Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alarm Pagi dan Audit Kebugaran PascaCemburu
Sinar matahari pagi menembus celah gorden unit 1205, menyinari wajah Nara yang masih terlelap dengan posisi tidur yang sangat tidak ergonomis, kakinya menindih perut Arga, sementara tangannya memegang bantal paha ayam seolah itu adalah harta karun nasional.
Arga sudah terbangun sejak pukul 05.30. Namun, sang Auditor Utama ini tidak bergerak sedikit pun. Ia membiarkan kakinya kesemutan demi menjaga variabel kenyamanan Nara. Matanya menatap langit-langit, merenungi kejadian semalam di unit Raka.
Menumpahkan jus jeruk adalah tindakan di luar prosedur operasi standar, batin Arga.
Tapi kepuasan batin yang dihasilkan memiliki nilai ROI (Return on Investment) yang sangat tinggi.
Nara mengerang kecil, matanya mengerjap. Hal pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Arga yang berada hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Pagi, Robot..." gumam Nara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kamu... nggak lari pagi? Tumben masih jadi bantalan sofa di sini."
Arga melirik kaki Nara yang masih dengan nyaman nangkring di perutnya.
"Bagaimana saya bisa lari pagi jika beban hidup saya seberat 52 kilogram ini sedang melakukan blokade wilayah di atas diafragma saya?"
Nara tersentak, buru-buru menarik kakinya.
"Hehe, maaf. Habisnya semalam aku mimpi lagi dikejar-kejar sate kambing raksasa punya Raka, makanya aku nendang-nendang."
Mendengar nama Raka, raut wajah Arga langsung berubah menjadi sedingin kulkas side by side. Ia bangkit, duduk di tepi tempat tidur, dan menoleh pada Nara dengan tatapan serius.
"Nara, mulai hari ini, saya akan menambahkan satu klausul dalam kontrak rumah tangga kita," ujar Arga sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan (tapi tetap terlihat tampan, sialnya).
"Klausul apa lagi? Denda kalau aku ngigo?"
"Bukan. Klausul larangan menyebut nama variabel eksternal di dalam kamar tidur. Terutama variabel yang memiliki sejarah kegagalan sistem seperti pria di unit 1208 itu."
Nara tertawa terpingkal-pingkal sampai terguling di kasur.
"Ya ampun, Ga! Kamu beneran belum move on dari kejadian sate semalam? Kamu tuh ya, cemburu kok dipelihara, mending pelihara bebek!"
Arga tidak menjawab.
Ia justru menarik tangan Nara, membuat gadis itu terduduk di depannya. Arga menatap mata Nara dalam-dalam, membuat tawa Nara perlahan surut berganti dengan debaran jantung yang tidak karuan.
"Ini bukan sekadar cemburu, Nara! Ini adalah proteksi aset," bisik Arga.
Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Nara dengan sangat lembut dan lama.
"Saya tidak suka berbagi ruang di pikiranmu dengan orang lain. Paham?"
Nara membeku, pipinya merona merah merambat sampai ke telinga.
"P-paham, Pak Bos."
Setelah momen baper di tempat tidur, Nara memutuskan untuk menjadi istri yang baik (atau setidaknya berusaha). Ia pergi ke dapur untuk membuat sarapan, rencananya sederhana yaitu roti bakar telur mata sapi.
Namun, bagi Nara, dapur adalah tempat kejadian perkara yang potensial.
"Ga! Kok telur ini kalau dipecahin bentuknya nggak bulat sempurna kayak di iklan-iklan sih?!" teriak Nara dari dapur.
Arga, yang sedang memakai kemeja kerjanya di ruang tengah, berjalan menghampiri. Ia melihat Nara sedang bertarung dengan sebutir telur yang kuningnya sudah hancur berantakan di atas teflon.
"Secara biologis, telur tidak memiliki kewajiban untuk mempertahankan bentuk geometris yang estetis saat dipaksakan keluar dari cangkangnya oleh tangan yang tidak terampil," ujar Arga sambil mengambil alih spatula dari tangan Nara.
