NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Potongan Puzzle Yang Utuh

Setelah meminta bantuan pada Bimo, Arslan kembali duduk di depan layar monitor ruang arsip dengan napas yang memburu. Cahaya biru dari layar itu memantul di matanya yang memerah. Ia baru saja memasukkan kode akses medis untuk melihat detail administrasi Farel Resaki Laurent.

Matanya tertuju pada satu baris data: Nama Ayah: Reno Oliver Laurent.

Namun, kolom di bawahnya kosong. Nama Ibu: (Tidak Terdata/Rahasia).

"Bagaimana mungkin?" bisik Arslan. Tangannya gemetar di atas mouse.

Pikirannya mulai berkelana ke arah yang gelap. Jika Reno adalah ayahnya, dan Abel adalah orang yang paling protektif terhadap bayi itu—bahkan sampai Arslan mengira Abel adalah ibunya—siapa sebenarnya ibu kandung Farel? Pikiran buruk sempat melintas di benak Arslan tentang hubungan terlarang, namun ia segera menggelengkan kepala dengan keras hingga lehernya terasa kaku.

"Tidak, Arslan! Jangan gila. Reno sangat menyayangi Abel sebagai adik, tidak mungkin seburuk itu," batinnya menghalau logika yang mulai kacau.

Ia kemudian beralih ke data biokimia. Golongan darah Farel: O.

Ia mengecek data keluarga. Reno: O. Abel: O.

"Sama semua," keluhnya frustrasi. Secara genetik, fakta ini tidak membantah apa pun, namun juga tidak menjelaskan apa pun. Semuanya terlalu konsisten, terlalu rapi, dan justru itulah yang membuat Arslan merasa sedang berdiri di depan tembok besar yang sengaja dibangun untuk menghalau orang luar.

Arslan menyisir rambutnya dengan kasar. Jika Farel adalah anak Reno, maka pengakuan Arslan di hadapan Reno dan Abel tentang "ingin menjadi ayah bagi anak Abel" adalah sebuah penghinaan besar yang sangat memalukan. Pantas saja Reno menatapnya seolah ia adalah seekor serangga yang menjijikkan.

Namun, satu pertanyaan besar masih menghantui: Mengapa Abel membiarkannya percaya pada kebohongan itu? Mengapa Abel tidak langsung membantah dan mengatakan, teka-teki ini semakin runyam untuk di pecahkan.

Arslan menutup layar monitor dengan kasar. Ia tidak bisa menemukan jawabannya di dalam data digital. Jawaban itu ada pada masa lalu yang tak bisa terjamah, atau pada luka yang disimpan Abel sendirian selama lima tahun ini.

Arslan keluar dari ruang arsip dengan langkah tergesa, namun ia berpapasan dengan Dokter Senior yang dulu sempat merawat mendiang Sarah, kakak ipar Abel.

"Arslan? Kamu mencari sesuatu?" tanya Dokter tersebut.

Arslan terhenti, ia menelan ludah. "Dokter, maaf... saya tadi hanya ingin tahu data dari pasien yang bernama Farel,"

"Farel? Anaknya Reno atau bukan? Maaf aku kepo, soalnya kemarin aku lihat Abel bawa Farel ke rumah sakit ini, kan. Yang Dokter cari data Farel yang mana?" Tanya dokter senior itu penuh selidik.

"Iya Farel, anaknya Abel. Farel Resaki Laurent."

"Anak Abel? Dia anaknya Reno dan Sarah, bukan anaknya Abel." Jelas dokter Ines membuat Arslan terdiam mematung.

"Dokter Sarah yang sudah meninggal saat pertama kali saya masuk?" Tanya Arslan sedikit tak percaya.

"Iya, betul. Memangnya ada apa?"

"Saya butuh informasi lebih lanjutnya, dok. Bisa beritahu saya. Saya mohon Dokter Ines." Arslan memelas meminta sebuah informasi yang menjadi potongan puzzle dalam hidupnya.

Dokter Ines menghela napas panjang, tatapannya menerawang menembus dinding koridor, seolah kembali ke malam paling kelam di rumah sakit ini. Ia mengajak Arslan duduk di kursi taman rumah sakit yang sepi agar pembicaraan mereka tidak terganggu.

"Sarah itu wanita yang luar biasa kuat, Arslan," buka Dokter Ines dengan suara rendah. "Dia mengandung Farel di tengah kondisi fisik yang sebenarnya tidak memungkinkan. Tapi yang lebih berat adalah tekanan batinnya. Saat itu, Reno sedang berjuang mempertahankan perusahaan, dan ada masalah keluarga yang sangat pelik."

