NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:33.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan berhenti

Cahaya keemasan menyelinap di antara celah daun mahoni, melukis garis-garis tipis di lapangan semen yang masih menyisakan sisa embun semalam. Di gerbang sekolah, langkah-langkah kecil mulai berdatangan—sepasang sepatu putih bersih yang melompat riang, tas punggung besar yang tampak lebih berat dari pemiliknya, dan tawa renyah yang memecah kesunyian koridor.

Suasana ini dipenuhi dengan kehangatan sapaan pertama. Para guru yang berdiri di ambang pintu kelas menyambut siswa dengan senyuman yang menjadi pelita pagi di koridor sekolah.

Di dalam kelas, spidol dan kertas menciptakan suasana khidmat yang bersahaja. Suara bangku yang diseret dan celoteh tentang mimpi semalam perlahan mereda saat lonceng berdentang—sebuah tanda bahwa perjalanan baru untuk mengasah kemampuan dan keberanian resmi dimulai. Inilah tempat di mana setiap hari adalah lembaran baru yang siap ditulis dengan tinta semangat.

Byan mengikuti pelajaran seperti biasa nya dengan tekun penuh semangat. Terlebih ada pemicu semangatnya itu ada di seberang jalan gedung sekolah. Tiga jam pelajaran berlangsung tanpa terasa. Bel istirahat berdentang begitu tenang.

Byan merapikan peralatan tulis sambil menyahut salam seorang guru di depan sana. Ia merasa kenyang jadi memutuskan hanya jajan di kantin. Bekal makan siang akan di makan saat istirahat kedua nanti.

"Vin, bagaimana mama baru kamu?" Seorang gadis kecil bertanya di sela suapannya. Sejak lama ia ingin menanyakan itu. Sebagai anak broken home. Gadis kecil itu penasaran bagaimana memiliki ibu baru.

"Mama B baik, sayang juga sama aku." Sahut Byan berbinar sambil memakan jajannya. "Mama B selalu menemani aku belajar, makan siang dan juga kami sering menghabiskan waktu di toko bunga kalau sudah sore kami pulang menunggu papa pulang kerja."

"Aku takut punya mama baru." Ujar gadis kecil itu lagi. "Takut tidak disayang lagi kalau sudah lama. Apa lagi kalau nanti punya adek bayi, aku pasti tidak disayang."

"Benar, Vin." Timpa yang lain. "Sekarang mama baru kamu memang sayang sama kamu tapi nanti saat kamu punya adek bayi atau lama-lama mama baru kamu bisa berubah jahat." Sambungnya polos tanpa tahu kalimatnya mempengaruhi.

 

...----------------...

Lonceng pulang sekolah kali ini tak terdengar seperti nyanyian kebebasan, melainkan dentang yang berat bagi langkah kaki seorang bocah laki-laki. Di antara keriuhan teman-temannya yang berlarian mengejar jemputan, ia justru melambat, memandangi debu yang menari di bawah terik matahari siang yang menyengat.

Di ujung jalan, ia melihat sosok tante bunga—ibu barunya—berdiri dengan payung biru dan senyum yang selalu sama hangatnya dengan cokelat panas di malam hari. Namun, hari ini ada kabut tipis di benak kecilnya. Sambil mengayunkan tas punggungnya yang terasa lebih berat dari biasanya, sebuah tanya menusuk kalbunya.

Bagaimana jika kasih sayang ini hanya sementara? Bagaimana jika esok, Mama B tidak lagi menungguku di sini dengan payung biru itu?

Byan teringat betapa lembut jemari itu menyisir rambutnya semalam, namun ketakutan akan kehilangan kembali merayap di sela-sela pikirannya. Setiap tawa yang mereka bagi seolah menjadi harta yang ia genggam erat-erat, takut kalau-kalau suatu saat nanti ia harus kembali pada kesunyian yang dulu pernah ia kenal.

