NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Suasana sempat hening sesaat setelah Jihan berpamitan dan membalikkan badan, meninggalkan halaman rumah kepala desa. Langkah kakinya mantap dan teratur, seolah tak terpengaruh oleh ancaman binatang buas yang sebelumnya diperingatkan.

Arya Jaya menatap punggung Jihan yang semakin menjauh. Pandangannya mengikuti langkah bocah itu, hingga perlahan matanya membelalak. Ada sesuatu yang mengganjal, bukan karena tubuhnya yang kecil, atau langkahnya yang tak tergoyahkan. Baru saat itulah ia benar-benar sadar.

Tak ada kapak di pinggang…. tak ada keranjang di punggung... tak satu alat pun tergenggam di tangannya. Jihan pergi tanpa membawa peralatan apa pun!

"Astaga naga... Bocah itu saking semangatnya malah lupa bawa peralatan! Mau ambil kayu pakai apa? Gigi?!"

Kesadaran itu menghantam Arya Jaya bagaikan petir di siang bolong. Seketika, suaranya menggema memenuhi halaman. Beberapa orang yang berada di sekitar tertegun, menatap kepala desa yang mendadak berseru dengan nada tak biasa.

“JIHAN!!”

Matahari telah memuncak, sinarnya menari di permukaan sungai yang mengalir jernih, menciptakan kilauan keemasan yang memukau. Gemericik air berpadu dengan siulan merdu burung-burung yang bertengger di dahan pohon, mengukir simfoni alam yang menenangkan. Semilir angin lembut mengibaskan rambut panjang Jihan, sementara aliran sungai yang sejuk perlahan mulai membelai mata kakinya.

Setelah teguran lantang Arya Jaya yang sempat menggema ke seantero halaman, Jihan kembali ke gudang kediaman kepala desa, wajahnya merah padam, entah karena malu, jengkel, atau keduanya sekaligus. Ia tak menyangka bisa melupaan hal sepenting itu. Namun kali ini, ia melangkah lagi dengan perlengkapan lengkap untuk pekerjaannya.

Sebuah keranjang kayu anyaman kini menggantung di punggungnya, diikat dengan tali rotan yang melintang di bahu dan dadanya. Keranjang itu tampak sedikit miring, terlalu besar untuk tubuhnya yang ramping, namun ia memakainya dengan tekad yang bulat. Di tangan kanannya tergenggam sebilah kapak tua gagangnya aus dimakan waktu, tapi bilahnya masih cukup tajam untuk membelah batang kayu yang keras sekalipun.

Aliran sungai yang deras tak mampu menggoyahkan langkahnya. Kakinya menapak mantap di antara bebatuan licin, sementara matanya awas menelisik setiap pijakan, memastikan tubuhnya tetap seimbang di tengah derasnya arus. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir Sungai Batu telah menyusut, alirannya masih cukup kuat untuk merobohkan pijakan seorang anak berusia sepuluh tahun.

Puluhan langkah telah Jihan lalui, dan tanpa terasa, ia akhirnya tiba di ujung sungai. Napasnya terengah-engah, tubuhnya mulai letih setelah melangkah penuh perjuangan. Mengingat teriknya mentari hari ini, Jihan memutuskan untuk beristirahat sejenak, tak ingin terburu-buru.

‘Sungguh, cuaca hari ini terasa lebih terik dari biasanya,’

Jihan kemudian berbalik ke arah aliran sungai. Di sana, wajahnya terpantul di riak air yang deras dan terdistorsi, sebuah pantulan lelah yang di baliknya tersimpan tekad membara demi kesembuhan ibunya.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Jihan saat ia melihat pantulan dirinya, merenungi setiap perjuangan yang telah dilalui. Tangannya yang mengeras karena kapalan menjadi bukti nyata pengorbanannya. Ia mengingat bagaimana setiap detiknya terpaku pada satu tujuan: yaitu ibunya. Selama ini, tak pernah terpikir sedikit pun untuk berteman dengan anak seusianya. Bukan berarti ia tak ingin, hanya saja takdir tak mengizinkan.

Lalu, di tengah benaknya yang sarat pikiran, sebuah pertanyaan tak terduga mengusik.

‘Aku... bisakah aku memiliki teman?’

Namun, pertanyaan itu segera ditepisnya dengan getir.

‘Tidak, itu tak mungkin. Anak-anak seumuranku selalu menatapku dengan aneh, lalu perlahan menjauh.’

Jihan teringat pada upayanya yang pertama untuk berteman. Kala itu, dengan hati yang penuh harap, ia mencoba mendekat ke sekelompok anak-anak yang tengah bercanda dan tertawa riang. Namun, begitu ia tiba, tawa itu perlahan memudar. Suasana yang semula hangat mendadak membeku. Dalam hitungan detik, satu per satu dari mereka pergi… tanpa sepatah kata, tanpa menoleh kembali.

Ia masih berdiri di sana, termangu. Tak mengerti. Tak tahu apa yang salah. Apakah karena dirinya berbeda dari anak-anak lainnya? Karena caranya berbicara? Caranya berjalan? Atau mungkin karena hal-hal yang bahkan tak ia pahami sendiri?

