NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:603
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LATIHAN BELADIRI MILITER DI MARKAS ARHANUD CIREBON

BAB 17

Pagi itu, Markas Arhanud 14 Cirebon terlihat lebih sibuk dari biasanya. Lapangan latihan luas dipenuhi derap sepatu lars, suara peluit, dan aba-aba tegas yang memantul di udara. Matahari belum tinggi, namun panas disiplin sudah terasa sejak langkah pertama.

Sertu Bima berdiri di tengah lapangan, mengenakan seragam PDL lengkap. Wajahnya keras, sorot matanya fokus. Di sekelilingnya, belasan prajurit muda bersiap latihan bela diri militer—tangan mengepal, napas teratur, sikap siap tempur.

“Hari ini,” suara Bima menggelegar,

“kita kedatangan tamu kehormatan.”

Sebuah kendaraan dinas memasuki area markas. Dari dalam turun Dr. Hadijah, mengenakan hijab gelap dan blazer sederhana. Di belakangnya, Laura dan Anisa melangkah rapi—mata mereka berbinar melihat suasana militer yang asing namun memikat.

Komandan Arhanud 14 Cirebon, Letkol Arif Prasetyo, menyambut dengan hormat.

“Selamat datang di Arhanud 14, Doktor. Suatu kehormatan bagi kami.”

Dr. Hadijah tersenyum hangat.

“Kami yang berterima kasih. Saya ingin melihat bagaimana disiplin dan nilai kemanusiaan diajarkan di tubuh militer Indonesia.”

Sandi berdiri tak jauh, mengenakan pakaian latihan hitam polos—hari itu ia diundang secara khusus oleh Bima untuk mengikuti sesi bela diri militer bersama prajurit.

Bima melirik Sandi.

“Siap, Mas?”

Sandi mengangguk.

“Siap, Ser.”

Latihan dimulai.

Bela diri militer berbeda dari yang ia kenal di padepokan. Tak ada keindahan gerak. Tak ada jeda napas panjang. Semua serba efisien, brutal, dan cepat.

Bima maju sebagai instruktur.

“Ancaman di lapangan,” teriaknya,

“nggak pakai aturan!”

Satu prajurit menyerang Sandi dengan tongkat karet. Sandi menangkis, memutar, namun Bima langsung menghentikan.

“Salah!”

“Di medan, kamu nggak punya waktu buat indah!”

Bima maju—menyerang cepat. Sandi terpukul mundur, nyaris jatuh. Ia bangkit, mengubah pola. Geraknya memendek, lebih padat. Ilmu napas dari Aster Darmaji menyatu dengan refleks militer.

Saat prajurit kedua menyerang dari belakang, Sandi berputar cepat, mengunci pergelangan, menjatuhkan dengan sapuan pendek. Gerakan kasar—tapi tepat.

Bima tersenyum tipis.

“Mulai nyambung.”

Di tribun kecil, Laura menutup mulut menahan napas.

“Mas Sandi… beda lagi.”

Anisa bertepuk tangan kecil.

“Kayak film!”

Dr. Hadijah tidak tersenyum. Tatapannya serius, menganalisis setiap gerak.

“Ini bukan kekerasan,” katanya pada komandan.

“Ini pencegahan.”

Letkol Arif mengangguk.

“Betul, Doktor. Kami latih prajurit untuk menghentikan ancaman secepat mungkin—agar korban tidak bertambah.”

Latihan memuncak saat sesi satu lawan banyak.

Empat prajurit menyerang bergantian. Sandi terhimpit, terkena dua pukulan keras. Napasnya tercekik. Namun ia bertahan—menurunkan pusat gravitasi, masuk ke jarak dekat, memanfaatkan momentum lawan.

Satu jatuh.

Dua jatuh.

Tiga jatuh.

Yang terakhir ragu.

Bima mengangkat tangan.

“Cukup!”

Lapangan sunyi.

Bima mendekat, menepuk bahu Sandi.

