NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 22 - Merawat Fasha

Awalnya, Sander memang tidak mengizinkan Fasha masuk karena ia tidak mengetahui kondisinya.

Ruang kerja itu dipenuhi berkas-berkas rahasia yang belum selesai diproses. Ia khawatir Fasha akan ceroboh mengambilnya dan menghilangkannya. Namun kini, kekhawatiran itu terasa sama sekali tidak diperlukan.

“Aku akan menelepon Dokter Liam untuk memeriksamu lagi.”

“Berhenti, berhenti…”

Fasha menarik lengan baju Sander sambil memperlihatkan matanya yang agak basah.

Wajahnya memerah karna tidak sehat. Tubuhnya terasa panas saat ia mendekati Sander. Kelopak matanya nyaris tak terbuka, dan ia berdiri dengan lemah.

Pipinya menempel di bahu Sander sehingga pria itu bisa merasakan panas membara dari kulitnya. Sentuhan itu membuat Sander bergidik tanpa sadar.

“Kita tidak bisa terus-terusan mengganggu Paman Dokter. Dia nanti marah pada kita.”

“Fasha, ini rumah keluarga Carter. Tidak ada yang berani memarahi siapa pun di sini, apalagi kamu. Kalau sakit, wajar menemui dokter. Tidak perlu malu.”

“Kak… aku tidak mau memanggil Paman Dokter lagi.”

Suaranya semakin serak. Entah karena terlalu banyak menangis atau sebab lain, tenggorokannya terasa kering dan perih, seolah ada pisau kecil yang menusuk setiap kali ia menelan ludah.

“Diam.”

Sander ragu sejenak, lalu mengangkat tangan untuk menyentuh dahi Fasha.

Panasnya membuat keningnya berkerut. Ia segera menuntun Fasha menuju pintu.

“Kamu demam. Kembali dulu ke kamarmu.”

“Demam? Bagaimana bisa?” Langkah Fasha goyah. Pikirannya kosong. Ia hanya bisa mencengkeram pergelangan tangan Sander erat-erat agar tidak terjatuh.

“Fasha, tadi malam kamu menutup jendela atau tidak?”

Meski tirai tebal terpasang, angin kencang tetap bisa masuk. Ditambah penurunan suhu dua hari terakhir, malam itu terasa sangat dingin. Membiarkan jendela terbuka semalaman jelas bisa menyebabkan demam.

“A-aku tidak tahu, Kak… aku benar-benar tidak tahu.”

Fasha meringkuk di bawah selimut. Kepalanya yang berambut halus menyembul keluar. Ia menekan jarinya ke tenggorokan, meringis.

“Di sini sakit…”

“Minum air hangat dulu..”

Kotak P3K berisi berbagai obat flu. Kemungkinan besar Fasha terkena flu. Sander mengambil dua jenis obat dan tetap menghubungi Dokter Liam untuk memastikan.

“Fasha, minum obat ini sekarang.”

Pil putih kecil itu tergeletak di telapak tangan Fasha.

Ia menunduk mengendusnya, lalu langsung memasang wajah pahit. Bau obat itu saja sudah membuat mulutnya terasa getir.

'Kenapa semua obat selalu terasa pahit!'

Ia memaksa menelan ludah, menggertakkan gigi. Namun begitu pil itu menyentuh tenggorokannya, ia bergegas ke kamar mandi dan muntah.

Ia memang belum makan banyak, dan kini semuanya keluar.

Fasha memegangi perutnya yang perih, berkumur dengan segelas besar air. Rasa pahit masih tertinggal di mulutnya. Tubuhnya terasa semakin lemah.

'Sial, kenapa tubuh ini rapuh sekali.. aku tak menyangka akan begini'

Sander berdiri di ambang pintu kamar mandi, tampak kebingungan. Keningnya berkerut, siap menangkap Fasha jika ia goyah.

“Haruskah aku panggil Dokter lagi?, atau kita langsung ke rumah sakit?”

“Tidak apa-apa… aku baik-baik saja.”

Fasha paham kondisinya. Ia hanya perlu beristirahat.

“Kamu tidak bisa menelan pil? Ada obat bentuk butiran. Minum satu bungkus saja.”

“Baik.”

Sayangnya, obat butiran sudah habis. Sementara itu, sakit perutnya justru semakin parah. Entah ia berkeringat dingin atau kepanasan, Fasha hanya bisa berbaring, menekan lengannya ke perut untuk meredakan nyeri.

“Jangan bergerak. Aku turun sebentar.”

Saat Sander kembali, ia membawa tas belanja. Ia mengeluarkan bubur dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.

“Fasha, makan sedikit. Bubur bisa menenangkan perutmu. Dalam kondisi begini, kamu tidak boleh kosong perut.”

Rambut Fasha lepek menempel di dahinya, seolah baru diangkat dari air. Ia mencoba bangkit beberapa kali, namun gagal.

“Sander… aku tidak mau makan.”

Mereka saling menatap dalam diam.

Akhirnya, Sander mendekat, membungkus Fasha bersama selimut, lalu mengangkatnya. Ia menopang tubuh Fasha dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyelipkan bantal di punggungnya, merapikan selimut sebelum mengambil mangkuk bubur.

Tangannya yang memegang sendok sedikit bergetar. Ia hanya mengambil setengah sendok—jelas ini bukan hal yang biasa ia lakukan.

Fasha membuka mulut dengan patuh.

Bubur putih sederhana itu lembut, hangat, dan sedikit manis. Ia menelannya perlahan, matanya tak lepas dari wajah Sander.

'Sander memang tokoh terbaik di novel ini.. aku kemang tidak salah menilainya..'

1
hile sivra
pantes pas liat riwayat bacaan ada yang update tapi kok asing, ternyata ganti gambar sampul toh /Facepalm/
Lynn_: Udah terkontrak ka, jdi covernya ganti🙏😇
total 1 replies
hile sivra
haduuh tanggal 2 maret up nya, bisa 2 hari lagi ga sih thoorr/Scowl/
Lynn_: Makasih udah baca dan komen ya kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!