Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Kesedihan & Keterpurukan
...Happy Reading^^...
...💮...
Aku membuka mataku yang terasa sakit. Aku melihat langit kamarku yang dilapisi cat berwarna pink. Tiba-tiba saja ingatanku ke flashback hari di mana aku, ayah dan kakak laki-laki sedang asyik melapisi dinding apartemenku dengan warna pink kesukaanku. Kami bekerja sama mencat dinding ini dengan tawa riang kebahagiaan.
"Lihat saja! Cat dinding bikinanku yang akan lebih dulu selesai!" seru kakak laki-lakiku.
"Tidak, kak! Cat bagianku yang akan lebih dulu selesai!" seruku yang saat itu berusia 20 tahun dengan semangat. Lalu kami semua tertawa.
Kami bukanlah keluarga kaya yang dingin dan kolot, atau keluarga yang serba kekurangan yang saling menyalahkan. Orangtua kami juga bukan keluarga yang tidak setia sehingga setiap harinya terus terjadi pertengkaran seiring berjalannya kami dewasa.
Tidak! Kami hanya keluarga yang lumayan berkecukupan dan saling menyayangi satu sama lain. Kedua orangtua kami juga saling mencintai dan sama-sama setia. Aku dan kakak laki-lakiku juga sangat akur dan saling menyayangi.
Tidak! Kasih sayang yang aku dan kakakku dapatkan tidak pernah berat sebelah, tidak ada rasa iri dan tidak ada rasa dendam. Bahkan sekalipun aku mendapatkan kasih sayang lebih banyak dari kakakku, kakakku baik-baik saja karena dia juga pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang sepertiku.
Lalu apa alasan aku menangis dan meratapi nasibku disini sambil menatap atap apartemen kamarku?
Apakah karena aku habis dipecat?
Sebenarnya tidak, karena sehabis dipecat sekalipun. Aku baik-baik saja, karena alasanku dipecat adalah sepenuhnya salah rekan kerjaku yang menjebakku agar dia tidak disalahkan dalam kelalaian tugas. Dan tiga hari yang lalu, aku mendapatkan telepon untuk diperbolehkan kembali masuk bekerja dan permintaan maaf.
Jika mau, aku bisa kembali bekerja dan berkumpul bersama dengan rekan-rekan kerjaku yang sangat baik padaku. Karena mereka yakin aku tidak bersalah. Tapi aku akan memikirkan kembali untuk masuk bekerja setelah aku kembali bangkit dari keterpurukan ini.
Apakah keterpurukanku ini karena kakak laki-lakiku menikah? Oh, jelas tidak! Lagipula aku bahagia ketika kakak laki-lakiku menikah dengan perempuan pilihan orangtuaku dan mereka menikah sudah lebih dari empat tahun! Ya, ampun! Bahkan mereka sudah memberikanku keponakan lucu berjenis kelamin laki-laki berusia dua tahun lebih.
Apakah keterpurukanku karena sahabatku bertunangan dan akan segera menikah? ITU KONYOL! Lagipula aku hanya sahabatnya bukan kekasih lesbinya.
Lalu keterpurukanku ini kenapa?
Itu semua karena tiga hari yang lalu, kedua orangtuaku kecelakaan karena mobil mereka masuk jurang sehabis melakukan dinas keluar kota. Mereka sempat dibawa ke Rumah Sakit. Akan tetapi nyawa keduanya tidak dapat tertolong. Orang-orang yang ikut mengantarkan ke Rumah Sakit mengatakan padaku dan kakakku bahwa kedua orangtua kami menghembuskan nafas terakhir saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
Aku hancur mendengarnya, bahkan pingsan. Sementara kakakku tampaknya sama hancurnya denganku, tapi dia menguatkan diri sebagai kakak tertua.
Dua hari yang lalu, adalah hari pemakaman orangtua kami yang dihadiri saudara jauh dan rekan-rekan kerja orangtua kami. Dan sudah dua hari berlalu semenjak aku mengurung diri di apartemenku dan meratapi keterpurukan diriku. Bahkan aku mematikan ponselku agar tidak ada yang dapat meneleponku. Mungkin saja kakakku sedang gila mencari keberadaanku. Maafkan aku, kak...untuk kali ini, biarkan aku sendiri dulu.
Sesaat kemudian, aku memejamkan mataku karena merasa lelah.
Tinggal sebentar lagi, aku akan menuju alam mimpi. Di mana aku memiliki kesempatan untuk setidaknya sekali bertemu dengan kedua orangtuaku atau paling tidak kembali melihat masa-masa di mana kami sekeluarga bersenang-senang tanpa ada yang menganggu.
Tapi tampaknya, itu semua hanya angan-anganku saja. Itu karena aku mendengar suara bel yang ditekan berkali-kali dengan tidak sabaran. Serta suara ketukan yang sangat keras, seakan yang mengetuk itu ingin segera merubuhkan pintu agar dapat masuk ke dalam apartemenku.
