NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasca Audit malam Sang Robot Manja

Matahari pagi di Jakarta biasanya disambut Nara dengan gerutuan tentang alarm yang tidak berperasaan atau mimpi tentang gunung seblak yang belum tuntas dimakan. Namun, pagi ini berbeda. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden tidak jatuh ke atas bantal paha ayam, melainkan ke atas lengan kokoh yang kini melingkari pinggang Nara dengan sangat posesif.

Nara mengerjap. Ingatannya berputar ke kejadian semalam tentang wastafel dapur, kemeja basah, dan konsolidasi hati yang berakhir sangat larut.

"Duh, ini beneran atau aku cuma lagi pingsan kelaparan ya?" bisik Nara pelan pada dirinya sendiri.

Ia mencoba bergerak sedikit, ingin mengambil ponsel untuk memastikan ini bukan tahun 2045. Namun, begitu ia bergeser dua sentimeter, pelukan di pinggangnya justru mengencang. Arga, sang Auditor Utama yang biasanya bangun sebelum ayam tetangga berpikir untuk berkokok, justru masih memejamkan mata dengan kepala yang terkubur di ceruk leher Nara.

"Jangan bergerak! Sistem saya sedang dalam mode recharging," suara Arga terdengar serak, berat, dan sangat tidak seperti Arga yang biasanya.

Nara membeku.

"Ga? Kamu udah bangun? Biasanya jam segini kamu udah lari pagi sampai ke perbatasan Bekasi, kan?"

"Lari pagi tidak memberikan imbal hasil yang sebanding dengan posisi ini, Nara," gumam Arga tanpa membuka mata. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, menghirup aroma rambut Nara yang berantakan.

Nara melongo.

"Wah, rusak... Ini fiks rusak. Mas Arga kedinginan ya? Apa semalam ada kabel yang putus pas kita lagi... anu?"

Arga akhirnya membuka mata. Tidak ada tatapan dingin yang tajam yang ada hanya tatapan hangat yang membuat Nara merasa seperti mentega yang ditaruh di atas penggorengan panas meleleh.

"Kenapa kamu melihat saya seperti itu? Apa ada kesalahan pada wajah saya pagi ini?" tanya Arga.

"Nggak ada sih, makin ganteng malah. Tapi horor aja," Nara nyengir konyol.

"Biasanya kan kamu bangun-bangun langsung bahas inflasi atau ngecek laporan keuangan di tablet. Sekarang kok malah kayak kucing persia yang belum dikasih makan?"

Arga melepaskan pelukannya, tapi hanya untuk menumpu kepalanya dengan tangan sambil terus menatap Nara.

"Mulai hari ini, prosedur pagi saya berubah. Laporan keuangan bisa menunggu, tapi waktu dengan istri saya memiliki deadline yang ketat."

Nara mencoba duduk, tapi rambutnya tersangkut di kancing piyama Arga.

"Aduh! Aduh, Ga! Rambut aku terjebak dalam sistem pertahanan kamu!"

Arga tertawa kecil sebuah tawa tulus yang sangat langka. Ia membantu melepaskan helai rambut Nara dengan sangat telaten.

"Lihat? Bahkan rambutmu pun enggan menjauh dari saya. Ini adalah bukti fisik adanya keterikatan aset yang kuat."

"Halah! Bilang aja kancing kamu yang kangen sama rambut aku!" Nara membalas, wajahnya merah padam.

Setelah berhasil lepas dari kasur (yang menurut Nara adalah perjuangan terberat dalam sejarah hidupnya), Nara menuju dapur untuk membuat kopi. Namun, setiap langkah yang ia ambil diikuti oleh bayangan hitam tinggi di belakangnya.

Nara berhenti mendadak saat ingin mengambil gelas.

Dug!

Punggungnya menabrak dada Arga.

"Ga! Kamu ngapain sih ngintilin aku terus? Aku mau bikin kopi, bukan mau kabur ke London!"

Arga berdiri tepat di belakang Nara, kedua tangannya melingkari pinggang Nara dari belakang, menaruh dagunya di bahu Nara.

"Saya hanya memastikan tidak ada variabel eksternal yang mengganggu fokus kamu pagi ini."

"Variabel eksternal apa di dapur? Cicak? Semut?"

"Raka," sahut Arga pendek.

"Siapa tahu dia tiba-tiba mengirimkan paket sarapan lagi. Saya harus berada dalam radius satu meter darimu untuk melakukan filter keamanan."

Nara tertawa geli sambil menuangkan air panas.

"Ya ampun, Pak Audit! Raka itu masa lalu yang udah bau tanah. Kamu sekarang udah jadi pemilik saham tunggal, masa masih takut sama spekulan kayak dia?"

Arga memutar tubuh Nara agar menghadapnya.

