NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Itu Dia

Rani membaca pesan itu sekali, dua kali. Jari-jarinya yang kering oleh tepung mengetuk-ketuk meja kayu.

Matanya yang lelah melakukan kalkulasi cepat. 150 bungkus. Rp 3.000. Modal mungkin Rp 1.500 per bungkus.

Keuntungan bersih… cukup untuk membayar setengah tagihan listrik. Tapi, bahan? Tenaga? Waktu hanya sehari.

Ia menatap Arman. Di balik pintu kaca, wajah suaminya terlihat bingung, menanti, dengan sisa kemarahan dan luka yang masih membekas. Rani menarik napas dalam-dalam. Ini bukan waktunya untuk gengsi atau pertengkaran. Ini soal bertahan hidup.

"Oke," katanya, suaranya datar namun tegas.

"Aku terima. Tapi aku cuma bisa bikin risoles dan pisang goreng. Bisa. Modal? Uangnya dari mana?"

Arman terdiam. Ia baru menyadari itu. Modal awal. Uang hasil nariknya hari ini cuma cukup untuk bensin dan makan besok. "Aku…"

"Gapapa," potong Rani, bangkit dari duduknya.

"Aku ada simpanan recehan dari jualan kue kemarin. Cuma cukup buat beli bahan 100 bungkus. Kurang 50…" Ia memandang Arman, tantangan di matanya.

"Lo mau kontribusi nggak? Atau uang lo cuma buat lo sendiri aja sekarang?"

Tantangan itu menyakitkan. Arman mengangguk, mengeluarkan uang dari dompetnya—sekumpulan lembaran dua puluh ribuan yang lusuh.

"Ini… mungkin cukup buat sisa bahan. Aku kasih."

Rani mengambil uang itu tanpa banyak bicara, menghitungnya cepat. "Oke. Besok pagi aku belanja. Ibu Tuti udah setengah bantu. Lo…" Ia ragu.

"Lo mau bantu nggak? Atau tetap narik?"

Ada jeda yang berat. Kenangan pertengkaran, tuduhan pedas, masih terasa segar. Arman melihat Rani, lalu ke arah motornya.

"Aku… aku narik dulu aja. Biar ada pemasukan lain. Kalau ada yang perlu diangkut atau beli dadakan, baru hubungi aku."

Itu adalah keputusan yang aman. Menghindari konflik langsung di dapur. Rani hanya mengangguk singkat, hampa. "Ya udah."

---

Esok harinya, Arman memaksa diri keluar rumah sebelum subuh, menghindari keributan persiapan di dapur. Sepanjang hari, setoran tidak jelas.

Pikirannya melayang ke rumah. Apakah Rani kebingungan? Apakah Ibu Tuti bisa diandalkan? Ia menahan diri untuk tidak menelpon.

Sementara di rumah, dapur kembali hidup dengan aktivitas yang gila-gilaan. Rani dan Ibu Tuti bekerja seperti mesin. Adonan kulit risoles digiling, diisi dengan ragout sayur sederhana (wortel, kentang, sedikit ayam suwir sisa), dilipat rapi. Pisang goreng dilumuri adonan tepung yang telah dibumbui.

Mereka bekerja dalam kesenyapan yang penuh konsentrasi, hanya sesekali terdengar instruksi singkat. "Minyaknya udah panas, Bu Tuti."

"Risolesnya yang tadi digorengnya kurang lama, Mba Ran."

Di sore hari, menjelang waktu pengantaran, Arman pulang. Ia melihat tumpukan kardus berisi 150 bungkus snack yang sudah rapi diikat dengan pita sederhana. Rani terlihat sangat lelah, namun ada kepuasan di wajahnya.

"Semua siap. Alamatnya di sini," ucap Rani menyodorkan selembar kertas. "Mau lo antar, atau gue anter naik ojek?"

"Gue aja," jawab Arman cepat. Ia ingin berkontribusi, sekaligus mungkin ingin melihat siapa di balik pesanan penyelamat ini.

---

Yayasan Yatim Ash-Shiddiq ternyata berlokasi di sebuah rumah sederhana yang dimodifikasi di pinggiran Tambun. Terasnya luas, dipenuhi dengan kursi plastik dan beberapa anak-anak yang sedang bermain.

Suasana sederhana namun terasa hangat. Arman membongkar kardus-kardus dengan bantuan beberapa remaja pengurus.

"Mas Arman, ya?" Sebuah suara wanita yang lembut namun jelas menyapanya.

Arman menoleh. Seorang wanita berusia sekitar 28 tahun berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan gamis panjang warna earth tone (coklat muda) yang simple namun terlihat mahal dari bahannya, dengan kerudung syar'i yang rapi.

Wajahnya cantik secara natural, tanpa riasan berlebihan, dengan mata yang cerdas dan tenang. Ia tersenyum ramah, namun ada ketajaman di balik sorot matanya yang membuat Arman sedikit merasa diamati.

