Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Bunyi detak jantung bayi dari alat Doppler masih terngiang di telinga Rengganis saat ia melepaskan stetoskop dari lehernya.
Ruang praktiknya yang beraroma antiseptik dimana dunianya ia memegang kendali penuh. Namun, tepat setelah pasien terakhir keluar, kendali itu seolah perlahan menguap.
Tok, tok, tok.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah Perawat Dina.
"Masuklah, Dina." ucap Rengganis.
"Dokter, ini laporan terakhir. Besok pagi jadwal penuh, ada dua tindakan operasi caesar di jam delapan dan sepuluh."
Rengganis hanya mengangguk pelan, jemarinya memijat pangkal hidung yang terasa penat.
"Terima kasih, Dina. Pastikan semua hasil lab mereka sudah masuk ke meja saya sebelum subuh."
Ia menghela napas panjang, bersiap melepas jas putih kebanggaannya untuk pulang dan menenggelamkan diri dalam tumpukan jurnal medis. Namun, lamunannya terputus saat pintu ruangannya kembali terbuka.
Rengganis mengira kalau Dina kembali masuk ke ruangannya. Namun sosok yang paling ia hindari jika sedang merasa lelah yaitu kedua orang tuanya.
"Ganis, ayo siap-siap. Kita makan malam di luar, Papa sudah pesan tempat," ujar Papa Baskoro dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Rengganis mematung, tangannya tertahan di kancing jas.
"Pa, aku baru saja menyelesaikan sepuluh pasien. Aku lelah. Kalau ini soal perjodohan lagi, tolong. Aku sudah besar."
Mama Ira melangkah masuk sambil menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang dan gemas kepada putrinya.
"Bukan besar, Ganis. Tapi tua," sahut Mama Ira tajam namun tenang.
Perkataan yang dilontarkan oleh Mama, menghantam Rengganis lebih keras dari diagnosa medis manapun.
"Umur kamu sudah empat puluh tahun. Sampai kapan kamu mau mengurusi kelahiran anak orang lain, sementara rahimmu sendiri kamu biarkan mati rasa?"
Mama Ira mendekat, menyentuh bahu Rengganis yang kaku.
"Papa dan Mama juga ingin menggendong cucu dari darah dagingmu sendiri, sebelum kami tidak lagi kuat untuk sekadar berdiri."
Keheningan menyelimuti ruangan kerjanya. Di luar sana, Rengganis adalah dokter spesialis yang dipuja. Namun di hadapan kedua orang tuanya, ia hanyalah seorang wanita yang dianggap sedang berlomba dengan waktu yang hampir habis.
Rengganis menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang membawa sisa-sisa kelelahannya dari ruang operasi.
Dengan gerakan lunglai, ia melepas jas putih kebanggaannya, menyampirkannya di kursi kerja dengan perasaan kalah.
"Baiklah. Kita makan malam," ucapnya datar.
Wajah Papa seketika cerah, kerutan di dahinya memudar digantikan senyum kemenangan.
"Begitu baru anak Papa. Jangan sampai stetoskop itu membuatmu lupa cara menikmati hidup, Ganis."
Rengganis tidak menyahut dan langsung mengambil kunci mobilnya.
Rengganis melajukan sedan hitamnya membelah kemacetan kota menuju restoran yang telah ditentukan, sementara kedua orang tuanya berada di mobil lain.
Di sepanjang jalan, Rengganis terus merapal argumen di dalam kepala tentang alasan medis, statistik kesuburan, hingga kesibukan jadwal operasi—semua sudah ia siapkan untuk menolak siapa pun pria malang yang akan dijodohkan dengannya malam ini. Namun, semua argumen itu runtuh saat ia melangkah masuk ke ruang VIP restoran tersebut.
"Rudy! Amora! Sudah lama menunggu?" suara Papa menggema akrab.
Rengganis berdiri mematung di belakang orang tuanya.
Di depan sana, Om Rudy dan Tante Amora menyambut dengan hangat. Namun, perhatian Rengganis terkunci pada sosok pria yang duduk di sebelah mereka.
Pria itu berdiri dengan sopan, mengenakan kemeja slim-fit yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna.
Wajahnya bersih, tajam, dan memancarkan kepercayaan diri yang hanya dimiliki oleh mereka yang dunianya baru saja dimulai.
'Dia masih sangat muda. Mungkin dua puluh lima?' batin Rengganis.
Ada gejolak rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di tengkuknya.
"Rengganis, Permadi. Kalian mengobrol lah. Papa dan Mama tidak akan menganggu kalian." ucap Mama yang kemudian mengajak mereka ke meja lain.
