Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Pemakaman
Pria itu kembali menghadap ke depan. "Ayo, jalan. Kita cari sungai. Buat wajahnya rusak sebelum menenggelamkannya bersama batu."
"Mmhh mmhhmmm mmm! Mmhhh mmm hhm!" Daniel yang panik berusaha berontak tapi sia-sia. Kedua orang yang berada di kiri kanannya berusaha menahannya.
Sementara, tempat para korban penembakan itu mulai didatangi orang yang tak sengaja melihatnya, sedang pembunnuhnya sudah lebih dulu menghilang dari tempat itu.
***
"Mas, kamu di mana?" Lana melihat sekeliling ketika keluar kamar.
"Ini aku ada di halaman belakang. Tempatnya bagus lho!"
Terlihat pintu belakang yang terbuka. Lana bergegas ke sana. Bukankah tidak boleh keluar lama-lama? "Mas, ngapain kamu di situ?"
Fian sedang berdiri di rerumputan. Tak ada tanaman tapi ada tali jemuran. Walaupun dibatasi oleh tembok belakang rumah orang, tapi matahari pagi bisa masuk ke dalam area itu.
Fian merentangkan tangannya dan menarik napas panjang lalu kemudian mengeluarkan dari mulut. "Udaranya segar di sini lho! Walaupun jauh dari pantai tapi ini masih bagus udara di sini."
Terdengar bel berbunyi.
"Mas, itu mungkin yang ngantar sarapan pagi, Mas!"
"Oke." Fian pun masuk ke dalam rumah. Setelah mengambil paket makanan, ia kembali ke belakang. "Lana, kamu sedang apa?" Ia memperhatikan istrinya mengecek mesin cuci.
"Kayaknya aku bisa cuci pakaian deh, Mas. Di belakang ada jemuran, kan?" ucap Lana dengan mata cemerlang.
***
"Apa!?" Adrian mendengarkan suara dari telepon yang ia genggam. "Upayakan mereka semua kembali ke Itali. Bagaimana dengan model itu?" Ia mendengarkan lagi. Lalu kemudian lemas bersandar ke belakang. "Ya sudah. Selesaikan tugasmu," ucapnya lemas sambil mematikan telepon lalu berpangku tangan dengan masih menggenggam ponsel.
"Ada apa, Sayang?" tanya Vivianna hati-hati. Ia ingin tahu apa yang terjadi.
"Anak buahku. Mereka mati terbunuh. Juga istri Alessandro. Tapi keluarganya sudah mengambil dia duluan. Alessandro tetap menghilang. Aku belum bisa mendatangi keluarga istrinya sampai aku bisa memastikan orang itu anakku atau bukan."
"Jadi, bagaimana?" lanjut Vivianna.
"Oh, aku akan menunggu Eugene bicara."
"Apa? Eugene masih hidup?" Vivianna kaget.
"Iya, tapi dia koma. Rumah sakit di sana akan mengirimnya ke sini."
***
Ibu Lynda yang berambut sedikit pirang karena bule, mendatangi Hawari dan istri. Ia tampak penasaran. "Di mana Fian saat istrinya meninggal seperti ini?" katanya geram.
Hawari melirik istrinya di samping. Pria paruh gaya itu dengan pelan menggenggam tangan istrinya lalu menatap lagi ibu Lynda. "Apa kamu tidak tahu? Fian dan Lynda sudah bercerai."
"Apa?" Bola mata wanita itu melebar. Tubuhnya sedikit limbung hingga sang suami di samping segera menahannya.
"Ma."
Sarah melirik suaminya dengan wajah kaget. Isyarat tangan dengan menggenggam itu artinya, ia harus mempercayai tindakan suaminya. Kini ia menyadari suaminya tengah berbohong.
"Pak, ini bener Fian dan Lynda sudah bercerai?" tanya ayah Lynda yang orang Indonesia asli.
"Mungkin belum diurus surat-suratnya, soalnya anakku Fian sudah menikah lagi, dan kini sedang bulan madu."
Kedua tangan ibu Lynda mengepal erat. Ingin marah tapi tak tahu pada siapa. Lynda telah pergi tanpa tahu siapa yang telah menembaknya. Suami anaknya bahkan telah menceraikan Lynda tanpa sepengetahuannya. Lalu kepada siapa kini ia bisa berharap? Hanya air mata kecewa yang kini mengalir di wajah tuanya.
"Mama, sudah." Ternyata adik perempuan Lynda meraih tangan ibunya. Ia menoleh pada Hawari. "Tolong, Pak. Kalau Fian kembali, kalau bisa datang ke kami menjelaskan."
"Iya." Hawari mengangguk.
Mereka kini menatap sebuah gundukan tanah baru di depan mereka yang baru saja ditimbun. Kerumunan orang-orang telah pergi, tapi yang tinggal masih tampak berduka.
