NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 - Pengungkapan Dari Paman - Orang Misterius, Dan Tujuan Ku Selanjutnya

-~-Time Skip

Arthur, kini sudah berusia 17 Tahun saat ini

Hujan turun tipis di pagi hari, membasahi halaman rumah yang kini tak lagi semegah dulu. Beberapa patung telah retak. Sebagian taman tak terawat. Namun bangunan utama masih berdiri tegak, meski dengan bekas luka yang tidak disembunyikan.

Arthur berdiri di balkon lantai dua, mantel gelap menutupi tubuhnya. Rambutnya kini lebih panjang, wajahnya lebih tegas dan terlihat sangat. Mata yang dulu polos kini menyimpan sesuatu yang lain kesadaran akan dunia yang tidak ramah. Ia menatap halaman kosong di bawah, tempat dulu ia berlari tanpa beban.

“Ulang tahunmu ke 18 tinggal 67 hari lagi, Tuan muda...”

Suara itu datang dari belakang. Arthur menoleh. Hendry berdiri di ambang pintu balkon, rambutnya kini lebih putih, tubuhnya sedikit lebih membungkuk namun matanya masih tajam.

“Aku tahu tentang itu, Hendry” jawab Arthur pelan. “Semua orang disini juga pasti tahu.”

Hendry melangkah mendekat, menyandarkan tongkat kecil ke dinding. “Biasanya, usia delapan belas dirayakan besar-besaran di keluarga ini.”

Arthur tersenyum tipis.

“Biasanya...”

Keheningan menggantung. Angin membawa aroma tanah basah dan besi tua.

“Apakah Ayah, Ibu, beserta Paman akan hadir di pesta ulang tahun ku nantinya?” tanya Arthur akhirnya.

Hendry tidak langsung menjawab. Itu sudah cukup menjadi jawaban. Arthur mengangguk pelan, seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan kehilangan yang tidak pernah diumumkan secara resmi.

-~-Di Ruang Makan Pagi

Isabel duduk di ujung meja panjang. Wajahnya masih cantik, tapi ada garis-garis lelah yang tidak bisa disembunyikan. Tangannya memegang cangkir teh.

Norvist duduk berseberangan. Rambutnya memutih sebagian, namun sorot matanya lebih keras dari dulu.

“Aku tidak ingin membicarakan hal ini kepada mu Arthur saat kita sedang makan... Namun... Kau akan meninggalkan rumah ini sebentar lagi, Arthur...” kata Norvist tanpa basa-basi.

Arthur mengangkat alis. “Meninggalkan?... Seberapa lama itu paman?”

“Selama apapun hingga kamu kuat dirasa cukup yakin” jawab Norvist.

“Sebelum ulang tahunmu ke-18 akan datang.”

Isabel terkejut. “Norvist...”

“Ini perlu baginya” potong Norvist. “Ia harus melihat dunia sebelum dunia melihatnya.”

Arthur menatap pamannya.

“Ini pasti tentang mereka itu, bukan?”

Norvist tidak menyangkal. “Iya tentang mereka.”

Nama-nama itu tidak lagi diucapkan. Mereka tidak perlu disebut untuk tetap terasa hadir. Hendry berdiri di belakang, kedua tangannya bertaut. Ia mengangguk kecil ke arah Norvist.

“Tapi setidaknya ada tempat yang aman selain di rumah saat ini...” kata Hendry. “Tempat yang lama, dan hampir atau bahkan telah dilupakan.”

Arthur menoleh cepat. “Tempat lama?, bisakah kamu jelaskan Hendry.”

Untuk sesaat, Hendry terlihat ragu. Lalu ia berkata pelan, “Tempat di mana janji lama masih dihormati.”

Isabel menggenggam tangan Arthur. “Kau tidak sendirian... Jangan pernah pikir begitu.”

Arthur membalas genggaman itu.

“Aku tahu, Ibu tenang saja.”

-~-Di Kota Bawah Yang Masih Termasuk Wilayah Keluarga Moren

Di sebuah gedung batu yang kini lebih megah dari sebelumnya, enam pria berdiri di depan jendela besar.