Setelah mereka pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Rengganis menyesap air putihnya, lalu meletakkan gelasnya dengan denting yang sengaja ia buat tegas
Ia memutuskan untuk berbicara langsung pada intinya.
"Dengar, Permadi, atau siapa pun namamu. Lupakan saja perjodohan konyol ini. Kamu masih sangat muda. Jalanmu masih panjang, kariermu sedang naik daun. Kamu seharusnya mencari seseorang yang sebaya dengan kamu. Bukan malah terjebak dengan wanita yang menghabiskan harinya di antara bau obat-obatan."
Rengganis menyandarkan punggung, yakin argumennya akan membuat pemuda itu mundur. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Permadi tidak terlihat tersinggung.
Ia justru menggeser kursinya, mencondongkan tubuh ke arah Rengganis hingga aroma parfum sandalwood yang maskulin menyerbu indra penciuman Rengganis.
"Kenapa harus dilupakan?" bisik Permadi dengan tatapan matayang tajam mengunci tatapan Rengganis.
"Aku justru suka sama...." ucap Permadi.
Permadi menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan yang membuat jantung Rengganis seolah berhenti berdetak.
"...Tante."
Rengganis membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari Permadi.
Perkataan Permadi terdengar seperti ejekan sekaligus tantangan yang dilontarkan dengan nada yang sangat, sangat menggoda.
Rengganis merasa otoritasnya sebagai dokter spesialis yang disegani baru saja runtuh hanya dengan satu sebutan singkat dari bibir pria "berondong" di hadapannya.
Rengganis merasakan desiran panas menjalar dari leher hingga ke puncak kepalanya.
Selama lima belas tahun kariernya, ia telah menghadapi berbagai macam pasien mulai dari yang paling kooperatif hingga yang paling keras kepala, namun belum pernah ada yang berani meruntuhkan martabatnya hanya dengan satu kata.
"Tante?" Rengganis mengulang kata itu dengan nada rendah yang berbahaya.
Ia meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras hingga menarik perhatian pelayan di kejauhan.
Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Permadi yang berkilat jenaka.
"Dengar ya, Adik Permadi. Saat saya sedang berjuang mati-matian di bangku kuliah kedokteran, kamu mungkin masih sibuk menangis karena lututmu lecet jatuh dari sepeda. Saat saya sudah memegang pisau bedah untuk menyelamatkan nyawa, kamu mungkin baru saja belajar cara memakai dasi yang benar."
Rengganis menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan.
"Saya tidak butuh 'teman bermain' yang masih bau kencur. Saya butuh partner hidup yang setara, bukan anak ingusan yang sedang mencari pelampiasan rasa penasaran pada wanita yang lebih matang."
Bukannya menciut, Permadi justru tertawa renyah.
Tawa yang terdengar sangat lepas dan menyebalkan bagi Rengganis.
Pria itu menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di depan dada dengan pose yang sangat dominan untuk seseorang yang baru saja disebut 'anak ingusan'.
"Tajam sekali. Saya suka dedikasi Anda pada profesi, Dokter Rengganis," ujar Permadi sambil menatap wajah Rengganis membelalakkan.
"Bagaimana kalau kita taruhan, Tante?"
Rengganis mengernyitkan dahi. "Taruhan? Kamu pikir pernikahan ini permainan judi?"
"Bukan judi, tapi pembuktian," sahut Permadi cepat.
Ia mencondongkan tubuh lagi, kali ini suaranya merendah menjadi bariton yang dalam.
"Kita jalani pernikahan ini. Kita ikuti kemauan orang tua kita. Dan saya akan buktikan bahwa 'anak ingusan' ini bisa memberikan kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh pria-pria membosankan seumuran Tante."
Permadi mengamati reaksi Rengganis yang masih mematung karena syok.
"Jika dalam satu tahun Tante tidak jatuh cinta pada saya, Tante boleh pergi dan saya yang akan menanggung semua cercaan keluarga besar. Tapi jika sebaliknya..." Permadi menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasi Rengganis bekerja sendiri.
Rengganis menarik napas tajam saat mendengar perkataan dari Permadi.
Harga dirinya merasa tertantang. Sebagai wanita yang terbiasa menang dalam argumen medis, ia merasa konyol jika harus kalah telak oleh keberanian seorang pemuda di depannya.
"Kamu terlalu percaya diri, Permadi," desis Rengganis.
"Itu karena saya tahu apa yang saya mau," jawab Permadi mantap.
"Jadi, bagaimana, Dokter? Apakah Anda cukup berani untuk bertaruh dengan masa depan Anda sendiri?"