NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sinar mentari menari di permukaan sungai yang mengalir jernih, memantulkan kilauan keemasan yang menenangkan. Semilir angin lembut mengibaskan rambut panjang Jihan, sementara air sungai yang sejuk membelai mata kakinya saat ia melangkah perlahan menyeberang.

Di punggungnya tergantung sebuah keranjang anyaman kayu, diikat erat dengan tali rotan yang melintang di bahu dan dadanya. Keranjang itu tampak terlalu besar bagi tubuhnya yang ramping, namun Jihan memikulnya dengan tekad yang bulat. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebilah kapak tua. Gagangnya telah aus dimakan waktu, tetapi bilahnya masih cukup tajam untuk membelah kayu keras.

Aliran Sungai Batu memang telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir, namun arusnya masih cukup kuat untuk menyeret seorang anak berusia sepuluh tahun jika lengah.

Jihan melangkah hati-hati di antara bebatuan licin, matanya awas menelisik setiap pijakan.

'Jika aku terpeleset… tidak ada yang akan menolongku,' pikirnya singkat.

'Tapi aku tak boleh ceroboh.'

Setelah puluhan langkah yang terasa panjang, akhirnya ia tiba di seberang. Napasnya terengah-engah, keringat mengalir di pelipisnya. Terik matahari hari ini terasa lebih menyengat dari biasanya.

Jihan memutuskan beristirahat sejenak.

Ia menoleh ke arah sungai. Wajahnya terpantul di riak air yang beriak, terdistorsi oleh arus yang deras. Wajah seorang anak yang lelah—namun di balik keletihan itu, tersimpan tekad yang tak mudah padam.

'Satu hari lagi,' batinnya.

'Sedikit lagi saja. Ibu harus bertahan.'

Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.

Tangannya yang kasar dan penuh kapalan menjadi saksi dari hari-hari panjang yang telah ia lewati. Semua jerih payah itu hanya tertuju pada satu tujuan: ibunya. Sejak kecil, hidupnya dipenuhi kerja dan tanggung jawab, tanpa ruang untuk bermain atau tertawa bersama anak-anak seusianya.

Bukan karena ia tak ingin.

Takdirlah yang tak mengizinkan.

Di tengah lamunannya, sebuah pertanyaan kecil menyelinap ke benaknya.

'Bisakah aku… memiliki teman?'

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sedikit hangat—lalu segera diikuti rasa pahit.

'Tidak mungkin.'

Ia teringat satu-satunya upaya yang pernah ia lakukan. Saat itu, ia mendekati sekelompok anak yang tengah bercanda riang. Tawa mereka perlahan mereda ketika ia tiba. Tatapan aneh mengarah padanya, lalu satu per satu dari mereka pergi—tanpa kata, tanpa penjelasan.

Ia masih berdiri di sana, bingung dan tak mengerti apa yang salah.

'Apakah aku aneh?

Atau hanya… tidak pantas berada di sana?'

Kenangan itu meninggalkan luka yang sunyi. Luka yang tak terlihat, namun selalu terasa.

Jihan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menunduk dan mencelupkan kedua tangannya ke dalam sungai. Dingin airnya menyentuh kulit, dingin, jujur, dan tak berpihak.

Ia membasuh wajahnya.

Namun saat hendak mencelupkan tangan kembali, matanya melebar.

Air yang semula jernih perlahan berubah warna.

Merah.

Merah darah.

'Ti–Tidak…

Sungai ini tidak pernah seperti ini.'

Tubuh Jihan menegang seketika. Ia berdiri tegak, matanya menyapu sekeliling dengan waspada. Jantungnya berdentum keras di dadanya.

'Ada sesuatu yang salah.'

Lalu terdengar suara dari kejauhan.

Denting logam. Benturan keras. Jeritan samar yang terputus-putus.

Suara pertarungan.

'Itu… suara manusia?'

Napas Jihan tertahan. Pikirannya berputar cepat.

'Apakah itu warga desa yang diserang binatang buas? Atau para bandit yang menyusup ke hutan?'

Ia tidak tahu.

Namun rasa penasaran—bercampur kegelisahan—mendorong langkahnya maju.

'Kalau itu warga desa… aku tak bisa berpura-pura tidak mendengar.'

