sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tragedi
***
Sepulang dari sekolah, setelah kepergian Nala yang tak aku ketahui saat aku asik berdebat dengan Al. aku meminta Al singgah di taman seperti biasa. Dia menyanggupi apa keinginanku selama dia tak terburu buru pulang. Seperti biasa ayunan adalah tempat favoritku, aku duduk dengan pandangan lurus kedepan dengan pikiran yang melayang. Aku memikirkan sosok Aksara dalam kehidupanku, kini aku merindukannya.
Setahun lamanya aku tak bertemu dengannya, semua gara-gara ego mama. Seandainya mama mengabulkan permintaannya pasti dia sekarang bersamaku dan mama.
" apa yang membuatmu melamun lagi??? Bukankah kamu ingin bermain melupakan bebanmu???." Tepukan pada bahuku dan suara lembut Al membuatku tersentak.
" aku merindukannya, sosok Aksara yang selalu berpihak kepadaku." Mataku mulai berkaca kaca menjawab pertanyaannya. Aku selalu sedih jika mengingat Aksara.
" siapa Aksara, begitu ber arti dalam hidupmu???." Dengan penasaran Al menatapku menunggu jawabanku.
"aku akan bercerita tentangnya, jangan memotong ucapanku." Aku mulai menceritakan siapa dia padanya.
"Aksara adalah seorang kakak yang aku banggakan, dia yang memberikan bahunya saat aku jatuh dengan keterpurukan. Aksara Bintang Gautama adalah nama yang dia sandang, sifat keras kepala selalu melekat dalam dirinya. Tapi sisi penyayang tak pernah hilang darinya. Perbedaan umurku denganya hanya satu tahun." Ceritaku dengan semangat mengenalkan sosok itu padanya. Seakan dia tahu bahwa cerita ini akan terasa berat dia menggenggam tanganku dengan lembut memberikan aku rasa aman untuk bercerita.
" apakah dia menghilang saat peristiwa itu??." Dia bertanya dengan serius.
" bukan tapi,..." Aku bercerita kejadian dahulu.
Malam itu, kami sekeluarga berkumpul di dalam rumah. Seperti biasa, monitor tv kami perhatikan bersama sama. Aksara dengan tiba tiba pergi ke dalam kamar tampa berucap. Aku dan mama terheran heran, tak beselang lama dia kembali dengan membawa suatu kertas undangan. Aksara sangat bangga dengan kerja kerasnya saat itu, dimana dia yang selalu melatih fisiknya dan kepiawaiannya dalam mengendalikan bola orange bergaris hitam kebanggaannya itu. Tapi sang mama dengan seribu ego yang tak pernah luntur menentang keras apa keinginannya dengan merobek kertas undangan yang dia bawah. Surat yang akan menghantarkannya kepada apa yang di cita-citanya. Aku terdiam mematung menyaksikan mama menghancurkan Aksara dengan perlahan, dengan mematahkan mimpinya.
Ceritaku panjang lebar tentang Aksara terhadap Al, air mataku kembali luruh dengan begitunya. Seakan kepedihan terus saja terjadi dalam hidupku aku yang mulai bosan dengan semua tragedi yang ada.
" lantas kemana dia pergi, apakah kamu pernah mencarinya???." Pertanyaan bodoh yang di katakan Al menjadi pukulan telak bagiku. Hari ini aku ingat bahwa setelah kepergiannya hanya satu yang aku rasakan, rasa marah dan kecewa terhadap mama. Aku yang selalu menyalakan mama atas semua itu. Aku tak pernah fokus mencarinya tapi yang ku fokuskan adalah mencari kesalahan mama. Hal inilah yang membuatku semakin membencinya
" aku sadar sekarang, aku lebih kejam dari mama, aku tak pernah mencegah ataupun mencarinya. Ini salahku seharusnya aku mencarinya." Badanku gemeteran menjelaskan bahwa aku tidak pernah mencarinya.
" semua itu bukan salahmu, itu perasaan kamu saja." Al mengelus rambutku dengan lembut dengan tujuan menenangkanku.
Seakan tuli dengan semua jawabnya, aku tak mendengarkannya yang ada aku hanyalah memberontak dalam gejolak batin dan pikiran yang salah
" tidak,.... Ini salahku." Suaraku semakin lirih terdengar. Alga melihatku dengan panik.
Ingatan itu kembali. Terlalu jelas terlalu menyakitkan.
Ciiiitttttt,....... Brrakkk..
Tabrakan itu tak bisa di hindari, seorang bocah kecil yang memejamkan mata tersentak dengan perbuatan ayahnya yang melindunginya, karena sang Ayah yang jadi korbannya. Benturan keras yang seharusnya menimpanya kini terganti oleh Ayahnya.
" Ayah jangan, itu bahaya lepaskan pelukan ayah." Teriaknya tetapi percuma benturan itu terjadi. Darah segar mengucur dengan derasnya dari kepala sang Ayah membuat sang anak histeris. Meskipun darah terus mengalir ari pelipisnya sang Ayah mencoba bangkit dengan susah payah guna keluar dari dalam mobil.
" asstaughirullohhhh, Ayah kepalamu terluka jerit sang Mama dari arah yang berlawanan.
" tak apa, sekarang keluarlah,.. kita selamatkan diri masing masing. Cepat bantulah Aksa keluar aku akan mengendong Tuan putriku" perintah sang Ayah.
Seakan sudah di perhitungkan oleh Sang Ayah tepat setelah mereka semua berhasil keluar mobil meledak.
" tidak,.... Jangan tinggalkan Ila. Ila bukan pembunuh" Suaraku pecah.
Adegan itu berputar kembali membuatku histeris. Duniaku berputar dan setelah itu gelap.
Al yang kalang kabut akibat diriku yang histeris kini sekarang di terpa rasa khawatir yang sangat dominan. Dengan gemetar Al mulai mengangkat tubuhku dia berlari dari taman ini menuju mobil yang terpakir jauh. Tiada pikiran apapun seakan jalan pikiran Al buntu, akhirnya dengan amat terpaksa Al membawa pergi Ila kerumahnya.
Al membawaku dengan khawatir karena sepanjang perjalanan aku belum sadar juga. Jalanan saat ini sangat padat membuat Al lebih lama membawaku ke rumahnya.
****