"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tidak Seperti di Novel
"Tuan Kalendra mengalami pengeroyokan oleh orang-orang tak dikenal. Saat ini, beliau dirawat di rumah sakit kota."
Kanaya seharusnya cuek. Perempuan itu seharusnya tidak terpengaruh. Namun, saat seseorang mengabarinnya tentang kejadian buruk yang menimpa Kalendra, jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya hampir limbung jika saja dia tidak segera berpegangan pada dinding.
Apa yang terjadi dengannya? Bukankah apapun yang protagonis itu lakukan bukanlah urusannya? Kanaya benci sifat naifnya ini.
Hingga--- di sinilah istri Kalendra itu berada. Berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit. Mencoba menenangkan hatinya yang sedari tadi ricuh tak terkendali.
Sampai di depan pintu sebuah ruangan, Kanaya menghentikan langkahnya. Nafasnya sedikit memburu dengan dadanya yang kembang kempis. Sejenak, figuran itu memejamkan matanya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Mengatur ritme pertukaran oksigennya agar kembali normal.
Setelah merasa lebih baik, Kanaya membuka pintu dengan perlahan. Bau obat semakin pekat terasa. Melirik pada bangkar, perempuan itu dapat melihat Kalendra yang tengah berbaring dengan mata terpejam tenang.
Lalu perhatiannya teralihkan pada seorang perempuan cantik yang duduk di sofa tunggu. Sekejap, Kanaya tertegun. Perempuan itu sangat cantik. Auranya sangat kuat. Saat dia berdiri dan mulai menghampiri Kanaya, sebuah cahaya kemilau seakan mengikutinya.
"Maaf, kau....Nyonya Kanaya? Istri Tuan Kalendra?"
Kanaya tersentak. Detik selanjutnya, figuran itu mengangguk kaku. Senyum canggung tersungging dari bibirnya.
"Aku menemukan Tuan Kalendra sedang dikeroyok segerombolan orang. Awalnya aku kira mereka begal, tapi anehnya saat aku datang, mereka lari tanpa membawa satu pun barang berharga." perempuan yang Kanaya tidak ketahui namanya itu menjelaskan.
"Untungnya, Tuan Kalendra saat ini sudah baik-baik saja. Hanya geger otak ringan dan beberapa bagian tubuh yang memar, tapi itu bukan masalah besar. Setidaknya, itulah yang tadi dokter jelaskan."
Lihatlah, bahkan dari cara perempuan itu berbicara, kembali berhasil membuat Kanaya terpukau. Entahlah, tapi seperti ada sihir yang mampu menghipnotisnya.
"Ahh, ya. Perkenalkan, namaku Zana."
Deg.
Bola mata Kanaya membesar. Zana? Zana....Damara? Protagonis wanita?!
"Nyonya?"
Lagi-lagi Kanaya tersentak. Kemudian, tangan dinginnya membalas uluran tangan Zana.
"Boleh aku tahu nama lengkapmmu?"
Zana tersenyum ramah. "Tentu saja. Nama lengkapku, Zana Damara."
Benar. Perempuan yang berdiri di hadapannya ini adalah protagonis wanita. Pantas saja auranya sangat kuat. Akhirnya, alur novel yang sebenarnya akan segera dimulai. Sebentar lagi Kanaya akan bebas dari Kalendra. Laki-laki itu akan memperjuangkan cinta sejatinya dan melupakan istrinya yang tak lain adalah dirinya.
Dada Kanaya terasa sesak. Batu besar seolah menghimpitnya. Memikirkan Kalendra akan mengacuhkannya dan mengejar perempuan lain, hatinya seperti ditikam oleh sesuatu yang tajam. Perasaan aneh yang membuat Kanaya muak.
Tidak Kanaya. Jangan merusak. Sejak awal kau tahu, Kalendra itu milik Zana. Bukankah kau mengharap kebebasan? Maka sebentar lagi hal itu akan kau dapatkan.
Tapi, ini sedikit melenceng. Bukankah awal pertemuan mereka saat Kalendra dari begal? Tapi tadi Zana mengatakan jika segerombolan orang yang menyerang Kalendra tidak mengambil barang berharga. Dan juga, di novel kondisi Kalendra tidak separah ini sehinnga harus dibawa ke rumah sakit.
Tapi kenapa sekarang berbeda?
"Kanaya..."
Suara lirih itu berhasil mengalihkan perhatian kedua perempuan itu. Kalendra telah membuka matanya. Secara tidak sadar, kaki Kanaya gegas menghampiri bankar. Menatap Kalendra dengan perasaan yang melega.
"Kau tidak apa-apa? Bagian mana yang sakit?"
Kalendra terkekeh. Matanya berpendar jenaka. "Kau khawatir?"
