NovelToon NovelToon
Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: hanisanisa_

Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.

Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.

Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Dimas benar-benar tak bergerak sedikitpun agar tidak mengganggu tidur Melia yang begitu nyenyak bertumpu pada lengan nya. 17 jam bukan waktu yang singkat untuk perjalanan jauh itu.

Hingga akhirnya pesawat pun landing dengan selamat. Keadaan Indonesia begitu terang karena tepat di jam 1 siang mereka datang, berbeda dengan Belanda yang masih pagi.

Dimas segera meninggalkan koper milik nya dan milik Melia di dua sopir yang sudah menunggu di parkiran bandara.

"Bawa langsung aja koper nya kerumah Pak, saya dengan istri saya nyusul ke acara" ucap Dimas dengan nada khawatir langsung masuk ke dalam satu mobil yang di bawa lagi oleh sopir.

Melia masih berada di gendongan Dimas dengan terlelap, suhu tubuh nya masih tak stabil, membuat Dimas makin panik.

Melia jarang sakit, tapi sekali sakit maka akan susah sembuh nya dan tak bisa di sembuhkan dalam waktu singkat.

"Kakak" lirih Melia saat ia sadar diturunkan di kursi samping pengemudi.

"Iya Sayang, Kakak antar kamu ke rumah sakit dulu ya" ucap Dimas lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan dengan kecepatan penuh ke rumah sakit terdekat.

Sampai di rumah sakit, Melia langsung di tangani oleh dokter yang berjaga.

Tak butuh waktu lama, dokter itu segera memberi informasi pada Dimas jika Melia demam tinggi dan kalau saja telat satu menit lagi mungkin akan mengalami kejang-kejang.

Dimas akhirnya bisa bernapas lega, bahkan lutut nya sudah lemas karena tegang sejak tadi menunggu hasil.

Melia masih belum beradaptasi dengan cuaca ekstrem yang begitu dingin, membuat tubuh nya kurang bekerja maksimal untuk menghangatkan diri sendiri.

Drrtt drrtt

Hp Dimas yang sejak tadi bergetar baru Dimas sadari setelah ia sudah bisa duduk di kursi tunggu pasien.

"Halo Ma" Dimas memulai dengan helaan napas berat dan panjang.

"Kalian udah di Indonesia? Kenapa lama?" tanya Emelin dengan tak sabaran.

Dimas kembali menghela napas. "Lia demam Ma, jadi ku bawa ke rumah sakit dulu. Kalau udah lumayan mendingan, ku susul ke hotel" jawab Dimas membuat suara Gina ikut terdengar dengan nada panik.

"Lia kenapa Dim? Yaampun, di rumah sakit mana?"

"Dekat bandara, cuaca di Belanda memang belum cocok untuk bulan liburan" jelas Dimas terdengar helaan napas berat dari Gina dan Emelin.

"Yaudah, kalau udah turun demam nya langsung ke hotel aja, baju kalian udah kami bawa kok"

"Oke Tante, maaf ngerepotin-"

Tut

Dimas segera memasukkan hp nya saat dokter kembali menghampiri nya.

Dokter itu mengatakan Melia sudah bisa di jenguk, Dimas pun sigap masuk dan menemani Melia istirahat.

Sedangkan Gina dan Emelin nampak kesal karena Dimas langsung mematikan telepon sepihak padahal Dimas belum selesai ngomong.

"Kebiasaan suka tutup telepon duluan" keluh Emelin lalu melirik ke arah Gina yang masih nampak khawatir dan cemas.

"Ada Dimas, Gin. Yakin kok kalau Lia aman" ucap Emelin memberi tepukan di pundak agar Gina tak memikirkan Melia. Gina mengangguk pelan.

...****************...

Hingga jam menunjukkan pukul 2 pagi, baru lah Melia membuka mata nya dan mengernyit heran, lagi-lagi yang pertama kali di lihat nya ialah cat berwarna putih susu di tambah bau obat yang menyengat.

Saat hendak menggerakkan tangan nya yang terasa berat pun tersadar jika tangan nya di genggam oleh Dimas.

"Kak Dim" lirih Melia mencoba membangunkan Dimas dengan suara serak nya.

Dimas samar-samar mendengar panggilan Melia pun langsung terbangun dan mata nya yang awal nya sayu kini terbuka lebar.