Aku paksa mataku yang lelah untuk terbuka. Kutolehkan kepalaku pada pintu kamarku. Dengan lemah aku bangkit dari tidurku dan langsung mencari sendal rumah untuk kupakai. Setelah itu, aku berjalan lemah menuju pintu kamarku dan segera membukanya.
Dengan sangat lemah aku berjalan keluar kamar. Di dekat kamar tidurku, ada dapur serta meja makan, tempat aku dan keluargaku makan.
Hatiku sakit karena merindu setelah melihat meja makanku. Mereka sering mengunjungiku dan meja makanku selalu menjadi tempat kami berkumpul, bahkan kakak laki-lakiku juga sering mampir ke apartemenku sebelum menikah. Ya walau jarang mengunjungiku, tapi kakak laki-lakiku terkadang juga mampir ke sini membawa istrinya.
Air mataku kembali menetes karena merindukan kedua orangtuaku. Aku ingin mengeluarkan tangisan dengan suara, tapi suaraku tidak ingin keluar seakan mereka ingin aku menangis tanpa suara sedikit pun.
Ketukan keras dan suara bel yang ditekan menyadarkanku dengan cepat. Aku mengusap air mataku yang jatuh ke pipiku dengan tangan. Aku juga menggosok kedua mataku agar membersihkan air mata yang tergenang di sana. Tapi tampaknya aku menggosok terlalu keras, sehingga aku merasakan kedua mataku tampak sakit. Tapi aku tidak perduli, karena aku tidak ingin ada yang tahu aku menangis. Ya, walaupun yang melihat wajahku apalagi mataku yang bengkak sudah pasti bisa menebak kalau aku habis menangis.
Begitu merasa tidak ada lagi air mata, aku dengan segera berjalan menuju pintu apartemen. Aku berjalan pelan dan lemah karena tubuhku amat sangat tidak berenergi. Mungkin karena aku sudah tidak makan, aku juga lupa kapan terakhir kali aku makan. Aku merasa tubuhku sangat ringan, tapi kepalaku sangat berat seakan ada batu yang berada di atas kepalaku.
Saat melewati ruang keluarga sekaligus ruang tamu. Aku kembali termengung melihat vas bunga yang ada di sana, semua vas bunga kecil itu adalah pemberian dari ibuku saat kami selesai mencat apartemen ini.
"Itu apa, Ma?"
"Masa kamu gak tahu ini?"
"Vas bunga?"
"Benar! Vas bunga ini untuk hiasan ruangan ini, nanti juga Mama belikan lukisan buat hiasan dinding ini terus nanti pasang foto kita sekeluarga ya di ruangan ini?"
"Siap, Mama! Makasih!" lalu keduanya berpelukan.
Vas bunga dan lukisan yang ada di ruangan ini adalah ide dari Ibu. Dialah yang menghias ruangan ini agar menarik. Tidak lupa juga aku memasang foto keluarga kami di beberapa dinding ruangan. Tanpa sadar, aku sudah berdiri dekat foto dinding ruangan ini. Dengan lembut aku menyentuh foto kedua orangtuaku.
"Aku merindukan kalian berdua!" gumamku kecil.
"Apa yang harus aku lakukan di sini tanpa kehadiran kalian berdua? Rasanya hidupku sudah tidak berarti lagi!" untuk kesekian kalinya air mataku menetes, tapi dengan segera aku mengusapnya kasar.
Aku kembali berjalan dengan lemah melewati kenangan bersama kedua orangtuaku.
Aku berdiri tepat di depan pintu apartemen yang diketuk dengan kasar serta bel apartemen yang berulang kali ditekan.
Aku membuka apartemen dengan menekan password yang sudah kuubah agar siapa pun tidak dapat memasuki apartemen ini di saat aku sedang merutuki nasibku ditinggal kedua orangtuaku.
Pintu apartemen terbuka, di sana aku melihat kakak laki-lakiku berdiri dengan tatapan marah seperti ingin menghancurkan pintu apartemenku. Tampaknya dia yang mengetuk pintu dengan sangat kasar.
Sementara di sampingnya, kakak ipar menatapku dengan sorot khawatir dengan tangan yang seperti ingin memencet bel lagi. Sepertinya kakak iparlah yang menekan bel berulang kali.
Kini aku berdiri dengan penampilan kacau di depan pasangan suami istri tersebut.
"Penampilanmu kacau!" seru kakak iparku yang syok melihat penampilanku.
"Aleya! Kenapa kamu tidak bisa dihubungi selamat dua hari, hah!" kakak laki-lakiku berseru marah, tampaknya dia tidak perduli dengan penampilanku yang menyedihkan.
"Kenapa passwordmu diganti! Ada apa denganmu!" kemarahannya berdengung di telingaku.
"Aku..." belum sempat aku kembali menjawab, kepalaku terasa pening dan berputar-putar. Aku merasakan tubuhku oleng dan pemandanganku langsung menggelap.
Samar-samar aku mendengar teriakan kakak dan kakak iparku memanggil namaku sebelum aku benar-benar tidak sadarkan diri.
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading My Story^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 19 Januari 2026....