Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: ANGIN DARI ARAH YANG BERUBAH
Musim berganti. Hujan yang tak henti memberi jalan pada kemarau yang menyengat. Atap bocor kami sudah ditambal, tembok berjamur dicat ulang dengan warna kuning muda pilihan Kinan. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki dengan semen atau cat: Maya.
Dia mulai lupa hal-hal kecil. Kunci rumah yang selalu ditaruh di mangkuk dekat pintu, tapi sekarang sering hilang. Janji untuk menjemput Kinan dari TK, tapi terlambat karena "lupa waktu". Bahkan nama obat yang harus diminum setiap hari, kadang dia ragu.
Awalnya kami pikir itu kelelahan. Setelah perang panjang dengan keluarga Rangga, setelah perjuangan membangun rumah tangga, wajar jika tubuh dan pikiran lelah. Tapi kemudian ada kejadian yang tidak bisa dijelaskan sebagai kelelahan biasa.
Suatu pagi, saat sarapan, Maya menatap Bima dengan ekspresi kosong.
"Kamu... siapa namanya lagi?"
Bima membeku. "Bima, Ma. Anak Mama."
"Oh." Maya tersenyum, tapi matanya bingung. "Bima. Iya, Bima."
Aisyah menangis di kursi bayi, tapi Maya tidak bereaksi seperti tidak mendengar.
Aku mendekat, menyentuh bahunya. "Maya?"
Dia menoleh, memandangiku. "Raka? Kenapa suara kamu seperti dari jauh?"
Pukul sembilan pagi itu, kami sudah di ruang gawat darurat.
---
Serangkaian tes. MRI, CT scan, tes darah, pemeriksaan neurologis. Rumah sakit menjadi latar kedua kami. Bibi Sartika menjaga anak-anak di rumah, wajahnya pucat oleh kekhawatiran yang sama dengan kami.
Dokter spesialis saraf seorang perempuan bernama Dr. Anindita memanggil kami ke ruangannya setelah dua hari observasi.
"Saya perlu jujur pada kalian," mulainya, wajah serius. "Hasil MRI menunjukkan ada perubahan di otak Ibu Maya. Area memori, khususnya."
"Perubahan seperti apa?" tanyaku, tangan menggenggam tangan Maya yang dingin.
"Ada penyusutan. Atrofi. Dan ada protein abnormal yang terakumulasi."
"Artinya?"
Dr. Anindita menarik napas. "Gejalanya mirip dengan early onset dementia. Tapi Ibu Maya masih sangat muda. Jadi kami butuh biopsi untuk konfirmasi."
Dunia berhenti. Kata-kata itu dementia, early onset, biopsi bergema di ruangan kecil itu seperti dentuman.
"Tapi... dia baru kepala tiga" protesku, suara pecah.
"Itu yang membuat ini tidak biasa. Mungkin genetik. Mungkin ada faktor lain." Dokter memandang Maya yang duduk diam, seperti tidak sepenuhnya memahami. "Kami akan lakukan tes genetik juga. Untuk memastikan."
Perjalanan pulang sunyi. Maya memandang keluar jendela mobil, wajahnya tenang anehnya.
"Raka," bisiknya tiba-tiba.
"Iya?"
"Apakah aku akan lupa kalian?"
Air mata yang kutahan sejak di ruang dokter akhirnya tumpah. "Tidak, Sayang. Tidak akan."
Tapi ketakutan itu nyata. Dan kami berdua tahu itu.
---
Biopsi otak. Kata-kata yang tidak pernah kami bayangkan akan berhubungan dengan Maya, perempuan kuat yang bertahan dari pernikahan gagal, yang membesarkan dua anak sendirian, yang berani mencintaiku meski dunia menentang.
Prosedurnya berisiko. Tapi tanpa diagnosis pasti, tidak ada rencana pengobatan.
Malam sebelum biopsi, keluarga besar berkumpul di rumah sakit. Bibi Sartika, beberapa bibi, bahkan ayahku datang. Doa-doa dipanjatkan dalam berbagai bahasa, berbagai keyakinan. Tapi yang paling menyentuh adalah doa Bima.
