NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Menemani Suami Kerja

Matahari sore Jakarta bersembunyi malu-malu di balik gumpalan awan mendung, menyisakan langit berwarna jingga keabuan yang temaram. Angin sore berhembus cukup kencang, menerbangkan debu dan daun kering di pelataran Fakultas Ilmu Budaya. Suasana kampus mulai lengang. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang atau bermigrasi ke kafe-kafe terdekat untuk menghindari jam sibuk dan kemacetan sore.

Hannah Humaira berdiri di dekat pilar lobi fakultas, sesekali melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya. Jilbab pasmina mocca-nya berkibar pelan tertiup angin. Di sampingnya, Rere masih setia menemani sambil memainkan ponselnya, menunggu ojek online-nya datang.

"Jemputan lo lama banget sih, Han? Udah mau maghrib nih," komentar Rere tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Bokap lo macet di jalan apa gimana?"

Hannah tersenyum tipis, sedikit gugup. "Bukan Abah kok. Ini... orang rumah yang jemput."

Hannah sengaja menggunakan istilah ambigu "orang rumah". Sampai detik ini, tiga bulan menikah, tidak ada satu pun teman kampusnya yang tahu bahwa Hannah sudah berstatus istri orang. Hannah belum siap dengan segala pertanyaan, stigma "nikah muda", atau perubahan sikap teman-temannya. Ia ingin dikenal sebagai Hannah si mahasiswa biasa, bukan Hannah istri direktur.

"Oh, kakak lo ya?" tebak Rere asal. "Yang waktu itu lo bilang namanya Mas Akbar?"

"Iya... Mas Akbar," jawab Hannah pelan. Dalam hati ia meminta maaf karena tidak sepenuhnya jujur. Panggilan 'Mas' memang bisa berarti kakak laki-laki, meski bagi Hannah maknanya adalah 'Imam'.

Tak lama kemudian, mobil SUV hitam mengkilap yang terlihat gagah dan mahal itu merapat ke bibir lobi. Kaca filmnya gelap, menjaga privasi penumpang di dalamnya dengan sempurna.

Mata Rere membelalak kagum. "Gila, mobilnya ganteng banget. Kakak lo kerja apa sih, Han? Tajir melintir kayaknya."

"Kerja di... bangunan," jawab Hannah sederhana, berusaha tidak memancing rasa penasaran Rere lebih jauh. "Aku duluan ya, Re. Makasih udah ditemenin."

"Oke, hati-hati! Salam buat Mas-nya!" seru Rere sambil melambaikan tangan.

Hannah menghela napas lega. Aman. Rahasianya masih terjaga.

Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam kabin yang sejuk dan wangi musk. Begitu pintu tertutup, dunia kampus dan segala sandiwaranya tertinggal di luar.

"Assalamualaikum, Mas Akbar," sapa Hannah, nada suaranya berubah menjadi lembut, berbeda 180 derajat dengan nada bicaranya pada Rere tadi.

"Wa’alaikumsalam, Sayang," jawab Akbar.

Panggilan "Sayang" itu meluncur begitu natural dari lidah Akbar, membuat pipi Hannah merona seketika. Meski lelah terlihat jelas di garis wajah suaminya lingkaran hitam samar di bawah mata dan kemeja kerja yang kancing atasnya sudah dibuka binar mata Akbar tetap hangat menyambutnya.

Akbar melajukan mobil membelah jalanan sore. Namun, alih-alih mengambil jalur kanan menuju arah pulang, Akbar menyalakan lampu sein kiri, mengarah ke kawasan pusat bisnis Sudirman.

"Mas... kita nggak pulang?" tanya Hannah bingung, melihat rute yang berbeda.

Akbar menoleh sekilas, tangan kirinya terulur menggenggam tangan Hannah erat di atas persneling. Ada gurat penyesalan di wajah tampannya.

"Maaf ya, Dek. Mas harus balik ke kantor lagi. Ada data struktur dari konsultan yang baru masuk sore ini dan harus Mas review buat pengecoran besok pagi. Kalau ditunda, proyek bisa molor seminggu."

"Oh, lembur ya?" Hannah mengangguk paham, meski ada sedikit rasa kecewa karena batal bersantai di rumah. "Ya sudah, Mas turunin Hannah di mana? Nanti Hannah pesen taksi online aja ke rumah."

Akbar menggeleng cepat. Genggamannya di tangan Hannah mengerat.

"Nggak," tolak Akbar tegas. "Mas nggak mau kamu pulang sendirian ke rumah yang sepi. Di luar juga mau hujan besar."

Akbar menatap Hannah sekilas dengan tatapan memohon.

"Ikut Mas ke kantor aja, ya? Temenin Mas kerja," pinta Akbar lembut. "Mas butuh ditemenin. Kalau ada kamu, Mas kerjanya jadi lebih semangat. Kamu bisa nunggu di sofa ruangan Mas, main laptop atau tidur. Yang penting kamu ada di jangkauan mata Mas."

Hati Hannah berdesir hebat. Dulu, ia selalu merasa dirinya beban. Tapi hari ini, Akbar justru memintanya hadir. Akbar menginginkannya di sana.

"Mas... Mas nggak malu Hannah ikut? Hannah kan cuma mahasiswa, nanti dikira anak magang," canda Hannah, menutupi rasa bahagianya.

"Siapa yang berani ngira istri Direktur Utama anak magang?" Akbar tertawa renyah. "Jadi gimana? Mau kan nemenin Mas?"

Hannah tersenyum lebar, mengangguk mantap. "Mau, Mas. Hannah temenin sampai pagi juga boleh."

