"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
"Aduh maaf, maaf Tante, nggak sengaja," ucap Kiandra seolah panik dan tidak sengaja menginjak jari tangan Maura.
Kiandra mundur, kemudian menginjak kaki Maura. Maura kembali menjerit. Rasa sakit karena tersungkur belum hilang, ditambah lagi dengan diinjak jari tangan. Dan sekarang kaki Maura yang terinjak oleh Kiandra.
Lagi-lagi Kiandra meminta maaf seolah tidak sengaja. Padahal, dalam hatinya tertawa melihat penderitaan Maura.
"Ini belum seberapa, Tante," batin Kiandra.
"Kiandra!" Pekik Wilona.
Wilona langsung maju dan mengangkat tangannya hendak menampar Kiandra. Namun, belum sempat tangan Wilona menampar Kiandra, Kiandra lebih dulu menampar Wilona.
Plak ... Tamparan keras mendarat di pipi kanan Wilona. Pipi Wilona langsung merah dan tercetak jari tangan Kiandra bekas tamparan.
"Kiandra! Kamu semakin keterlaluan." Basuki juga ikut maju hendak menampar Kiandra. Namun Kiandra segera menuding jari telunjuk ke Basuki.
"Eits. Tunggu dulu," kata Kiandra.
Tangan Basuki menggantung di udara. Kiandra mengatakan, jika Basuki berani melakukan kekerasan, Kiandra akan membawa masalah ini ke jalur hukum.
Basuki pun menurunkan tangannya. Tapi dadanya naik turun menahan emosi. Dia berpikir, dibelakang Kiandra ada orang berpengaruh di negara ini.
Jadi, apa yang diucapkan Kiandra bisa saja menjadi kenyataan. Basuki akhirnya menurunkan emosinya.
"Kamu putriku, aku tidak pernah mengajarkan mu untuk bersikap kurang ajar," kata Basuki dengan nada rendah.
"Benar. Papaku memang orang baik, saking baiknya, putri sendiri diasingkan ke desa," ungkap Kiandra.
Basuki terdiam. Apa yang dikatakan oleh Kiandra memang benar. Hanya karena terpengaruh oleh ucapan Maura dan Wilona, Basuki pun ikut menjahati Kiandra.
"Oh iya, Pa. Aku hanya ingin bilang. Mulai dari sekarang, sebaiknya Papa dan istri Papa segera mencari rumah untuk di tempati. Karena aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku," kata Kiandra.
Kemudian Kiandra memanggil para pelayan yang bekerja di rumah ini. Kiandra tidak ingin melibatkan mereka dalam masalah ini. Jadi, Kiandra meminta mereka untuk tetap bekerja di sini asal berperilaku baik.
"Dan gaji kalian akan aku tambah," kata Kiandra.
Mereka saling pandang. Kemudian mereka pun tersenyum senang. Lalu mengucapkan terima kasih kepada Kiandra sebagai majikan baru mereka.
"Oh iya, untuk kamu Basuki, Maura dan Wilona. Berkemas lah, karena sebentar lagi anak buah ku akan datang untuk mengusir kalian," kata Kiandra.
Kiandra kemudian pergi dari situ. Tanpa menoleh ke belakang, Kiandra pun naik ke motornya dan melaju di jalanan setelah keluar dari pintu gerbang.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Wilona.
"Papa juga tidak tahu. Kita juga tidak bisa apa-apa sekarang, karena dibelakang Kiandra keluarga yang tidak bisa disinggung," jawab Basuki.
Sementara Maura tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih merasakan sakit setelah terjatuh, kemudian diinjak oleh Kiandra.
"Pa, sebaiknya kita antar mama ke rumah sakit terlebih dahulu. Kasihan mama, Pa," kata Wilona.
Basuki merasa dilema saat ini. Sedangkan mereka diberi waktu hanya beberapa jam untuk meninggalkan rumah ini.
"Pa." Wilona merengek agar mamanya dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Begini saja, kalian ke rumah sakit. Papa ingin mencari rumah kontrakan untuk kita tinggal sementara waktu," kata Basuki.
"Pa, kok sampai segitunya," kata Maura.
Basuki menghela nafas panjang. Mungkin ini adalah karma bagi keluarganya. Dulu mereka mengusir Kiandra, sekarang mereka yang diusir oleh Kiandra.
