Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 ORANG MISTERIUS.
Tak lama, makanan mulai datang Daging segar tersusun rapi, udang, sayuran, dan berbagai saus pelengkap memenuhi meja mereka.
Khay langsung beraksi. Ia mengambil penjepit, lalu mulai memanggang daging dengan penuh semangat.
“Mas lihat ya, ini harus dibalik pas warnanya mulai kecoklatan,” jelasnya seperti seorang ahli.
Revan memperhatikan dengan tenang “Iya.”
Aroma daging yang dipanggang mulai menyebar.
Sizzling… Suara daging yang terkena panas terdengar jelas.
Khay tersenyum puas “Udah siap! " Ia langsung mengambil satu potong, meniupnya sebentar, lalu menyuapkannya ke mulutnya sendiri “Mmm… enak banget!”
Revan mengambil satu potong daging Ia menatapnya sejenak Lemak… cukup banyak. Namun tanpa ragu, ia memasukkannya ke dalam mulut. " enak,” ucapnya singkat.
Khay langsung tersenyum lebar. “Kan! Aku bilang juga apa!”
Revan mengangguk Namun di dalam hatinya… " Habis ini… gym dua jam. " Ia tetap makan dengan ekspresi tenang, seolah tidak ada masalah.
Khay terus memanggang, bahkan sesekali menyuapi Revan “Mas, ini coba yang ini! Lebih enak!”
Revan sedikit terkejut saat Khay menyodorkan makanan ke arahnya Namun ia tetap membuka mulut.
“Iya.”
Khay tertawa kecil melihatnya menurut “Mas ini nurut banget sih hari ini.”
Revan menatapnya datar. “Karena kamu yang minta.” Jawaban sederhana.
Tapi membuat Khay terdiam sejenak Wajahnya sedikit memerah. Beberapa saat kemudian… Revan mengambil penjepit dari tangan Khay. “Sekarang gantian.”
Khay mengedip bingung. “Hah?”
Revan mulai memanggang daging dengan tenang, gerakannya rapi dan teratur. Berbeda dengan Khay yang lebih spontan.
Tak lama, ia mengambil satu potong daging yang sudah matang sempurna Lalu… Ia mengangkatnya ke arah Khay. “Makan.”
Khay terdiam. “Mas…”
“Cepat.”
Khay perlahan membuka mulutnya.
Revan menyuapinya dengan pelan Dan entah kenapa…
Rasanya berbeda, Padahal makanan yang sama. Namun hati Khay terasa hangat.
“Ih… Mas,” gumamnya malu.
Revan hanya menatapnya sebentar, lalu kembali fokus memanggang Namun sudut bibirnya terangkat tipis.
Suasana meja mereka terasa hangat Bukan hanya karena makanan panas… Tapi karena kebersamaan yang semakin terasa nyaman.
Khay menyenderkan dagunya di tangan. “Mas…”
“Iya?”
“Mas biasanya nggak makan kayak gini ya?”
Revan berhenti sejenak. “Kamu tahu?”
Khay mengangguk. “Kelihatan.”
Revan menghela napas pelan. “Aku biasanya menjaga pola makan.”
Khay langsung merasa bersalah. “Ih… maaf ya mas, aku malah ngajak makan kayak gini.”
Revan menggeleng. “Tidak masalah.”
“Tapi ini kan banyak lemaknya…”
Revan menatapnya. “Asal kamu senang, itu tidak masalah.”
Deg.
Jantung Khay berdegup cepat Ia langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.
“Mas ini…”
Revan kembali makan dengan tenang. Namun dalam hati Benar-benar harus olahraga nanti.
Di sudut lain restoran Seseorang kembali mengamati mereka Tatapan yang sama Ponsel kembali terangkat.
Klik.
Foto kedua diambil Kali ini… Revan terlihat lebih jelas, meski hanya dari samping.
Dan Khay Tertawa kecil saat disuapi.
Pria itu menyeringai. “Semakin menarik…” Matanya menyipit.
Seolah menemukan sesuatu yang bisa ia manfaatkan.
Namun sekali lagi…
Identitasnya masih tersembunyi Sementara itu…
Khay dan Revan masih larut dalam dunia mereka sendiri.
Tanpa menyadari—
Bahwa kebahagiaan kecil yang mereka rasakan hari ini…
Sedang diam-diam diperhatikan.
