NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Simbol Terlarang

Di luar gudang, tanah basah bergerak sendiri. Lumpur perlahan naik ke lantai gudang, membentuk simbol yang sama, seolah memberi peringatan: “Kau tidak bisa lari, kau harus menulis dengan benar atau kau akan menjadi bagian dari kami.”

Rina menarik napas panjang. Ia tahu tidak ada jalan mundur. Malam ini, ia harus mencoba ritual yang paling berbahaya dalam hidupnya—menulis simbol terlarang untuk menutup kutukan antar desa.

Ia membuka buku ritual dan menempatkan gulungan arsip kuno di depannya. Lilin-lilin menyala, cahaya kuning bergetar, memantulkan bayangan arwah di dinding. Ia menunduk, memulai langkah pertama: menyalin garis luar lingkaran simbol.

Tangan Rina gemetar, napasnya tak beraturan. Setiap garis yang ia tulis, tanah di gudang bergerak sedikit, seolah mengawasinya. Sesekali, bayangan arwah muncul dari tanah—anak-anak yang tidak pernah dikubur, wanita berambut panjang, pria muda, dan bahkan bayangan arwah pemilih—semua menatapnya dengan intens.

“Ini… ini harus benar…” bisik Rina.

“Jika aku salah… aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup.”

Setelah selesai menyalin lingkaran, Rina menatap huruf di tengah simbol. Ia bisa merasakan energi yang keluar dari gulungan arsip—getaran halus tetapi kuat, seakan mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia menutup mata, mencoba menyelaraskan napasnya, dan perlahan menulis huruf itu di tengah lingkaran yang ia buat di tanah basah.

Segera setelah pena menyentuh tanah, gudang bergetar hebat. Lilin-lilin bergoyang liar, dan bayangan arwah di dinding mulai bergerak, bercampur menjadi satu. Dari tanah, suara bergemuruh terdengar, campuran jeritan dan bisikan:

"Siapa yang berani… menulis simbol ini… akan menjadi bagian dari tanah selamanya…"

Rina menelan ludah. Ia tahu ini adalah reaksi normal, energi arwah yang menentang simbol terlarang. Tetapi ia tidak bisa mundur. Ia menarik napas dalam, mengumpulkan seluruh keberanian, dan melanjutkan menulis simbol itu, titik demi titik, garis demi garis, mengikuti instruksi energi yang ia rasakan di gulungan.

Saat simbol hampir selesai, hujan di luar menjadi deras, menekan atap gudang, dan tanah basah di bawah kaki Rina mulai merembes ke seluruh lantai, membentuk pola lingkaran lain, lebih besar, yang menandai: arwah menantang pengaruh simbol ini.

Rina menutup mata, merasakan energi mengalir ke seluruh tubuhnya. Ada rasa sakit, panas, dan dingin sekaligus. Tangannya memegang pena seolah bukan lagi miliknya—ia hanyalah perantara energi yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Tiba-tiba, suara bergemuruh berubah menjadi bisikan jelas di kepalanya:

"Rina… tuliskan dengan benar… atau kau akan menjadi bagian dari tanah, bersatu dengan kami… selamanya."

Dengan tangan gemetar, ia menulis garis terakhir simbol itu. Tanah di bawahnya bergetar hebat, arwah muncul dari setiap sudut gudang, menatapnya dengan mata kosong. Sebagian mundur, sebagian tetap menatap intens, seolah menilai keberaniannya.

Rina membuka mata perlahan. Simbol itu kini lengkap. Lingkaran sempurna, huruf di tengah menyala samar merah, dan tanah basah di gudang mulai tenang. Arwah yang muncul dari tanah mundur, dan hujan di luar mulai reda sedikit.

Ia tersandar di lantai, napas tersengal, tubuh basah kuyup. Ia menyadari satu hal: ritual belum selesai sepenuhnya. Simbol ini menenangkan beberapa arwah, tetapi ada satu arwah terakhir—yang pertama kali memulai kutukan desa—yang kini muncul, lebih kuat dan lebih gelap dari sebelumnya, menunggu untuk melihat apakah Rina benar-benar siap menghadapi konsekuensi terakhir.

 

Gudang tua kini sunyi, kecuali suara tetesan air dari atap dan detak jantung Rina sendiri. Simbol terlarang yang ia tulis di tanah berpendar samar merah. Energi arwah yang kuat masih terasa mengelilinginya, seperti gelombang panas yang menekan tubuhnya dari segala arah.