Satu jam berlalu, tapi mereka masih berbincang-bincang di ruang tamu. Basuki sudah menghubungi seseorang untuk mencari tempat tinggal sementara.
Sementara Maura dan Wilona hanya menangis, karena mereka tidak mau hidup miskin. Terutama Wilona. Mau ditaruh di mana mukanya bila dia hidup miskin?
Pasti teman-temannya akan menertawakannya. Bagaimana tidak? Wilona yang terbiasa hidup mewah, kini tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin.
Tidak berapa lama anak buah Kiandra pun datang. Mereka meminta Basuki, Maura dan Wilona untuk segera meninggalkan rumah ini.
"Tuan, berikan kami waktu," kata Basuki memohon kepada Louis.
"Tidak bisa, perintah boss kami, kalian harus segera meninggalkan rumah ini," kata Louis.
Tidak ada pilihan lain, Basuki dan keluarganya pun berkemas. Hanya pakaian dan perhiasan milik Maura dan Wilona yang di bawa.
Sementara untuk uang tunai, mereka tidak menyimpan uang tunai. Jika ada keperluan apa-apa, mereka hanya menggunakan kartu kredit dan juga kartu ATM.
Beberapa jam kemudian, Basuki, Maura, dan Wilona pun meninggalkan rumah itu. Wajah mereka terlihat sedih. Beberapa kali mereka menoleh ke belakang melihat rumah yang selama ini mereka tempati.
"Pa, kita harus ke mana sekarang?" tanya Maura.
"Ke rumah kontrakan, Ma," jawab Basuki.
Mereka sampai lupa hendak membawa Maura ke rumah sakit. Karena mereka didesak untuk segera meninggalkan rumah itu.
Sementara Kiandra yang sudah berada di dalam kamar dan baru keluar dari kamar mandi. Dia sedikit kaget karena Dexter ternyata sudah berada di dalam kamar.
"Hubby? Bikin kaget saja," ujar Kiandra.
"Bagaimana? Sudah beres semuanya?" tanya Dexter. Kiandra hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Besok kita ke perusahaan Basuki. Aku akan memperkenalkan mu pada dewan direksi, bahwa kamu adalah pemimpin baru mereka," kata Dexter lagi.
"Secepat itu?" tanya Kiandra.
"Hmm, tapi jika kamu tidak ingin mengelolanya, kamu bisa meminta seseorang yang kamu percaya untuk mengelolanya," jawab Dexter.
Kiandra mengatakan jika dia mau, tapi dia tidak menduga akan secepat itu. Karena perusahaan itu sudah berada di tangannya, Kiandra pun harus siap untuk mengelolanya.
Dexter mengatakan, jika Kiandra belum paham, Dexter akan siap membantu. Namun Kiandra yakin, jika dirinya bisa tanpa bantuan suaminya.
"Hubby, bagaimana jika aku memilih Louis untuk membantuku? Dia akan menjadi asisten pribadiku," tanya Kiandra.
"Bukannya Louis memang asisten mu, sayang?" tanya Dexter balik.
Kiandra mengangguk. Memang Louis adalah asistennya. Tapi untuk di perusahaan yang akan dia kelola nanti, Kiandra tidak mau mencari orang lain sebagai asistennya.
Dexter pun setuju. Dia juga sudah menyelidiki Louis. Dari informasi yang didapatkannya, Louis bisa di percaya. Dan juga Louis seorang yatim-piatu.
"Terima kasih sayang, kamu selalu ada untuk membantuku," ucap Kiandra.
Dexter memeluk Kiandra, kemudian mengecup kening, bibir, dan pipi Kiandra. Kiandra melepaskan diri, karena dia akan berganti pakaian.
"Jadi malas hendak kembali ke kantor," kata Dexter.
"Jangan seperti itu sayang. Istrimu ini perempuan matre," kata Kiandra.
Dexter tertawa lepas mendengarnya. Kekayaan Dexter bisa menjamin hidup Kiandra untuk seumur hidup. Jadi, walaupun Dexter tidak bekerja, uang selalu masuk ke rekening perusahaan.
"Sudah, kerja sana. Jangan biasakan bermalas-malasan," kata Kiandra.
"Cium dulu sayang, biar tambah semangat," kata Dexter.
Kiandra pun menurut saja. Jika tidak, suaminya tidak akan beranjak dari situ. Setelah cukup lama mereka berciuman, Dexter pun pamit untuk kembali ke kantor.