Setelah masuk ke dalam mobil, Sarah segera meminta penjelasan. "Apa maksud Ayah bilang Fian dan Lynda cerai? Aku tidak pernah mendengar Fian mengatakan itu padaku. Apa Ayah tahu sesuatu yang aku tidak tahu?"
Hawari melirik sekilas lalu kembali menyetir. "Bukan begitu, Bu. Aku tidak ingin keluarga Lynda mengetahui tentang keluarga Fian yang sebenarnya. Bisa saja, ada masalah di keluarga Fian hingga Lynda jadi korbannya. Kita tidak tahu. Semenjak Fian pergi ke Itali, kita sudah kehilangan kontak dengannya. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Fian, tapi do'akan dia baik-baik saja. Padahal dia sudah janji akan menelepon kita setiba di sana, tapi menghubunginya saja sekarang kita tidak bisa."
"Fian ...." Sarah menatap ke depan. Ia hanya bisa mendesah pelan. Rasa khawatirnya lebih menguasai dirinya. Tiba-tiba ia mulai menangis. Rasanya ia sudah tidak bisa membendungnya lagi. "Kenapa nasibmu begitu, Nak, huhu ...."
"Ibuu ...." Hawari terpaksa menepikan mobilnya. Ia lebih memilih melepas seatbelt dan memeluk istrinya yang tengah ketakutan.
"Bagaimana nasib Fian nanti, Yahh ...." Sarah masih menangis.
"Sstt ... serahkan semua pada perlindungan Allah. Bukankah sekarang Fian bersama Lana? Do'akan mereka baik-baik saja."
"Cucuku ...." Sarah tak sanggup menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh pria tua itu. Hawari menemaninya sampai Sarah tenang.
***
Pintu diketuk. Muncul seorang wanita muda menatap ke arah Hawari. "Pak, ada yang mau ketemu."
Hawari mengangkat wajahnya dari berkas di atas meja. "Siapa?"
"Katanya adeknya Lana, Pak."
Tala seketika muncul di belakang sekretaris Hawari. "Pak, maaf."
"Oh, kamu. Ayo, masuklah."
Wanita itu keluar. Tala dengan sungkan mendekati Hawari. "Maaf, Pak. Kenapa Saya gak bisa ngehubungi Kak Lana ya, Pak? Apa Bapak bisa menghubungi kakak Saya?"
Hawari tersenyum. "Kenapa kamu jadi sungkan begitu."
Tala masih tampak sungkan dengan mengangguk dan tersenyum dengan sopan.
Hawari kemudian mulai memasang mimik serius. "Sebenarnya Bapak sendiri juga gak bisa menghubungi Fian, jadi Bapak juga gak tau jawabannya."
"Duhh ... gimana ya," gumam Tala bingung.
"Kenapa?"
"Aku belum bayar uang kuliah semester ini. Kayaknya Kak Lana lupa dan terlanjur pergi ke Itali," ujar Tala kebingungan.
"Oh, begitu. Bagaimana kalau Bapak yang bayar dulu."
Tala kaget mendengar pernyataan Hawari. "Tapi, Pak ...."
Hawari mengangkat kedua telapak tangannya. "Anggap saja kamu pinjam. Nanti kalau kakakmu sudah kembali, kamu bisa minta Lana membayarnya."
"Oh, begitu." Wajah Tala berubah cerah. "Iya deh, begitu juga boleh."
Hawari tertawa karena Tala tiba-tiba menyetujui. Ia pikir Tala akan menolaknya, ternyata pemuda itu menerimanya dengan senang. "Atau ...." Jari telunjuknya terangkat. "Bagaimana kalau kamu magang di sini?"
"Apa?" Kedua bola mata Tala membola tak percaya. "Oh, mau, Pak ... Mau, mau!" Ia meraih tangan Hawari dan menyalaminya dengan penuh bersemangat. Senyumnya terbit seketika.
Hawari menahan tawa sambil menepuk-nepuk lengan Tala pelan. "Oke. Bagaimana kalau mulai besok?"
***
Fian mengaduk-aduk makanan tapi selera makannya tengah tak baik. Tiba-tiba saja ia memikirkan tentang Lynda hingga ia gelisah sendiri.
"Mas ...." Lana yang memperhatikan dari tadi, jadi cemas. "Kamu kenapa? Makanannya gak enak?"
"Bukan." Pria itu kemudian mendorong piringnya menjauh. Ia melirik istrinya. "Aku tiba-tiba saja ingat orang tuaku," ujarnya berbohong. Tentu saja ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya karena ia takut Lana kembali bersedih.
"Ooh ... aku juga jadi teringat Tala." Kini Lana yang murung.
"Bagaimana kalau habis ini kita nonton tivi?" Fian malah berusaha membesarkan hati istrinya. "Tapi habiskan dulu makanmu, ya."
"Tapi, Mas juga."
"Iyaa ...." Pria itu tak ingin Lana khawatir. Ia ingin istri dan bayinya sehat, bagaimanapun situasi yang tengah mereka jalani.
Bersambung ....