Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN II: TEBING KEHENDAK (BAB 11 PARUH SANG ELANG)
Fajar di Tebing Kehendak tidak datang dengan kelembutan seorang ibu yang membangunkan anaknya, melainkan dengan ketajaman pisau bedah yang menyayat kabut sisa meditasi semalam. Abimanyu terbangun dari tidurnya di atas cadas yang keras, bukan karena suara alarm birokrasi yang biasa ia dengar, melainkan karena kedinginan yang jujur, yang tidak mengenal kompromi selimut wol atau penghangat ruangan. Tubuhnya—"Akal Besar" yang kini mulai mengambil alih kedaulatan—terasa kaku, namun di dalam setiap serat ototnya, berdenyut sebuah kesadaran baru yang tidak ia temukan dalam ribuan jurnal internasional.
Ia berdiri di tepi ceruk, menatap ke bawah di mana Lembah Nama masih terbungkus dalam selimut kabut kelabu yang tebal. Dari ketinggian ini, universitas itu tampak seperti kotak korek api yang ditinggalkan, sebuah monumen kecil dari manusia-manusia yang masih sibuk menghitung angka sitasi di dalam mimpi-mimpi mereka yang sempit.
"Lihatlah ke bawah satu kali terakhir, wahai jiwaku," bisik Abimanyu pada angin yang menderu. "Lihatlah tempat di mana kau dulu merasa besar hanya karena kau memiliki meja kayu mahoni yang luas dan asisten yang selalu siap membawakanmu kopi kusam. Sekarang, mejamu adalah cadas ini, dan kopimu adalah embun pahit yang membeku.".
Saat ia mulai mengangkat kaki untuk langkah ke-seratus dua, sebuah bayangan raksasa melintas cepat di atas kepalanya. Bukan bayangan awan yang malas, melainkan sebuah garis hitam yang membelah cakrawala dengan kecepatan yang menghina gravitasi. Abimanyu mendongak. Di sana, di atas sebuah pilar batu yang menjulang seperti menara yang tidak dibangun oleh tangan manusia, bertengger seekor Elang.
Hewan itu tidak berkicau. Ia tidak mencari perhatian seperti para pembicara di seminar nasional yang selalu haus akan tepuk tangan. Elang itu hanya ada. Sayapnya yang lebar terlipat rapi, namun matanya—oh, mata itu—adalah dua bola api berwarna emas yang menembus langsung ke dalam rongga dada Abimanyu, melampaui tulang rusuk dan langsung mencengkeram jiwanya yang telanjang.
"Kau terlalu banyak menoleh ke belakang, Pendaki," sebuah suara seolah bergema di dalam batin Abimanyu, meskipun paruh sang elang tetap terkatup rapat. "Lehermu masih memiliki otot-otot seorang sarjana yang sering menunduk untuk membaca catatan kaki. Di sini, leher yang menunduk adalah undangan bagi kematian.".
Abimanyu terpaku. Ia menyadari bahwa meskipun ia telah membakar buku-bukunya, ia masih membawa "cara melihat" yang lama. Matanya masih sering mencari "referensi" di kejauhan, mencari validasi dari lembah yang telah ia tinggalkan.
"Mata seorang sarjana adalah mata yang lelah, mata yang selalu menggunakan kacamata untuk memperbesar hal-hal kecil yang sudah mati," lanjut bisikan itu, tajam seperti kuku elang yang mencengkeram mangsa. "Tetapi mata seorang Elang adalah mata yang tak pernah berkedip. Ia tidak melihat teks, ia melihat mangsa. Ia tidak melihat sejarah, ia melihat tujuan."
Elang itu tiba-tiba merentangkan sayapnya, menciptakan suara seperti kain sutra raksasa yang dikibaskan di udara. Ia melompat dari pilar batunya, terjun bebas ke arah jurang, lalu dengan satu kepakan yang perkasa, ia naik kembali, vertikal, melawan setiap hukum fisika yang pernah Abimanyu ajarkan di kelas mekanika.
"Dengarlah, Pendaki!" teriak Abimanyu dalam batinnya, mencoba menyeimbangkan dirinya di atas langkan sempit. "Aku telah meninggalkan pasar! Aku telah membakar identitasku! Apa lagi yang harus kulakukan?".
Elang itu berputar-putar di atas kepalanya, sebuah pusaran kehendak yang murni. "Kau telah membuang bebanmu, unta yang malang. Kau telah meraung seperti singa yang terluka. Tetapi kau belum memiliki tatapan sang predator,". "Lihatlah puncak gunung itu! Jangan lihat kakimu yang berdarah. Jangan lihat lumpur yang mengotori sepatu mahalmu. Jika kau berkedip karena rasa sakit, kau akan jatuh dan menjadi bangkai yang tidak berharga bagi sejarah.".