Byan mendekat, mencoba menyembunyikan gundah di balik senyum tipisnya. Saat tangan lembut Sebria menyambut telapak tangannya, ia hanya mampu membatin, berharap agar kasih sayang ini bukanlah sekadar tamu yang akan pamit saat senja tiba.

"Pulang sekolah tadi belajar apa, sayang?" suara Sebria memecah lamunan, lembut seperti biasanya.

Byan menunduk, menatap ujung sepatunya. "Belajar tentang musim, Ma. Kata Ibu Guru, musim bisa berubah-ubah. Yang tadinya panas bisa jadi hujan badai."

Sebria tertawa kecil, jemarinya mengusap tengkuk leher Byan dengan penuh kasih. "Benar. Tapi setelah badai, biasanya ada pelangi, kan?"

Langkah anak laki-laki itu mendadak terhenti di bawah bayangan pohon peneduh. Ia mendongak, matanya yang bulat menatap lurus ke arah Sebria. "Kalau Mama... apa Mama B juga seperti musim? Bagaimana kalau suatu hari nanti mama tidak ingin jadi Ibu lagi buat aku?"

Suasana jalanan yang bising seolah mendadak senyap. Sebria berlutut di depannya, mengabaikan debu yang menempel di roknya. Ia memegang kedua bahu kecil itu, matanya mencari kepastian di tatapan sang anak.

"Dengar, Sayang," bisik Sebria dengan nada yang sangat dalam. "Musim memang berubah, tapi akar pohon ini tidak akan pergi ke mana-mana. Sayang mama ke kamu bukan seperti cuaca yang mendung lalu hilang, tapi seperti napas. Selama mama ada, napas itu tetap milik kamu."

Anak laki-laki itu terdiam, mencoba menelan janji itu di tengah gemuruh ragu nya. Ia ingin percaya, sangat ingin percaya. Byan mengangguk pelan, membiarkan Sebria menggandeng tangannya lagi untuk melanjutkan langkah yang tertunda. Namun, genggaman itu terasa berbeda di telapak tangannya, ada kehangatan yang nyata, sekaligus ketakutan yang licin untuk digenggam.

"Janji ya, Ma?" lirih nya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara klakson kendaraan yang melintas.

Sebria tersenyum lebar sambil menunjuk penjual es krim sejajar dengan toko, mencoba mengalihkan mendung di wajah sang anak. Byan tersenyum, tapi matanya tetap terpaku pada bayangan mereka yang memanjang di aspal. Ia teringat mainan lamanya yang dulu sangat ia sayangi, namun kini hanya tersimpan di kotak berdebu karena ia bosan.

Ia bertanya-tanya dalam diam. Apakah orang dewasa bisa merasa bosan pada seorang anak?

Saat mereka berjalan beriringan menuju toko Byan sengaja melonggarkan sedikit genggamannya. Ia ingin melihat apakah Sebria akan menyadarinya dan mengeratkan kembali pegangan itu, atau justru perlahan-lahan melepaskannya tanpa ia sadari. Di sela rasa manis es krim yang kemudian ia nikmati, ada sisa rasa hambar di pangkal lidahnya—sebuah ruang kosong yang masih menanti bukti bahwa "napas" yang dijanjikan itu tidak akan pernah terhenti.

Langkah mereka akhirnya sampai di depan toko bunga yang tenang. Sebelum kunci sempat diputar, Byan mendadak berhenti dan memeluk pinggang Sebria dengan erat, menyembunyikan wajahnya di lipatan baju wanita itu. Segala tanya yang sedari tadi berisik di kepalanya mendadak senyap saat ia menghirup aroma parfum lavender yang menenangkan—aroma yang kini ia sebut sebagai "rumah".

Sebria tertegun sejenak, lalu membalas pelukan itu dengan dekapan yang begitu penuh, seolah sedang membungkus seluruh luka dan keraguan Byan agar tak retak lagi. Ia tak lagi banyak bicara, karena ia tahu, terkadang lengan yang melingkar jauh lebih jujur daripada kata-kata yang diucap.

