NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Aina

Mobil sedan hitam itu membelah jalanan Jakarta dengan kawalan motor besar, seolah-olah Aira adalah tamu negara yang tak boleh tergores sedikit pun. Di dalam kabin yang sunyi dan beraroma cerutu mahal, Aira menatap tablet di hadapannya. Pria di layar itu, Adipati Narendra, terus menatapnya dengan binar mata yang campur aduk—antara rindu yang purba dan otoritas yang tak terbantahkan.

"Kau memiliki mata ibumu, Aira," suara Adipati terdengar melalui speaker mobil, berat dan berwibawa. "Sofia adalah satu-satunya wanita yang berani meninggalkan kekayaan Narendra demi cinta yang ia kira tulus dari Malik. Dia salah. Dan aku menghabiskan dua puluh tahun untuk menghukum siapa pun yang terlibat dalam keputusannya itu."

Aira mengepalkan tangan di atas pangkuannya. "Termasuk membiarkanku hidup menderita di tangan Bramantyo? Anda tahu saya ada di sana, bukan?"

Adipati terdiam sejenak. "Aku tahu ada bayi yang ditukar, tapi Bramantyo sangat licin. Dia menyembunyikanmu di bawah hidungku dengan identitas 'anak gagal'. Aku baru yakin itu kau saat Aristhide Malik mulai melakukan pergerakan besar untuk menebusmu. Aristhide cerdik, tapi dia terlalu emosional. Dia mencintaimu, dan itu membuatnya ceroboh."

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang raksasa yang lebih menyerupai benteng daripada rumah. Inilah Kediaman Narendra—sebuah istana yang dibangun dari kejayaan masa lalu dan kekejaman masa kini. Aira turun, disambut oleh puluhan pelayan yang membungkuk serentak. Namun, perhatian Aira teralih oleh sebuah mobil tua yang terparkir di sudut halaman. Ia mengenali mobil itu. Mobil Aina.

"Kenapa dia ada di sini?" tanya Aira pada pengawal di sampingnya.

"Nona Aina datang satu jam yang lalu, membawa 'penawaran' untuk Tuan Besar," jawab pengawal itu dingin.

Aira melangkah masuk ke dalam aula utama. Di sana, di bawah lampu gantung kristal yang megah, Aina duduk bersimpuh di lantai di depan kursi besar milik Adipati. Penampilannya berantakan; riasannya luntur, dan gaun putihnya ternoda debu. Di hadapan Adipati, Aina tampak seperti peminta-minta yang putus asa.

"Tuan Besar, saya punya buktinya!" jerit Aina tanpa menyadari kehadiran Aira. "Aristhide Malik sudah merencanakan ini sejak lama! Dia ingin menggunakan Aira untuk mengambil alih saham Narendra Group melalui hak waris Sofia! Ini dokumen rahasia yang saya curi dari ruang kerjanya semalam!"

Aina melemparkan beberapa lembar kertas ke lantai. Adipati hanya menatap kertas-kertas itu dengan pandangan menghina, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Aira yang berdiri di ambang pintu.

"Lihat, Aira," ujar Adipati sambil menunjuk Aina. "Inilah yang kau sebut saudari? Dia datang ke sini untuk menjual kepalamu agar dia bisa mendapatkan suaka dan uang untuk melarikan diri ke luar negeri."

Aira berjalan mendekat. Langkah kakinya menggema di aula yang luas. Aina menoleh, matanya membelalak ketakutan sekaligus benci.

"Aira! Kau... kau tidak seharusnya di sini!" gagap Aina.

"Kau tidak pernah berubah, Aina," suara Aira terdengar sangat tenang, ketenangan yang mematikan. "Bahkan saat Ayah dan Ibu sudah di penjara, kau masih mencoba menjual orang lain untuk menyelamatkan kulitmu sendiri. Berapa harga yang kau minta pada Tuan Adipati untuk 'informasi' sampahmu itu?"

Aina bangkit berdiri, mencoba menyerang Aira dengan kuku-kukunya yang tajam. "Kau yang menghancurkan semuanya! Kau merebut Aristhide dariku! Kau merebut posisi anak emas di keluarga! Dan sekarang kau ternyata adalah pewaris Narendra? Tidak adil! Dunia ini tidak adil!"

Sebelum Aina bisa menyentuh Aira, dua pengawal sudah meringkusnya dan menekannya kembali ke lantai.

"Tuan Adipati," Aira menatap pria tua itu. "Apa yang akan Anda lakukan padanya?"

