NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinding Es yang Tinggi

Pintu ruang kerja Arash tertutup dengan bantingan yang lebih keras dari biasanya. Suaranya bergema, memantul di antara dinding-dinding kaca yang dingin. Arash melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Raisa, lalu berjalan menuju mejanya dengan langkah yang menunjukkan kemarahan tertahan.

Raisa mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Ia berdiri di tengah ruangan, dadanya naik-turun karena amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu. "Apa yang kau lakukan, Arash? Kau mempermalukanku di depan semua orang! Kau menghinaku di rapat, dan sekarang kau menyeretku seperti tawanan!"

Arash berbalik, matanya berkilat tajam. "Mempermalukanmu? Justru kau yang mempermalukanku! Berapa kali harus kukatakan padamu untuk menjaga jarak dari pria itu?"

"Dia hanya rekan kerja, Arash! Pak Vino hanya berusaha memberikan segelas air karena aku hampir pingsan akibat kritikan pedasmu yang tidak manusiawi itu!" Raisa balas berteriak, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai jatuh membasahi pipinya.

"Pak Vino, Pak Vino ... kau menyebut namanya seolah dia adalah pahlawanmu," Arash mendengus sinis, ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Raisa terpojok ke arah meja kerja. "Kau pikir aku bodoh? Aku melihat bagaimana dia menatapmu. Aku melihat bagaimana kau tersenyum padanya setelah aku memberimu pelajaran di ruang rapat. Apa kau sedang mencoba membalas dendam padaku dengan mendekatinya?"

Raisa tertawa pahit di sela tangisnya. "Balas dendam? Kau terlalu tinggi hati, Arash. Tidak semua hal di dunia ini berputar di sekitarmu. Aku hanya manusia yang butuh sedikit simpati setelah kau injak-injak harga diriku selama dua jam di depan para komisaris!"

Arash terdiam sejenak, rahangnya mengeras mendengar kata 'injak-injak'. Namun, ego dan rasa posesif yang tak beralasan itu kembali menguasainya. Ia mencengkeram pinggiran meja di sisi tubuh Raisa, mengurung wanita itu dalam kuasanya.

"Dengar baik-baik, Raisa," suara Arash merendah, berubah menjadi bisikan yang berbahaya. "Aku tidak peduli seberapa baik Vino itu menurutmu. Di gedung ini, dan di rumah itu, kau adalah milikku. Jika aku melihatmu bicara berdua dengannya lagi tanpa urusan pekerjaan yang mendesak, aku tidak akan segan-segan memindahkan dia ke kantor cabang di pelosok negeri besok pagi. Kau ingin melihat kariernya hancur karena kesembronoanmu?"

Raisa terbelalak. "Kau gila ... Kau benar-benar monster, Arash."

"Mungkin," jawab Arash dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan gejolak aneh di dadanya yang terasa seperti api cemburu, meski ia tak sudi mengakuinya. "Sekarang, hapus air matamu. Duduk di sofa itu dan perbaiki laporanmu di sana. Kau tidak akan keluar dari ruangan ini sampai laporan itu sempurna di mataku. Aku akan mengawasimu secara langsung."

Raisa menatap sofa kulit hitam yang ditunjuk Arash. Ia merasa seperti burung yang baru saja dimasukkan ke dalam sangkar yang lebih sempit. Tanpa pilihan lain, ia berjalan menuju sofa tersebut dengan bahu yang lunglai, menyadari bahwa mulai hari ini, dunianya benar-benar telah dirampas oleh pria yang berdiri dengan angkuh di depan jendela besar itu.

***

Lampu-lampu kantor di luar ruangan CEO perlahan mati satu per satu, menyisakan keheningan yang mencekam di lantai 40. Hanya lampu meja kerja Arash yang berpijar keemasan, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji di dinding ruangan. Di sudut sofa, Raisa duduk dengan laptop di pangkuannya. Jemarinya yang gemetar menari di atas keyboard, berusaha memperbaiki baris-baris angka yang sebelumnya dikritik habis-habisan oleh Arash.

Arash sendiri tampak sibuk dengan tablet di tangannya, duduk di kursi kebesarannya tanpa suara. Namun, setiap kali Raisa menghela napas panjang atau menggosok matanya yang mulai perih, Arash akan melirik melalui sudut matanya, memastikan wanita itu tidak jatuh pingsan karena kelelahan.

"Jika kau mengetik dengan kecepatan siput seperti itu, kita akan berada di sini sampai matahari terbit, Raisa," suara Arash memecah kesunyian, tajam dan dingin tanpa pengampunan.

Raisa tidak menoleh. Ia menggigit bibir dalamnya, menelan umpatan yang sudah berada di ujung lidah. "Angkanya tidak sinkron, Pak Arash. Aku harus melacak ulang dari data mentah bulan lalu."

"Itu karena kau terlalu sibuk menerima air mineral dari Pak Vino daripada fokus pada logaritma laporanmu," balas Arash sarkas, matanya tetap tertuju pada tablet, seolah-olah ia sedang membaca berita saham yang sangat penting padahal hatinya sedang terbakar jengkel.

Raisa berhenti mengetik. Ia menutup matanya sejenak, menghirup napas dalam-dalam. "Bisakah kita tidak membahas itu lagi? Aku sedang bekerja."