Dia berdiri di samping tempat tidur Maya, memegang tangannya, dan berkata dengan suara kecil tapi jelas:
"Tuhan, kalau memang harus ada yang sakit, biar aku saja. Jangan Mama. Karena adik-adik butuh Mama. Dan... aku sudah besar. Aku kuat."
Maya menangis, menarik Bima ke pelukannya. "Jangan pernah bilang seperti itu, Sayang. Mama yang harus kuat untuk kalian."
"Tapi kalau Mama tidak bisa, aku yang akan kuat. Janji."
Kinan, tidak sepenuhnya paham tapi merasakan ketegangan, menempelkan boneka favoritnya di samping Maya. "Boneka ini jaga Mama. Biar Mama nggak takut."
Aisyah, di pangkuanku, tertidur dengan damai. Tidak tahu bahwa dunia ibunya mungkin akan berubah selamanya besok.
---
Prosedur berlangsung lima jam. Lima jam terpanjang dalam hidupku. Di ruang tunggu, aku tidak bisa berdoa kata-kata macet di tenggorokan. Hanya bisa memandangi foto keluarga di ponsel: kami berlima, tersenyum, di hari pernikahan sederhana kami.
Bibi Sartika duduk di sampingku, menggenggam rosario. "Dia kuat, Nak. Ibunya juga dulu punya masalah kesehatan, tapi bertahan lama."
"Apakah ini turunan?" tanyaku, tiba-tiba teringat.
"Mungkin. Tapi kita tidak pernah tes. Dulu... tidak ada uang."
Jam menunjukkan pukul tiga sore ketika Dr. Anindita keluar. Wajahnya lelah.
"Prosedur berhasil. Tapi..." dia berhenti, memandang kami. "Hasil awal mengonfirmasi kecurigaan kami. Ini adalah bentuk genetik dari early onset Alzheimer."
Lantai seolah hilang dari bawah kakiku.
"Berapa... berapa lama?" tanya Bibi Sartika, suara bergetar.
"Tidak bisa dipastikan. Progres nya berbeda setiap orang. Tapi dengan usia Ibu Maya yang masih muda... mungkin lebih cepat."
"Dan pengobatan?"
"Kami bisa coba memperlambat. Tapi tidak bisa menghentikan. Dan... akan ada efek samping."
Aku menutup wajah. Dunia yang baru saja kami bangun dengan susah payah keluarga, rumah, kedamaian sekarang retak oleh diagnosis empat kata: early onset Alzheimer genetik.
---
Maya dibawa ke kamar pemulihan. Aku diizinkan menemuinya sepuluh menit kemudian.
Dia terbaring, kepala dibalut perban, tapi matanya terbuka. Dan yang membuatku terkejut dia tersenyum.
"Raka."
"Aku di sini."
"Dokter bilang aku punya penyakit lupa."
"Iya."
"Jadi aku harus menulis semuanya sekarang. Sebelum aku lupa."
Aku tidak bisa menahan tangis lagi. "Kamu tidak akan lupa, Maya. Kita akan melawan ini."
"Tapi kalau kalah?" Matanya jernih, terlalu jernih untuk seseorang yang baru saja menerima vonis. "Kalau aku lupa kamu... lupa anak-anak... lupa bahwa kita saling mencintai..."
"Kami akan mengingatkanmu. Setiap hari."
"Tuliskan," pintanya, suara lemah tapi tegas. "Tuliskan cerita kita. Dari kecil. Dari ketika kita bertengkar soal anggur. Dari ketika kamu pergi. Dari ketika kamu kembali. Dari Aisyah lahir. Semuanya."
"Baik."
"Dan... ajari anak-anak. Untuk tidak takut. Untuk tetap mencintaiku meski aku tidak mengenali mereka."
"Jangan, Maya..."
"Harus, Raka." Dia memegang tanganku. "Karena ini yang tersisa. Persiapan."