Clorfin mengenakan mantel mahal, senyum santainya tidak pernah berubah.

“Anak itu sudah beranjak besar.”

Permo memeriksa dokumen. “Mungkinkah itu terlalu cepat.”

Ervin menutup buku catatan. “Usia tujuh belas... Itu masa paling berbahaya.”

Forlen bersandar di dinding. “Karena dia mulai bertanya.”

Vastorci tersenyum tipis. “Dan pertanyaan adalah awal dari perlawanan yang menarik.”

Borein menatap bayangan kota di bawah.

“Biarkan dia merayakan delapan belasnya… jika ada waktu sebelum mereka yang menginginkan Moren bergerak.”

Tidak ada tawa kali ini.

-~-Beralih Saat Malam di Rumah Arthur

Arthur duduk sendirian di kamar lama Hendry kamar kecil di ujung koridor yang kini jarang dipakai. Di tangannya, sebuah buku tua dengan sampul usang:

Sepuluh Kebaikan Besar Otra Heos.

Ia membuka halaman terakhir. Ada catatan kecil yang dulu tidak ia perhatikan. (Pahlawan sejati tidak lahir dari kemenangan, tetapi dari kehilangan yang dipilih untuk tidak dibalas dengan kebencian). Arthur menutup buku itu perlahan. Hendry muncul di ambang pintu.

“Besok kita berangkat, tuan muda” katanya.

Arthur mengangguk.

“Hendry…”

“Ya?”

“Jika aku bertanya tentang Ayah… Apakah kau akan jujur?”

Hendry menatapnya lama. Terlalu lama untuk sekadar pelayan.

“Jika kau siap mendengarkan, tuan muda” jawabnya.

Arthur berdiri. “Aku rasa… Aku sudah lama siap.”

Hendry menghela napas dalam.

“Kalau begitu… Perjalanan ini bukan hanya tentang bersembunyi.”

Di luar, lonceng kota berdentang pelan.

Tujuh belas kali. Dan di balik detik-detik itu, dunia perlahan bersiap menyambut seorang Arthur yang tidak lagi hanya bermimpi melainkan mulai memilih jalannya sendiri.

Sore Menjelang Malam

Kota bawah diselimuti cahaya matahari. Jalanan sempit, batu-batu tua basah oleh sisa hujan. Arthur berjalan sendiri, mantel menutup sebagian wajahnya. Hendry pergi ke toko-toko untuk menyiapkan bekal dan peralatan, ini satu-satunya waktu Arthur diizinkan berjalan tanpa pengawalan knight. Ia berhenti di depan toko buku tua. Papan kayunya retak, lonceng kecil di pintu berderit pelan saat dibuka.

-~-Di Dalam Toko Buku Tua

Aroma kertas lama dan debu. Rak-rak tinggi hampir runtuh. Pemilik toko buku menyapa Arthur, dan di sudut ruangan, seorang pria duduk membelakangi Arthur. Rambut gelap, postur besar, mantel panjang berwarna abu-abu tua. Pria itu sedang membaca, tentu saja membaca sebuah buku.

“Buku sejarah biasanya lebih jujur daripada manusia,” kata pria itu tiba-tiba, tanpa menoleh.

Arthur membeku.

“Namun tetap saja… mereka ditulis oleh para pemenang.”

Arthur menelan ludah.

“Apa yang anda cari di sini, Tuan?”

Pria itu menutup buku perlahan.

Judulnya terlihat: Runtuhnya Sang Keluarga Tua.

Ia berdiri, berbalik.

Mata Arthur membesar tidak karena takut, tapi karena pengenalan yang tiba-tiba.

“Aku mengenal mu, kamu pasti Borein bukan?” ucap Arthur pelan.

Pria itu tersenyum tipis.

“Borein? Siapa itu?… Apakah itu nama dari pengemis yang meminta uang kepada mu saat di perjalanan kesini?.....(suasana hening) Bercanda, hahahahaha... Jadi namaku masih diingat dan diceritakan juga yaa.”

Borein mendekat satu langkah. Tidak agresif. Tidak ramah. “Arthur... Anak dari Moren” katanya.