Jihan bergerak perlahan ke arah suara itu. Setiap ranting yang patah di bawah kakinya membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Semak dan daun basah menyentuh tubuhnya saat ia menyusup masuk ke dalam hutan.

Suara itu semakin dekat.

Jeritan.

Lalu sunyi.

Satu dentingan logam terakhir terdengar—dan setelahnya, keheningan yang menyesakkan.

'Sudah berakhir…?'

Jihan berhenti di balik sebuah batang pohon besar. Napasnya tertahan saat ia mengintip melalui celah di antara pepohonan.

Bau anyir langsung menyerbu inderanya.

'Ini, Bau darah…'

Tanah datar terbentang di hadapannya, basah oleh darah yang menggenang di sela akar dan bebatuan. Beberapa jasad manusia tergeletak tak bernyawa, tubuh mereka tercabik dan terkoyak dengan cara yang mengerikan.

Pandangan Jihan terpaku pada salah satu jasad, di pergelangan tangannya masih melingkar tali usang—simbol harapan yang seharusnya tak berakhir seperti ini.

'Aku terlambat… Jika aku datang lebih cepat… apakah mereka masih hidup?'

Dadanya terasa sesak.

Jihan memegangi mulutnya. Rasa mual menghantam keras. Ia menggigit lidahnya sendiri untuk menahan isi perutnya yang bergejolak. Kapak di tangannya terasa licin oleh keringat dingin.

Di tengah tumpukan mayat itu berdiri seekor binatang buas.

Serigala Taring Panjang.

Matanya berkilat tajam, dipenuhi naluri membunuh. Taring dan cakarnya berlumuran darah segar.

'Apakah ini nyata?!'

Kakinya gemetar, seakan tertancap ke tanah. Nalurinya berteriak agar ia lari—sekarang juga.

'Aku harus lari… sebelum terlambat.'

Namun pandangannya tak bisa berpaling.

Lalu ia melihatnya.

Di antara tubuh-tubuh tak bernyawa itu, masih ada seseorang yang hidup.

Seorang gadis muda.

Tubuhnya gemetar saat ia tersudut, punggungnya menempel pada batang pohon besar. Serigala itu perlahan mendekat, langkahnya berat dan penuh ancaman.

Dia… masih hidup.

Pakaian gadis itu berbeda. Halus, bersih, dan mewah, jelas bukan pakaian penduduk desa.

Seorang bangsawan.

'Jika aku maju… aku bisa mati.'

'Jika aku diam… aku akan hidup.'

Tangannya mencengkeram gagang kapak lebih erat.

'Tapi jika aku pergi sekarang… apakah aku masih bisa menatap ibuku nanti?'

Pikiran Jihan bergemuruh.

'Haruskah aku menyelamatkannya…

…atau membiarkannya mati?'

1
Ancient
Ayoo jangan lupa tinggalkan likenya🙏 biar author Semangat 🫶
Zhareeva Mumtazah anjazani
Lah jika arya mati siapa yang akan jadi kepala desa selanjutnya?
DownBaby
BENERKAN UNTUK MENYDARKAN JIHAN PERLU PENGORBANAN YANG SETARA JUGA
DownBaby
hell nah novel ini kedepannya bkl penuh tragedi/Sob/
Ar`vinno
apa tuh
Erigo
mungkinkah...
Embun Pagi
Lanjut Thor
DownBaby
JIHAN
Erigo
SERU BANGET THOR LANJUT, KASIHAN AMA JIHAN ASLI DI FITNAH AMA PENDUDUK DESA, KEHILANGAN IBUNYA😭
Ancient: Itulah ujian untuk Jihan hehe
total 1 replies
Erigo
Yah jelas sekali dengan kondisinya sekarag, Jihan menjadi gila🤭
Erigo
Terdengar familiar

"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"
Erigo
bagus Jihan
Erigo
WOI LU KAN YANG NYAMPERIN
Erigo
Makin seru, tapi kasihan Jihan di fitnah mlu😭
Erigo
Thor
Erigo
begitulah manusia
Erigo
👍
Erigo
Apakah bakal jadi guru Jihan?
Djumadi Dudung
orang nglamun kog panjang bnr
Ancient: itu transisi flashback kak
total 1 replies
Erigo
tuh kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!