Abimanyu memaksa matanya untuk menatap lurus ke arah puncak Gunung Kehendak yang masih tertutup awan perak. Rasa perih mulai menyerang pelupuk matanya karena angin yang membawa debu granit, namun ia menolak untuk memejamkan mata. Ia teringat bagaimana di universitas, kebenaran selalu disembunyikan di balik lapisan-lapisan bahasa yang rumit, di balik eufemisme dan retorika yang aman. Di sini, kebenaran adalah cahaya matahari yang membakar kornea mata.
"Paruhku diciptakan bukan untuk mengunyah kertas, tapi untuk merobek daging realitas," Elang itu kembali bertengger di pilar yang lebih dekat. "Jiwamu masih terlalu banyak dilapisi oleh 'kertas-kertas' sopan santun. Kau masih merasa perlu menjadi 'bijaksana'. Hancurkan kebijaksanaanmu! Jadilah tajam! Kebenaran tidak butuh dipahami, ia butuh ditaklukkan seperti mangsa!".
Langkah demi langkah berikutnya terasa berbeda. Abimanyu mulai memahami apa itu "ketinggian" yang sesungguhnya. Ketinggian bukan tentang posisi dalam struktur organisasi atau pangkat fungsional. Ketinggian adalah kesendirian yang absolut di mana tidak ada lagi suara yang bisa membelamu selain suaramu sendiri.
Ia mencapai sebuah dinding tegak lurus. Tidak ada lagi jalan setapak. Hanya ada celah-celah kecil yang hanya bisa dimasuki oleh ujung jari. Abimanyu merasakan Roh Gravitasi—kurcaci jahat di dalam kepalanya—mulai berbisik lagi: "Ingatlah jabatan Dekan yang ditawarkan Danu. Kau bisa duduk di sana, memandang gunung ini dari jendela kaca yang aman. Mengapa kau memilih menjadi cicak yang merayap di batu dingin ini?".
Abimanyu hampir melepaskan cengkeramannya. Namun, dari atas, terdengar suara pekikan nyaring sang elang. Suara itu membelah keraguan intelektualnya.
"Mata yang tak berkedip! Tujuan yang tak terbagi!".
Ia memaksakan ujung jarinya yang sudah memar untuk mencengkeram batu granit yang kasar. Ia tidak lagi memikirkan apakah tindakannya ini logis menurut metodologi penelitian. Ia tidak lagi peduli apakah perjalanannya ini akan disitasi oleh orang lain. Ia hanya ingin menarik tubuhnya satu inci lebih tinggi.
"Inilah paruhku!" gumam Abimanyu, merasakan kehendaknya menajam. "Kehendakku adalah paruh elang yang akan merobek setiap keraguan yang menghalangi pendakianku! Aku bukan lagi manusia yang membaca dunia, aku adalah kehendak yang sedang menaklukkan dunia!".
Matahari kini tepat berada di atas kepala, menyinari setiap retakan di tebing itu dengan kejelasan yang brutal. Abimanyu sampai di sebuah teras batu yang cukup luas untuk berdiri tegak. Ia tidak lagi membungkuk. Ia berdiri dengan dada membusung, membiarkan angin gunung menghantam wajahnya.
Sang Elang terbang rendah, melewati telinganya dengan desir angin yang tajam. Untuk sesaat, mata mereka bertemu dalam satu garis lurus. Dalam kilatan emas mata hewan itu, Abimanyu melihat pantulan dirinya sendiri. Ia tidak lagi melihat "Sang Profesor" yang pucat dengan noda tinta di jemarinya. Ia melihat seorang pria yang matanya telah terbakar oleh api semalam, seorang pria yang kini memiliki tatapan predator terhadap takdirnya sendiri.
"Kau mulai belajar untuk tidak berkedip, Pendaki," puji sang elang sebelum ia melesat ke arah puncak dan menghilang di balik awan.
Abimanyu menarik napas dalam-dalam. Udara di sini sangat tipis, sangat dingin, namun terasa sangat murni—jauh lebih murni daripada udara di ruang seminar yang dipenuhi oleh napas Manusia Kertas. Ia menyadari bahwa Bab 11 ini adalah bab di mana ia berhenti menjadi pengamat hidup dan mulai menjadi penguasa atas setiap detik keberadaannya.
Ia tidak lagi mencari jalan yang paling aman. Ia mencari jalan yang paling tinggi. Karena hanya dari ketinggian yang paling ekstrem, ia bisa melihat bahwa Lembah Nama dan segala isinya hanyalah debu yang tertiup angin—abu dari sebuah peradaban yang lupa caranya mendaki.
"Mata yang tak berkedip," ia mengulangi mantra sang elang sebagai ritme bagi langkah berikutnya. "Tujuan yang tak pernah bergeser. Inilah awal dari Tebing Kehendak."
Abimanyu melanjutkan pendakiannya, bukan lagi dengan rasa takut seorang narapidana yang melarikan diri, melainkan dengan kebanggaan seorang predator yang sedang menuju singgasananya di puncak dunia.