---
Minggu-minggu berikutnya adalah penyesuaian pahit. Maya mulai minum obat yang membuatnya mual, pusing, tapi (semoga) memperlambat progres penyakit. Kami buat papan besar di dapur—foto-foto dengan nama di bawahnya: "Ini Maya, istri Raka, ibu Bima, Kinan, Aisyah". "Ini Raka, suami Maya". "Ini Bima, anak sulung". "Ini Kinan, anak kedua". "Ini Aisyah, bayi kami."
Setiap pagi, sebelum aku kerja, kami membaca papan itu bersama. Seperti ritual. Seperti doa.
Tapi penyakit tidak peduli dengan ritual. Perlahan tapi pasti, Maya mulai kehilangan kata-kata. "Remote" jadi "benda untuk TV". "Sendok" jadi "alat makan yang bulat". Dan suatu sore, dia memanggil Bima dengan nama Rangga.
Bima menangis di kamarnya. "Aku bukan Papa, Om. Aku Bima."
"Aku tahu, Nak. Mama sakit."
"Tapi sakitnya bikin dia lupa aku?"
"Untuk sementara. Tapi di dalam hati, dia tetap ingat."
"Bagaimana Om tahu?"
"Karena cinta tidak butuh ingatan. Cinta ada di tempat yang lebih dalam."
Tapi penjelasan itu tidak menghapus rasa sakit di mata Bima. Di mata Kinan yang mulai takut mendekati ibunya karena "Mama kadang lihat Adek kayak lihat orang asing". Di tanganku sendiri yang gemetar setiap kali Maya menatapku dengan tatapan kosong.
---
Keluarga Rangga, ketika mendengar kabar, bereaksi tak terduga.
Bayu datang, bukan dengan tuntutan hukum, tapi dengan tawaran bantuan.
"Keluarga saya punya akses ke dokter spesialis di Singapura," katanya. "Dan... kami mau bantu biayai pengobatan."
"Apa mau kalian?" tanyaku, waspada.
"Tidak ada strings attached," janjinya. "Ini... untuk Maya. Dan untuk anak-anak."
Bahkan orang tua Rangga mengirim surat (tulisan tangan, bukan melalui pengacara):
"Kami mungkin berbeda dalam banyak hal. Tapi Maya adalah ibu dari cucu-cucu kami. Dan kami tidak ingin mereka kehilangan ibunya lebih cepat dari yang perlu."
Itu mungkin bentuk penyesalan mereka. Atau strategi baru. Tapi saat ini, dengan tabungan yang menipis karena biaya pengobatan, kami tidak bisa menolak.
Jadi kami ke Singapura—kota yang pernah kutinggalkan untuk Maya, sekarang kami datangi untuk menyelamatkannya.
---
Rumah sakit di Singapura modern, steril, efisien. Dokter-dokter dengan CV mengesankan memeriksa Maya, mengulang tes, mengonfirmasi diagnosis. Tawaran mereka: uji klinis obat baru. Risiko tinggi, tapi jika berhasil, bisa memperlambat progresi secara signifikan.
"Berapa persen keberhasilan?" tanyaku.
"Tiga puluh untuk memperlambat. Lima untuk menghentikan."
"Dan risikonya?"
"Gagal ginjal. Gangguan hati. Atau... mempercepat degenerasi."
Pilihan antara yang buruk dan yang lebih buruk.
Malam di hotel Singapura, Maya terbangun dari tidur. Dan untuk pertama kali sejak diagnosis, dia menangis histeris.
"Aku takut, Raka. Aku takut bangun suatu hari dan tidak tahu siapa diriku. Tidak tahu siapa kamu. Tidak tahu anak-anakku."
Aku memeluknya erat. "Aku akan selalu memberitahumu. Setiap hari."
"Tapi bagaimana kalau aku tidak percaya? Bagaimana kalau aku marah karena orang asing bilang dia suamiku?"
"Kamu boleh marah. Boleh tidak percaya. Tapi aku akan tetap di sana."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak pergi saja? Lebih mudah."
"Karena delapan tahun lalu, aku pergi. Dan itu adalah kesalahan terbesar hidupku. Sekarang, tidak peduli seberapa sulit, aku tetap."
Dia melihatku, matanya mencari ingatan di balik kabut penyakit. "Kamu... kamu memang Raka. Yang keras kepala."
