Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Seni Perang Orang Lemah dan Racun di Dalam Madu
Bab 12: Seni Perang Orang Lemah dan Racun di Dalam Madu
H-3 Festival Bulan Purnama.
Hutan belakang Perguruan Lembah Kabut telah berubah menjadi medan penyiksaan baru bagi murid-murid Kelas Awan. Jika sebelumnya mereka disuruh memanjat tebing untuk melatih fisik, kini mereka diajarkan cara menggunakan fisik itu untuk menghancurkan musuh.
Tapi bukan dengan jurus indah.
"Salah!" bentak Bara.
PLAK!
Sebuah ranting kayu memukul punggung tangan Jaka.
"Aduh, Mas Bara! Sakit!" keluh Jaka sambil mengusap tangannya yang merah.
"Kau menyerang terlalu jujur," Bara berdiri di depan barisan sepuluh murid itu. Wajahnya serius, memegang sebuah tongkat rotan. "Kau mengepalkan tangan, menariknya ke belakang, berteriak, baru memukul. Musuhmu sudah sempat minum kopi dan menulis surat wasiat sebelum pukulanmu sampai."
Bara menunjuk ke arah boneka jerami di depannya.
"Dunia persilatan penuh dengan orang munafik yang berteriak soal kehormatan," ucap Bara dingin. "Tapi bagi kita—orang lemah, orang buangan—kehormatan adalah jalan pintas menuju kuburan. Kita tidak bertarung untuk dipuji. Kita bertarung untuk Pulang dengan Selamat."
Bara melempar tongkat rotannya ke tanah.
"Jaka, serang aku. Gunakan cara apapun. Gigit, cakar, jambak. Lakukan."
Jaka ragu-ragu. "Tapi Mas..."
"LAKUKAN!" aura membunuh Bara meledak sesaat, membuat burung-burung di pohon kabur ketakutan.
Terkejut dan panik, Jaka menerjang maju. Dia mencoba memeluk pinggang Bara untuk membantingnya.
Bara tidak menghindar. Saat Jaka mendekat, Bara menjatuhkan koin tembaga dari tangannya ke tanah.
Tring.
Suara itu mengalihkan perhatian mata Jaka seperseribu detik ke bawah.
Di saat itulah, jari Bara menyentil mata Jaka (tidak keras, hanya kaget), lalu kakinya menginjak jari kaki Jaka dengan keras.
"Argh!" Jaka memegang matanya yang berair dan kakinya yang sakit. Konsentrasinya buyar total. Bara dengan santai menyapu kaki tumpuan Jaka hingga si gemuk itu jatuh tersungkur memakan tanah.
"Pelajaran pertama," kata Bara sambil menginjak punggung Jaka pelan. "Distraksi. Manusia adalah makhluk visual. Gerakan kecil, suara, atau cahaya bisa memecah fokus Prana mereka. Saat fokus pecah, pertahanan baja sekalipun menjadi bubur."
Murid-murid lain menelan ludah. Ini bukan ajaran perguruan. Ini ajaran preman jalanan.
"Kirana," panggil Bara.
Gadis itu maju, wajahnya tegang tapi matanya bertekad.
Bara mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah kantong kulit kecil dan... ketapel?
Bukan. Itu bukan ketapel kayu biasa. Itu terbuat dari tulang paha serigala yang dipoles, dengan karet pelontar yang terbuat dari urat Babi Hutan Cula Besi.
"Kau tidak punya bakat memukul," kata Bara jujur. "Tapi matamu tajam. Netra Batin-mu bisa melihat aliran energi musuh."
Bara menyerahkan kantong itu.
"Di dalam sini ada bola-bola tanah liat. Isinya bukan batu, tapi campuran bubuk merica, serbuk gatal dari Ulat Bulu Api, dan sedikit mesiu."
Kirana membelalak. "I-ini senjata curang, Mas..."
"Ini senjata pendukung," koreksi Bara. "Tugasmu di arena nanti bukan mengalahkan musuh. Tugasmu adalah membuat mereka buta, bersin, dan gatal-gatal sampai mereka ingin mati saja. Bisakah kau melakukannya?"
Kirana membayangkan wajah angkuh murid-murid Kelas Surya yang sering menghinanya. Dia membayangkan Bagas yang menendang soto Jaka.
Tangannya mengepal menggenggam ketapel itu.
"Bisa, Mas. Aku akan membidik lubang hidung mereka."
Bara tersenyum tipis. "Bagus. Itu semangat yang kucari."