"Dalam bisnis, kepemilikan saham seratus persen pun tetap membutuhkan pengawasan ketat agar tidak terjadi akuisisi ilegal. Dan saya tidak akan memberikan celah sekecil apa pun untuk orang itu."

Arga kemudian mencium ujung hidung Nara.

"Dan satu lagi. Mulai hari ini, daster beruang kutubmu ini... saya sita."

"LHO?! KENAPA?! Itu kan daster keberuntungan aku!" Nara protes tidak terima.

"Terlalu banyak distraksi visual yang membuat saya malas berangkat ke kantor," jawab Arga lempeng, tapi matanya berkilat jahil.

Sarapan pagi itu berlangsung dengan penuh drama. Arga yang biasanya makan dengan sangat rapi dan formal, mendadak jadi sangat manja.

"Nara, selainya terlalu banyak di bagian kanan," ujar Arga sambil menunjuk rotinya.

"Ya elah, Ga! Tinggal dikunyah juga nanti nyampur di perut!"

"Tidak bisa... Distribusinya harus merata agar rasa manisnya konsisten. Coba kamu perbaiki," Arga menyodorkan rotinya dengan wajah polos.

Nara mendengus, mengambil sendok dan meratakan selai stroberi itu.

"Udah nih! Puas?"

"Belum. Suapi saya! Tangan saya sedang lemas karena... aktivitas semalam."

Nara hampir menyemburkan kopinya.

"ARGA! Kamu beneran mau aku audit mulutnya ya pakai sikat kawat?! Malu tahu kalau didengar tetangga! Lagipula yang seharusnya capek tuh aku bukan robot..."

"Tetangga tidak punya akses audio ke ruang makan ini," balas Arga tenang sambil membuka mulutnya, menunggu suapan dari Nara.

Nara akhirnya menyuapi Arga dengan wajah yang panas. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang biasanya bicara soal efisiensi ini bisa menjadi begitu tidak efisien saat sedang jatuh cinta.

Di tengah kemanisan pagi itu, ponsel Arga bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Dinda.

Arga, pertemuan dengan jajaran direksi Mega Global dimajukan satu jam. Aku sudah di lobi kantor menunggumu.

Nara melihat sekilas pesan itu dan raut wajahnya langsung berubah cemberut.

"Tuh kan, si Mbak London udah mulai menagih piutang perhatian kamu lagi."

Arga mengambil ponselnya, membacanya sebentar, lalu dengan santai menaruhnya kembali ke meja tanpa membalas.

"Kenapa nggak dibalas? Nanti dia lumutan di lobi lho," sindir Nara sambil menusuk sosisnya dengan garpu.

Arga menarik tangan Nara dan mencium punggung tangannya.

"Biarkan saja, saya sedang dalam masa cuti emosional. Dinda bisa menunggu, tapi waktu sarapan dengan istri saya adalah aset yang tidak bisa ditunda."

Nara tersenyum lebar. Rasa percaya dirinya yang kemarin sempat goyah kini pulih sepenuhnya. Ia menyadari bahwa mau sepintar apa pun Dinda atau secentil apa pun Clarissa, hanya Nara yang punya kode akses untuk mengubah Robot Audit menjadi Manusia Manja.

"Ga," panggil Nara pelan.

"Hmm?"

"Makasih ya. Walaupun kamu mendadak jadi bayi besar begini, tapi aku suka."

Arga berdiri, menarik Nara ke dalam pelukannya sekali lagi sebelum benar-benar berangkat kerja.

"Saya bukan bayi besar, Nara. Saya hanya seorang pria yang baru menyadari bahwa kekayaan sejati tidak ada dalam laporan tahunan, tapi ada dalam setiap konyolnya tingkah laku kamu."

Nara tertawa, menyembunyikan wajahnya di dada Arga.

"Duh, kalau gombal terus begini, kapan mau nyari duitnya?"

"Sekarang saya berangkat. Dan denda untuk kamu karena sudah membuat saya malas bekerja pagi ini..." Arga berbisik di telinga Nara.

"Apa?"

"Nanti malam, tidak boleh ada drama 'capek'. Kita punya banyak data yang belum selesai di audit."

Nara memukul lengan Arga dengan bantal sofa terdekat.

"DASAR ROBOT MESUM!"

Arga tertawa lepas, lalu mengecup bibir Nara singkat sebelum melangkah keluar pintu dengan aura percaya diri yang sepuluh kali lipat lebih kuat dari biasanya. Nara berdiri di depan pintu, melambai dengan spatula di tangan, merasa bahwa pernikahan paksa ini adalah transaksi terbaik dalam hidupnya.

1
Stroberi 🍓
Ampun dah, mulut nyeblak nara 😂
Stroberi 🍓
Wkwk lucukk 🤣
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!