Blurb:
Dua belas tahun yang lalu, Jaxon Thorne memberikan segalanya, hatinya, janjinya, masa depannya pada wanita dengan sepasang mata hijau yang indah, Scarlett Reed yang merubah namanya menjadi Scarlett Quinn.
Lalu, dia terbangun di dunia yang hancur, hanya disisakan secarik surat perpisahan yang melukai hatimya.
Sejak saat itu, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne itu membangun benteng kokoh di sekeliling hatinya, dingin, berkuasa, dan tak tersentuh.
Kekayaannya melimpah, tetapi kebenciannya pada pengkhianatan lebih membara dari apapun hingga dia tak percaya lagi akan cinta sejati dan suka mempermainkan wanita.
Namun, takdir berkata lain.
Semuanya berubah saat Jaxon bertemu dengan Dash Quinn, seorang bocah jenius berusia dua belas tahun pemenang olimpiade sains yang mendapat beasiswa dari perusahaannya.
Ada sesuatu pada senyum dan sorot mata anak itu yang membuat dunia Jaxon berguncang, sebuah pengingat yang tak tertahankan akan masa lalu yang dikuburnya dalam-dalam.
Semakin dekat Jaxon dengan Dash, semakin banyak fakta yang terungkap. Rahasia gelap itu akhirnya terbuka.
Penghianatan terbesar bukan berasal dari gadis sederhana yang dulu dicintainya, melainkan dari lingkaran terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya.
Sekarang, dihadapkan pada kebenaran yang pahit, Jaxon harus memilih, tetap menjadi pewaris yang terluka seperti yang diharapkan keluarganya, atau menjadi pejuang yang mengambil kembali segala sesuatu yang telah dicuri darinya.
Sebuah perjalanan untuk menuntut balas, memperbaiki kesalahan, dan meraih keluarga yang tak pernah dia sangka bisa dimilikinya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Mana yang akan dipilih Jaxon? Keluarganya yang licik atau keluarga barunya yang baru dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ranjangnya Masih Dingin
Lalu Jaxon menuju ke Scarlett lagi dan menggendongnya layaknya pengantin. Scarlett tak berteriak lagi meskipun dia cukup kaget dan masih kesal.
Scarlett capek berdebat dan ingin tidur malam ini. Dia mengenal Jaxon yang dulu, biasanya pria itu tak suka memaksa untuk hal-hal ranjang seperti ini. Katanya, itu tak mengasyikkan jika salah satu dari mereka tak menikmati percintaan itu.
Jaxon meletakkan Scarlett dengan lembut ke atas ranjang dan berlutut lalu membuka sepatunya. “Kau tak ganti baju?” tanya Jaxon.
“Tidak.”
Jaxon hanya tersenyum lalu menaikkan kaki Scarlett dan menyelimuti tubuhnya. “Good night, My Wife.”
Scarlett tak melihatnya dan merebahkan kepalanya di atas bantal. Jaxon berjalan mengelilingi ranjang lalu tidur di sisi lain tempat tidur.
Hanya dengan dua kali tepukan tangannya, lampu di kamar itu mati dan kini sedikit gelap. Sinar lampu hanya terpantul dari lampu di balkon.
Tak ada suara lagi. Jaxon tampaknya membalik tubuhnya, menatap ke arah Scarlett yang masih menatap langit-langit.
“Pillow talk?” Jaxon menawarkan hal yang dulu sering mereka lakukan.
Scarlett tak menjawab dan membalik tubuhnya, memunggungi Jaxon. Jaxon hanya tersenyum saja.
“Aku ikut berduka atas ayahmu,” bisik Jaxon. “Apakah dia meninggal karena sakit?”
Scarlett tak langsung menjawab. Ada luka di balik kematian ayahnya dan dia tak ingin menceritakannya.
“Aku mengerti, tidurlah,” ucap Jaxon lagi.
Lalu hening dan Scarlett masih membuka matanya. Air matanya mengalir. Jaxon ingin memeluknya, tapi dia masih memberi Scarlett waktu dalam hal ini.
*
*
Keesokan harinya, Dash bangun dengan penuh energi. "Mom, kita bisa bersama seharian penuh sebelum aku kembali ke asrama.”
Scarlett tersenyum tipis, menyisir rambut putranya dengan jari jemarinya. "Tentu. Apa pun yang kau mau."
Itulah yang dia kira akan terjadi, hari penuh kebersamaan berdua dengan Dash sebelum dia harus kembali ke asrama.
Sebuah hari untuk menenangkan diri dari kejutan pernikahan, untuk berbicara dari hati ke hati dengan Dash, untuk memastikan Dash benar-benar baik-baik saja.
Hari untuk menguatkan ikatan mereka sebelum kembali berpisah dalam jangka satu semester.
Tapi tak lama, Jaxon hadir di ruang makan pagi itu, sudah rapi dan tampan. Dia tersenyum pada Dash, sebuah senyum yang hangat yang dulu sering Scarlett lihat.
"Pagii, Champ! Rencana kita apa hari ini?"
"Seharian bersama kalian!" seru Dash bersemangat.
"Wah, terdengar menyenangkan.”
Scarlett, yang sedang menyendok oatmeal, terdiam sejenak. Dia menatap Jaxon, berusaha menyampaikan lewat tatapan tajamnya, ‘Ini waktuku bersamanya. Jangan mengganggu.’
Tapi Jaxon hanya balas menatap, dengan ekspresi polos yang disengaja. "Keluarga kita sangat lengkap, ya kan?”
Di bawah tatapan bahagia Dash, Scarlett hanya bisa mengeraskan rahang dan mengangguk singkat. "Tentu."
*
*
Itulah awal dari gangguan Jaxon. Setiap rencana Scarlett diubah menjadi aktivitas bertiga.
Saat Scarlett mengusulkan membaca buku di perpustakaan, Jaxon ikut serta dan malah mengusulkan membaca buku dongeng percakapan dengan suara keras bergantian, sebuah aktivitas yang membuat Dash tergelak cekikikan.
Saat Scarlett ingin memasak makan siang kesukaan Dash, Jaxon masuk ke dapur, membantu dengan ceroboh sehingga berakhir dengan bencana tepung dan tawa.
Setiap percakapan antara ibu dan anak selalu disela oleh pertanyaan Jaxon, atau komentar yang menyebalkan bagi Scarlett, tapi tidak bagi Dash yang dianggap lucu.
"Mom, Dad, ayo kita piknik!" usul Dash setelah makan siang. "Di taman belakang saja! Cerah sekali!"
"Ide bagus," sahut Jaxon sebelum Scarlett bisa berkata apa-apa. "Daddy yang akan suruh pelayan untuk siapkan keranjangnya. Kita tak berkuda juga?”
“Tidak!” jawab Scarlett cepat.
“Bukankah kau sangat suka berkuda, Baby?” goda Jaxon. Namun Scarlett tak menggubrisnya.
*
Scarlett menarik Dash ke samping saat Jaxon pergi ke dapur. "Dadh, Mommy ingin sedikit waktu berdua denganmu. Hanya kita."
Dash memandangnya dengan sedikit bingung. "Tapi kenapa? Aku senang kita bertiga. Dulu kan selalu cuma kita berdua."
Scarlett menarik napas. "Mommy juga senang, Dash. Hanya saja ... mommy merindukanmu."
"Aku juga, Mom. Tapi kita bisa bertiga sekarang. Itu lebih seru!"
Beberapa menit kemudian, Jaxon kembali dengan keranjang piknik anyaman yang sudah penuh makanan. "Siap! Ayo."