Dan mungkin…
......................
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya lampu yang berkilauan dari kejauhan. Mobil Revan melaju tenang membelah jalanan, sementara Khay duduk di sampingnya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Hari itu terasa begitu panjang Dan… membahagiakan.
Sesekali Khay melirik ke arah Revan yang fokus menyetir. Wajah pria itu tetap datar seperti biasa, namun entah kenapa, Khay merasa ada kehangatan yang berbeda malam ini.
“Mas…”
“Iya?” jawab Revan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
“Kita nggak pulang ke asrama ya?”
Revan tersenyum tipis “Malam ini… aku ingin kamu di rumah.”
Deg.
Jantung Khay langsung berdegup sedikit lebih cepat.
“Jadi… aku menginap?”
Revan akhirnya melirik sekilas, lalu kembali fokus. “Kalau kamu tidak keberatan.”
Khay menunduk sebentar, jari-jarinya saling memainkan ujung rok yang ia pakai. “Kalau boleh jujur… aku juga nggak mau pulang cepat,” gumamnya pelan.
Senyum tipis di wajah Revan semakin terlihat.
Tak lama, mobil mereka berhenti di depan rumah mewah milik Revan.
Rumah itu tetap terasa besar dan sedikit asing bagi Khay… tapi perlahan mulai terasa seperti tempat yang nyaman.
Tempat yang… ada Revan di dalamnya. Begitu masuk, Khay langsung merebahkan tubuhnya ke sofa.
“Capek banget…” gumamnya.
Revan berjalan mendekat, lalu berdiri di depannya. “Kamu mau mandi dulu atau istirahat?”
“Mandi dulu deh,” jawab Khay sambil bangkit.
“Pakaianmu sudah aku siapkan.”
Khay tertegun. “Mas ini… selalu siap ya.”
Revan hanya mengangkat bahu. “Aku hanya tidak ingin kamu kekurangan apapun.”
Sekali lagi…
Khay dibuat salah tingkah Beberapa saat kemudian Khay sudah berganti pakaian, rambutnya sedikit basah dan wajahnya terlihat segar.
Ia berjalan ke kamar dan melihat Revan sudah duduk di atas tempat tidur.
Tanpa canggung, Khay ikut naik ke atas tempat tidur, lalu bersandar di dada Revan sambil menyalakan televisi.
Revan otomatis memeluknya dari belakang Posisi yang terasa… sangat natural Seolah mereka sudah terbiasa seperti itu.
“Nyaman?” tanya Revan pelan.
Khay mengangguk kecil. “Banget.”
Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana Suara televisi menjadi latar yang menemani keheningan hangat di antara mereka.
Hingga akhirnya… Revan membuka pembicaraan.
“Ngomong-ngomong… bukannya sebentar lagi kamu akan magang?”
Khay sedikit menggeser posisinya, duduk lebih tegak namun tetap dalam pelukan Revan. “Iya…”
“Rencananya kamu mau di mana?”
Khay menarik napas pelan “Sebenarnya… aku sudah kirim lamaran ke beberapa perusahaan. Tapi belum ada panggilan.”
Nada suaranya terdengar sedikit kecewa, meski ia mencoba terdengar santai.
Revan memperhatikannya Lalu berkata dengan tenang“Kenapa tidak di tempatku saja?”
Khay langsung menoleh “Mas?”
“Tanpa melamar pun, aku pasti menerima kamu.” Jawaban itu begitu mudah keluar dari bibir Revan.
Namun…
Khay justru menggeleng pelan “Aku nggak mau.”
Revan sedikit mengernyit “Kenapa?”
Khay menunduk, lalu menjawab dengan suara pelan namun tegas “Aku ingin masuk dengan usahaku sendiri… bukan karena orang dalam.”
Hening sejenak.
Revan menatap gadis di pelukannya itu Dan untuk pertama kalinya malam itu.. Ada rasa kagum yang lebih dalam di matanya Ia mengangguk pelan.
“Baik.”
Khay sedikit terkejut “Mas… nggak maksa?”
Revan menggeleng. “Aku tidak akan memaksa kamu.” Ia mengusap lembut rambut Khay “Tapi aku yakin… tanpa bantuanku pun, kamu tetap bisa masuk.”
Khay menatapnya Tatapan itu… Penuh kepercayaan.
Dan itu membuat hati Khay terasa hangat.