Arslan mendengarkan dengan jantung yang berdegup kencang. "Masalah keluarga seperti apa, Dok?"

"Saya tidak bisa bicara banyak soal privasi mereka, tapi Sarah sempat hampir menyerah. Beruntung ada Abel. Gadis itu... dia merelakan masa mudanya, kuliahnya, bahkan reputasinya demi menemani Sarah. Abel-lah yang menyembunyikan kondisi Sarah dari keluarga terutama Reno, karena permintaan Sarah sendiri yang tidak ingin Reno semakin terbebani," Dokter Ines menjeda kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca.

"Malam Farel lahir, Sarah mengalami perdarahan hebat. Sebelum dia mengembuskan napas terakhir, dia berpesan pada dokter yang menanganinya, untuk menyerahkan bayinya pada adik iparnya, yaitu Abel. Dia meminta Abel menjadi 'ibu' bagi Farel karena Reno pasti akan hancur kehilangan dirinya. Dan Abel melakukannya. Dia mengambil peran itu dengan sangat total sampai orang luar, bahkan mungkin kamu, mengira itu anaknya sendiri."

Potongan puzzle itu menghantam kepala Arslan dengan keras. Kilat kebenaran menyambar pikirannya: Farel adalah anak Reno dan Sarah.

Abel adalah Tante Farel yang mengorbankan segalanya demi janji pada almarhumah.

Alasan Abel tidak membantah saat disebut 'Mama Farel' adalah karena dia memang mendedikasikan hidupnya untuk peran itu.

Arslan terduduk lemas. Rasa malu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia teringat ucapannya di hadapan Reno: "Gue bersedia jadi ayahnya, gue tahu Farel anak Abel dari masa sulitnya." Itu bukan sekadar bualan, tapi penghinaan bagi martabat Abel dan sucinya perjuangan Sarah. Arslan baru menyadari betapa dangkal pemikirannya selama ini. Ia telah menghakimi masa lalu Abel tanpa tahu bahwa gadis itu adalah seorang pahlawan bagi kakaknya sendiri.

"Dokter Arslan?" tegur Dokter Ines melihat wajah Arslan yang pucat pasi.

"Jadi... Abel tidak pernah hamil?" tanya Arslan dengan suara bergetar.

Dokter Ines menggeleng pelan. "Setahu saya sih, Abel tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Apalagi saat ia menjadi Ibu angkat bagi keponakannya."

Arslan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa sesak di dadanya kini bukan lagi karena cemburu, melainkan karena rasa bersalah yang tak terukur. Ia merasa tidak pantas bahkan untuk sekadar menyebut nama Abel lagi.

Arslan bangkit dengan langkah sempoyongan. Puzzle-nya kini sudah utuh, namun gambaran yang tercipta justru membuat hatinya hancur berkeping-keping. Ia telah melukai hati Abel dua kali: pertama dengan taruhan 30 juta di masa SMA, dan kedua dengan menganggapnya sebagai wanita yang memiliki "anak hasil kecelakaan".

"Aku benar-benar brengsek," bisik Arslan pada dirinya sendiri.

Notifikasi pesan dari Bimo masuk tepat saat Arslan sedang berusaha menstabilkan napasnya. Pesan itu berisi lampiran foto artikel berita bisnis lama dan catatan sipil tentang pernikahan Reno dan Sarah.

Pernikahan itu berlangsung singkat, tidak lebih dari dua tahun. Satu tahun pertama adalah masa keemasan mereka; Sarah yang cerdas sedang menyelesaikan praktik koas-nya, sementara Reno sedang gila kerja membangun fondasi kerajaan bisnisnya. Namun, di balik keharmonisan yang terlihat dari luar, Reno mulai tenggelam dalam ambisinya. Kesibukan perusahaan membuat komunikasi mereka menipis, hingga maut menjemput Sarah tepat di malam persalinan yang tragis itu.

Bimo juga menyelipkan sebuah catatan kecil:

..."Lan, gue baru dapet info tambahan. Waktu istrinya Reno meninggal, Reno hampir gila. Dia depresi berat dan nggak bisa lihat Farel karena wajah bayinya terlalu mirip istrinya. Abel yang pasang badan, Lan. Dia cuti kuliah, dia yang gendong Farel tiap malam sambil nenangin Reno yang mengamuk di kamarnya. Abel itu bukan cuma Tante, dia itu penyelamat nyawa Reno dan Farel."...

Arslan meremas ponselnya. Bayangan Abel yang dulu ia kenal sebagai gadis SMA yang polos dan kutu buku, kini berganti dengan bayangan seorang wanita tangguh yang memikul beban satu keluarga sendirian di usia yang sangat muda.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!