NovelToon NovelToon
Suami Penggantiku Seorang Miliarder

Suami Penggantiku Seorang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lulaaaa

Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

“Silakan masuk, Bu."

Delanay masih linglung ketika Dion menggiringnya masuk ke sebuah salon super duper mewah. Entah harus senang atau sedih, Delanay tidak tahu. Dia ke sini seolah-olah baru saja diculik.

Demi menuruti keinginan Callum, Delanay sampai harus meninggalkan pekerjaannya. Sudah untung bosnya adalah Elara, adik Callum sendiri.

Coba kalau yang lain? Bisa jadi sekarang Delanay justru dipecat tanpa pesangon, gara-gara bertingkah seenaknya.

Lagi pula apa sih yang Callum pikirkan? Kenapa dia mengirim Delanay ke salon?

Ini baru pukul 4 sore, oke? Masih ada waktu 4 jam untuk berbenah diri.

"Mari ikut saya, Nyonya."

Dan seperti sudah diatur, begitu kakinya menapak ruang VIP, Delanay disambut oleh seorang pegawai salon. Ah, bukan hanya seorang. Sudah ada sekitar enam wanita berjajar di pintu masuk. Tampaknya Callum sudah mem-booking keseluruhan salon.

Mungkinkah ini yang dinamakan kekuatan menikahi konglomerat?

“Silakan duduk, Nyonya.”

Tanpa menolak, Delanay didudukkan ke kursi. Salah satu wanita tadi lantas memegang rambutnya dan menyuruh Delanay untuk agak merebah. Sepertinya, dia akan di-creambath terlebih dulu.

Dan benar saja. Selama 30 menit ke depan, kepala Delanay dibuat mainan.

Stres yang belakangan ini melandanya, mulai berkurang begitu si pegawai memijat kepala Delanay.

Astaga, ternyata inilah alasan yang membuat para wanita—termasuk Lauren dan Silvy suka berlama-lama di salon. Delanay baru ngeh.

"Apa baru di-creambath aja?”

Suara familiar itu membuat Delanay sedikit menoleh. Kepalanya yang mengenakan hair steamer, agak hangat dan cukup kesulitan untuk melihat Clara.

Yap. Itu tadi sudah bisa ditebak adalah Clara.

“Benar, Nyonya. Setelah creambath kami akan membawa Bu Delanay untuk lulur dan pijat."

Oke. Sampai di titik ini, Delanay merasa seperti kembali ke masa lalu. Masa saat dia akan menikah dengan Jovan. Bukankah saat itu dia melakukan perawatan? Meski hanya di rumah. Diurus langsung oleh Lauren.

“Kalau gitu, aku akan di sini,” kata Clara. Memilih duduk di kursi sebelah Delanay.

Untuk beberapa saat, hanya tinggal Delanay dan Clara.

“Ma?” panggil Delanay.

Clara yang tengah mengetik balasan untuk Ethan—yang tadi bertanya ke mana dia pergi, menoleh pada menantunya.

“Ya, Sayang?”

“Apa ini perlu, Ma? Maksudku, aku memang butuh perawatan. Tapi apa nggak terlalu berlebihan?” Delanay yakin ini semua akan ditanggung Callum. Dan biaya perawatannya pasti tidak sedikit.

“Tentu saja perlu, Sayang. Bagi seorang wanita, merawat tubuh itu penting."

Itu sebuah kejujuran.

Tapi, Clara tidak mau mengatakan bahwa pesta yang akan mereka datangi, cukup krusial. Apalagi mengingat status Delanay sebagai istri Callum, tidak bisa dipungkiri pasti kolega Westwood ataupun musuhnya akan menyorot Delanay. Sekarang, di mata yang lain, Delanay adalah titik kelemahan Callum juga Westwood.

“Tapi, biayanya...?”

Clara meletakkan ponsel ke dalam tas. “Nggak usah khawatir soal biaya. Buat apa Callum kerja, kalau nggak buat bayarin kamu?”

Itu terdengar mengkhawatirkan. Delanay seakan memeras harta Callum.

“Jangan dipikirin. Dia itu suami kamu,” kata Clara. Paham betul isi kepala menantunya.

Pada akhirnya, Delanay hanya mengangguk pasrah.

Sepanjang sore menjelang malam itu, dia dan Clara melakoni segala jenis perawatan. Tak tanggung-tanggung, Clara sepertinya ingin menguras habis isi kartu black card—yang tadi diberikannya pada Delanay. Jelas milik Callum.

“Nanti pakai gaun apa?” tanya Clara ketika mereka berdua baru manicure pedicure.

Untuk pertanyaan kali ini Delanay menggeleng. Dia belum menentukan gaunnya, sejak Dion menariknya kemari.

“Elara belum pilih gaun buat kamu?” Clara melotot. “Dasar, anak itu. Awas aja, kalau sampai lupa!” Suara agak meninggi, membuat si Mbak salon terkejut. Namun buru-buru menunduk, kembali menghias kuku tangan Clara.

Delanay lantas menggeleng. “B-bukan begitu, Ma. Rencananya kami mau pilih gaun sehabis pulang kerja. Tapi karena Pak Dion datang, jadi rencananya ditunda."

Baiklah, Clara akui, pemilihan waktu Callum tidak tepat. Dia menyuruh Delanay ke salon, padahal wanita ini sudah memiliki rencana sendiri.

Sedangkan tadi, Callum menelpon Clara untuk menemani Delanay, ketika dia sedang 'bermesraan' dengan Ethan. Clara tidak kaget kalau nanti akan ada perang dunia ketiga, antara ayah dan anak.

