Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Menolak
Sebuah pesan masuk ke ponsel Vara.
“Ke ruanganku sekarang.”
Vara yang baru saja kembali dari makan siang langsung berdiri. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia segera menuju ruang kerja suaminya.
Tok… tok… tok…
Vara mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk.
“Masuk.”
Begitu berada di dalam, Vara menatap Arga yang masih duduk di kursi kerjanya. “Ada apa?”
Arga berdiri, lalu berpindah ke sofa di sudut ruangan. “Duduk di sini.”
Vara menurut. Ia duduk tepat di samping Arga, menjaga jarak sewajarnya meski ruangan itu hanya mereka berdua.
“Bagaimana makan siangnya?” tanya Arga datar.
Vara menatapnya heran. Kenapa tiba-tiba Arga bertanya seperti ini.
“Seperti biasa. Kami makan lalu kembali keruangan,” jawab Vara hati-hati.
“Hanya dengan Nita?” tanya Arga lagi, kali ini menoleh langsung ke arahnya.
Vara terdiam sesaat. Tak menduga akan mendapat kan pertanyaan seperti ini.
“Awalnya hanya berdua dengan Nita,” jawab Vara jujur. “Tapi saat di kantin, Pak Reza tiba-tiba ikut duduk di meja yang sama.”
Alis Arga sedikit terangkat. “Tidak ada meja lain, sampai ia harus duduk ditempat yang sama dengan kalian.?”
“Itu… aku tidak tahu,” jawab Vara singkat.
Ruangan mendadak terasa hening.
“Sekarang, kamu di sini saja sampai jam pulang,” ucap Arga akhirnya, lalu berdiri kembali ke kursinya.
Vara terkejut. “Tapi… bagaimana dengan pekerjaanku?”
“Biarkan. Erick yang urus.”
Nada suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk bantahan.
Vara tahu betul, jika Arga sudah memutuskan sesuatu, sulit untuk mengubahnya.
“Jadi… aku harus apa di sini?” tanyanya pelan.
Arga membuka laptop dan mulai kembali pada kerjanya. “Duduk manis saja. Temani aku.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat pipi Vara memanas. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum. Entah mengapa, hanya dengan kata-kata singkat itu, ia merasa dibutuhkan.
Di sisi lain, Nita mulai kebingungan.
“Ini anak ke mana lagi, sih? Sebentar-sebentar menghilang,” gumamnya.
Tadi setelah dari kantin, Nita sempat ke toilet lebih dulu. Saat kembali ke ruangan, Vara sudah tidak ada.
“Jangan-jangan…” Nita mengerutkan kening, pikirannya mulai ke mana-mana.
---
“Nenek! Kakek!” panggil Luna riang begitu ia keluar dari gerbang sekolah.
Melani dan Nicholas memang sudah berdiri menunggunya sejak tadi. Hari ini mereka sepakat menjemput cucu kesayangan itu agar Luna tidak langsung pergi ke perusahaan seperti biasanya.
Luna berlari kecil menghampiri mereka.
“Kakek, Nenek, kenapa jemput Luna? Luna kan mau ke perusahaannya Om,” ucapnya polos.
Melani tersenyum lembut, lalu membungkuk sedikit agar sejajar dengan tinggi badan Luna. “Memangnya Kakek dan Nenek tidak boleh menjemput?”
“Boleh sih…” jawab Luna.
“Kami mau ajak Luna jalan-jalan dulu. Luna mau, kan?” lanjut Melani membujuk.
“Mau!” jawab Luna cepat, matanya langsung berbinar. “Tapi ke mana?”
Nicholas terkekeh pelan. “Terserah Luna mau ke mana.”
Melani menatap cucunya penuh kasih. “Iya, hari ini Luna yang tentukan.”
Luna berpikir sejenak, lalu berseru ceria, “Kita ke area bermain! Habis itu makan es krim!”
Melani dan Nicholas saling pandang, lalu tersenyum. Seketika Luna lupa dengan niatnya untuk pergi ke perusahaan.
“Baiklah, sesuai perintah Nona Luna,” ujar Nicholas bercanda. “Ayo kita berangkat sekarang.”
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang memiliki area bermain anak.
Luna terlihat begitu bahagia. Ia berlari ke sana kemari, mencoba satu permainan ke permainan lain. Ia bergelantungan, meluncur di perosotan, dan tertawa riang bersama anak-anak lain yang baru dikenalnya.
Tawa Luna terdengar lepas, tanpa beban.
Melani dan Nicholas duduk di kursi pengunjung, memperhatikan dengan penuh kebanggaan.
“Dia anak yang kuat,” gumam Melani pelan.
Nicholas mengangguk. “Lebih kuat dari yang kita kira.”