“Kamu bukan tentara,” katanya datar.

“Tapi kamu punya mental tempur.”

Sandi menunduk hormat.

“Terima kasih, Ser.”

Dr. Hadijah melangkah maju.

“Disiplin seperti ini,” ucapnya,

“adalah alasan kami percaya pada Indonesia.”

Ia menoleh ke Sandi.

“Namun ingat—kekuatan tanpa nilai hanya melahirkan lingkaran dendam.”

Sandi mengangguk pelan.

Di balik pagar markas, seorang prajurit intel berdiri memperhatikan—wajahnya tegang. Ia mendekat ke komandan dan berbisik singkat.

Letkol Arif mengerutkan kening.

“Ada pergerakan sisa jaringan Kala Hitam,” katanya pelan pada Bima.

“Belum selesai.”

Bima menatap Sandi—kali ini lebih serius dari sebelumnya.

“Kalau kamu mau,” katanya rendah,

“kami bisa ajari kamu satu hal lagi.”

Sandi mengangkat kepala.

“Apa itu, Ser?”

Bima tersenyum tipis.

“Bertahan… di tengah badai.”

Di atas lapangan Arhanud 14, matahari kian terik.

Dan semua yang hadir tahu—

latihan hari itu bukan sekadar demonstrasi.

Ia adalah persiapan.

Latihan bela diri militer di Markas Arhanud 14 Pilang, Cirebon, ditutup menjelang sore. Peluit terakhir ditiup, derap sepatu berhenti serempak. Sandi berdiri dengan seragam latihan basah oleh keringat, dada naik-turun teratur—lelah, tapi utuh.

Sertu Bima menghampiri, menyodorkan botol air.

“Latihan militer itu soal keputusan cepat,” katanya singkat.

“Kamu sudah punya napas dan kendali. Di sini kamu belajar… kapan harus selesai.”

Sandi mengangguk, meneguk air.

“Terima kasih, Ser.”

Di sisi lapangan, Dr. Hadijah berbincang dengan Komandan Arhanud 14. Laura dan Anisa duduk di bangku besi, memperhatikan para prajurit yang berkemas. Laura tampak kagum—bukan pada kekerasan, melainkan pada ketertiban. Anisa menirukan sikap hormat prajurit dengan polos.

Matahari turun. Mereka berpamitan dan pulang.

Malamnya, setelah mandi dan salat magrib, Sandi menyusul Dr. Hadijah, Laura, dan Anisa ke pinggir Jalan Kanoman. Lesehan pecel lele yang sederhana—lampu bohlam kuning, bangku plastik, tikar tipis—menghadirkan rasa akrab yang hangat.

Anisa duduk paling depan, tak sabar.

“Mas Sandi, lelenya yang besar ya,” pintanya ceria.

Laura tertawa kecil.

“Anisa ini makannya kalah sama tentara.”

Sandi tersenyum.

“Siap.”

Makanan datang. Asap nasi hangat bercampur aroma sambal. Dr. Hadijah menghela napas lega.

“Kesederhanaan seperti ini,” katanya pelan,

“adalah kemewahan yang sering hilang di tempat konflik.”

Mereka mulai makan.

Tak lama, dua pengamen datang. Gitar dipetik keras, suara nyanyian fals. Awalnya biasa. Namun salah satu dari mereka mendekat terlalu dekat, mengetuk meja dengan kasar.

“Tambahannya, Bu,” katanya memaksa.

Dr. Hadijah tersenyum sopan.

“Nanti ya, setelah makan.”

Pengamen itu mendengus.

“Pelitur doang mahal, Bu. Masa segitu?”

Nada suara meninggi. Pengamen lain tertawa sinis, menyenggol bangku hingga goyang. Anisa berhenti makan, memeluk lengan Laura.

Sandi meletakkan sendoknya pelan.

“Mas,” katanya tenang,

“nyanyinya sudah. Silakan lanjut ke tempat lain.”

