NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 17 - Terlibat

"Baik, terima kasih," ungkap Alexa menerima sebuah kartu masuk Fire Corp.

Dia memandang lama kartu itu berharap akan ada kabar baik selanjutnya mengenai tes wawancara kerjanya. Bagaimana pun, Alexa yakin dia memiliki banyak saingan pelamar kerja meski hanya sebagai Cleaning Service.

Apalagi karena Fire Corp adalah agensi besar yang menaungi NOVA.

"Alexa!" sapa seseorang.

Alexa menoleh dan mendapati Steven yang keluar dari lift menggunakan pakaian santai sambil menenteng sepatu—melambaikan tangan padanya. Setelah itu, disusul Jo yang juga tersenyum ke arah Alexa.

Merasa canggung marena ada beberapa staf yang keheranan padanya mendapat sapaan dari anggota NOVA, Alexa hanya tersenyum sembari membungkukkan tubuhnya seolah memberi salam.

"Jadi lamar kerja di sini?" tanya Steven mendekat, sementara Jo berbelok menuju ruangan lain.

"Iya," jawab Alexa singkat.

"Wah... saingannya pasti banyak loh." Steven memandang remeh pada Alexa.

"Iya tahu. Aku juga berharap banget kerja di sini kok."

"Mau aku bantu?"

"Nggak!" tolak Alexa cepat.

Dia ingin mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan orang dalam. Apalagi sekelas Steven, Alexa bisa saja mendapatkan pekerjaan pada pangkat lebih tinggi dengan mudah.

Tapi itu tidak akan membuatnya puas.

"Terus, sekarang mau ke mana?" tanya Steven.

Alexa melirik ke sekeliling yang memandang mereka aneh.

"Aku pulang dulu, ya," pamit Alexa menyimpan kartu masuk gedung dan berlari menuju lift.

Bukannya pergi, Steven justru mengikuti Alexa.

"Kamu ngapain?" tanya Alexa.

"Nganterin kamu." Dengan entengnya Steven berbicara seolah lupa siapa dirinya sebenarnya.

Apa yang akan dibilang orang - orang kalau ada yang melihat mereka keluar dari gedung agensi bersama? Lagipula, selamat dari rumor saat pertama kali mereka bertemu di stasiun saja seperti keajaiban.

"Tidak perlu. Aku punya kaki, bisa jalan sendiri." Alexa berusaha menolak dan masuk ke lift.

Tapi sikap keras kepala Steven tidak berubah. Dia juga masuk ke dalam lift dan turun bersama dengan Alexa. Dengan pakaiannya yang sama sekali tidak menutupi rapat tubuh dan wajahnya.

Tak mau mendapatkan masalah, Alexa menggeser tubuhnya ke pojokan lift agar tak ada yang menanyakan hal - hal aneh padanya karena terlihat saling mengenal dengan Steven.

"Udah, antar sampai sini saja." Alexa keluar lift dengan berlari.

"Kamu nggak ada niat mau bun*uh diri lagi, kan?" tanya Steven blak - blakan.

Alexa langsung melirik Steven tajam seolah menusuk tubuh Steven yang langsung menutup mulutnya rapat - rapat dan menangkupkan kedua tangannya meminta maaf atas apa yang dikatakannya barusan.

Kembali memperhatikan sekitar yang ternyata cukup sepi, Alexa menarik Steven ke lorong menuju toilet.

"Kamu 'tuh... bisa nggak pura - pura nggak kenal sama aku?!" omel Alexa berbisik.

"Itu dia masalahnya. Aku nggak bisa," kata Steven dengan wajah meledek.

"Lagian memangnya kamu nggak takut dapat rumor? Kamu artis besar loh." Alexa benar - benar merasa frustrasi dengan sikap Steven yang terlalu terang - terangan.

Steven tampak diam berpikir. Entah apa yang ada di pikirannya tapi dia justru suka melihat Alexa marah - marah seperti itu. Itu lebih baik ketimbang saat pertama kali Alexa memarahinya atas apa yang terjadi pada ayahnya.

Dengan begitu, Steven pikir, Alexa mungkin sudah bisa menerima kejadian yang menimpanya selama ini. Paling tidak, Alexa tidak memendam apa pun sendirian.

"Aku sudah biasa dapat rumor. Jadi nggak masalah." Steven mengacungkan jempolnya.

"Tapi aku nggak mau terlibat. Jadi, jangan ikut campur sama kehidupan aku." Alexa memberi peringatan.

"Masalahnya, janji kita di awal udah kamu ingkari."

"Kamu menganggap janji itu serius?" Alexa masih tak habis pikir kalau Steven begitu serius dengan janji murahan itu.

Anggukan mantap Steven dengan senyum jail menunjukkan satu gigi taringnya menjawab semuanya. Ya, Steven jelas akan menikmati pengingkaran janji Alexa padanya dan bisa terus mengganggu Alexa.