Sang istri terdiam. Iya, apakah dia khawatir? Perasaan yang mengganjal ini...apakah bentuk kekhawatirannya pada Kalendra? Tapi kenapa dia harus khawatir?
"Kanaya..."
Mencoba menghilangkan perasaan asing yang membuatnya tak nyaman, Kanaya mendengus. Kedua tangannya bersedekap dada.
"Kau pikir, aku tidak punya hati? Jangan percaya diri, ini hanya bentuk keprihatinan sesama manusia."
Bibir Kalendra tersungging miring. Ia jilat bibirnya yang terasa kering. "Kau tidak pandai berbohong."
Kanaya mendelik mendengarnya. Kini, matanya menyorot sang suami penuh permusuhan. "Siapa juga yang berbohong?!" balasnya nyolot.
"Ehem...."
Sepasang suami-istri yang sedang berdebat itu menoleh pada sumber suara. Zana menggaruk pipinya kikuk. Merasa tak enak karena telah mengganggu. Apalagi saat matanya tak sengaja menangkap tatapan tajam dari laki-laki yang telah ditolongnya. Zana merasa tak nyaman dan ingin segera pergi.
"Sepertinya aku harus pergi. Untuk Tuan Kalendra...semoga cepat sembuh."
"Eh, tidak! Kau dilarang untuk pergi!" tukas Kanaya menarik lengan Zana mendekati bangkar. Tidak menghiraukan tatapan protes dari sang protagonis wanita.
Bagaimanapun juga, alur harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kalendra dan Zana akan bersatu bagaimanapun caranya.
Tekad Kanaya gigih. Mengabaikan perasaan tak nyaman yang kian menggerogoti hatinya.
"Kalendra, ini Zana. Dia orang yang telah membantumu selamat dari kematian."
"Lalu?" respon Kalendra terlalu cuek untuk seseorang yang tertarik kepada sesuatu. Tidak seperti di novel yang menggambarkan kilatan ketertarikan yang Kalendra berikan untuk Zana bahkan sejak pertama mereka berpandangan.
Tunggu--- Kalendra tidak sedang bersandiwara, kan? Takut jika istrinya akan melabrak Zana jika dia menunjukan rasa tertariknya secara terang-terangan.
Kanaya mendecakkan lidah. "Kau harus membalas budi. Jika tidak ada dia, mungkin kau sudah mati dan aku menjadi janda!"
Seharusnya Zana tidak usah menolongnya. Persetan dengan jalan cerita novel. Jika Kalendra mati, dirinya akan mendapat warisan yang banyak.
Kalendra terdiam sejenak. Lantas laki-laki itu mengangguk setuju. "Baiklah. Berikan uang berapapun yang dia mau."
"Tidak usah!" sela Zana yang terlihat panik. Kedua tangannya mengibas menolak.
"Sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling tolong menolong. Jadi, jangan membuatku menjadi manusia yang buruk dengan menerima imbalan."
Lihatlah, betapa bijaknya protagonis wanita ini. Kali ini, Kalendra pasti akan tertegun kagum.
"Baguslah. Sekarang, sebaiknya kau pergi."
Kanaya menganga tak percaya. Kenapa jadi seperti ini?! Bukan ini yang tertulis di novel. Kenapa semuanya sekarang berbeda?!
"Kalendra! Kau tega mengusir orang yang telah menyelamatkanmu?" Kanaya berkacak pinggang. Memperingati Kalendra melalui tatapannya.
"Dia menganggu. Aku hanya ingin berdua denganmu."
Apa?! Sial sial sial! Ucapan gamblang Kalendra cukup memberikan efek pada wajah Kanaya yang memunculkan semburat merah.
Sementara, di posisinya, Zana semakin tak enak hati. Dia ingin segera pergi. Dan juga, ada sesuatu penting yang harus diurusnya.
"Nyonya Kanaya, aku pergi. Sebenarnya, aku memiliki urusan mendesak sekarang."
"Zana, kau terlalu baik."
Kanaya kembali mengacuhkan Kalendra.Menggengam erat tangan sang protagonis wanita, Kanaya mengulas senyum tipis.
"Apa kau sedang membutuhkan pekerjaan?"
Alur novel harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tidak peduli jika...sudut hati Kanaya merasa tak rela.
Zana sempat tertegun mendengar pertanyaan Kanaya.
"Kau--- bagaimana kau bisa tahu?"
"Itu tidak penting, Zana. Aku ingin menawarkanmu pekerjaan, apa...kau tertarik?"
Binar bahagia Zana tunjukkan. Dia mengangguk antusias. Seolah asa baru saja menjemputnya.
"Tentu. Tentu saja aku tertarik!"