“Ya udah. Nanti Mama suruh Dion ambil gaun di butik."

Delanay? Hanya bisa menurut.

Hanya saja, jika orang lain fokus pada berita Clara dan Delanay tertangkap sedang perawatan bersama, ada satu orang yang tidak peduli. Dia Dion. Pria yang dibicarakan Clara.

Pria yang kala itu duduk di kafe seberang, tampak berpangku tangan. Dia tengah meratapi nasib malangnya.

Bagaimana tidak? Dion yang berstatus sebagai sekretaris Callum, si konglomerat kelas atas, kini statusnya malah seketika anjlok.

Berubah menjadi seorang pesuruh.

Usai rapat dengan kolega, Callum seenak jidatnya menyuruh Dion bertemu Delanay. Dia pikir ini perihal kontrak.

Siapa sangka Callum malah menyuruhnya mengantar Delanay ke salon. Memangnya kapan Dion melamar diri sebagai sopir sih?

“Konglomerat sialan!” umpat pria itu kemudian menyedot kasar jus jeruk di gelasnya.

Andai bukan karena gaji dan sayang dengan pendidikannya, Dion memilih resign. Kerja dengan Callum seperti perlu ribuan nyawa.

Dion bukan robot oke.

Tidak siang, tidak malam, otak Dion dan tubuhnya terus dipaksa bekerja. Lama-lama dia bisa cepat tua.

Drrt

Getaran ponsel membuat Dion dengan sigap meraihnya. Berpikir mungkin ada hal penting.

Namun, ketika matanya membaca keseluruhan isi chat, sepertinya keinginan resign itu harus terwujud sekarang juga.

“Anak dan Ibu sama saja," desis pria itu. Menahan kesal sampai ke ubun-ubun.

Clara persis dengan Callum. Seenaknya menyuruh Dion mengambil gaun untuk Delanay. Kenapa tidak dari tadi coba? Bagaimana bisa Dion harus berkendara dua kali ke tempat yang sama? Dan kenapa wanita yang menjadi istri Callum itu juga tidak mengatakannya sebelum berangkat?

Benar-benar serasi. Sama-sama iblis penyiksa!

Mendorong kursi dengan gerakan kasar, Dion meninggalkan beberapa lembar uang di meja. Masa bodoh soal kembalian. Nanti dia bisa memintanya dari Callum, sekalian uang bensin.

Syukur-syukur pria itu berbaik hati, mau memberinya kenaikan gaji. Meski rasanya mustahil.

Membanting pintu mobil, Dion lekas menginjak gas. Meninggalkan pelataran kafe sambil melirik gedung salon yang ingin sekali dia robohkan. Di sana, ada dua iblis wanita yang membuat Dion geram sekaligus gemas.

Dan belum jauh dia berkendara, ponselnya lagi-lagi berbunyi. Melirik nama Yang Terhormat Bos Callum, Dion mendesah. Ada apa lagi coba?

Tangan sekretaris handal itu menekan earpiece di telinganya, sambil berkata. “Yes, Sir?”

“Kau di mana?”

Andaikan membunuh dan memutilasi bos bukanlah sebuah pelanggaran, Dion ingin sekali melakukannya.

“Saya dalam perjalanan ke butik, Sir." Nada suaranya rendah. Sarat akan sopan santun sekaligus rasa kesal.

“Ke butik? Jadi sejak tadi, kau belum menjemput istriku?"

Dan demi mendengar tuduhan itu, Dion lantas membantah, “No, Sir. Saya disuruh Nyonya Clara untuk mengambilkan gaun istri Anda." Entah penekanan kata istri Anda, sampai ke telinga Callum atau tidak.

“Kalau begitu, cepat selesaikan! Dan kembali ke sini,” titah sang bos.

Shit!

Akhirnya umpatan itu terlepas dari bibir Dion. Hanya ketika Callum sudah memutus paksa sambungan telepon.

Sambil mengomel sepanjang jalan, Dion bersumpah. Dia akan bekerja keras agar bisa lebih kaya dari Westwood. Setidaknya setara dengan konglomerat Narayanan yang kini menempati posisi puncak.

“Ya Tuhan, tolong berikan hujan uang. Agar hambamu ini tidak lagi bekerja dengan iblis,” harap Dion. Bukan di hati, langsung di bibir.

1
Mia Camelia
kak ayo update lgi🤣
Mia Camelia
ayo up date lgi thor☺
Mia Camelia
lanjut thor, 😄😄😄
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
Mia Camelia
so sweet banget deh 🥰🥰🥰
Mia Camelia
callum udh mulai posesif kalii yaa🤣🤣🤣
Mia Camelia
sean jdi terlibat terus yaa😔
Mia Camelia
hahaaa callum jdi suka iseng yaa🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
wah...wah...calum udh mulaj kebakaran jenggot nih😂😂😂
makin seeruuu nih🥰
Mia Camelia
waduh 🤣🤣🤣calum akting nya mantapp👍👍👍
Mia Camelia
thor ayo up lagi, ya ampun cerita nya bagus banget😄
Mia Camelia
ini kenapa callum yg jdi bucin yaa??🤣🤣🤣
Mia Camelia
kaget ternyata callum bisa marah juga denger delanay ada yg jelek2iin🤣🤣🤣
seruuu banget thor😄
Mia Camelia
wah callum sikap nya berubah mulu ya, kadang dingin, kadang manis, kadang nyeremiin🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
siapa sih yg perkosa delanay??? ayoo thor kasih tau napa ?🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor😄😄😄
callum kok dingin ky es balok banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!