Sore itu, Bara membagikan "mainan" yang dia buat dari sisa Wesi Winge dan bahan-bahan selundupan Nimas Sekar.
Jaka mendapatkan sepasang Sarung Tangan Besi (Knuckle) yang permukaannya kasar dan bergerigi tumpul. Fungsinya bukan untuk memotong, tapi untuk menghancurkan tulang dan senjata musuh (Weapon Breaker).
Sutejo, murid kurus yang larinya cepat, mendapatkan sepatu dengan pelat besi di ujungnya dan pisau tersembunyi di tumit.
"Ingat," Bara menatap pasukannya yang kini terlihat lebih mirip gerombolan bandit daripada pendekar. "Di Pencak Dor nanti, aturan utamanya adalah: Jangan Mati. Sisanya urusanku."
Di sisi lain perguruan yang mewah, Rara Anjani sedang mengamati sesi latihan tanding (Sparring) di halaman berlapis marmer.
Suasananya brutal.
Tiga "murid pindahan" baru yang direkomendasikan oleh Ki Rangga sedang mendominasi arena. Mereka bertubuh kekar, wajah penuh bekas luka, dan mata yang merah karena sering mengunyah Sirih Gila (daun stimulan ringan).
Salah satu dari mereka, pria botak bernama Darto (nama samaran), sedang melawan murid senior Kelas Surya.
"Hiaaa!" Murid senior itu menebas dengan pedang kayu latihan.
Darto tidak menangkis. Dia membiarkan pedang kayu itu memukul bahunya.
Brak!
Pedang kayu itu patah. Bahu Darto sekeras batu karang.
Darto menyeringai, memperlihatkan gigi yang dikikir runcing. Dengan gerakan cepat, dia menangkap leher murid senior itu dan mengangkatnya ke udara.
"Lemah," desis Darto. "Anak-anak kota terlalu lembek."
Dia melemparkan murid itu ke tembok pagar. Gedebuk! Murid itu pingsan dengan hidung patah.
"Cukup!" teriak instruktur. "Darto, kau menang! Tapi kendalikan tenagamu!"
Darto meludah ke tanah. "Maaf, Guru. Tanganku gatal kalau lawannya terlalu pelan."
Anjani, yang duduk di pinggir lapangan sambil mengipasi diri, merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
Itu bukan gaya bertarung murid perguruan, analisis Anjani dalam hati. Itu gaya pembunuh bayaran. Efisien, brutal, dan menikmati rasa sakit.
Darto berjalan melewati Anjani. Dia berhenti sejenak, melirik Anjani dengan tatapan melecehkan yang disembunyikan.
"Nimas Anjani," sapa Darto dengan suara dibuat-buat sopan. "Kudengar kau membunuh ular raksasa? Aku jadi ingin mencoba... seberapa licin tubuhmu saat bertarung."
Dua teman Darto di belakang terkekeh menjijikkan.
Anjani menutup kipasnya perlahan.
Sret.
Suhu udara di sekitar Darto turun mendadak. Embun di rumput membeku menjadi kristal tajam.
"Jaga lidahmu, Murid Baru," ucap Anjani tanpa menoleh, matanya tetap menatap lurus ke depan. "Atau aku akan membekukannya sampai kau tidak bisa bicara seumur hidup."
Darto merasakan tekanan Prana es yang kuat menekan dadanya. Dia mundur selangkah, terkejut dengan densitas aura Anjani.
"Heh... galak," Darto mundur sambil menyeringai. "Kita lihat saja nanti di arena."
Setelah mereka pergi, Anjani segera berdiri. Dia berjalan cepat menuju perpustakaan. Dia butuh informasi. Wajah Darto terasa familiar. Dia pernah melihat sketsa wajah itu di papan buronan Kekaisaran saat dia berkunjung ke kantor ayahnya.
Darto... alias Si Kapak Jagal. Mantan narapidana Nusa Kambangan yang kabur. Spesialisasi: Memotong anggota tubuh korban.
"Ki Rangga..." Anjani mengepalkan tangannya. "Kau memasukkan serigala ke dalam kandang domba hanya untuk membunuh satu orang? Kau sudah gila."
Anjani harus memperingatkan Bara.
Malam harinya, di gudang penyimpanan kayu bakar yang sepi.
Bara bersandar di tumpukan kayu, memainkan Kujang Si Bungsu di tangannya.
"Kau terlambat, Nona Angin," kata Bara.
