NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Anti-Every

Suasana di ruang rapat utama BEM Universitas Emmerson tidak hanya dingin karena AC, tapi membeku karena tatapan tajam antara dua kutub yang berseberangan.

Every dengan setelan blazer rapi dan rambut yang terikat sempurna, duduk di ujung meja jati panjang. Di hadapannya, River Armani bersandar santai dengan kaki sepatu boots-nya yang kotor terangkat ke atas meja, masih mengenakan jaket kulit berbau oli.

Baru satu minggu mereka kembali dari tugas sebagai volunteer bencana, namun bukannya bersatu, dendam lama justru semakin membara.

"Berdasarkan SK Ketua BEM Nomor 402, mulai pukul lima sore ini, gedung di sektor belakang kampus—yang kalian sebut 'bengkel'—secara resmi disegel," suara Every tenang, namun tegas tanpa celah. "Area itu akan dialihfungsikan menjadi laboratorium riset terpadu. Semua rongsokan motor kalian harus dikosongkan sekarang."

Hening sejenak. Anggota BEM lainnya menahan napas. Mereka tahu bengkel itu adalah jantung bagi River dan komunitasnya.

River menurunkan kakinya dari meja, perlahan mencondongkan tubuh ke arah Every. Seringai sinisnya muncul. "Riset terpadu? Atau lo cuma pengen balas dendam karena di desa kemarin gue lihat lo gemetar ketakutan?"

"Ini soal regulasi, River. Bukan soal perasaan personal," balas Every, meski jemarinya sedikit mengetat pada pulpen mahalnya.

"Regulasi lo itu sampah, Eve," desis River. "Lo memimpin kampus ini kayak mimpin panti asuhan yang ketat. Kaku, membosankan, dan haus kuasa. Mahasiswa di sini butuh kebebasan, bukan diktator berwajah porselen kayak lo."

Every berdiri, ia tidak gentar sedikit pun. Ia melemparkan sebuah map hitam ke arah River. "Kalau lo nggak suka dengan cara gue memimpin, kenapa lo nggak ambil alih saja? Oh, gue lupa... lo bahkan nggak bisa masuk struktur organisasi karena catatan disiplin lo yang merah semua."

Every maju satu langkah, menumpukan tangannya di meja, menatap tepat ke manik mata River. "Lo yang jebak gue jadi Ketua BEM supaya gue sibuk dengan kertas-kertas ini, kan? Lo pikir lo bisa bikin gue hancur karena beban kerja ini?"

River tertawa kasar, tawa yang membuat seisi ruangan merinding. "Gue pikir lo bakal menyerah dalam sebulan, Eve. Tapi lo malah makin gila kekuasaan."

"Kalau begitu, ayo kita mainkan dengan cara lo," tantang Every. "Gue tantang lo, River. Berhenti jadi pengecut yang cuma bisa mengecam dari balik knalpot. Masuk ke dalam sistem gue. Gue buka posisi Kepala Keamanan dan Disiplin BEM khusus buat lo. Kalau lo bisa bertahan satu bulan tanpa bikin keributan, gue buka segel bengkel lo. Tapi kalau lo gagal... lo dan komunitas lo harus terima keputusan apapun yang nantinya dibuat."

Axel Ammerson, yang duduk di sebelah Every sebagai Wakil Ketua, mengepalkan tangan. "Every! Lo gila? Memasukkan preman ini ke dalam struktur BEM adalah bunuh diri!"

"Biarkan saja, Axel," potong Every tanpa menoleh. "Gue mau lihat seberapa besar nyali River kalau dia harus patuh pada aturan yang dia benci."

River bangkit dari kursi, berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di belakang Every. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Every yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Lo baru saja kasih kunci buat gue masuk ke wilayah pribadi lo, Eve. Hati-hati... sekali gue ada di dalam, gue nggak akan cuma urus disiplin kampus. Gue bakal urus 'kedisiplinan' lo juga."

Di sudut ruangan, Aluna menatap pemandangan itu dengan mata penuh kebencian. Ia melihat bagaimana River menatap Every—sebuah tatapan yang tidak pernah River berikan padanya. Kebencian, namun penuh dengan obsesi tersembunyi.

......................

Begitu pintu ruang rapat BEM tertutup dengan dentuman keras, suasana di lorong lantai dua gedung rektorat langsung memanas. Kelompok mahasiswa dari faksi pro-Emmerson dan beberapa perwakilan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang merasa dirugikan oleh kebijakan Every sudah menunggu.