“Lu siapa ngatur-ngatur?” balas si pengamen, maju setengah langkah.

Sandi berdiri. Bukan mengancam—sekadar menutup jarak.

“Ini jalan umum. Jangan bikin ribut.”

Pengamen itu mendorong dada Sandi.

“Berani apa lu?”

Beberapa orang menoleh. Penjual pecel lele cemas.

Sandi tidak membalas dorongan. Ia hanya memegang pergelangan tangan si pengamen—ringan, terkendali—lalu menggeser ke samping, memutus kontak. Gerakannya cepat dan rapi.

“Jangan sentuh,” katanya datar.

Pengamen kedua mencoba ikut campur, mengangkat gitar seperti hendak memukul. Sandi melangkah masuk, menekan leher gitar ke bawah dengan telapak—bukan menghantam—hingga gitar terlepas dan jatuh. DUK.

Keributan berhenti mendadak.

“Pergi,” ujar Sandi singkat.

“Sekarang.”

Keduanya mundur, menggerutu, lalu pergi menjauh.

Hening kembali.

Anisa menatap Sandi dengan mata bulat.

“Mas Sandi kok kayak tentara,” katanya polos.

Laura tersenyum lega.

“Terima kasih.”

Dr. Hadijah menatap Sandi sejenak—penuh makna.

“Kekuatan yang baik,” ucapnya pelan,

“adalah yang selesai sebelum luka.”

Sandi duduk kembali. Mengambil sendoknya.

“Lanjut makan,” katanya ringan.

Malam Kanoman kembali ramai—namun damai. Lampu bohlam berayun pelan. Di antara nasi, sambal, dan tawa kecil Anisa, Sandi merasakan sesuatu yang jarang ia dapatkan belakangan ini:

Normal.

Namun di sudut jalan yang gelap, dua bayangan berhenti sejenak, memperhatikan—lalu menghilang.

Malam itu tenang.

Tapi Cirebon belum sepenuhnya tidur.

Malam semakin larut ketika mereka meninggalkan lesehan Kanoman. Dr. Hadijah duduk di kursi depan Honda Jazz hitam milik Sandi, sementara Laura dan Anisa di kursi belakang. Lampu jalan memanjang seperti garis-garis pucat di kaca depan.

“Terima kasih, Mas Sandi,” ujar Dr. Hadijah lembut.

“Malam ini… terasa aman.”

Sandi tersenyum kecil.

“Sudah tugas saya, Dok.”

Mobil melaju keluar dari pusat kota, memasuki jalan yang lebih sepi menuju hotel. Pohon-pohon besar berdiri gelap di kiri kanan. Radio dimatikan. Hanya suara mesin dan ban menyentuh aspal.

Tiba-tiba—

VROOOM!

Dua motor muncul dari belakang. Satu di kiri, satu di kanan. Lampu jauh mereka menyilaukan. Sandi menurunkan kecepatan.

“Mas Sandi?” Laura menegakkan badan.

Motor kiri memepet. Motor kanan menyilang di depan.

CIIIT!

Sandi mengerem keras. Mobil berhenti mendadak.

“Semua tetap di dalam,” ucap Sandi cepat, tenang namun tegas.

“Kunci pintu.”

Ia membuka pintu dan turun.

Dua pengendara motor itu ikut turun. Jaket lusuh. Topi ditarik rendah.

Sandi mengenali mereka seketika.

“Pengamen tadi,” gumamnya.

Salah satu menyeringai.

“Kita ketemu lagi, Bang.”

Dari balik gelap, dua pria lain muncul. Tubuh lebih besar. Wajah keras. Mereka membawa besi pendek.

Laura menutup mulut. Anisa memeluk kursi depan.

Dr. Hadijah menarik napas dalam—wajahnya tenang, namun matanya waspada.

“Masuk mobil,” kata Sandi singkat pada mereka tanpa menoleh.

“Apapun yang terjadi.”

Ia melangkah maju satu langkah.

