NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:716
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Dani menghubungi Ryan. Dengan buru-buru Ryan mengangkat telepon tersebut. Karena kebetulan Maeta sedang tak berada di apartemen mewah mereka.

"Gimana? Apa kata Naina?" Tanya Ryan to the poin.

"Naina gak ada di tempat. Tadi aku tanya ke sebelah apartemen lu, katanya dia tadi liat Naina pergi keluar. Kayaknya berbelanja." Jelas Dani.

"Jadi lu belum tahu apa penyebab Naina tak mengaktifkan ponselnya?" Ryan kembali bertanya, terdengar jelas ada rasa khawatir dari nada bicara Ryan.

"Mungkin hp-nya rusak, atau dia salah mengoperasikan jadi gak bisa di pake apa-apa dan akhirnya mati." Ucap Dani asal namun terkesan logis.

"Bisa jadi, Naina termasuk gaptek soal ponsel. Lu besok coba datang dan tanyakan lagi ya." Pinta Ryan.

"Duh, besok gak bisa, Yan. Lu tahu sendiri 'kan, deadline project kita itu besok tgl 3. Besok gue harus rapat dan presentasi di gedung pemerintah." Jelas Dani.

"Oh, iya. Sorry ya gue ngerepotin lu. Tolong handle dulu. Mungkin minggu depan gue balik."

"Kalem saja. Gue bisa atasi. Kalo gitu gue cabut, ya. Capek gue mau istirahat."

"Oke, thanks, Dan. Hati-hati, ya."

Sambungan pun terputus. Ryan masih tak bisa tenang. Ia rindu berat pada putrinya. Ryan memutar kembali voice note yang di kirimkan Naina. Isinya suara Nayla yang mengatakan "Ayah cepat pulang, Nay kangen." atau sebuah pesan celotehan, "Ayah, Nay sayang Ayah. Ayah sayang Nay tak?" dan beberapa voice note yang berisi suara Nayla yang cempreng dan imut.

Dalam hati kecilnya, Ryan pun rindu pada Naina. Ia rindu masakan Naina, ia rindu ocehan Naina yang menanyakan keinginan Ryan atau berceloteh hal-hal random.

Di sini sepi, tak ada suasana keluarga. Ternyata keluarga yang Ryan inginkan adalah keluarga yang hangat seperti rumah yang ia ciptakan dan Naina hiasi. Hangat dan penuh sayang.

Ryan rindu Naina, Ryan juga rindu putrinya. Rindu itu semakin membelenggu dirinya. Menyiksa batinnya. Ryan tak tahan. Ia ingin berlari dan menghampiri Naina dan Nayla.

Waktu terus berganti, tak terasa satu minggu telah berlalu. Ryan hanya di jadikan pajangan dan alat untuk memuaskan keinginan Maeta. Tak pernah sedikitpun Maeta menghargai usaha Ryan. Kini Ryan merasakan kehadirannya tak di inginkan oleh istrinya. Serta cinta yang ia agungkan selama 10 tahun tetap pada kenyataanya, yaitu bertepuk sebelah tangan.

Maeta lebih senang dengan dunianya sendiri, tidak menghiraukan Ryan. Tak menganggap Ryan ada. Bahkan mengabaikan kewajiban seorang istri yang selalu melayani suami. Jika di bandingkan dengan Naina, Maeta jelas bukan sosok istri sejati.

Tapi Ryan seharusnya paham, menikah dengan wanita karir dan dari keluarga terpandang, pasti memiliki pola pikir yang berbeda dengan wanita biasa saja dan lebih mengutamakan keluarga.

Kini menyesal pun tak ada artinya. Naina sudah tak lagi ingin bersama Ryan. Bahkan jika Ryan pulang pun, ia sudah tak bisa mendapati keberadaan Naina dan putrinya. Mereka hilang tanpa jejak.

Hampir satu bulan Ryan berada di Paris, menanggapi sifat Maeta yang kadang berubah-ubah. Ada kalanya Maeta manja dan membuat Ryan luluh, ada kalanya mereka bertengkar dan Maeta sering memaki.

Hati Ryan sakit, ia merasa tak di hargai. Sebagai seorang suami yang mestinya di hormati, ini malah di bentak dan di maki.

"Baik, lu urus semua urusan lu. Gue pergi!" Amuk Ryan dan ia mengemasi pakaiannya.

"Pergi sana, jangan pernah kau hubungi aku." Maeta tak kalah meninggikan suaranya.

"Bodo amat!!! Gue gak peduli. Gue capek dengan sikap lu yang aneh."

Ryan buru-buru mengemasi pakaiannya dan cabut dari apartemen itu. Ia langsung menuju bandara dan memesan tiket. Otak Ryan dipaksa berpikir jernih namun hati masih memanas.