Lorong itu menjadi panggung konfrontasi bagi River yang baru saja keluar dengan langkah santai namun penuh wibawa.

"Gimana, Riv? Lo beneran tunduk sama 'Ratu Es' itu?" celetuk Genta, salah satu ketua UKM yang terkenal vokal membenci Every. "Dia cantik, gue akuin. Tapi mulutnya lebih tajam dari silet dan arogansinya bikin muak. Dia nutup bengkel lo seolah itu sampah, dan lo diem aja?"

River berhenti melangkah. Ia tidak meledak marah, ia justru berdiri tegak, memasukkan tangan ke saku jaket kulitnya. Auranya yang tenang namun menekan seketika membuat kerumunan itu sedikit mundur.

"Dia memimpin dengan aturan, Genta. Bukan dengan perasaan," ucap River tenang, suaranya bariton dan stabil.

"Aturan? Itu namanya diktator!" sahut yang lain. "Dia ngerasa paling benar karena dia Every Riana. Dia nggak butuh kita, dia cuma butuh angka-angka di laporan dia!"

River menatap mereka satu per satu. Di Universitas Emmerson, orang tahu River adalah seorang Armani—keluarga yang setara dengan Riana dan Emmerson dalam hal kekuasaan. Namun, River disegani bukan karena kekayaan ayahnya yang gelap, melainkan karena dia adalah tipe pemimpin yang akan berdiri paling depan untuk orang-orangnya.

"Gue nggak suka cara dia bicara, dan gue benci arogansinya," River memulai, membuat kelompok anti-Every merasa mendapat dukungan. "Tapi, kalau kalian cuma bisa teriak di lorong kayak pengecut tanpa bawa solusi yang lebih baik dari dia, kalian nggak ada bedanya sama sampah yang dia keluhkan."

"Jadi lo belain dia sekarang?" Genta mendesis.

River maju satu langkah, menatap Genta dengan sorot mata yang membuat pria itu menelan ludah. "Gue masuk ke BEM bukan buat jadi anjing penjaga Every. Gue masuk buat pastiin sistem dia nggak menghancurkan kalian. Tapi kalau kalian coba main kotor buat jatuhin dia lewat fisik atau sabotase... kalian bakal berurusan sama gue."

Adu Argumen di Balik Pintu

Tanpa mereka sadari, Every berdiri di balik pintu kaca yang sedikit terbuka. Ia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut River. Dadanya berdesir antara rasa marah karena disebut "arogan" dan rasa aneh karena River, pria yang baru saja ia tindas dengan segel bengkel, justru menjadi benteng pertamanya di depan massa.

Every membuka pintu, melangkah keluar dengan dagu terangkat dan wajah tanpa ekspresi. "Rapat sudah selesai. Kenapa masih ada kerumunan sampah di depan kantor saya?"

Kelompok mahasiswa itu menegang. "Every, lo nggak bisa seenaknya—"

"Saya bisa," potong Every pedas. "Selama kalian masih menggunakan subsidi kampus yang saya kelola, kalian patuh pada saya. Jika tidak puas, silakan ajukan mosi tidak percaya, bukan berdemo di lorong seperti anak sekolah dasar yang kehilangan mainannya."

River hanya menggelengkan kepala melihat betapa provokatifnya Every. Saat kerumunan itu bubar dengan gerutuan penuh benci, hanya tersisa Every dan River di lorong sepi itu.

"Lo benar-benar nggak punya rem kalau bicara, ya?" River berkomentar, bersandar di dinding sambil menatap Every yang sedang merapikan blazernya.

"Gue bicara fakta, River."

"Fakta itu bisa membunuh lo kalau lo nggak hati-hati, Eve. Lo punya sejuta musuh dan cuma satu orang yang bisa lo percaya, itu pun karena kontrak tantangan gila lo tadi," River berjalan mendekat, memperpendek jarak hingga Every bisa merasakan aura dominan pria itu. "Arogansi lo itu cantik, tapi itu juga yang bakal bikin lo jatuh."

Every menatap mata River, tidak gentar sedikit pun. "Selama gue masih berdiri di puncak, gue nggak peduli siapa yang mau narik gue jatuh. Dan bukannya itu tugas lo sekarang? Menjaga agar 'Ratu Es' ini tidak tersentuh?"

River menyeringai, sebuah tatapan yang sulit diartikan—antara rasa hormat pada keberanian Every dan keinginan untuk menaklukkan ego gadis itu. "Gue bakal jaga lo, Eve. Tapi ingat... penjaga terkadang lebih berbahaya daripada penyerangnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!