NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Aturan Main Sang Letnan

Rahasia besar seolah-olah bersembunyi di balik kilatan kunci emas yang kini diletakkan secara kasar di atas meja kayu yang dingin. Maya Anindya menahan napas saat melihat benda kecil itu berkilau di bawah lampu ruang tamu yang berpijar dengan cahaya kekuningan. Dadanya berdegup kencang karena dia tahu bahwa setiap benda di rumah ini memiliki harga yang harus dibayar dengan kepatuhan mutlak.

"Ambil kunci ini dan simpan baik-baik karena ini adalah akses tunggal menuju keselamatanmu," ucap Arga Dirgantara dengan nada suara yang sangat berat.

Maya Anindya mengulurkan tangannya yang masih gemetar untuk meraih kunci tersebut dengan penuh rasa ragu serta takut yang mendalam. Dia bisa merasakan aura otoritas yang sangat kaku terpancar dari sosok pria yang kini telah menjadi pelindung sekaligus penguasa hidupnya. Ruang tamu yang sempit itu mendadak terasa sangat menyesakkan seiring dengan tatapan mata sang perwira yang semakin menajam serta mengintimidasi.

"Apakah kunci ini juga berarti saya tidak boleh keluar dari rumah dinas ini tanpa izin Anda?" tanya Maya Anindya dengan suara yang nyaris berbisik.

Arga Dirgantara berdiri dari kursi jatinya lalu berjalan mendekat hingga bayangan tubuhnya yang besar menelan sosok mungil sang istri. Dia melipat kedua tangannya di depan dada yang bidang sambil menunjukkan rahang yang terlihat sangat mengeras laksana batu karang. Tidak ada sedikit pun kehangatan yang terpancar dari wajah tegas pria berseragam hijau loreng tersebut saat dia mulai membacakan aturan pertama.

"Aturan pertama adalah kamu dilarang keras menginjakkan kaki di ruang kerja pribadi saya tanpa pengawasan langsung," tegas Arga Dirgantara dengan sorot mata yang dingin.

Gadis remaja itu hanya bisa menelan ludah sambil meremas ujung seragam sekolahnya yang sudah sangat kumal dan terkena noda-noda air mata. Dia merasa seperti seorang tahanan yang sedang diberikan batasan wilayah di dalam sebuah penjara mewah yang sangat asing baginya. Keberanian yang tersisa di dalam benaknya mulai memudar saat dia menyadari bahwa hidupnya kini diatur oleh jadwal militer yang sangat ketat serta tanpa kompromi.

"Aturan kedua adalah jangan pernah menjawab telepon atau membuka pintu untuk siapa pun yang tidak mengenali sandi rahasia kita," lanjut Arga Dirgantara dengan intonasi yang tidak terbantahkan.

Maya Anindya mendongak untuk menatap wajah suaminya yang tetap tenang meskipun ancaman bahaya dari luar sana bisa menyerang kapan saja. Dia merasa ada sebuah tembok besar yang memisahkan perasaan mereka meskipun mereka kini berada di bawah atap rumah yang sama. Kepalanya terasa sangat pening karena harus menghafal banyak sekali larangan di saat luka kehilangan ayahnya masih sangat basah serta perih.

"Lalu bagaimana dengan sekolah saya jika semua pergerakan saya harus dibatasi seperti ini?" tanya Maya Anindya dengan nada yang mulai terdengar sedikit memberontak.

Arga Dirgantara hanya tersenyum miring seolah-olah sedang menertawakan kepolosan gadis sekolah menengah atas yang berada di hadapannya tersebut. Dia meraih sebuah map cokelat yang berisi jadwal harian yang sangat padat dan meletakkannya tepat di depan wajah Maya Anindya. Suasana di dalam rumah dinas itu menjadi semakin tegang saat suara derap langkah kaki para penjaga di luar pagar mulai terdengar semakin keras serta berulang-ulang.

"Sekolahmu adalah tanggung jawab saya tetapi keselamatan nyawamu jauh lebih penting daripada sebuah ijazah kelulusan," jawab Arga Dirgantara sambil menunjuk ke arah kamar yang terletak di lorong sebelah kiri.

Gadis itu terkejut saat melihat tanda tangan ayahnya ternyata sudah tertera di bagian bawah dokumen aturan main yang sangat tidak masuk akal tersebut. Dia menyadari bahwa pengkhianatan terbesar mungkin saja datang dari orang-orang yang paling dia sayangi demi sebuah alasan keamanan yang belum dia pahami. Tanpa berkata apa-apa lagi, Maya Anindya segera membalikkan badan dan berlari menuju ruangan yang akan menjadi wilayah pribadinya dengan perasaan yang sangat hancur berkeping-keping.

"Jangan pernah berpikir untuk mengunci pintu kamar itu dari dalam karena saya memegang kunci cadangannya," teriak Arga Dirgantara yang membuat langkah kaki Maya Anindya terhenti seketika di ambang pintu kamar yang terpisah.

 

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!