"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Pintu rahasia itu berderit terbuka. Kirana melangkah keluar dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Matanya yang sembab menatap ngeri ke arah Arka yang bersimbah darah di atas lantai marmer, sementara moncong pistol Roy masih menempel dingin di pelipis pria itu.
"Anak pintar," puji Roy dengan senyum kebapakan yang kini terlihat seperti seringai iblis di mata Kirana. "Kemarilah, Kirana. Dekati aku. Mari kita tinggalkan sampah ini dan kembali ke rumah. Kau aman bersamaku."
Roy mengulurkan tangannya, telapak tangannya yang licin dan haus kekuasaan itu bergerak perlahan menuju pipi Kirana. Ia ingin membelai wajah wanita yang selama ini ia bentuk sebagai 'mahakaryanya'.
Namun, sebelum ujung jari Roy sempat menyentuh sehelai rambut pun di wajah Kirana, sebuah geraman rendah terdengar dari arah lantai.
"Jangan... berani... kau... menyentuhnya," desis Arka.
Dalam hitungan detik yang seolah membeku, Arka yang tadinya tampak tak berdaya melakukan gerakan yang mustahil. Dengan sisa tenaga yang dipicu oleh adrenalin dan rasa protektif yang gila, Arka mencengkeram pergelangan tangan Roy yang memegang pistol.
BRAK!
Arka memutar tangan Roy dengan bunyi patahan tulang yang mengerikan. Pistol di tangan Roy terlepas, jatuh dan meluncur di atas lantai kaca. Sebelum Roy sempat berteriak, Arka sudah bangkit berdiri, menyergap leher pria tua itu dengan lengan bawahnya yang kokoh.
"Aku sudah bilang padamu, Roy," bisik Arka tepat di telinga Roy, suaranya sedingin es kutub. "Kau boleh mencoba menghancurkan hidupku, kau boleh mencuri aset ayahku. Tapi jika kau menyentuh Kirana, meski hanya seujung jarinya, aku akan memastikan kau memohon untuk mati."
Arka melayangkan sebuah pukulan telak ke rahang Roy, disusul dengan hantaman lutut ke perut pria itu. Roy terhuyung, mencoba meraih apapun untuk tetap berdiri, namun Arka tidak memberinya napas. Amarah yang selama ini ia pendam meledak malam itu. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah Roy hingga pria itu tersungkur menabrak dinding kaca kondominium.
Roy tergeletak tak berdaya. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Matanya terbelalak sebelum akhirnya perlahan tertutup, ia pingsan dalam kondisi yang mengenaskan, hancur secara fisik oleh pria yang selama ini ia remehkan sebagai 'pemabuk berengsek'.
Kirana berdiri mematung, tubuhnya menggigil hebat. Ia melihat Arka yang berdiri di tengah ruangan yang berantakan, napasnya tersengal-sengal, darah menetes dari buku jarinya. Arka tampak sangat liar, sangat berbahaya, namun saat matanya bertemu dengan mata Kirana, tatapan predator itu menghilang seketika.
Arka mendekati Kirana. Ia ingin memeluknya, namun ia melihat tangannya sendiri yang berlumuran darah. Ia berhenti tepat di depan Kirana, menjaga jarak agar tidak mengotori gaun wanita itu.
"Kau aman," ujar Arka parau. "Dia tidak akan menyentuhmu lagi. Tidak sekarang, tidak selamanya."
Kirana tidak peduli lagi. Ia menerjang maju dan memeluk Arka dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Arka yang bidang dan berlumuran keringat. "Kenapa kau harus melakukan ini sendiri? Kau hampir mati, Arka!"
Arka perlahan melingkarkan lengannya di bahu Kirana, mencium puncak kepala wanita itu dengan penuh pengabdian. "Aku lebih baik mati daripada melihat bajingan itu memilikimu kembali."
Arka tidak membuang waktu. Ia tahu anak buah Roy yang lain mungkin sedang dalam perjalanan. Ia segera menghubungi Dion. "Bersihkan kekacauan di kondominiumku. Bawa Roy ke tempat tersembunyi kita, jangan biarkan dia bangun sebelum aku memberimu perintah. Dan siapkan tim pengamanan tingkat satu di rumah Kirana. Sekarang!"