Dalam keheningan teras itu, keraguan yang tadi melilit pelan-pelan mengendur. Byan memejamkan mata, membiarkan detak jantung Sebria yang stabil menjadi irama yang meyakinkannya bahwa untuk saat ini, ia benar-benar aman. Bahwa meski musim di luar sana berubah, pelukan ini adalah tempatnya pulang.

"Kamu anak mama jangan lupakan itu. Hm..."

Byan mengangguk. "Jangan berhenti sayang sama aku, Ma."

1
Ayuwidia
Dari sinopnya udah nyesek 🥺
Human
kisah yang menarik,Sebria tokoh wanita yang hebat dan tangguh,mentalnya kuat banget menghadapi segala cobaan
Ririn Rira: terimakasih kak mampir di buku baru lagi ya...
total 1 replies
Joey Joey
sebenarnya kamu tidak pgen pisah tapi karena keadaan and kamu tidak mau melibatkan terlalu jauh maka dengan kepahitan kamu melepaskan nya
Lisa
Wah udh ending nih..ceritanya bagus banget Kak..akhirnya Bria bahagia bersama keluarga kecilnya..
Lisa: Sama² Kak..oke Kak..
total 2 replies
Lisa
Ternyt Deric yg bermasalah..dia tdk mau mangakuinya..y sudahlah lebih baik mereka berpisah & Bria menemukan kebahagiaannya.
Ayuwidia
Benar, Bria nggak perlu tahu kehancuran sang mantan suami yg diakibatkan oleh keegoannya sendiri. Kelak, semoga Deric juga temukan bahagia bersama wanita yg bisa menerima dia apa adanya.

Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰
Ayuwidia: sama2, Kak Ririn 🥰
total 2 replies
Ayuwidia
Alhamdulillah, akhirnya kebahagiaan mendekap erat Sebria setelah luka yang dialaminya bertubi-tubi 🥰
Indhira Sinta
bagus ceritanya,lain daripada yg lain
Ayuwidia
Harusnya, kamu dulu jujur saja, Ric. Banyak jalan yg bisa ditempuh untuk memiliki keturunan. Tapi ya sudahlah, semua dah terlanjur. Makasih sudah membebaskan Bria, sehingga dia bisa bebas dan sekarang bahagia dengan kehidupan barunya.
Lisa
Selamat y utk Bria & Jehan..sehat² y Bria sampai HPL nya nanti..
Ayuwidia
Lagi-lagi ikut bahagia sekaligus terbaru, luka yg dulu menganga sekarang terobati sempurna. Selamat buat kalian, Jehan--Bria 🥰
Ayuwidia: ralat: terharu, keyboardnya kerasukan Kak 😄
total 1 replies
Lisa
Koq cepat Kak..udh mau ending 🤭
Ririn Rira: iya kak buku meminjam ibu sehari emang di targetkan bab nya pendek
total 1 replies
Ayuwidia
Loh, kok cepet banget, Kak?
Ayuwidia: Rama-Hawa jg cuma dikit bab nya, Kak. Buat mengisi ramadan aja kaya' nya 😅
total 2 replies
Lisa
Syukurlah Byan udh ga ngerasa takut lg..bahagia selalu y utk kalian bertiga
Ririn Rira: terimakasih kak🥰
total 1 replies
Dewi Eka
menarik
Ayuwidia
Semoga kelak jika Mama Bi punya dedek bayi, Byan bisa menerima dan nggak cemburu 😉
Ririn Rira: Byan tetap jadi prioritas mama B 😄
total 1 replies
Lili Inggrid
banyak banyak up ..cerita bagus banget😊
Lisa
Ya Byan jgn dengerin kata² yg g baik itu..Mama B sangat menyayangimu.
Ayuwidia
Mama B itu tulus mencintai kamu, Byan. Jadi, meski kelak mama B punya baby, cintanya nggak pudar
Ayuwidia
Waduh, kalimat yg memprovokasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!