"Mau apa Sayang?" tanya Dimas segera berdiri dari duduk nya agar memudahkan nya mengambil sesuatu.

"Haus" jawab Melia berbisik. Dimas langsung mengambilkan botol minum beserta sedotan nya untuk Melia.

"Aku.. Pingsan selama itu?" tanya Melia usai menuntaskan dahaga nya yang terasa begitu kering di tenggorokan.

Dimas mengangguk mencoba menyembunyikan mata ngantuk nya.

"Demam kamu udah turun, mau langsung pulang?" tanya Dimas membuat Melia mengernyit heran tapi tetap mengangguk.

Mana ia mau berlama-lama di rumah sakit.

"Kita nggak pulang kerumah" ujar Dimas sembari membantu Melia untuk duduk. Perawat pun datang untuk melepas infus yang terpasang di tangan lainnya.

"Terus kemana?" tanya Melia menatap lekat ke arah Dimas yang tiba-tiba memiliki mata sipit.

"Ke hotel, para orang tua udah nunggu disana" jawab Dimas selingi nguap yang tak bisa ia tahan lagi.

Melia mengernyit kemudian menyadari, siang nanti akan di adakan acara pernikahan sakral Dimas yang entah dengan perempuan mana.

"Pengantin perempuan Kakak kok nggak pernah kelihatan sih? Dia udah datang juga belum?" tanya Melia saat perawat itu pergi.

Dimas menggaruk alis nya yang tidak gatal, inikah saat nya menjelaskan pada Melia?

"Nanti kamu tau sendiri" jawab Dimas lalu mengangkat Melia untuk turun dari brangkar.

Melia berdecak. "Tau nya kapan? Lama banget perasaan di rahasiain?" protes Melia lalu berjalan lebih dulu daripada Dimas.

Tak lama, Melia menyamakan langkah kaki Dimas yang sedikit lambat. "Kakak masih ngantuk? Kuat nyetir nggak?" tanya Melia dengan kepala mendongak menatap Dimas, ia mengapit lengan Dimas agar Dimas tak oleng.

"Sebenarnya nggak, tapi nanti pelan-pelan aja kok biar tetap aman" jawab Dimas lalu berhenti di wastafel yang tersedia di dekat pintu keluar masuk rumah sakit.

"Biar aku aja yang nyetir, aku udah 24 jam lebih tidur, kayak putri tidur aja aku, jadi mata ku pun sekarang segar" usul Melia membuat Dimas berpikir kemudian mengangguk sebagai jawaban.

"Tapi tetap hati-hati, dan jangan ngebut" Dimas tak ingin mereka kenapa-kenapa di jalan akibat ngebut, walau jalanan sepi.

"Iya Kak, aman itu" balas Melia segera menengadah tangan meminta kunci mobil.

"Hotel mana?" tanya Melia saat Dimas masuk ke dalam mobil dan bersandar dengan helaan napas berat.

"Hotel For Ever" jawab Dimas di angguki Melia yang segera tancap gas dengan mata segar dan badan yang lebih fresh setelah di infus.

Hanya butuh satu jam dari rumah sakit dekat bandara ke hotel yang di tuju, Melia pun masih belum mengantuk, berbeda dengan Dimas yang sudah terlelap begitu nyenyak.

"Kak, bangun. Udah sampai" ucap Melia sambil menggoyangkan lengan Dimas dengan pelan.

Dimas bergumam tak jelas, membuat Melia mengernyit lalu berusaha membangunkan Dimas lagi.

"Kak, udah sampai hotel ini" bisik Melia tepat di samping telinga Dimas.

Dimas segera membuka mata nya dan menatap lekat ke arah Melia dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.

Cup

Melia tersentak saat bibir nya di cium oleh Dimas tanpa aba-aba.

"Kak-"

"Sstt, ini bukti siapa perempuan yang akan ku nikahi" bisik Dimas lalu kembali mendekati bibir Melia.

Lumatan kecil Dimas tunjukkan, membuat Melia yang masih mencerna hanya bisa pasrah dan memejamkan mata nya menikmati gerakan tipis dari bibir Dimas.

1
ハニサ
yg smpt bca komen aku, baca ya🙏

buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭
ハニサ: klau bsa rebut peringkat ku jg sih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!