"Iya, betul. Pesanan dari Katering Ranni," sahut Arman, sedikit gugup.

"Wah, makasih banyak ya, Mas. Ayo bawa masuk ke dapur, biar ditata sama ibu-ibu."

Mereka bersama-sama membawa kardus. Wanita itu memperkenalkan diri. "Saya Nadia. Kebetulan jadi relawan dan sekaligus donatur untuk acara santunan hari ini."

"Acara yang mulia, Mba," komentar Arman, mencoba bersikap sopan.

"Iya, sekadar berbagi rezeki. Apalagi dapat rekomendasi katering yang harganya terjangkau dan pemiliknya suami-istri yang lagi bangkit usaha. Jadi makin senang pesan ke sini," ujar Nadia sambil tersenyum, matanya mengamati reaksi Arman.

Obrolan mengalir tentang acara santunan, jumlah anak yang hadir, harapan agar snacknya cukup. Nadia sangat komunikatif dan cerdas, membuat Arman nyaman.

Tapi semakin lama, semakin ada sesuatu yang mengganjal. Cara Nadia melihatnya, seolah mengenal lebih dari yang seharusnya.

Setelah semua kardus pindah, Arman bersiap pamit. "Kalau gitu, saya permisi dulu ya, Mba. Semoga acaranya lancar."

"Eh, Mas Arman, tunggu dulu," panggil Nadia.

"Acaranya sebentar lagi mulai. Nggak mau ikut serta? Sedekah nggak selalu harus uang, kok. Kehadiran dan bantuan tenaga juga sangat berarti. Bisa bantu bagi-bini snack nanti?"

Arman terkejut. Ia buru-buru melihat jam.

"Saya… mungkin nggak lama, Mba. Soalnya…"

"Ah, pasti masih ada waktu. Acaranya cuma satu jam. Sambil nunggu traffic sore agak reda juga kan," bujuk Nadia, senyumnya manis namun persuasif.

"Saya jamin, pengalamannya akan berbeda."

Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat Arman sulit menolak. Ia juga merasa penasaran. Akhirnya, ia mengangguk.

"Oke, deh. Tapi bener ya cuma satu jam?"

Nadia tersenyum lebih lebar. "Promise."

Arman pun ikut serta. Ia membantu mengatur kursi, membawa tumpukan snack ke meja prasmanan sederhana. Ia melihat Nadia berinteraksi dengan anak-anak yatim. Caranya lembut, penuh perhatian, tidak terkesan menggurui atau sekadar pencitraan. Ia benar-benar terlibat.

Arman terkesan. Ini adalah wanita mandiri, sholehah, dan punya hati, persis seperti yang digambarkan Budi. Tapi kenapa begitu kebetulan?

Saat jeda acara, ketika mereka berdua sedang mengambil minum, Arman memutuskan untuk bertanya. Rasa penasarannya sudah memuncak.

"Mba Nadia, izin saya bertanya. Mba dapat nomor saya dari siapa, ya? Soalnya, kan seharusnya mba order lewat WhatsApp istri saya atau kontak bisnis. Nomor saya ini pribadi."

Nadia menyeruput air mineralnya, senyumnya tidak hilang. Matanya berbinar seperti menikmati sebuah rahasia.

"Oh, saya dapat dari seorang teman. Katanya istri Mas punya usaha katering, kebetulan saya lagi butuh, jadi saya hubungi Mas saja langsung. Lebih cepat."

"Teman… siapa, kalau boleh tahu?" desak Arman, jantungnya berdetak sedikit lebih kencang.

Nadia memandangnya, seolah menimbang.

"Teman yang baik. Yang juga ingin membantu usaha Mas dan Mba. Tapi dia minta identitasnya dirahasiakan. Katanya, yang penting pesanannya jalan dan membantu."

Ia berpaling, menyapu pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik makan risoles.

"Dan lihat, snacknya habis diserbu. Artinya enak, kan?"

Jawaban itu menghindar, namun cerdik. Arman semakin yakin ini ada kaitannya dengan Budi. Tapi untuk apa semua ini? Menguji dia? Menjebaknya?

"Mba Nadia," kata Arman, lebih serius.

"Kalau teman Mba itu adalah Bapak Budi Wijaya, tolong disampaikan bahwa saya dan istri saya berterima kasih atas rekomendasinya. Tapi untuk hal lain di luar bisnis, kami tidak tertarik. Kami sedang fokus membangun usaha kami sendiri."

Nadia menatapnya lama, lama sekali. Ekspresinya yang ramah berubah menjadi lebih dalam, lebih penuh penilaian.

"Mas Arman langsung tegas ya. Tidak banyak pertanyaan, tidak penasaran tentang 'hal lain' itu apa."

Ia berjalan mendekati pagar teras, memandang jalanan. "Budi memang cerita tentang Mas. Tapi bukan dari dia saya dapat nomor Mas. Tapi dari… sumber lain. Dan saya penasaran."