“Kau mirip ibumu. Tapi matamu… itu milik ayahmu juga.”

Arthur mengepalkan tangan. “Jangan berani sebut dia dasar saus tartar!!.”

Borein mengangkat alis.

“Hmmmmmmm menarik... Biasanya anak seusiamu ingin tahu segalanya.”

“Aku hanya ingin tahu satu hal saja” kata Arthur. “Kenapa. kau. ada. Di. Sini?”

Borein tertawa pelan.

“Mungkin hanya kebetulan biasa, atau ini memang takdir kita dipertemukan hahahahahahaha.”

Arthur tidak percaya omong kosong yang dilontarkan kepada pria yang jokes nya saja tidak lucu.

Borein berjalan ke jendela toko. Cahaya matahari memotong siluet tubuhnya.

“Besok kau akan pergi kesana ya...” katanya santai. “Ke tempat lama. Ke tempat yang bahkan namanya sudah dihapus dari peta wilayah Tirpen sekarang.”

Arthur menegang.

“Tenang, kalem saja boy” lanjut Borein. “Aku tidak berniat menghentikanmu atau bahkan mencelakaimu.”

Arthur mendekat setengah langkah.

“Lalu kenapa kau menemuiku?”

Borein menoleh, tatapannya tajam.

“Karena aku ingin melihat… apakah Moren dan Warisannya benar-benar mati bersama harapannya.”

Arthur menggertakkan gigi.

“Jika kau datang hanya untuk menghina maka aku akan pergi saja dari sini, cia~”

“Hey tidak!!, ehem... tunggu dulu Arthur” potong Borein. “Aku datang kesini untuk memperingatkan mu.”

Ia membuka telapak tangannya, memperlihatkan cincin logam tua dengan simbol yang sama dengan lambang keluarga Arthur namun retak.

“Kamu lihat cincin ini, bisakah kamu melihat ini? apakah kamu benar-benar dapat melihat ini? Enam dari kami tidak selalu sepakat, kami saling mengawasi satu sama lain dari belakang masing-masing” katanya.

“Ada yang ingin kau mati cepat. Ada yang ingin kau hidup… tapi hancur perlahan.”

Arthur menatap cincin itu.

“Dan kau? Borein”

Borein tersenyum samar.

“Aku ingin melihat pilihanmu yang akan kamu buat, dan aku sangat menantikan hal itu.”

Borein melangkah melewati Arthur menuju pintu.

“Ulang tahun ke-18 adalah tanda, Arthur” katanya tanpa menoleh.

“Di usia itu, ayahmu membuat keputusan yang mengubah segalanya.”

Pintu berderit terbuka.

“Oh ya satu hal lagi, Arthur” tambah Borein, “jika Hendry menyebut dirinya hanya pelayan biasa… jangan langsung percaya, dan hal penting terakhir adalah... Apakah jokes ku tadi benar-benar sudah tidak lucu lagi hmmm, ya, ya, ya, seperti nya aku harus mengganti topik joke lagi, btw sayonara~~.”

Arthur berbalik cepat.

“Apa maksudmu tadi Borein?!”

Namun pintu sudah tertutup.

Lonceng kecil berdenting sunyi setelahnya.

Arthur berdiri terpaku. Tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena pertanyaan yang selama ini terkubur kini dipaksa bangkit. Hendry masuk beberapa menit kemudian.

“Wajah anda terlihat pucat, tuan muda” katanya.

Arthur menatapnya. Lama.

“Tidak apa Hendry... Barusan aku bertemu dengan pengemis membosankan disini dia melontarkan beberapa kalimat yang tidak lucu... Btw kita akan berangkat besok pagi, Hendry” kata Arthur akhirnya.

“Dan di perjalanan… aku harap kau mulai bercerita, tentang dirimu sendiri”

Hendry mengangguk perlahan.

“Baik tuan muda...”

Di luar toko itu, cahaya dari matahari mulai tenggelam secara perlahan. Dan jauh di balik bayangan kota, enam pasang mata kembali bergerak namun salah satu di antaranya, untuk pertama kalinya, tidak sepenuhnya yakin dan ragu tentang apa yang ia lakukan...

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!