Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petaka
Zhiyuan, dua tahun lebih muda dari Ruoling, tampak seperti cermin ayahnya: wajah tegas, postur tenang, namun dengan mata gelap yang menyimpan kecerdasan serta kepekaan yang jarang dimiliki anak seusianya.
Ketika Zhiyuan mendekat, Selir Hua, ibu kandung Ruoling, berhenti meminta agar putrinya pindah tempat duduk. Selir itu memberikan penghormatan pada putra mahkota yang mengangguk lalu mengisi kursinya.
"Ruoling, jangan keras kepala!"
"Aku tatap mau duduk di sini, Ibu!" Tolak Ruoling sambil menoleh pada Zhiyuan meminta pertolongan. "Putra mahkota, tidak masalah kan kalau aku duduk di sini?"
"Biarkan saja, Ibu." Kata Putra mahkota dengan suara pelan memilih menuruti keinginan Ruoling. "Jika di larang percuma saja, Ruoling akan semakin memaksa."
Ruoling tersenyum penuh kemenangan dalam hati tanpa menoleh pada ibunya yang pasti sedang menahan amarah karna tingkahnya, tapi juga tidak bisa membantah karna yang mengatakannya adalah sosok terpenting kedua di kerajaan.
Hingga untuk kali ini saja Selir Hua memutuskan untuk mengalah, dengan membiarkan putrinya mengambil tempatnya. Selir Hua tidak marah dengan yang di lakukan putrinya, tapi tidak ingin di tegur oleh Permaisuri atau orang lain karna ketidak sopannya.
Setelahnya selama beberapa saat tidak ada yang buka suara, semua orang termasuk Putra mahkota menikmati suara musik yang mulai terdengar dengan indah.
"Terima kasih, Zhiyuan." Bisik Ruoling tiba-tiba saja yang hanya bisa di dengar mereka, membuat Zhiyuan menoleh pada sosok dua tahun lebih tua darinya itu.
"Tapi jangan seperti ini lagi," balas Zhiyuan pada Ruoling yang mengangguk.
Selagi semua musik serta sebagian tamu sedang berbisik-bisik para pelayan masih sibuk dengan membawa berbagai hidangan yang di letakkan di setiap meja.
Sampai tiba-tiba saja suara musik mereda. Semua orang mendengar seruan kalau Kaisar memasuki aula hingga membuat tamu berdiri dan memberikan hormat.
Kaisar Long Moxuan memasuki ruangan dengan jubah hitam bertabur benang emas. Wibawanya bagaikan gunung tinggi—tenang dan kokoh.
Setelahnya doa pembuka dan ucapan selamat, para tamu kembali duduk. Musik kembali mengalun. Para pelayan mulai menyajikan makanan satu per satu lagi setelah Kaisar mengizinkan melanjutkan kegiatan mereka.
Ruoling dari tadi sibuk memperhatikan tamu, lebih tepatnya anak-anak seusianya, dengan senyum kemenangan, tiba-tiba saja mencondongkan sedikit tubuh ke arah Zhiyuan.
“Putra Mahkota,” bisiknya dengan pelan, “hari ini Ayah terlihat lebih tampan dari biasanya.”
“Ruoling, ini acara resmi. Bukan tempat bercanda!" Peringat Zhiyuan dengan pelan tanpa menatap Ruoling.
“Aku tahu, tapi itu pujian yang menurutku sudah sangat sopan."
Zhiyuan menoleh sebentar pada Ruoling. mengerti kalau kakaknya itu sudah bosan dengan acara formal. "Menurutmu begitu? Ya sudah, lakukan saja." Katanya tanpa berniat untuk membuka suara lagi.
Sementara Ruoling membuang wajah untuk menahan tawa, tapi seketika terdiam karna tatapan penuh peringatan dari ibunya. Ruoling buru-buru mengalihkan pandangannya ke Putra mahkota, "tapi–"
"Diam!" Selir Hua membuka suara karna mendapatkan tatapan penuh peringatan dari Permaisuri yang duduk di sebelah kanan Kaisar. "Sekali ini saja, jangan membuat ibu malu."
“Baiklah, maafkan aku." jawab Ruoling, namun ia jelas tidak berniat benar-benar diam. Menutup mulut sambil mendengarkan musik yang di mainkan ahlinya selama acara benar-benar membuat Ruoling bosan.
Tapi ia juga tidak ingin membuat ibu malu karna dirinya hingga akhirnya memilih untuk memandangi ruangan yang penuh dengan dekorasi mewah hingga membuat matanya berbinar lagi.
“Dekorasinya indah. Tirai hijau gioknya baru, bukan? Dan lukisan itu… aku tidak ingat pernah melihatnya tahun lalu.” komentarnya.
“Kau hafal dekorasi setiap tahun?” Tanya Zhiyuan tidak tahan lagi.
“Tentu saja.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengingat mana yang paling indah. Kalau aku jadi perancang jamuan suatu hari nanti, aku akan membuat yang lebih indah dari ini."
Selir Hua dari seberang meja memperhatikan mereka dan memberi tatapan lembut—namun bernada peringatan tujuannya agar sang putri tidak berulang lagi.
Ruoling kembali memperbaiki posisi duduknya sambil bicara dengan Putra Mahkota yang sesekali menanggapinya.
Hingga pemain musik menyelesaikan permainannya, semua orang di dalam aula berdiri, menghormati Kaisar lalu tiba-tiba saja pemain musik mengatakan selamat bertambah usia pada Kaisar serta menyampaikan doa-doa baik mereka.
Kaisar tersenyum menanggapi sambil melangkah menuju meja yang paling menonjol dan terletak di bagian paling depan hingga bisa melihat semua yang hadir.
"Terimakasih, kalian lanjutkan musiknya dan kembali duduk." Kata Kaisar. "Saat ini bersikap santailah dan mari nikmati hidangannya."
Sup daging yang di pilih Kaisar untuk menjadi menu utama. Setiap tahunnya mengadakan acara bertambahnya usia, Kaisar tidak pernah memilih menu utama sama selalu berbeda dan tentu saja menu favoritnya Kaisar.
Para pelayan mendekat, membuka penutup mangkuk dengan serentak membuat aroma hangat menyebar di udara. Pertama kali menikmati sup nya adalah kaisar lalu para pelayan yang ada di setiap meja mulai melayani, memindahkan sup itu ke mangkuk tamu.
Ruoling tiba-tiba saja menutup hidungnya, dahi gadis itu berkerut. “Aneh… Bau ini… berbeda.”
Tatapannya jatuh pada mangkuk sup sendiri yang sedang di isi lalu ia mengalihkan pandangan pada ibu, hendak menyampaikan keluhannya, tapi sebelum Ruoling membuka suara, tiba-tiba suara sendok jatuh terdengar membuatnya refleks menoleh ke asal suara.
Di tempat duduknya Ruoling bisa merlihat Kaisar menegang sambil memegangi perutnya. Keringat dingin membanjiri wajah serta bibirnya pucat hingga membuatnya ketakutan, tapi belum sempat Ruoling bereaksi terdengar suara terjatuh dari berbagai tempat yang membuat kepanikan terjadi di dalam ruangan bahkan di dalam kerajaan.