Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran Licik
Di lantai tertinggi Gedung Perusahaan Elios, suasana di ruang kerja Carlos terasa tegang.
Viviane duduk di sofa dengan mata sembap dan wajah masih dipenuhi sisa tangis. Tisu berserakan di meja kecil di depannya.
“Mobilku … mobil sport putih itu baru saja selesai dimodifikasi,” isaknya pelan. “Kenapa Kak Naomi tega merusaknya? Itu tidak sebanding.”
Ia tak mau mengakui jika merekalah yang bersalah karena telah merusak mobil Naomi pertama kalinya.
Carlos berdiri di dekat jendela, wajahnya tampak suram. Ia sendiri masih memikirkan mobilnya yang juga rusak akibat tindakan Naomi di parkiran kampus.
Ia berjalan mendekati Viviane dan duduk di sampingnya.
“Sudahlah, jangan menangis lagi. Kita bisa memperbaikinya.”
Viviane menggeleng pelan. “Bukan hanya soal mobilnya, Kak. Tapi sikapnya. Kak Naomi benar-benar sudah berubah. Dia seperti tidak takut pada apa pun.”
Bukan ini yang ia harapkan, Viviane berharap Carlos berkata akan membelikan mobil seperti milik Naomi tadi. Yapi perkataan itu tak kunjung keluar.
Carlos menghela napas berat. “Aku juga tidak menyangka ia akan bertindak seliar itu.”
Ia teringat bagaimana Naomi mengangkat batu besar dan menghancurkan mobil mereka tanpa ragu sedikit pun. Tatapannya saat itu bukan tatapan seorang gadis yang tertekan apalagi takut, melainkan seseorang yang sudah tidak peduli pada konsekuensi.
Carlos hendak mengatakan sesuatu lagi untuk menenangkan adiknya ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.
Seorang wanita masuk dengan langkah cepat dan wajah memerah.
“Kania …” gumam Carlos terkejut.
Asisten Carlos yang tadi mencoba menahan Kania di luar tampak cemas.
“Maaf, Tuan. Nona Kania bersikeras ingin masuk.”
Carlos mengangguk singkat. “Tidak apa-apa. Kau boleh keluar.”
Asisten itu membungkuk lalu meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Kania berjalan cepat ke arah Carlos. Ia sudah berganti pakaian, tetapi sisa kemerahan masih terlihat di lehernya.
“Kurang ajar! Gadis itu benar-benar liar dan tak tahu diri,” umpat Kania begitu melihat kekasihnya.
Wajahnya mereka padam dengan tangan mengepal.
Carlos mengerutkan kening. “Ada apa, Sayang? Bukankah tadi kamu pergi ke mal untuk bersenang-senang? Katanya juga sekalian persiapan pemotretan besok. Kenapa sekaramg kamu marah-marah?”
Kania menarik napas panjang, jelas menahan amarah. “Semua ini karena Naomi!”
Viviane dan Carlos saling berpandangan.
“Apa maksudmu?” tanya Carlos.
“Kamu harus menghukumnya seberat-beratnya,” lanjut Kania tanpa menjawab pertanyaan itu. “Aku tidak peduli bagaimana caranya.”
Carlos semakin bingung. “Apa hubungannya dengan Naomi?”
Kania mendesah kesal. “Tadi aku bertemu dengannya di mal. Aku hanya meminta tolong dengan baik-baik agar ia membawakan barang belanjaanku ke mobil.”
Viviane mengernyit. “Lalu?”
“Tiba-tiba ia menyiramku dengan kuah hot pot!” seru Kania dengan nada tinggi. “Bukan hanya itu, semua pakaian yang baru kubeli juga ia siram dengan kuah panas. Lihat ini.”
Ia menunjukkan bagian lengannya yang memerah.
Carlos terdiam beberapa detik. “Kau yakin?”
“Tentu saja aku yakin!” bentak Kania. “Aku juga heran. Mengapa Naomi yang dulu begitu penurut bisa berubah menjadi sangat liar seperti ini? Aku tidak mau tahu. Dia harus dihukum. Kalau perlu, cambuk dia seratus kali. Jangan beri ampun.”
Viviane terbelalak mendengar itu.
Kania melanjutkan dengan nada penuh tuntutan, “Tubuhku masih memerah karena kuah panasnya. Apa kamu akan diam saja melihat kekasihmu diperlakukan seperti ini?”
Wajah Carlos mengeras. Ia bangkit berdiri, rahangnya menegang.
“Naomi benar-benar sudah keterlaluan,” katanya pelan namun sarat amarah. “Ia bukan hanya merusak mobilku .…”
Kania menoleh cepat. “Apa? Mobil kamu yang hitam itu?”
Carlos mengangguk.
Viviane menyela dengan suara gemetar. “Tadi di kampus, Kak Naomi menghancurkan mobilku dan mobil Kak Carlos dengan batu besar.”
Kania membeku. “Dengan … batu?”