Meski berasal dari keluarga terpandang dan berkecukupan, Melani dan Nicholas tidak pernah membatasi pergaulan Luna. Bagi mereka, kebahagiaan cucu mereka jauh lebih penting daripada menjaga jarak sosial.
Selama aman dan tidak membahayakan, mereka membiarkan Luna bermain dan berteman dengan siapa saja.
“Biarkan dia merasakan masa kecil yang utuh,” ujar Nicholas pelan. “Jangan sampai dia tumbuh terlalu cepat karena keadaan.”
Melani tersenyum setuju.
Tak lama kemudian, Luna berlari kembali menghampiri mereka dengan wajah memerah karena lelah.
“Nenek, Kakek! Luna senang sekali!” serunya.
“Kakek dan Nenek juga senang melihat Luna bahagia,” jawab Melani sambil mengusap rambut cucunya lembut.
Setelah puas bermain, mereka duduk bersama menikmati es krim seperti permintaan Luna.
Tanpa mereka sadari, momen kecil sore itu akan menjadi kenangan hangat yang akan tersimpan di hati Luna, meskipun ia sudah tidak memiliki kedua orang tua. Tapi, ia selalu punya tempat pulang, dan selalu ada keluarga yang mencintainya sepenuh hati.
---
Waktu berjalan cepat.
Vara menghabiskan sisa sore dengan membaca majalah yang ada di meja kecil ruangan Arga. Sesekali ia mencuri pandang ke arah suaminya yang fokus menatap layar laptop.
“Jangan melirik terus. Aku tidak akan ke mana-mana,” ucap Arga tanpa mengalihkan pandangan.
Vara terkejut. “Siapa juga yang melirik?”
Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali tertuju pada Arga.
Tampan sekali… gumamnya dalam hati. Apa yang sudah aku lakukan sampai bisa menikah dengan pria seperti ini? Tapi… berada di sisinya pasti tidak akan mudah.
Arga berdeham pelan. Vara langsung pura-pura fokus pada majalahnya.
“Ayo, kita pulang,” ujar Arga setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
“Kita keluar bareng?” tanya Vara ragu.
“Iya. Kenapa? Atau kamu sudah ada janji dengan pria tadi.?” tanya Arga, nadanya terdengar ringan tetapi menyimpan sesuatu.
Mata Vara membulat. “Kamu kalau bicara jangan asal!”
“Aku hanya menebak,” balas Arga santai. Ia berdiri dan menarik tangan Vara. “Ayo.”
“Kalau begini mereka makin curiga,” bisik Vara. “Kamu enak, tidak ada yang berani bertanya. Aku yang harus menghadapi pertanyaan mereka.”
Arga melepas genggamannya. Wajahnya sedikit mengeras.
“Biarkan saja. Ingat pesanku. Kalau ada yang berani bicara yang tidak-tidak tentangmu, langsung katakan padaku.”
Vara terdiam, lalu mengangguk kecil.
Mereka keluar dari lift bersamaan. Saat Arga hendak melangkah menuju pintu utama, Erick memanggilnya.
“Arga!”
“Ada apa?” tanya Arga.
Erick mendekat, sepertinya ingin membicarakan sesuatu yang penting.
“Aku tunggu di luar, ya,” ujar Vara pelan.
Arga mengangguk.
Vara berjalan keluar dan duduk di bangku panjang tak jauh dari area parkir.
“Vara.”
Ia menoleh. Reza berdiri di belakangnya.
“Pak Reza,” ucap Vara sopan.
“Kamu sudah pulang? Ayo, saya antar,” tawar Reza dengan senyum tipis.
“Terima kasih, Pak, tapi tidak perlu,” jawab Vara cepat.
“Sesekali tidak apa-apa. Rumah kita searah, bukan?” Reza sedikit memaksa.
“Maaf, Pak. Saya sudah janji dengan seseorang.”
Di kejauhan, Arga baru saja keluar dari gedung. Tatapannya langsung menangkap pemandangan itu. Tangan nya mengepal kuat, menahan rasa tidak suka.
“Dengan siapa?” tanya Reza, nadanya berubah penasaran.
“Saya rasa Bapak tidak perlu tahu,” jawab Vara tegas. Ia berdiri dan melangkah menjauh.
Reza menatap kepergian Vara dengan sorot mata penuh arti.
Arga menghela napas lega saat melihat Vara meninggalkan pria itu. Ia segera menghampirinya.
“Ayo, kita pulang,” ucapnya pelan, suaranya kini lebih lembut.
“Iya,” jawab Vara.
Mereka berjalan berdampingan menuju mobil, tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, Reza masih memperhatikan.
Tatapannya tidak lagi sekadar penasaran.
Ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.