Arka menggandeng tangan Kirana menuju basement. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Kirana hanya terdiam, menatap tangannya yang masih mengenakan perhiasan pemberian Roy, perhiasan yang kini terasa seperti rantai penjara. Ia melepas anting dan gelang itu satu per satu, lalu melemparkannya keluar jendela mobil ke jalanan Jakarta yang gelap.
Arka meliriknya sekilas, lalu meraih tangan Kirana dan menggenggamnya kuat dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap di kemudi. "Mulai malam ini, tidak akan ada lagi orang yang mengatur hidupmu, Kirana. Tidak ayahku, tidak Roy, bahkan tidak aku jika kau tidak mengizinkannya."
Sesampainya di kediaman Kirana, suasana sudah berubah total. Empat mobil SUV hitam terparkir di depan gerbang. Pria-pria berpakaian serba hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka sudah berjaga di setiap sudut halaman.
Arka mengantar Kirana masuk hingga ke dalam kamarnya. Ia memeriksa setiap jendela, setiap pintu, dan memastikan sistem keamanan digital di rumah itu sudah diganti dengan protokol baru.
"Kau akan tinggal di sini. Jangan keluar tanpa pengawalanku atau tim yang sudah kutunjuk," tegas Arka.
Kirana duduk di tepi tempat tidur, menatap Arka yang sedang sibuk mengatur posisi penjaga melalui ponselnya. "Arka... lukamu harus diobati."
Arka berhenti sejenak, ia baru sadar bajunya sudah robek dan luka di pelipisnya masih terbuka. Kirana berdiri dan mengambil kotak obat. Dengan gerakan lembut, ia mulai membersihkan luka Arka.
Keheningan malam di kamar itu terasa sangat intim. Jarak mereka begitu dekat hingga napas mereka menyatu. Kirana mengusap pipi Arka yang memar. "Kau mempertaruhkan segalanya untukku, padahal aku selalu menghinamu."
"Aku pantas dihina atas apa yang kulakukan padamu dulu," balas Arka, suaranya melunak. Ia menangkap tangan Kirana di pipinya dan mencium telapak tangan itu. "Tapi kau harus tahu, Kirana... taruhan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, namun mencintaimu adalah satu-satunya hal benar yang pernah kulakukan."
Arka menarik Kirana lebih dekat, menyatukan kening mereka. Di tengah ketegangan dan bahaya yang mengintai di luar, gairah kembali tersulut di antara mereka. Arka mencium bibir Kirana, sebuah ciuman yang menjanjikan perlindungan mutlak. Kirana merespons dengan penuh kerinduan, menyadari bahwa di balik dinding keamanan yang dibangun Arka, hatinya sendirilah yang kini sepenuhnya tertawan oleh pria ini.
~~
Sebelum Arka berpamitan untuk pergi mengurus Roy, ia menoleh ke arah Kirana yang berdiri di ambang pintu kamar.
"Kirana, ada satu hal yang tidak sempat dikatakan Roy. Dia tidak bekerja sendiri. Dia hanya pion dari seseorang yang lebih besar yang mengincar data di dalam liontin kalung yang kau pakai."
Kirana menyentuh kalung pemberian Arka. "Siapa?"
"Aku belum tahu pasti. Tapi selama kau mengenakan kalung itu, kau adalah target. Jangan pernah melepasnya, karena di dalam kalung itu ada pelacak GPS yang terhubung langsung ke nadiku. Jika jantungmu berdegup terlalu kencang karena takut, aku akan tahu."
Arka pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Kirana dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa aman dalam dekapan perlindungan Arka. Di sisi lain, ia sadar bahwa ia baru saja masuk ke dalam perang yang jauh lebih besar dari sekadar urusan perusahaan.
Di luar, para penjaga berdiri tegap seperti patung. Rumah Kirana kini telah berubah menjadi benteng yang tak tertembus. Namun, di dalam kegelapan malam, dari kejauhan, sepasang mata masih mengawasi melalui teropong jarak jauh, mengirimkan pesan singkat ke nomor misterius. "Target sudah berada dalam benteng sang serigala. Persiapkan fase pembersihan."
...----------------...
Next Episode....