Arman berdiri di sampingnya, bingung. "Penasaran apa?"

"Penasaran dengan laki-laki yang menolak 'kesempatan langka'. Sebagian besar laki-laki dalam posisi Mas, ditawari pekerjaan dengan gaji tetap dan… calon pendamping yang dianggap menguntungkan, akan langsung menerima."

"Apalagi di tengah tekanan ekonomi. Tapi Mas menolak. Bahkan memblokir Budi. Itu langkah berani. Atau bodoh. Saya ingin tahu, yang mana."

Arman merasa seperti sedang diinterogasi dengan halus. "Itu urusan pribadi saya dan istri saya."

"Betul," sahut Nadia cepat. "Tapi pilihan pribadi itu punya konsekuensi publik.

Misalnya, bisnis yang sepi, istri yang stres, rumah tangga yang retak." Ia menatap Arman.

"Dan dari tadi saya perhatikan, Mas tidak ada satu kalimat pun yang menyalahkan istri Mas. Tidak komplain tentang kecurigaan, tentang pertengkaran. Mas hanya fokus pada pesanan ini. Itu menarik."

Arman terdiam. Ia tak menyangka observasinya begitu tajam.

"Jadi saya ingin menilai sendiri," lanjut Nadiai, suaranya rendah.

"Tanpa perlu tahu siapa saya sebenarnya—yang mungkin sudah Mas tebak—dan tanpa Mas tahu latar belakang saya. Hari ini, kita cuma dua orang yang kebetulan ketemu di acara santunan. Saya relawan, Mas pengantar pesanan yang baik hati mau membantu.

Boleh?"

Ada tantangan dalam perkataannya. Dan ada juga sebuah pengakuan halus: bahwa Arman telah membuat pilihan yang, di mata wanita cerdas ini, patut dikagumi dan sekaligus dipertanyakan. Arman merasa tidak berdaya.

Ia terjebak. Menolak akan terlihat kasar. Menerima berarti masuk ke dalam permainan yang ia tidak tahu aturannya.

"Menilai untuk apa?" tanya Arman akhirnya.

Nadia mengangkat bahu.

"Untuk memuaskan rasa penasaran pribadi saya. Dan siapa tahu… dari sini, kita bisa dapat insight baru. Saya tentang manusia, Mas mungkin tentang… jalan lain yang tidak pernah terpikirkan."

Acara pun selesai. Anak-anak berpamitan dengan ceria, membawa bingkisan sederhana. Nadia meminta Arman tetap membantu membereskan.

Dalam proses itu, mereka mengobrol tentang hal-hal netral: tentang kendala usaha rumahan, tentang pendidikan anak (Nadia secara halus menanyakan Aldi), tentang pentingnya komunitas. Setiap jawaban Arman, diamati oleh Nadia dengan seksama.

Ia seperti seorang psikolog amatir yang sedang mengurai kepribadian.

Saat hampir maghrib, Arman benar-benar harus pergi. Nadia mengantarnya ke motor.

"Terima kasih untuk bantuannya hari ini, Mas Arman," ucap Nadiai, menyodorkan amplop honor yang sudah ditambah tip.

"Dan untuk percakapannya. Sangat… mencerahkan."

"Sama-sama, Mba Nadia. Sukses selalu untuk yayasannya."

"Buat Mas juga. Pertahankan apa yang Mas pegang teguh. Itu langka." Ada nada penghormatan tulus dalam suaranya sekarang.

Lalu, dengan senyum terakhir yang misterius, ia berkata, "Mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Atau mungkin iya, dalam konteks yang berbeda. Tapi pesan saya: pilihan Mas hari ini, untuk menolak jalan pintas yang 'menggiurkan', itu yang membedakan seorang lelaki dengan sekedar 'laki-laki'. Istri Mas beruntung."

Dengan kata-kata itu, Nadia berbalik dan masuk ke dalam yayasan, meninggalkan Arman yang berdiri terpaku di depan motornya. Wanita itu adalah dia. Calon yang ditawarkan Budi. Dan alih-alih mendekati, merayu, atau menawarkan diri, ia justru datang untuk mengamati, menguji, dan akhirnya… memberi semacam pengakuan.

Perjalanan pulang terasa sangat berbeda. jiwa lama yang kemaren terpendam seperti dibangunkan kembali. sebuah peluang yang kemaren sempat di cari-cari dan tenggelam, hadir dengan sendiri di depan mata.

perjalanan pulang itu pikiran nya di penuhi oleh sikap Nadia, senyum nadia dan semua bagian dari diri nya.

Ini Bagaikan Racun yang menyebar keseluruh saraf tubuh dan pikiran.

1
falea sezi
enak bgt si arman g dpet karma nya bkin crrai lah trs buat hancur males liat laki. model. kayak arman gini
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!