Nimas Sekar muncul dari atap, mendarat tanpa suara. Wajahnya terlihat cemas.
"Aku harus memutar jalan. Patroli malam diperketat," kata Sekar sambil menyerahkan sebuah bungkusan kain hitam. "Ini pesananmu. Bubuk mesiu kualitas terbaik dari Gudang Mesiu Majapahit. Dan racun Getah Jarak yang sudah dimurnikan."
Bara menerima bungkusan itu, mencium baunya sekilas. "Bagus. Efeknya?"
"Lumpuh total selama 2 jam. Tidak mematikan, tapi rasanya seperti seluruh tubuh dikerubungi semut api," jelas Sekar. "Kau jahat sekali, Bara."
"Efektif," koreksi Bara. "Ada kabar tentang Darto dan kawan-kawannya?"
"Ya. Mereka adalah Trio Kapak Merah. Darto, Gimin, dan Suro. Semuanya tingkat Bumi Pala Awal. Mereka menggunakan teknik Raga Besi Hitam—kulit mereka kebal senjata tajam biasa."
Bara mengangguk. "Kebal senjata tajam... berarti harus dipukul dengan benda tumpul atau diserang bagian dalamnya."
"Bara," Sekar memegang lengan Bara. "Anjani tahu. Dia tadi terlihat menyelidiki arsip buronan di perpustakaan. Dia mungkin akan mencoba menghentikan pertandingan."
"Jangan biarkan dia menghentikannya," kata Bara tegas.
"Kenapa?! Itu kesempatanmu untuk selamat!"
"Kalau pertandingan batal, Ki Rangga akan mencari cara lain yang lebih licik. Lebih baik aku menghadapi musuh yang bisa kulihat di atas panggung daripada musuh yang menyerang saat aku tidur."
Bara menatap Sekar dalam.
"Tugasmu satu, Sekar. Jaga punggung Jaka dan yang lainnya dari kejauhan. Jika Trio Kapak itu mencoba membunuh mereka saat wasit tidak melihat... bunuh Trio itu."
Sekar terkejut. "Kau menyuruhku membunuh di depan umum?"
"Kau dari Wangsa Bayu Aji. Membunuh tanpa terlihat adalah keahlianmu, kan?" Bara tersenyum miring. "Anggap saja latihan ujian kenaikan pangkatmu."
Sekar menghela napas pasrah. Orang ini benar-benar gila. Dia memperlakukan pembunuh bayaran elit seperti penjaga keamanan pribadi.
"Baik. Tapi bayarannya mahal."
"Nanti kukasih kepala Darto sebagai bonus," janji Bara.
Malam purnama tiba.
Alun-alun Perguruan Lembah Kabut telah disulap menjadi arena pertarungan yang megah. Sebuah panggung bambu setinggi dua meter didirikan di tengah, dikelilingi oleh obor-obor raksasa.
Ribuan penonton memadati tribun. Bukan hanya murid, tapi juga penduduk desa dan petaruh judi yang datang dari kota. Taruhan malam ini besar: 1 banding 50 untuk kemenangan Kelas Awan.
Di tribun VIP, Ki Rangga duduk bersama para tetua lainnya. Dia tersenyum puas melihat tim Kelas Surya yang berbaris di sisi kanan panggung. Mereka memakai zirah emas mengkilap, dipimpin oleh Darto yang menyembunyikan seringainya di balik helm.
"Hadirin sekalian!" pembawa acara berteriak, suaranya diperkuat tenaga dalam. "Malam ini kita saksikan sejarah! Pertarungan kehormatan antara Kelas Surya melawan penantang nekat dari Kelas Awan!"
Sorak sorai membahana. Kebanyakan mengejek Kelas Awan.
"Turun saja woy! Nanti nangis!"
"Siapkan tandu mayat!"
Dari sisi kiri panggung, Tim Kelas Awan naik.
Mereka tidak memakai zirah emas. Mereka memakai pakaian hitam sederhana yang terbuat dari kain karung goni tebal (seratnya kuat menahan sabetan). Di lengan dan kaki mereka, terpasang pelindung kulit aneh yang terlihat kasar.
Bara berjalan paling depan. Dia tidak membawa senjata apapun yang terlihat. Wajahnya tenang, matanya menatap Darto di seberang panggung.
"Aturan main!" teriak wasit. "Tim Eliminasi 5 lawan 5. Menang jika semua anggota lawan jatuh dari panggung atau tidak bisa bangkit. Senjata diperbolehkan. Membunuh dilarang (teorinya). MULAI!"