Adipati menyesap tehnya perlahan. "Dalam keluarga Narendra, pengkhianat tidak diberikan ruang untuk bernapas. Dia tahu terlalu banyak, dan dia terlalu berisik. Aku berencana mengirimnya ke sebuah tempat di luar negeri—sebuah institusi yang tidak akan membiarkannya bicara lagi pada dunia."

Aira menatap Aina yang kini mulai menangis histeris. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya, namun bukan karena cinta, melainkan karena kesia-siaan hubungan mereka selama ini.

"Biarkan dia pergi," ujar Aira tiba-tiba.

Adipati mengangkat alisnya. "Kau ingin membebaskannya?"

"Bukan membebaskannya. Biarkan dia hidup dalam kemiskinan yang paling dalam. Tanpa nama Bramantyo, tanpa koneksi, dan tanpa wajah yang bisa ia sombongkan lagi. Itu jauh lebih menyakitkan baginya daripada penjara mana pun," Aira menatap Aina tajam. "Ambil semua yang dia punya. Perhiasannya, pakaiannya, identitasnya. Biarkan dia keluar dari gerbang ini hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya."

Adipati tersenyum tipis, kali ini senyum bangga. "Kau benar-benar putriku. Kau tahu cara menghancurkan jiwa, bukan hanya raga."

Setelah Aina diseret keluar dengan teriakan yang memilukan, keheningan kembali menguasai aula. Adipati berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Aira. Ia merentangkan tangannya, namun Aira tetap bergeming.

"Ayah tahu kau marah pada Aristhide," ujar Adipati. "Dia memang memanfaatkan situasi. Tapi Ayah punya satu rahasia lagi yang harus kau ketahui sebelum kau memutuskan untuk membencinya selamanya."

Adipati memberikan sebuah ponsel tua kepada Aira. "Ini ponsel milik ibumu, Sofia. Aristhide menemukannya di studio lama dan mengirimkannya padaku beberapa jam yang lalu melalui Yudha. Dia tahu dia akan kehilanganmu malam ini, jadi dia memberikan kartu as-nya kepadaku agar aku bisa melindungimu dengan kebenaran."

Aira membuka rekaman suara di ponsel itu. Suara Sofia Malik terdengar lemah namun penuh kasih.

“Aristhide, anakku yang baik... meskipun kau bukan dari rahimku, kau adalah pelindungku. Jika suatu saat kau menemukan putriku, jangan biarkan Adipati mengambilnya terlalu cepat. Adipati mencintaiku dengan cara yang mencekik. Dia akan mengurung Aira di menara emas seperti dia mengurungku dulu. Gunakan kekuasaanmu untuk memberinya pilihan, Aristhide. Biarkan dia memilih hidupnya sendiri, bahkan jika itu berarti dia harus membencimu...”

Aira terduduk di kursi emas itu. Air matanya jatuh tanpa suara. Aristhide bukan sedang memanfaatkannya untuk mendapatkan kekuasaan Narendra. Dia sedang menjalankan wasiat terakhir Sofia: Menjadi "monster" jahat yang dibenci Aira, agar Aira memiliki alasan untuk lari menuju Adipati dan mendapatkan perlindungan yang sah, namun tetap memiliki kekuatan untuk melawan jika Adipati menjadi terlalu posesif.

Aristhide sengaja membiarkan dirinya terlihat seperti pengkhianat agar Aira bisa diterima dengan tangan terbuka oleh ayahnya yang sangat berkuasa dan berbahaya.

"Dia melakukan semuanya untukku..." bisik Aira.

"Dia mengorbankan cintamu untuk keselamatanmu," Adipati mengakui dengan nada berat. "Pria itu... dia lebih berani dariku dulu."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang luar. Alarm keamanan berbunyi. Di layar monitor CCTV, tampak sebuah mobil Rolls-Royce hitam menabrak gerbang baja Narendra Group. Seorang pria turun dari mobil tanpa pengawal, tanpa senjata. Hanya mengenakan kemeja hitam yang berlumuran darah karena pecahan kaca.

Aristhide Malik.

Ia berdiri di tengah sorotan lampu tembak keamanan, menatap langsung ke arah kamera.

"Bawa dia masuk," perintah Adipati pada pengawalnya. "Mari kita lihat apakah dia cukup kuat untuk mengambil kembali apa yang telah ia lepaskan."

Aira berdiri, hatinya bergemuruh. Sepuluh bab kehidupannya yang penuh pengkhianatan kini menuju satu titik final. Apakah ia akan tetap menjadi putri Narendra yang terlindungi, atau kembali ke pelukan pria yang telah membelinya, menjual reputasinya, dan mencintainya dengan cara yang paling menyakitkan di dunia?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!