Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Epilog
Dua puluh tahun kemudian,
Di sebuah bukit yang menghadap ke ibu kota, sepasang suami istri paruh baya duduk berdampingan menikmati matahari terbenam.
Han Shuo kini memiliki beberapa uban di pelipisnya, namun matanya tetap menatap wanita di sampingnya dengan tatapan memuja yang sama seperti dulu. Lin Yue tidak lagi bertubuh sekekar dulu, namun ia tetap bugar dan sehat, mematahkan semua prediksi tabib.
"Kau tahu," ucap Lin Yue sambil menyandarkan kepalanya di bahu Han Shuo. "Dulu ada orang tua berjubah abu-abu yang bilang aku tidak akan hidup lama."
Han Shuo menggenggam tangan istrinya yang mulai keriput. "Orang tua itu pasti tidak tahu bahwa kau terlalu keras kepala untuk mati."
Lin Yue tertawa renyah. "Mungkin. Atau mungkin... cinta yang membuat jantung ini terus berdetak melampaui batasnya."
Mereka duduk di sana, dua jiwa yang melintasi waktu dan dimensi untuk saling menemukan. Tiara Mo telah menjadi legenda di dunianya sendiri, dan Lin Yue telah menjadi legenda abadi di Daxuan.
"Siap untuk latihan besok pagi?" tanya Han Shuo.
"Selalu, Suamiku. Selalu."
Angin berhembus lembut, membawa kelopak bunga persik yang menari-nari di sekitar mereka, menutup kisah sang Permaisuri dengan kemenangan mutlak.
Angin berhembus lembut, membawa kelopak bunga persik yang menari-nari di sekitar mereka. Namun, kedamaian romantis itu tiba-tiba pecah oleh suara debuman keras dan teriakan semangat dari arah lapangan latihan di kaki bukit.
Han Shuo menghela napas panjang, pura-pura kesal namun matanya berbinar jenaka. "Sepertinya 'latihan besok pagi' dimajukan sekarang oleh anak-anakmu."
Lin Yue terkekeh, bangkit berdiri dan menepuk debu di jubahnya. "Anak-anak kita, Yang Mulia."
Di bawah sana, dua pemuda tegap sedang beradu fisik dengan intensitas tinggi. Mereka adalah buah hati Han Shuo dan Lin Yue, dua pangeran yang mewarisi darah naga dan harimau.
Yang tertua, Han Li (21 tahun), adalah Putra Mahkota. Ia memiliki wajah tampan dan tenang seperti Han Shuo, namun matanya memiliki ketajaman yang diwarisi dari Lin Yue. Ia bertarung dengan gaya yang efisien, penuh perhitungan, dan mematikan.
Sedangkan adiknya, Han Yu (19 tahun), adalah Jenderal Muda yang liar. Tubuhnya lebih kekar, mirip dengan Lin Yue saat kondisi prima atletisnya. Han Yu bertarung dengan gaya brawler, mengandalkan kekuatan ledakan dan kecepatan tinju yang agresif.
"Kakak! Kau terlalu banyak berpikir! Makan ini!" Han Yu melompat, melancarkan hook kanan yang keras.
Han Li tidak panik. Ia melakukan slip (mengelak) tipis ke kiri, lalu menggunakan bahunya untuk menabrak dada adiknya hingga Han Yu terhuyung mundur. "Dan kau terlalu banyak membuang tenaga, Yu. Di medan perang, kau akan mati sebelum musuhmu lelah."
"Hah! Teori terus!" Han Yu menyeka keringat di dahinya, siap menerjang lagi.
"Cukup!"
Suara Lin Yue menggelegar dari atas bukit. Kedua pangeran itu seketika berhenti. Tubuh mereka menegang. Tidak peduli seberapa kuat atau berkuasanya mereka di mata rakyat, di depan "Ibu Suri" mereka yang ahli beda diri, mereka hanyalah murid pemula.
Lin Yue dan Han Shuo berjalan menuruni bukit. Lin Yue melipat tangannya di dada, menatap kedua putranya dengan tatapan 'pelatih' yang kritis.
"Han Yu," tegur Lin Yue. "Kuda-kudamu terlalu lebar saat menyerang. Jika lawanmu menendang lututmu, kau akan tamat."
"Tapi Bu..."
"Jangan membantah," potong Lin Yue. Lalu ia menoleh ke anak sulungnya. "Dan kau, Han Li. Kau terlalu defensif. Kadang-kadang, kau tidak butuh strategi untuk menang. Kau hanya perlu memukul wajah mereka sebelum mereka sempat berpikir."
Han Li tersenyum tipis dan membungkuk hormat. "Ibu selalu benar."
Han Shuo menepuk bahu kedua putranya dengan bangga. "Kalian berdua memiliki kelebihan masing-masing. Li adalah perisai Daxuan, dan Yu adalah pedang Daxuan. Selama kalian bersatu, tidak ada yang bisa meruntuhkan apa yang telah kami bangun."
Han Yu menyengir, sifat jahilnya muncul. "Ayah, Ibu, karena kalian sudah di sini... bagaimana kalau tanding ganda? Anak-anak melawan Orang Tua?"
Lin Yue dan Han Shuo saling berpandangan. Senyum licik muncul di wajah mereka berdua.
"Kau yakin, Nak?" tanya Lin Yue sambil meregangkan lehernya. "Jangan menangis kalau nanti malam kau tidak bisa memegang sumpit."
"Kami tidak takut!" seru Han Yu dan Han Li bersamaan.
Sore itu, di bawah langit senja Daxuan, keluarga penguasa itu menghabiskan waktu bukan dengan pesta teh yang kaku, melainkan dengan sparring keluarga yang penuh tawa dan keringat.
***
Sejarah mencatat bahwa masa pemerintahan Kaisar Han Shuo dan Permaisuri Lin Yue adalah era keemasan yang tak tertandingi. Mereka tidak hanya menyatukan dua bangsa, tetapi juga memperkenalkan seni bela diri baru yang menekankan pada disiplin fisik dan mental—sebuah warisan dari dunia lain yang dibawa oleh sang Permaisuri.
Di dunia modern, nama Tiara Mo tetap dikenang sebagai legenda tinju yang pergi terlalu cepat di puncak karirnya. Namanya diabadikan di Hall of Fame, menjadi inspirasi bagi banyak petarung wanita muda untuk tidak pernah menyerah, seberat apa pun pukulan hidup.
Namun, jiwa Tiara Mo telah menemukan kemenangan yang jauh lebih besar di tempat lain.
Ia hidup bahagia hingga usia senja, dikelilingi oleh pria yang memujanya dan dua putra yang tumbuh menjadi pemimpin bijaksana dan ksatria tangguh. Han Li akhirnya naik tahta menjadi Kaisar yang adil, sementara Han Yu menjadi Jenderal Besar yang menjaga kedamaian perbatasan.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih yang sudah baca sampai akhir , akhir nya cerita Permaisuri Gendut tamat juga...terimakasih semua^_^ ❤️
🧐