“Bos kalian nyuruh?” tanyanya datar.

Pengamen itu tertawa kasar.

“Kami cuma mata. Yang mukul… bukan kami.”

Langkah kaki berat terdengar.

Dari balik bayangan, seorang pria bertubuh besar keluar perlahan. Usianya empat puluhan. Wajahnya penuh bekas luka lama. Tatapannya dingin—tanpa ragu.

Bos Kala Hitam.

“Anak itu,” katanya pelan,

“ternyata masih berdiri.”

Sandi menegakkan tubuh.

“Ini urusan saya. Jangan libatkan orang lain.”

Bos Kala Hitam tersenyum tipis.

“Kamu sudah terlalu jauh.”

Isyarat tangan turun.

Serangan pecah.

Dua orang maju bersamaan. Besi menyambar. Sandi menangkis satu, terkena hantaman di bahu dari sisi lain. Nyeri menjalar. Ia membalas dengan dorongan pendek ke dada—lawan terlempar, menghantam motor.

Yang lain menyerang membabi buta. Sandi mundur setengah langkah, mengatur napas—lalu masuk ke jarak dekat. Kunci siku. Bantingan. Tubuh jatuh menghantam aspal.

Pengamen tadi nekat menyerang dari belakang. Sandi berputar, menahan pergelangan, memutar—KREK. Jeritan pecah.

Tersisa dua: satu anak buah besar, dan Bos Kala Hitam sendiri.

Bos itu maju, pukulannya berat dan cepat. Sandi menangkis—terdorong mundur. Pukulan berikutnya mendarat di rusuk. Napas Sandi tercekik. Dunia menyempit.

Ia hampir jatuh—namun menahan.

Napas. Kendali.

Sandi melangkah masuk, bukan mundur. Sentuhan telapak ke bawah dada—tidak keras, tapi dalam. Bos Kala Hitam terhuyung, terkejut.

“Ilmu siapa itu?” desisnya.

Ia mengamuk, menyerang lagi. Sandi terkena dua pukulan—namun tetap berdiri. Dengan sisa tenaga, ia memanfaatkan momentum, memutar badan, dan mengirimkan dorongan dalam ke rusuk kanan.

Bos Kala Hitam terlempar, jatuh berlutut, muntah.

Anak buah terakhir mencoba kabur. Sandi menyapu kakinya. BRUK.

Semua tumbang.

Bos Kala Hitam mencoba bangkit—gagal. Ia merangkak, wajahnya pucat, napasnya tersengal.

“Cukup,” katanya serak.

“Ampun… cukup…”

Sandi berdiri di atasnya, napas teratur meski tubuhnya gemetar.

“Jangan pernah,” ucapnya dingin,

“datangi orang-orang di belakang saya.”

Ia berbalik.

Sandi kembali ke mobil. Membuka pintu.

“Sudah aman,” katanya pelan.

Laura menatapnya dengan mata basah. Anisa memeluknya erat saat Sandi duduk kembali di kursi pengemudi.

Dr. Hadijah memandang Sandi lama—dengan rasa hormat yang tak disembunyikan.

“Kau memilih melindungi,” katanya.

“Bukan membalas.”

Sandi menyalakan mesin.

“Kita pulang.”

Mobil melaju meninggalkan jalan sepi—meninggalkan lima tubuh babak belur yang mengerang di bawah lampu jalan.

Malam itu, Bos Kala Hitam jatuh sepenuhnya.

Bukan oleh senjata.

Bukan oleh dendam.

Melainkan oleh seorang mahasiswa

yang belajar menang… tanpa kehilangan nurani.

Namun jauh di dalam dada Sandi, ia tahu satu hal:

Setiap kemenangan meninggalkan demdam di hati.

Pagi itu, Bandara Internasional Kertajati terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari menembus kaca besar terminal, memantul di lantai mengilap—terang, namun dinginnya terasa sampai ke dada.