Carlos mengangguk perlahan. “Ia mengangkat batu besar dan menghantamnya berkali-kali. Mobil itu bahkan hancur lebur.”
Untuk sesaat, Kania terdiam. Wajahnya tidak lagi hanya marah, tetapi juga terkejut.
“Dia … berani melakukan itu?” gumamnya.
Viviane kembali terisak. “Aku tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya.”
Carlos berjalan kembali ke meja kerjanya. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan.
“Cukup,” ujarnya dingin. “Jika ia memilih untuk melawan, maka ia harus siap menanggung akibatnya.”
Kania mendekat dan memegang lengannya. “Jangan biarkan dia lolos, Carlos.”
Carlos menatap lurus ke depan. “Aku akan membuat Naomi merasakan konsekuensi dari tindakannya.”
Kania tersenyum puas setelah mendengar janji Carlos.
Dalam benaknya, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan mempermalukan Naomi habis-habisan di kediaman Elios. Ia belum mengetahui bahwa Naomi sudah tidak lagi tinggal di sana.
Viviane yang sejak tadi terdiam tiba-tiba mengangkat wajahnya.
“Ngomong-ngomong … apa yang dilakukan Kak Naomi di mal?” tanyanya pelan. “Biasanya dia tidak suka pergi ke mal, bukan?”
Sebenarnya, Naomi bukan tidak suka ke mal. Ketika masih tinggal di mansion Elios, ia jarang pergi karena tidak memiliki uang. Uangnya ditahan oleh kepala pelayan atas perintah Viviane. Naomi hanya bisa diam dan menerima.
Kania mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi aku melihatnya memborong pakaian dan makanan dalam jumlah besar. Benar-benar boros bahkan dia mentraktir semua sahabatnya itu.”
Viviane terkejut. “Memborong?”
“Iya,” jawab Kania cepat. “Seperti orang yang baru menang undian. Tas belanjaannya sangat banyak.”
Viviane terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan namun penuh makna, “Kak Naomi pasti menghambur-hamburkan uang karena sudah mendapatkan saham dari Nenek dan Kakek.”
Ia menatap Carlos sekilas sebelum melanjutkan, “Sayang sekali saham empat puluh persen itu dipegang oleh Kak Naomi. Jika ia terus berbelanja seperti itu, bisa-bisa nilainya habis begitu saja. Lebih baik saham itu dikelola oleh orang yang amanah.”
Tatapannya kembali mengarah pada Carlos.
Carlos terdiam. Ia tahu maksud adiknya. Ia juga menyadari bahwa Naomi memang tidak memahami seluk-beluk perusahaan dan bisnis keluarga. Berbeda dengan dirinya dan Viviane yang sejak kecil sudah dilatih.
“Kamu benar, Vivian,” ujar Carlos akhirnya. “Naomi tidak mengerti tentang bisnis. Jika ia terus bersikap ceroboh, saham itu bisa sia-sia.”
Viviane menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyum yang hampir terbit. “Kalau menurut Kakak, sebaiknya bagaimana?”
Carlos menjawab tegas, “Lebih baik kamu yang mengelola saham itu. Kamu jauh lebih pantas.”
Senyum Viviane akhirnya terbit, meski ia berusaha terlihat rendah hati. “Aku hanya ingin menjaga kepentingan keluarga,” ucapnya lembut.
Namun sebelum ia melanjutkan, Kania tiba-tiba menyela, “Tidak bisa sepenuhnya diberikan pada Viviane juga.”
Viviane menoleh tajam. “Apa maksudmu?”
Kania menatap Carlos dengan penuh keyakinan.
“Menurutku lebih baik Carlos yang mengambil alih. Dia sudah jauh lebih berpengalaman. Dia juga yang paling mengerti arah perusahaan.”
Tatapannya kemudian beralih sekilas ke arah Viviane, penuh persaingan tersembunyi. Ia tentu tidak rela jika saham itu sepenuhnya berada di tangan Viviane. Jika Carlos yang memegangnya, maka di masa depan saham itu secara tidak langsung akan menjadi miliknya sebagai calon istri Carlos.
Tangan Viviane mengepal di samping tubuhnya. Namun ia segera mengendurkannya dan tersenyum tipis.
“Aku tidak masalah,” katanya lembut. “Yang penting saham itu tidak hilang sia-sia di tangan Kak Naomi.”
Carlos memandang keduanya, lalu mengangguk pelan.
“Kalian tidak perlu khawatir. Saham milik Naomi nanti akan kita atur. Bisa kita bagi pengelolaannya.”
Viviane bertanya hati-hati, “Kakak akan membicarakan ini dengan Mami dan Papi?”
“Tentu,” jawab Carlos mantap. “Aku juga akan menyampaikannya kepada Nenek dan Kakek. Mereka pasti mengerti bahwa ini demi kebaikan perusahaan.”
Viviane mengangguk pelan, begitu pula Kania.
nnti pulang jadi apa coba