Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Tetap Tinggal
Surya benar-benar menghilang.
Tidak ada lagi mobil asing di depan rumah.
Tidak ada pesan misterius.
Tidak ada bayangan di balik pagar.
Seolah semua itu hanya mimpi buruk yang sudah lewat.
Kevin kembali fokus ke perusahaan.
Tapi kali ini berbeda.
Ia tidak lagi pulang tengah malam.
Tidak lagi menjadikan kantor sebagai rumah kedua.
Karena sekarang…
Ada yang lebih penting menunggunya di rumah.
Sore itu Kevin membuka pintu dan langsung disambut suara paling ia tunggu.
“Papa pulang!”
Cantika berlari kecil, hampir terpeleset karena terlalu semangat.
Kevin tertawa dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Kangen Papa?”
“Kangen banget! Tadi aku dapat bintang lima!”
Kevin pura-pura terkejut.
“Bintang lima? Wah itu mahal lho!”
Siska keluar dari dapur sambil tersenyum.
“Yang mahal itu camilannya dia.”
Kevin tertawa kecil.
Siska terlihat berbeda sekarang.
Lebih tenang.
Lebih yakin.
Tidak lagi gelisah mengejar sesuatu yang ternyata bukan jawaban.
Mungkin karena sekarang ia tahu—
Yang ia cari dulu… ternyata rumah.
Malam itu mereka makan bersama.
Cantika bercerita tanpa jeda.
“Tadi temenku bilang Mama aku cantik,” katanya polos.
Kevin langsung melirik Siska.
“Tuh, ada yang bangga.”
Siska pura-pura santai.
“Ya iyalah.”
Cantika menoleh ke Kevin.
“Papa juga ganteng.”
Kevin tersenyum lebar.
“Nah ini baru anak Papa.”
Siska terkekeh.
“Iya iya, paling ganteng.”
Suasana ringan itu sederhana.
Tapi justru di situlah bahagia tumbuh.
Beberapa hari kemudian, Kevin mengajak Siska makan malam berdua.
Sudah lama mereka tidak punya waktu hanya untuk mereka.
Cantika dititipkan ke Arman, yang malah terlihat paling senang.
Di mobil, suasana sedikit canggung.
“Kayak pacaran lagi ya,” Siska tersenyum kecil.
Kevin terkekeh.
“Bedanya sekarang kita udah punya cicilan hidup.”
Siska tertawa.
Restoran itu tidak terlalu mewah. Tapi hangat.
Setelah makanan datang, Kevin menatap Siska cukup lama.
“Kenapa sih lihatnya begitu?” Siska mulai malu.
“Aku cuma mikir… kita udah ngelewatin banyak banget.”
Siska mengangguk pelan.
“Iya.”
“Dan yang bikin aku takut sekarang bukan kehilangan harta.”
“Tapi?” Siska menatapnya.
“Kehilangan kamu lagi.”
Siska terdiam.
Kevin jarang bicara seterbuka itu.
“Aku juga takut,” Siska akhirnya berkata pelan.
“Takut apa?”
“Takut suatu hari kamu sadar kamu pantas dapat yang lebih baik.”
Kevin langsung menggeleng.
“Kamu pikir semua yang kita lewatin itu kecil?”
Siska menunduk.
“Aku pernah ninggalin kamu.”
“Dan kamu kembali,” jawab Kevin lembut.
Hening sejenak.
“Orang bisa salah,” lanjut Kevin.
“Tapi nggak semua orang berani balik dan memperbaiki.”
Mata Siska mulai berkaca-kaca.
“Kalau nanti ada masalah lagi?”
Kevin tersenyum kecil.
“Kita ribut. Kita debat. Tapi kita tetap tinggal.”
Siska tertawa di sela air mata.
“Deal?”
Kevin mengulurkan tangan.
Siska menggenggamnya.
“Deal.”
Di rumah, Arman duduk bersama Cantika yang sedang menonton kartun.
“Kamu senang Mama tinggal di sini?” tanyanya lembut.
Cantika mengangguk cepat.
“Seneng banget.”
“Kalau Papa dan Mama ribut?”
Cantika berpikir sebentar.
“Nanti juga baikan. Soalnya mereka sayang aku.”
Arman tersenyum pelan.
Anak kecil itu mungkin tidak mengerti konflik.
Tapi ia mengerti rasa aman.
Dan itu cukup.
Malam semakin larut ketika Kevin dan Siska pulang.
Cantika sudah tertidur.
Kevin berdiri sejenak memandang wajah anaknya sebelum menutup pintu pelan.
Di kamar mereka, suasana hangat.
“Kamu tau nggak yang bikin aku paling takut dulu waktu kita miskin?” tanya Siska.
Kevin menggeleng.
“Aku takut kamu capek dan pergi.”
Kevin terdiam.
“Aku pikir kalau aku pergi duluan… aku nggak akan terlalu sakit.”
Kevin duduk di sampingnya.
“Dan ternyata?”
“Ternyata sakitnya lebih parah.”
Kevin memegang tangannya.
“Aku nggak pernah mau pergi. Aku cuma lagi berjuang.”
Siska menatapnya dalam.
“Sekarang kamu masih berjuang?”
Kevin tersenyum.
“Iya. Tapi sekarang aku nggak sendirian.”
Siska menyandarkan kepala di bahunya.
Malam itu terasa damai.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada ketegangan.
Hanya dua orang yang pernah jatuh… dan memilih bangkit bersama.
Beberapa minggu berlalu.
Hari ulang tahun Cantika tiba.
Rumah dihias sederhana tapi meriah.
Balon warna-warni memenuhi ruang tamu.
Tawa anak-anak menggema.
Cantika berdiri di depan kue dengan lilin menyala.
“Papa, Mama, sini!”
Kevin dan Siska berdiri di kiri dan kanannya.
“Make a wish!” teriak teman-temannya.
Cantika memejamkan mata.
Kevin melirik Siska.
Siska tersenyum lembut.
Lilin ditiup.
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan.
Cantika memeluk mereka berdua bersamaan.
“Semoga kita selalu bareng,” bisiknya polos.
Kevin menelan ludah.
Siska memeluk anaknya lebih erat.
Kebahagiaan itu memang tidak selalu datang dengan ledakan besar.
Ia tumbuh dari makan malam sederhana.
Dari tawa di dapur.
Dari janji untuk tetap tinggal.
Kevin memandang keluarganya.
Dulu ia kehilangan masa kecilnya.
Tapi sekarang—
Ia tidak akan kehilangan masa depan.
Karena akhirnya ia mengerti.
Bahagia bukan tentang tidak punya masalah.
Bahagia adalah tentang siapa yang tetap memilih bertahan…
bahkan setelah semuanya hampir hancur.