Tiba-tiba, tanah di tengah lingkaran beriak hebat. Dari celah muncul sosok yang lebih gelap, lebih besar, dan lebih nyata daripada semua arwah yang pernah ia temui. Matanya menyala merah pekat, wajahnya setengah manusia, setengah kabut. Rina tahu… ini adalah arwah pertama yang memulai kutukan desa puluhan tahun lalu.

“Rina…” suara itu bergema langsung di kepalanya, bukan di telinga.

“Apakah kau berani menulis akhir… atau kau akan menjadi bagian dari tanah ini selamanya?”

Jantung Rina berdetak kencang. Tubuhnya gemetar, tetapi ia tahu satu hal: tidak menulis berarti desa dan desa-desa lain akan tersapu hujan abadi, dan arwah baru akan terus muncul tanpa henti.

Ia menarik napas panjang, menunduk, dan memegang pena lagi. Energi arwah pertama itu menekan tubuhnya, membuat setiap gerakan terasa berat seperti menarik besi cair. Ia mulai menulis simbol lanjutan, garis demi garis, titik demi titik, mengikuti intuisi yang ia pelajari dari arsip kuno dan pengalaman menulis arwah desa sendiri.

Setiap kali garis selesai, arwah pertama mengeluarkan energi yang membuat tanah di sekitarnya beriak lebih liar. Lumpur menetes ke tubuhnya, simbol yang ia tulis hampir hilang di genangan. Ia menulis lagi, lebih cepat, lebih fokus, namun rasa sakit dan tekanan mulai merasuki setiap serat tubuhnya.

Di tengah ritual, bisikan lain muncul—arwah dari desa tetangga, arwah pemilih, anak-anak, wanita, pria muda—semua bercampur di kepalanya, meminta pengakuan, meminta nama mereka ditulis dengan benar. Kepala Rina berdenyut, mata berair, tetapi ia tidak berhenti. Ia tahu satu kesalahan kecil berarti jiwanya akan terseret ke tanah basah selamanya.

Tanah di gudang retak, lumpur naik hingga menutupi buku dan gulungan arsip. Rina berdiri di atas tanah basah itu, menulis simbol terakhir dengan segenap tenaga, berteriak menahan rasa sakit energi arwah yang mengalir ke tubuhnya.

Tiba-tiba, arwah pertama mendekat, matanya merah menyala. Tapi alih-alih menyerangnya, ia menunduk sedikit, seolah menilai keberanian Rina. Suara bergema di kepala Rina lagi:

"Kau layak… tetapi kau harus memilih—apakah kau siap mengikat dirimu dengan tanah ini selamanya agar kutukan benar-benar tertutup?"

Rina menutup mata, menarik napas panjang. Ia tahu risikonya: jiwa yang menulis simbol terlarang akan terikat dengan tanah basah selamanya, menjadi penghubung antara hidup dan mati, penjaga arwah dan hujan abadi.

Ia membuka mata, menatap arwah pertama, dan perlahan mengangguk. Dengan tenaga terakhirnya, ia menulis garis terakhir simbol terlarang, menuntaskan lingkaran energi kuno yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Segera setelah garis terakhir selesai, gudang berguncang hebat. Arwah pertama menjerit, lalu memudar perlahan, menyatu dengan simbol yang kini bersinar merah di tanah. Hujan di luar mulai reda, arwah-arwah lain mundur, dan tanah basah menjadi datar.

Rina tersandar, napas tersengal, tubuh gemetar. Ia sadar satu hal: ritual berhasil, arwah desa dan desa tetangga tenang, hujan reda, dan kutukan tertutup. Tapi ia juga tahu… jiwanya kini selamanya terikat sebagai penghubung, penjaga simbol, dan penulis arwah yang menunggu hujan.

Di luar, langit mulai cerah meski tanah masih basah. Rina menatap simbol di tanah, cahaya merah perlahan memudar, meninggalkan tanda samar—pengingat bahwa kutukan telah berakhir, tapi ia tidak benar-benar bebas.

Ia tersenyum tipis, meski tubuhnya basah kuyup, gemetar, dan lelah. Ia tahu malam ini ia memenangkan ritual terlarang… tapi tugasnya sebagai penghubung baru saja dimulai.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!