Sandi berdiri tak jauh dari pintu kedatangan internasional.

Seorang pria berjas rapi dengan wajah tegas namun hangat melangkah keluar, disambut pelukan Dr. Hadijah. Dialah suaminya—pejabat diplomatik Kedutaan Besar Palestina yang selama ini bekerja di Jakarta. Tugasnya telah selesai. Dan kini, waktunya pulang.

“Terima kasih,” ucap Dr. Hadijah pada Sandi setelah perkenalan singkat.

“Untuk semuanya.”

Sandi menunduk sopan.

“Saya hanya melakukan yang seharusnya, Dok.”

Di belakang mereka, Laura berdiri memeluk Anisa. Mata Laura sembab. Sejak pagi, senyumnya tak benar-benar sampai ke mata.

“Mas Sandi,” katanya pelan saat akhirnya berdiri di hadapannya.

“Kami harus pulang… hari ini.”

Sandi mengangguk. Senyumnya tenang—terlalu tenang untuk perpisahan seperti ini.

“Saya tahu.”

Anisa tiba-tiba memeluk kaki Sandi.

“Mas Sandi ikut ke Palestina,” pintanya polos.

Laura tertawa kecil bercampur tangis.

“Anisa…”

Sandi berlutut, menyamakan tinggi badannya.

“Nanti ya,” katanya lembut.

“Kalau Mas Sandi ke sana, kamu yang jadi pemandu.”

Anisa mengangguk mantap, seolah janji itu nyata.

Laura menarik napas panjang.

“Aku berharap,” ucapnya lirih,

“suatu hari nanti… Mas Sandi bisa datang ke negaraku. Ke tempat kami.”

Ia ragu sejenak, lalu tersenyum—senyum yang rapuh namun tulus.

“Biar aku yang bilang… terima kasih.”

Sandi menatapnya hangat.

“Hati-hati di jalan,” katanya singkat.

“Jaga Anisa.”

Tak ada janji besar.

Tak ada kata cinta.

Hanya keheningan yang saling memahami.

Panggilan boarding terdengar.

Dr. Hadijah menggenggam tangan Laura dan Anisa. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi pada Sandi.

“Dunia ini sempit,” katanya pelan.

“Orang-orang yang ditakdirkan bertemu… akan bertemu lagi.”

Sandi tersenyum—kali ini lebih dalam.

“InshaAllah.”

Mereka berjalan menjauh.

Laura menoleh sekali—melambaikan tangan.

Sandi membalasnya dengan anggukan kecil.

Saat bayangan mereka menghilang di balik pintu keberangkatan, Amelia melangkah mendekat.

Ia memperhatikan wajah Sandi—tenang, tapi menyimpan sesuatu.

“Mereka sudah pergi,” ucap Amelia pelan.

Sandi mengangguk.

“Iya.”

Ada jeda. Lalu Amelia tersenyum—bukan senyum kemenangan, melainkan lega.

“Semoga mereka selamat sampai tujuan,” katanya tulus.

“Dan… semoga kamu bisa hidup lebih tenang sekarang.”

Sandi menoleh.

“Kamu senang?”

Amelia menghela napas, lalu mengangguk.

“Aku berharap,” katanya jujur,

“kita bisa lebih dekat… tanpa bayangan apa pun.”

Sandi tidak langsung menjawab. Ia menatap langit di balik kaca bandara—biru, luas, dan penuh kemungkinan.

“Pelan-pelan,” katanya akhirnya.

“Kita lihat ke mana jalan membawa.”

Amelia tersenyum.

Itu cukup—untuk hari itu.

Di langit yang sama, sebuah pesawat lepas landas menuju barat.

Membawa pergi tawa Anisa.

Membawa harapan Laura.

Dan meninggalkan Sandi—dengan ruang kosong yang tak lagi terasa mengancam.

Perpisahan itu bukan akhir.

Ia hanya titik koma

dalam kisah yang masih panjang.

selalu meninggalkan bayangan baru.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!