"Dan kamu Maya. Yang lebih keras kepala."
Kami tertawa kecil, dalam kamar hotel asing, dengan masa depan yang tidak pasti membentang di depan seperti samudera gelap.
---
Keputusan dibuat: ikuti uji klinis. Karena tiga puluh persen harapan lebih baik daripada nol persen.
Suntikan pertama diberikan di Singapura. Maya pucat, tapi tidak menangis. Aku memegang tangannya, Bima dan Kinan (yang dibawa Bibi Sartika) menonton dari balik kaca.
Setelahnya, di ruang pemulihan, Maya melihat Bima.
"Kamu... anakku," ucapnya, perlahan.
"Iya, Ma. Bima."
"Bima." Dia tersenyum. "Namaku Maya. Ibumu."
Bima menangis, tapi kali ini air mata bahagia. "Iya, Ma. Kamu ibuku."
Untuk sesaat, kabut tersibak. Untuk sesaat, dia ingat.
Tidak lama. Tapi cukup.
Cukup untuk memberi kami harapan bahwa meski ingatan pergi, esensi tetap. Meski nama terlupa, cinta tetap.
---
Pulang ke Makassar, hidup berlanjut dengan ritme baru. Obat baru membawa efek samping Maya sering lelah, tidur lebih lama, tapi kemunduran memori sedikit melambat.
Kami buat buku kenangan. Setiap hari, kami tambah satu halaman: foto dan cerita. Hari ini Maya ingat cara membuat telur dadar kesukaan Bima. Besok lupa lagi, tapi tidak apa—kita tulis di buku.
Bima menjadi "ahli ingatan". Dia yang paling sabar mengulang-ulang: "Ma, ini Kinan, adikku." "Ma, ini Aisyah, adik bayi kita."
Kinan menjadi "penjaga senyum". Setiap kali Maya bingung, Kinan membuat wajah lucu sampai ibunya tertawa.
Dan aku? Aku menjadi penjaga janji. Janji untuk tetap ada. Janji untuk mengingat ketika dia lupa. Janji untuk mencintai dalam bentuk apapun yang tersisa.
Suatu malam, ketika Maya tertidur lebih awal karena kelelahan, Bima duduk di sampingku di teras.
"Om, apakah Tuhan jahat? Memberi Mama penyakit seperti ini?"
"Tidak, Bima. Kadang hal buruk terjadi bukan karena Tuhan jahat. Tapi karena... karena hidup punya rencananya sendiri."
"Rencana apa yang melibatkan Mama lupa kita?"
"Mungkin... untuk mengajari kita tentang cinta tanpa pamrih. Cinta yang tidak butuh diingat. Cinta yang memberi meski tidak menerima kembali."
Bima berpikir. "Seperti matahari? Tetap bersinar meski kita sering lupa melihatnya?"
"Tepat seperti itu."
Dia memandang bintang-bintang. "Kalau Mama nanti benar-benar lupa... apakah cintanya pada kita juga hilang?"
"Tidak. Cinta itu seperti bintang. Meski kita tidak melihatnya di siang hari, dia tetap ada. Di tempat yang lebih dalam dari ingatan."
Malam itu, angin bertiup lembut dari arah laut. Membawa aroma garam. Membawa suara azan yang jauh. Membawa kedamaian yang rapuh, tapi nyata.
Dan di dalam rumah, Maya terbangun sebentar, melihat keluar jendela, melihat kami berdua di teras. Dia tersenyum, senyum kecil, mungkin tidak mengerti mengapa, tapi tulus.
Mungkin itu yang tersisa ketika segala sesuatu lain pergi: kemampuan untuk merasakan. Untuk mencinta. Untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Kami mungkin kehilangan banyak hal dalam perjalanan ini. Tapi selama masih ada senyum itu, selama masih ada pelukan sebelum tidur, selama masih ada keluarga yang memilih untuk tetap bersama meski ingatan memudar...
Maka masih ada cahaya di kegelapan.
Masih ada cinta di tengah kehilangan.
Masih ada kita, dalam bentuk apapun yang tersisa.