"Aku banyak bantu kamu loh. Pertama, dua kali aku menyelamatkan kamu dari maut. Kedua, aku beresin kontrakan kamu yang kayak kapal pecah itu. Aku bahkan mencuci pakaian dal—"

"DIAM!" Wajah Alexa langsung memerah ketika Steven membicarakan hal yang sempat dia lupakan.

Steven kembali menutup mulutnya sambil menahan senyum karena melihat berapa paniknya Alexa saat dia hendak membicarakan pakaian Alexa yang dia cucikan.

Beberapa saat, Alexa mengatur nafasnya dan mengipasi wajahnya dengan tangannya. Dia yakin kalau wajahnya benar - benar memerah karena malu. Di sisi lain, hatinya memaki Steven habis - habisan.

Ada banyak orang di dunia ini, tapi dia merasa begitu sial karena harus terlibat dengan orang seperti Steven.

"Dengar, dari pada bantu, sebenarnya kamu lebih ke tidak sopan karena masuk ke kontrakanku dan menyentuh barang - barangku tanpa izin. Aku bisa laporin kamu ke polisi," ancam Alexa.

Steven tertawa kecil meski sebenarnya yang diucapkan Alexa memang benar. Tapi jelas dia melakukan itu bukan tanpa alasan.

"Kamu 'kan pingsan. Aku membereskan rumah kamu karena waktu aku masuk, nggak ada tempat buat naruh kamu di mana." Steven mengikrarkan pembelaan terhadap dirinya.

"Kamu sebenarnya bisa taruh aku di kursi depan."

"Memangnya kamu nggak takut kalau tiba - tiba dilec€hkan orang?"

Alexa seketika bungkam. Dia seharusnya berterima kasih pada Steven atas semua yang Steven lakukan. Hanya saja karena semua kejailan Steven dan cara Steven menyombongkan diri—membuatnya muak.

"Kamu aja yang modus!" timpal Alexa berbalik untuk pergi.

Tapi tiba - tiba dia berpapasan dengan Abi di ujung lorong. Wajahnya yang serius terlalu menakutkan bagi Alexa.

Tak mengatakan apa pun, Alexa tersenyum tipis menyapa menganggukkan kepalanya sekali kemudian berjalan melewati Abi begitu saja. Dia yakin kalau Abi pasti sedang mencari Steven yang tiba - tiba menghilang.

"Lo temannya Steven, ya?" tanya Abi sedikit berteriak.

Alexa langsung menoleh karena merasa kalau Abi sedang berbicara dengannya.

"B - bicara sama saya?" Alexa memastikan.

Abi mendekati Alexa sambil mengangguk.

"Bukan... bukan teman sih. Cuman... kenal saja." Suara Alexa terasa berat takut kalau dia akan dimarahi karena membuat masalah tadi.

"Tapi bukan penggemarnya, kan?"

Ragu—Alexa menggeleng. Tidak mungkin. Alexa bahkan tidak punya rencana untuk menjadi penggemar Steven yang membuat hidupnya yang sudah berantakan semakin runyam.

Abi tampak mengangguk - angguk pelan, memandang Alexa dari ujung rambut sampai ujung kaki membuat tubuh Alexa menciut karena tidak percaya diri.

"Jangan libatkan Steven dalam masalah," ucap Abi dingin, "dia sudah cukup merepotkan."

"Iy—iya." Alexa mundur beberapa langkah ketakutan.

"Dia meninggalkan latihan akhir - akhir ini. Apa lo terlibat dengan itu?" Abi kembali menginterogasi Alexa.

"Saya tidak tahu soal itu."

"Entahlah. Kayaknya masalahnya ada di lo. Dan kalau lo bikin masalah—"

"Ngapain, Bang?" Steven tiba - tiba muncul.

Abi dan Alexa menoleh bersamaan. Senyum Steven terukir melihat Alexa masih ada di sana.

"Katanya mau pulang?" kata Steven.

"Permisi." Alexa berbalik pergi tapi dihentikan oleh Abi yang mencengkeram tangan Alexa cukup kuat.

Seketika detak jantung Alexa berhenti sesaat. Dia membatu memandang Abi yang tengah menatap Steven dengan sinis.

"Band kita baru mulai besar, Stev. Dan gue, bisa nyingkirin apa pun yang bikin band kita jatuh."

Alexa tidak mengerti tentang apa yang Abi bicarakan, tapi dia memahami kalau itu adalah ancaman yang ditujukan pada Steven.

"Bahkan cewek ini," lanjut Abi.

Senyum Steven memudar—berubah menjadi tatapan penuh kebencian pada Abi.

Berada di antara kedua orang itu, Alexa merasakan hubungan buruk di antara keduanya. Bahkan dia merasa terancam. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!