"Ih, bantuin kek, bukannya malah kuliah biologi!" Nara cemberut, tapi ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Arga dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung kokoh suaminya.
"Tapi nggak apa-apa deh, kan aku udah punya koki pribadi bersertifikat akuntan."
Arga tertegun sejenak. Sentuhan Nara selalu memiliki efek konsleting pada sistem logikanya. Ia terus memasak telur itu dengan gerakan kaku, namun ia tidak melepaskan tangan Nara yang memeluknya.
"Nara, pelukanmu... meningkatkan suhu tubuh saya secara tidak efisien. Kompor ini sudah cukup panas," protes Arga, meskipun ia sama sekali tidak berusaha melepaskan diri.
"Biarin... Biar telurnya mateng pakai cinta," sahut Nara asal, sambil semakin mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi.
Ting-tong!
Nara langsung waspada.
"Siapa pagi-pagi begini? Jangan-jangan si Raka mau minta ganti rugi kaos jus jeruk semalam?"
Arga membuka pintu dengan wajah waspada. Di depan pintu, berdiri seorang kurir dengan kotak besar berwarna hitam elegan.
"Kiriman untuk Ibu Nara Amelinda," ujar kurir itu.
Nara menghampiri dengan rasa penasaran.
"Dari siapa ya, Mas? Aku nggak ngerasa pesan blender baru."
Begitu kotak dibuka, isinya adalah sebuah gaun malam berwarna merah marun yang sangat mewah, lengkap dengan sebuah kartu ucapan beraroma parfum mahal yang sangat familiar di hidung Arga.
Nara membaca kartunya dengan suara keras:
"Untuk Nara. Semoga gaun ini cukup berkelas untuk menemani Arga ke acara ulang tahun firma besok malam. Sampai jumpa di sana. Dinda."
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi. Nama itu kembali muncul. Dinda Sang mantan perfeksionis dari London yang kemarin sempat dibahas di kantor.
Nara menatap gaun itu, lalu menatap Arga.
"Ga... ini si Mbak London itu ya?"
Arga mengambil kartu tersebut, meremasnya kecil.
"Dia sudah kembali ke Jakarta,sepertinya Clarissa tidak berbohong soal kembalinya Dinda ke firma sebagai konsultan senior."
Nara melihat gaun itu lagi. Gaunnya sangat cantik, ukurannya tampak pas, dan desainnya sangat berkelas. Jauh dari standar piyama beruang kutub milik Nara. Ada rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba menyelinap di hati Nara.
"Wah, dia tahu ukuran baju aku ya? Hebat banget. Pasti dia riset dulu pakai data statistik ya, Ga?" Nara mencoba melontarkan lelucon konyol, tapi suaranya terdengar sedikit bergetar.
Arga menyadari perubahan nada suara Nara. Ia mendekati istrinya, mengambil kotak itu dari tangan Nara, dan meletakkannya begitu saja di lantai seolah itu adalah tumpukan kertas koran bekas.
"Kita tidak akan memakai barang dari sumber yang tidak terverifikasi," ujar Arga tegas.
"Tapi Ga, acaranya besok malam. Aku nggak punya baju sebagus ini. Nanti kalau aku dateng pakai daster batik, kamu malu nggak?"
Arga memegang kedua bahu Nara, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Nara, dengar! Secara nilai intrinsik, kamu tidak butuh kain dari London untuk terlihat berharga di mata saya. Besok, kita akan pergi ke butik. Saya sendiri yang akan melakukan audit pakaian untukmu. Kita akan mencari sesuatu yang tidak hanya berkelas, tapi juga memiliki karakter... Nara."
Nara mengerjap.
"Karakter Nara? Maksudnya yang ada gambar bebeknya?"
Arga sedikit tersenyum, lalu mengecup hidung Nara.
"Sesuatu yang membuat saya tidak bisa berhenti melihatmu. Sekarang, habiskan telur hancurmu, dan bersiaplah ke kantor. Saya tidak mau istri saya kalah mood hanya karena sebuah gaun."