"Jangan sampai pagi dong, nanti dikira kita kemping di kantor," gurau Akbar, suasana hatinya langsung membaik drastis.

Gedung kantor Hasyim Group sudah mulai sepi saat mereka tiba. Hanya divisi teknis dan beberapa staf administrasi yang masih terlihat sibuk lembur di kubikel masing-masing.

Saat Akbar berjalan masuk menggandeng tangan Hannah dengan percaya diri, beberapa karyawan yang berpapasan menyapa dengan hormat.

"Malam, Pak Akbar. Malam, Bu," sapa mereka.

Dulu, panggilan "Bu" membuat Hannah merasa tua dan salah tempat. Tapi sekarang, ia membalas sapaan itu dengan anggukan sopan dan senyum ramah. Di sini, di gedung ini, ia bukan mahasiswa semester satu yang harus menyembunyikan cincin kawinnya. Di sini, ia adalah Nyonya Akbar. Itu adalah fakta yang membuatnya merasa aman.

Mereka masuk ke ruangan direktur. Ruangan itu dingin, beraroma kopi dan tumpukan kertas.

"Dek, kamu duduk di sofa ya. Mas pesankan makan malam dulu. Mau apa?" tanya Akbar sambil meletakkan tas kerjanya.

"Apa aja yang anget, Mas. Bakmi godog boleh?"

"Siap. Mas pesankan lewat aplikasi."

Akbar mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Ia fokus menatap dua layar monitor besar di mejanya. Hannah duduk di sofa empuk di sudut ruangan, membuka laptopnya, berpura-pura mengerjakan tugas. Namun sesungguhnya, matanya lebih sering mencuri pandang ke arah suaminya.

Melihat Akbar dalam "mode kerja" adalah pemandangan favorit Hannah yang baru. Suaminya terlihat sangat karismatik. Pria hebat ini adalah miliknya, dan pria hebat ini baru saja memohon agar ditemani olehnya.

Tok. Tok.

Pintu ruangan diketuk.

"Masuk," perintah Akbar tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Pintu terbuka. Annisa masuk membawa map tebal. Wajahnya terlihat lelah, makeup-nya sudah tidak se-sempurna pagi tadi.

"Permisi, Pak. Ini print out RAB revisi tiga yang Bapak minta," ucap Annisa formal.

Saat Annisa melangkah masuk, matanya langsung tertumbuk pada sosok Hannah yang duduk santai di sofa. Hannah sedang memangku laptop dengan kaki ditekuk nyaman di bawah gamisnya, terlihat sangat at home.

Hannah mendongak, tersenyum ramah pada Annisa. Senyum yang tulus, tanpa rasa intimidasi. Rasa insecure-nya sudah lenyap karena ia tahu, Akbar yang membawanya ke sini.

"Malam, Mbak Annisa. Lembur juga?" sapa Hannah ringan.

Annisa mengerjap, sedikit gugup. "Eh, iya, Dek. Malam. Iya, lagi kejar tayang."

Annisa berjalan menuju meja Akbar, meletakkan map itu.

"Terima kasih, Nis. Kamu taruh saja di situ," ujar Akbar datar, matanya tetap di layar monitor. "Oh ya, sekalian tolong bilang Office Boy buat antarkan teh hangat ke sini ya. Istri saya sepertinya kedinginan kena AC."

"Baik, Pak," jawab Annisa.

Kalimat sederhana itu istri saya diucapkan Akbar dengan nada yang begitu protektif dan bangga. Tidak ada keraguan, tidak ada usaha menyembunyikan.

Saat pintu tertutup kembali setelah Annisa keluar, Hannah merasa satu beban lagi terangkat dari dadanya.

Satu jam berlalu. Makanan pesanan datang. Mereka makan bakmi godog bersama di meja tamu ruangan itu, duduk berdampingan di sofa. Akbar meletakkan pekerjaannya sejenak, mendedikasikan waktu makannya sepenuhnya untuk Hannah.

"Gimana tugasnya? Lancar?" tanya Akbar sambil menyuapkan pangsit ke mulut Hannah suapan kasih sayang di sela kesibukan.

"Lancar, Mas. Cuma baca jurnal aja," jawab Hannah sambil mengunyah. "Mas seneng Hannah di sini?"

Akbar menatap mata Hannah lekat-lekat. Ia meletakkan sendoknya, lalu mengusap pipi Hannah dengan ibu jarinya.

"Seneng banget," jawab Akbar serius. "Tadi di jalan Mas udah pusing mikirin beton. Tapi pas lihat kamu duduk di sofa itu, rasanya adem. Makasih ya udah mau nemenin Mas, padahal kamu pasti capek habis kuliah."

Hannah menggeleng, tersenyum manis. "Hannah nggak capek kok. Di sini Hannah bisa bebas panggil Mas 'Suami' tanpa takut didengar Rere."

Akbar tertawa lepas. "Oh, jadi di kampus tersiksa ya panggil 'Mas' doang? Sabar ya, Nyonya Akbar. Nanti ada waktunya dunia tahu."

Malam itu, di lantai dua gedung perkantoran yang sepi, Hannah belajar bahwa cinta bukan hanya tentang pengakuan publik yang riuh. Cinta adalah tentang dibutuhkan.

Perasaan "dibutuhkan" oleh Akbar itulah yang menyempurnakan kepingan hati Hannah yang selama ini retak. Ia bukan sekadar pajangan di rumah, tapi ia adalah teman yang diharapkan kehadirannya oleh sang nahkoda kapal.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!