Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perjalanan Menembus Batas Dunia
Lembah Senja yang hancur mulai runtuh ke dalam kehampaan. Fragmen-fragmen tanah melayang ke atas, terhisap oleh retakan ruang yang diciptakan oleh armada Sekte Dewa Abadi yang musnah.
Jian Wuyou berdiri di tengah pusaran itu, jubahnya berkibar liar. Di pundaknya, ia memikul Jian An dan Jian Han yang pingsan, sementara tangan kirinya mendekap pinggang Li Hua agar tidak terhisap oleh gravitasi ruang.
"Wuyou! Gerbang itu akan menutup!" teriak Mei Lian sambil berpegangan pada sebuah pilar batu yang retak.
"Jangan lepaskan peganganmu!" raung Jian Wuyou.
Ia menghentakkan kakinya. Energi Domain Kehendak Tahap Akhir miliknya meledak, menciptakan kubah ungu transparan yang melindungi mereka dari gesekan dimensi.
Dengan satu lompatan dahsyat, mereka melesat masuk ke dalam retakan hitam, meninggalkan dimensi saku yang meledak di belakang mereka.
Mereka terombang-ambing di dalam terowongan ruang yang gelap gulita. Tidak ada cahaya, tidak ada udara, hanya ada tekanan luar biasa yang mencoba meremukkan tulang mereka. Li Hua memejamkan mata rapat-rapat, namun ia merasa hangat karena perlindungan Jian Wuyou.
Setelah waktu yang terasa seperti keabadian, mereka menghantam sebuah daratan yang dingin dan tandus.
BOOM!
Mereka mendarat di atas tanah berwarna abu-abu yang keras. Jian Wuyou segera memeriksa kondisi anak-anaknya.
Napas mereka sudah stabil, namun wajah mereka masih sangat pucat. Energi Puncak Abadi yang sempat mereka pinjam tadi telah meninggalkan bekas "luka bakar" pada jalur meridian mereka.
"Di mana kita?" bisik Li Hua, menatap langit yang tidak memiliki matahari maupun bintang, hanya awan kelabu yang berputar lambat.
"Ini adalah Jurang Ketiadaan," jawab Jian Wuyou, suaranya terdengar waspada. "Tempat di mana para dewa membuang monster yang tidak bisa mereka bunuh. Di sini, hukum alam tidak berlaku. Jika kau tidak memiliki tekad yang kuat, tempat ini akan memakan jiwamu."
Jian Wuyou membimbing mereka berjalan melewati lembah tulang raksasa hingga mereka melihat sebuah kota yang dibangun dari bangkai kapal-kapal kuno dan reruntuhan kuil dewa.
Kota itu disebut Kota Tanpa Nama, satu-satunya tempat tinggal bagi mereka yang melarikan diri dari kehendak langit.
Saat mereka memasuki gerbang kota, puluhan pasang mata menatap mereka dari balik bayang-bayang.
Mereka adalah para kriminal antar dimensi, monster yang bisa berubah wujud, dan pendekar-pendekar yang telah mencapai ranah Jiwa Sejati hingga Transformasi Esensi.
"Lihat itu... ada pendatang baru," bisik seorang pria dengan wajah separuh tengkorak. "Dan dia membawa wanita cantik serta anak-anak dengan aroma energi yang lezat."
Pria itu melompat turun dari sebuah menara, menghalangi jalan Jian Wuyou. Ia adalah seorang ahli di ranah Transformasi Esensi Tahap 7. "Hei, Pendekar. Berikan istrimu dan anak-anakmu padaku, maka aku akan memberimu jalan hidup di kota ini."
Jian Wuyou tidak berhenti berjalan. Ia bahkan tidak menoleh ke arah pria itu.
"Menyingkir,dasar sampah!" ucap Wuyou dingin.
"Atau apa? Kau hanya sendirian, dan kau terlihat terluka parah—"
Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Jian Wuyou melepaskan sedikit tekanan dari Domain Kehendak-nya. Hanya sedikit.
KRAKK!
Seluruh bangunan di sekitar mereka retak. Pria bertengkorak itu langsung berlutut, tulang kakinya hancur berkeping-keping hanya karena "berat" dari keberadaan Jian Wuyou. Tanah di bawah mereka amblas sedalam satu meter.
"Aku tidak datang ke sini untuk mencari masalah," suara Jian Wuyou bergema di seluruh kota, membungkam setiap bisikan. "Tapi jika kalian mengusik keluargaku, aku akan mengubah tempat sampah ini menjadi pemakaman massal bagi kalian semua."
Mereka menemukan sebuah rumah batu tua di sudut kota yang lebih tenang. Jian Wuyou meletakkan Jian An dan Jian Han di atas ranjang kayu yang kasar.
Mei Lian segera menyiapkan obat dari sisa tanaman yang ia bawa, sementara Li Hua duduk di samping anak-anaknya, mengusap dahi mereka dengan air matanya yang belum kering.
"Wuyou, berapa lama kita harus bersembunyi di tempat seperti ini?" tanya Li Hua lirih.
Jian Wuyou berdiri di depan pintu, menatap langit kelabu. "Hanya sampai anak-anak bangun dan bisa mengendalikan kekuatan mereka sendiri. Penyatuan mereka tadi bukan kebetulan,Li Hua. Mereka telah menyentuh Puncak Abadi. Itu berarti mereka adalah target nomor satu di seluruh semesta."
Ia mengepalkan tangannya. "Aku harus membantu mereka mencapai ranah Jiwa Sejati atau Transformasi Esensi secepat mungkin sebelum musuh yang lebih kuat dari Sekte Dewa Abadi menemukan jalan ke sini."
Di dalam tidurnya, Jian An dan Jian Han mulai memancarkan cahaya ungu dan hitam yang saling melilit. Di tempat yang penuh dengan monster dan kegelapan ini, benih kekuatan yang akan mengguncang langit sedang mulai berakar kembali.