mau.”
Cessa menatap ayahnya lama.
Lalu berkata dengan tenang—terlalu tenang.
“Kalau aku nggak dinikahkan sama Benny, aku nggak akan sekolah.”
Tasya ternganga. “Cessa!”
“Itu pilihanku,” lanjut Cessa. “Ayah pilih masa depanku… atau harga diri ayah sendiri.”
Kalimat itu membuat Brain tersentak.
“Kamu mengancam ayah?” suaranya rendah, berbahaya.
“Bukan mengancam,” Cessa tersenyum pahit. “Ini ultimatum.”
Ia berbalik dan masuk kembali ke kamar. Pintu tertutup. Dikunci.
Tasya menutup mulutnya, menahan tangis. “Brain… kita harus bagaimana?”
Brain terduduk berat di sofa.
Ia kehabisan kata-kata.
Di sisi lain kota, Benny sedang memandangi layar laptopnya tanpa benar-benar melihat apa pun. Rapat pagi berjalan kacau. Ia membatalkan dua agenda. Fokusnya hilang sejak telepon tadi malam.
Ia tahu Cessa akan terluka.
Tapi ia tidak menyangka… separah ini.
Ponselnya bergetar.
Nama Brain muncul.
Benny ragu beberapa detik sebelum mengangkat. “Ya.”
“Datang ke rumah gua,” kata Brain singkat. Tidak ada basa-basi. “Sekarang.”
Nada itu membuat dada Benny menegang. “Ada apa?”
“Urusan anak gua.”
Telepon terputus.
Benny menutup mata.
Ia tahu ini belum selesai.
Di rumah Dirgantara, suasana semakin tegang ketika Benny tiba. Brain berdiri di ruang tamu, wajahnya kusut. Tasya duduk di sudut sofa, matanya sembab.
“Dia ngambek,” kata Brain tanpa pembukaan. “Mogok sekolah.”
Benny menghela napas pelan. “Brain—”
“Dia kasih ultimatum,” potong Brain. “Kalau nggak dinikahkan sama lo, dia nggak mau sekolah.”
Benny terdiam.
“Gua udah coba keras,” lanjut Brain, suaranya lebih rendah. “Tapi dia keras kepala. Dan ujian tinggal dua hari.”
Benny memijat pelipisnya. “Gua nggak bisa nikahin dia.”
“Terus masa depan anak gua gimana?” bentak Brain.
“Ini bukan tanggung jawab gua!”
“Dia jatuh cinta sama lo!” suara Brain pecah. “Dan lo—”
Brain berhenti. Rahangnya mengeras.
“Lo kasih harapan.”
Benny menoleh tajam. “Gua nggak pernah janji apa pun.”
“Tapi lo balas ciumannya,” sindir Brain pahit.
Benny terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyangkal.
Keheningan kembali menggantung.
“Ayah,” suara kecil terdengar dari atas.
Cessa berdiri di tangga. Ia mengenakan hoodie besar, membuat tubuhnya terlihat semakin rapuh. Namun matanya… tetap menyala.
Ia menatap Benny lurus.
“Datang buat nolak lagi?” tanyanya datar.
Benny membuka mulut, tapi kata-kata tercekat di tenggorokan.
Cessa turun satu anak tangga. “Aku nggak minta kamu cinta aku sekarang.”
Satu langkah lagi.
“Aku cuma minta kamu nikah sama aku.”
Benny menggeleng. “Cessa, ini salah.”
“Menurut siapa?” balas Cessa cepat. “Menurut kamu yang balas ciuman aku?”
Brain memalingkan wajah.
“Kalau kamu nggak mau,” lanjut Cessa, suaranya mulai gemetar, “bilang sekarang.”
Benny menatap gadis itu.
Putri sahabatnya. Gadis keras kepala. Gadis yang berhasil menembus semua temboknya.
Dan gadis yang kini mempertaruhkan masa depannya di hadapannya.
“Kalau aku bilang tidak?” tanya Benny pelan.
Cessa tersenyum kecil. Air mata menggenang di matanya.
“Berarti kamu siap lihat aku berhenti di sini.”
Ruangan terasa sesak.
Brain menatap Benny tajam. “Gua kasih waktu dua puluh empat jam.”
Benny terperanjat. “Brain—”
“Dua puluh empat jam,” ulang Brain tegas. “Besok lo kasih jawaban.”
Cessa menatap Benny tanpa berkedip.
Menunggu.
Menuntut.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Benny merasakan ketakutan yang nyata.
Bukan takut pada dunia.
Tapi takut pada pilihannya sendiri.
Jika Benny menolak, masa depan Cessa hancur.
Jika Benny menerima, hidupnya sendiri yang runtuh.