Arash tidak menjawab. Ia berdiri, membuat kursi kulitnya berdecit pelan. Ia melangkah menuju pojok ruangan, tempat mesin kopi otomatis dan dispenser premium berada. Raisa mengira pria itu akan membuat kopi pahit untuk dirinya sendiri guna terjaga sepanjang malam. Namun, suara denting cangkir porselen dan aroma manis cokelat yang samar mulai memenuhi udara, bukan aroma kafein yang tajam.

Beberapa menit kemudian, sebuah cangkir putih diletakkan dengan sedikit kasar di meja kecil di depan Raisa.

"Minum," perintah Arash pendek. Ia tetap berdiri, menjulang di depan Raisa dengan tangan terselip di saku celananya.

Raisa menatap cairan cokelat kental dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya. Ia mendongak, menatap Arash dengan bingung. "Cokelat hangat?"

"Jangan berpikir yang macam-macam," potong Arash cepat, wajahnya tetap datar seolah-olah ia baru saja memberikan racun. "Gula bisa menstimulasi otak yang tumpul. Aku tidak ingin laporan ini salah lagi hanya karena kau kekurangan glukosa. Itu akan membuang-buang waktuku lebih banyak lagi."

Raisa mengambil cangkir itu, merasakan hangatnya merambat ke telapak tangannya yang membeku. "Terima kasih."

"Simpan terima kasihmu. Cepat selesaikan bagian audit itu," sahut Arash sambil berjalan memutari sofa dan berdiri di belakang Raisa. Ia membungkuk, menumpukan satu tangannya di sandaran sofa, sementara tangan lainnya menunjuk ke arah layar laptop. "Geser ke sel B-12. Kau salah memasukkan rumus pembulatan di sana. Kau menggunakan Round Up, seharusnya Round Down. Itulah kenapa hasilnya selalu selisih nol koma nol lima persen."

Raisa tersentak saat merasakan napas hangat Arash di dekat telinganya. Kedekatan ini terlalu intim untuk suasana kantor yang formal. "Aku ... aku akan memperbaikinya."

"Minggir," Arash menyentuh bahu Raisa, mendesak wanita itu untuk bergeser sedikit. Tanpa menunggu persetujuan, Arash duduk di samping Raisa—sangat dekat hingga paha mereka bersentuhan—dan mengambil alih laptop dari pangkuan Raisa.

"Apa yang kau lakukan? Biar aku saja," protes Raisa lemah.

"Kau terlalu lamban, dan aku ingin pulang," Arash mulai mengetik dengan kecepatan yang luar biasa. Jemarinya yang panjang dan kokoh bergerak lincah, memperbaiki baris-baris kode makro yang rumit dalam hitungan menit. "Lihat? Sesederhana ini. Kau hanya perlu sedikit menggunakan logika, bukan perasaan."

Raisa terdiam, mengawasi profil samping wajah Arash dari jarak dekat. Di bawah cahaya lampu yang redup, rahang tegas Arash tampak sedikit lebih rileks. Meski kata-katanya menyakitkan, tindakan pria ini justru sebaliknya. Ia membantu Raisa menyelesaikan beban yang seharusnya tidak ia kerjakan.

"Kenapa kau membantuku, Arash?" bisik Raisa tanpa sadar.

Arash berhenti mengetik selama satu detik, lalu melanjutkan kembali dengan lebih intens. "Sudah kubilang, aku hanya ingin pulang. Dan aku tidak mau Kakek curiga jika istrinya tidak berada di rumah saat jam satu pagi. Ini semua demi reputasi, Raisa. Jangan pernah menganggap ini lebih."

"Tapi kau membuatkan cokelat ini ...."

"Cokelat itu hampir kedaluwarsa," dusta Arash dengan nada sarkas yang kental, padahal ia baru saja membuka kotak baru dari lemari khususnya. "Daripada dibuang, lebih baik diberikan pada staf yang hampir kehilangan akalnya sepertimu."

Raisa tersenyum tipis, sebuah senyum tulus pertama yang muncul setelah seharian penuh siksaan. Ia tahu Arash sedang berbohong. Gengsi pria ini setinggi gedung tempat mereka berada sekarang.

"Selesai," Arash menutup laptop dengan bunyi klik yang mantap. Ia bangkit berdiri, menatap Raisa yang masih memegang cangkir cokelatnya. "Simpan filenya. Kirim ke email-ku sekarang. Dan jangan lupa, bawa cangkir itu ke pantri. Aku bukan pelayanmu."

Arash berjalan menuju meja kerjanya, mengambil jasnya yang tersampir di kursi. "Lima menit. Jika kau belum siap di parkiran, aku akan meninggalkanmu di sini bersama hantu-hantu kantor."

Raisa segera meneguk sisa cokelatnya yang kini terasa begitu manis, seolah menghapus pahitnya kritik Arash di ruang rapat tadi. Ia melihat Arash yang memunggungi pintu, sedang merapikan dasinya di depan cermin. Meskipun Arash bersikap mencekam dan dingin, Raisa menyadari satu hal, di balik benteng es yang dibangun pria itu, ada sedikit celah hangat yang hanya diperlihatkan kepadanya di tengah malam yang sunyi ini.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!