Apakah ini hasil dari penantiannya atau karma karena mengabaikan orang yang telah ada? Ryan merasa bersalah pada Naina dan putrinya. Harusnya ia mengikuti kata hatinya untuk tetap mempertahankan bahtera yang ada dari pada mengejar cinta yang belum pasti.

Berjam-jam menunggu, dan seharian dalam perjalanan udara, akhirnya Ryan tiba di tanah air. Belum selesai sampai di situ penderitaan Ryan. Baru saja ia sampai di bandara dan mengaktifkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Terpampang jelas nama Ayahnya.

"Iya, Pa." Sapa Ryan sedikit enggan.

Ryan tahu bakal kemana arah percakapan ini, pasti Maeta mengadu yang tidak-tidak.

"Apa-apa kamu ini, kamu sudah bukan anak kecil Ryan. Kenapa kamu tak bisa menghargai istri mu? Kamu maki-maki dia? Dimana harga dirimu sebagai seorang pria?"

Ryan hanya bisa terdiam dan mendengar setiap ocehan Ayahnya itu. Setelah panjang lebar Pak Arif berkata ujung-ujungnya menyuruh Ryan untuk pulang ke rumahnya.

Ryan menghela nafas kecewa. Gagal lagi untuk bertemu putrinya. Entah sampai kapan drama hidup ini berjalan. Selalu saja ada gebrakan aneh untuk Ryan.

...****************...

Naina mulai menata tempat tinggalnya. Di bantu oleh beberapa anak buah Pak Aziz. Naina benar-benar terbantu. Semua alat dan etalase makanan itu di beri oleh Pak Aziz. Naina sangat tertolong dan berhutang budi.

"Terimakasih banyak Bapak-bapak, ini kopinya siapa tahu Bapak-bapak ini capek." Ujar Naina ramah pada anggota TNI yang sedang libur bertugas itu.

"Kak, kamu ini masih muda. Masa di panggil Bapak." Ucap seorang prajurit dengan logat khas Batak.

Naina tersenyum, "bagaimana baiknya saya memanggil anda?"

"Panggil lah kami Abang."

Gelak tawa pun pecah. Naina ikut tertawa melihat prajurit yang dulu ia anggap seram ternyata bisa tertawa seperti orang-orang pada umumnya.

Naina dulu beranggapan para anggota TNI itu seram dan tak pernah tersenyum. Bawaannya serius dan tegas. Naina melihat itu karena Pak Aziz yang tak pernah tertawa.

"Sebagai gantinya tiap pagi aku akan mengirim makanan untuk Abang-abang ini." Ucap Naina asal.

"Serius Mbak? Kami satu batalyon banyak, apa Mbak sanggup?" Tanya anggota yang lainnya.

"Gak satu batalyon juga, Bang. Hanya 4 Abang ini yang bantu saya hari ini." Jelas Naina.

"Ya, itu nantinya bakal ada kecemburuan sosial Mbak."

Naina bingung menjelaskannya. Naina tak ingin memiliki hutang budi.

"Kasih saja ke rumah saya, Na." Teriak wanita berambut pendek dan berbadan tegap.

"Maya." Seru semua orang.

"Lah, kalian 'kan gak mau, udah paling adil kirim ke rumah saya."

"Enak saja, kita loh yang capek."

"Iya makannya di rumah saya, gitu maksudnya, Om Ardi." Ejek Maya.

"Om, Om, Bapak kau tua." Ucap prajurit yang bernama Ardi.

"Hey, aku aduin Bapakku, ya?"

"Eh, jangan gitu lah Dek. Abang cuma bercanda."

Naina hanya bisa terdiam melihat keakraban mereka. Naina sedikit iri pada Maya. Hidupnya selalu senang. Mungkin karena Maya tipe orang yang mudah bergaul dan pandai dalam bersosial.

"Na, ini aku bawa beberapa pakaian buat anakmu. Meski bekas tapi masih layak. Maaf ya, belum bisa belikan pakaian layak. Ini bekas Zahra, ponakan ku."

Maya menyerah satu tas besar yang berisi pakaian yang masih layak pakai.

"Aku selalu ngerepotin kamu, May. Makasih banyak, ya." Naina menangis melihat pakaian yang bagus dan cantik.

"Bilang makasih sama Tante Maya." Pinta Naina pada Nayla.

"Makasih Tante."

"Sama-sama sayang."

Maya yang merupakan anggota Kowad jelas saja badannya tegap dan sangat ideal. Cita-cita Maya tercapai dapat menjadi abdi negara seperti Ayahnya.

Naina benar-benar iri dengan sahabatnya yang bisa mewujudkan setiap impiannya. Naina malu dengan dirinya yang lemah dan mudah di tipu. Naina yang menjadi budak cinta. Dan berakhir menjadi seorang janda. Sangat miris.

1
Android Tv
Sakit banget aslinya kalo jadi Naina.
Mifhara Dewi: terimakasih sudah mampir kak
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army
aku mampir nih💜
Mifhara Dewi: makasih Kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!