Apa pun alasannya, pengalaman itu meninggalkan luka halus yang tak pernah benar-benar sembuh. Semacam kesepian yang sunyi, diam-diam mengendap di balik senyumnya.

Kenangan itu kembali tanpa diundang, membuat dadanya terasa sesak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan. Dengan gerakan perlahan, Jihan menunduk dan mencelupkan kedua tangannya ke dalam aliran sungai yang jernih. Dingin airnya menyentuh kulit seperti sentuhan pertama dari dunia yang tidak memihak… dingin, tapi jujur.

Ia mengibaskan air ke wajahnya, berharap bisa membasuh kegundahan yang tersisa.

Namun, saat ia mencoba mencelupkan tangan kembali, matanya melebar terkejut. Air yang seharusnya jernih itu perlahan berubah; warnanya yang bening kini memudar menjadi merah darah. Seketika, kewaspadaan tergambar jelas di wajahnya. Sorot mata Jihan menelusuri setiap sudut, tajam dan penuh curiga, seolah berusaha menangkap bayangan bahaya sebelum sempat mendekat.

Lalu, dari kejauhan, terdengar suara yang memuakkan, riuh rendah pertarungan sengit. Suara denting pedang, benturan senjata, dan jeritan samar itu bergema pekat dari dalam hutan, tak jauh dari tempatnya berdiri.

Jihan membeku di tempat. Dahinya berkerut dalam, pikirannya berputar cepat, mencoba membayangkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah itu suara warga yang diserang binatang buas? Atau mungkin para bandit yang diam-diam menyusup dan kini tengah dilawan? Ia tak tahu pasti. Namun satu hal yang jelas, rasa penasarannya membuncah, bercampur cemas, mendesak langkahnya untuk mencari tahu.

Dengan napas tertahan, ia mulai bergerak. Langkah-langkahnya mantap, namun tak gegabah. Setiap derak ranting di bawah kakinya membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Daun-daun yang gugur terhempas ke samping saat tubuhnya menerobos semak dan pohon-pohon kecil. Keheningan hutan, yang biasanya menenangkan, kini berubah menjadi selubung mencekam.

Suara itu semakin jelas. Jeritan... lalu hening... kemudian denting logam yang menggema satu kali lagi, dan setelah itu, tak ada apa-apa.

Jihan ikut menahan napas. Tubuhnya menegang saat ia melangkah perlahan menuju sebuah celah di antara batang pohon besar yang menjulang tinggi. Rerumputan basah menyentuh kakinya, namun ia tak menghiraukannya. Pandangannya terpaku pada pemandangan yang terbuka di hadapannya.

Di balik celah itu, terbentang sebuah tanah datar, sepi, dan diselimuti bau anyir yang menusuk. Bau darah yang menyengat bercampur tanah basah, membuat udara terasa berat dan menyesakkan.

Matanya membelalak lebar.

Tubuhnya bergetar hebat.

Beberapa jasad tergeletak tak bernyawa. Pemandangan itu begitu tragis dan mengerikan. Tubuh-tubuh itu tak hanya terkapar, tapi juga tercakar, terbelah, dan terkoyak seperti mainan yang dihancurkan dengan brutal. Darah menggenang di tanah, menyusup di sela-sela akar dan batu.

Jihan memegangi mulutnya, napasnya tercekat. Rasa mual mendesak naik, dan ia harus menggigit lidahnya sendiri umtuk menahan isi perutnya yang bergolak hebat. Kapak digenggamannya terasa licin oleh kerimgat dingin saat ia mundur selangkah, nyaris kehilangan keseimbangan.

Tepat di hadapannya, di tengah-tengah tumpukan mayat manusia, berdiri seekor binatang buas: Serigala Taring Panjang. Matanya berkilat tajam, penuh naluri membunuh. Taring dan cakarnya berlumuran darah, menambah kesan mengerikan dari sosok itu.

‘Apa… ini… benar-benar terjadi?’

‘‘Ini bukan mimpi… bukan ilusi…’

Dadanya terasa sesak, seolah udara enggan masuk ke paru-parunya. Ia ingin lari. Ingin memalingkan wajah dan melupakan semuanya. Namun, kakinya tak bisa bergerak, seakan dipaku ke tanah oleh rasa takut dan keterkejutan yang menyesakkan dada.

Pandangannya tetap terpaku pada sosok binatang itu. Nafasnya tertahan. Matanya menyapu area itu sekali lagi, berusaha memahami apa yang dilihatnya.

Dan saat itulah Jihan menyadarinya, di antara tubuh-tubuh yang tergeletak tanpa nyawa, masih ada seseorang yang hidup. Seorang gadis muda. Tubuhnya gemetar, ia duduk tersudut saat binatang buas itu menghampirinya, menunggunya untuk dilahap.

Pakaian gadis itu terlihat berbeda. Bukan seperti pakaian penduduk desa… melainkan pakaian halus dan mewah, seperti milik seorang bangsawan.

Sebuah pikiran melintas di benaknya, mengusik ketenangannya.

‘Haruskah aku menyelamatkan gadis itu, atau membiarkannya?’

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!