GONG!
Suara gong belum habis bergema ketika Darto langsung melompat maju.
"MATI KAU, BARA!"
Darto mengayunkan kapak gandanya yang besar, mengincar kepala Bara. Kecepatannya mengerikan untuk ukuran tubuh sebesar itu.
Penonton menjerit.
Bara tidak bergerak. Dia berdiri diam, tangan di dalam saku.
Tepat saat kapak itu berjarak satu jengkal dari hidung Bara...
TING!
Sebuah benda kecil melesat dari belakang Bara, menghantam mata Darto.
Itu kelereng tanah liat Kirana.
"ARGH! MATAKU!" Darto berteriak kaget, kapaknya melenceng menghantam lantai bambu hingga pecah. Serbuk merica meledak di wajahnya.
"Sekarang!" teriak Bara.
Jaka maju menyeruduk seperti banteng. Dia tidak memukul Darto, tapi menabrak pinggang Darto dengan bahu.
Teknik Gabungan: Buta dan Seruduk.
Darto yang sedang buta sesaat kehilangan keseimbangan. Tubuh besarnya terhuyung ke belakang.
Sutejo (si kurus) meluncur di lantai, kakinya menyapu engkel Darto dengan sepatu besinya.
KRAK.
Bunyi tulang engkel bergeser.
"Sialan!" teman Darto, Gimin, maju membantu. "Curang! Mereka main kotor!"
"Serang semuanya!" perintah Bara.
Lima murid Kelas Awan bergerak dalam formasi aneh. Mereka tidak berduel 1 lawan 1. Mereka mengeroyok. Tiga orang menahan satu musuh, memukul titik vital, melempar pasir, menarik celana—apapun yang bisa dilakukan.
Penonton ternganga. Ini bukan Pencak Silat yang indah. Ini tawuran yang terorganisir.
Di tribun VIP, senyum Ki Rangga menghilang. "Apa-apaan gaya bertarung barbar itu?!"
Ki Awan, yang duduk di atap tribun sambil minum arak, tertawa terbahak-bahak. "Itu namanya Jurus Bertahan Hidup, Rangga! Di medan perang, tidak ada wasit yang memberimu kartu merah kalau kau nendang biji musuh!"
Di atas panggung, Darto mengamuk. Matanya merah berair karena merica. Dia mengalirkan Prana Bumi Pala-nya. Kulitnya berubah menjadi hitam legam (Raga Besi).
"CUKUP MAIN-MAINNYA!" Darto menghentakkan kakinya. Gelombang kejut melempar Jaka dan Sutejo.
Darto menatap Bara yang masih berdiri santai.
"Kau..." Darto membuang kapaknya, lalu mencabut pisau belati bergerigi dari balik punggungnya. Aura pembunuh (Killing Intent) yang asli keluar. "Aku akan mengulitimu hidup-hidup di sini."
Bara mengeluarkan tangan dari sakunya. Dia memakai sarung tangan kain hitam biasa.
"Kirana, Jaka, mundur," perintah Bara pelan. "Bawa anak buahnya minggir. Biar aku urus si botak ini."
Jaka mengangguk, menyeret teman-temannya mundur membentuk lingkaran, membiarkan Bara dan Darto di tengah arena.
Bara menatap Darto. "Kau punya kulit besi, ya? Kebal senjata tajam?"
Bara meremas tangannya.
"Mari kita lihat... apakah organ dalammu juga terbuat dari besi."
Bara memasang kuda-kuda. Tapi bukan kuda-kuda silat biasa. Kakinya terbuka lebar, tangannya terbuka seperti cakar harimau, tapi rileks.
Gaya Harimau Pembelah Jantung (Tiger Claw Heart-Breaker).
Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 12
Sirih Gila: Tanaman fiksi yang memiliki efek stimulan seperti narkoba jenis amfetamin. Meningkatkan agresivitas dan menahan rasa sakit, tapi membuat pengguna tidak bisa berpikir jernih.
Raga Besi Hitam: Teknik pengerasan kulit tingkat lanjut. Lebih kuat dari Raga Besi biasa karena memadatkan Prana di bawah lapisan dermis. Kelemahannya: sendi menjadi sedikit kaku.
Kelereng Tanah Liat (Pelet): Senjata ninja/shinobi klasik (Metsubushi) yang diadaptasi dengan kearifan lokal. Menggunakan bahan iritan alami.