Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konsentrasi
"Luce... silakan maju."
Profesor Charlotte memberikan instruksi sembari melempar senyum lebar yang sangat ramah. Tatapannya tertuju lurus pada Luce, seolah mencoba menyuntikkan keberanian.
Luce melangkah menuju titik tembak dalam diam. Ekspresinya datar, entah mengapa ekspresi cengengesannya yang biasa ia tunjukkan dalam kondisi seperti ini tak muncul kali ini. Matanya yang sayu setengah mengantuk tidak bisa menyembunyikan kelelahan dari sisa begadang semalam.
Sejenak, ia menoleh ke arah para siswa lain yang sedang beristirahat di bawah naungan pohon. Tawa samar mulai terdengar dari beberapa murid, terutama dari arah Gideon dan Sylos, sementara sebagian besar siswa lainnya hanya menatap dengan pandangan datar atau acuh tak acuh. Di sudut lain, Ursha'el, Vivi, dan Kenny tampak duduk dengan raut wajah cemas yang jelas.
"Siap? Kamu bisa, kan?" tanya Profesor Charlotte, nada suaranya lembut namun penuh harap. "Ini adalah sihir serangan paling dasar... Tentu kau bisa melakukannya, bukan? Ayo, semangat! Kau hebat, kok. Aku sudah mendengar cerita dari Profesor Ojike tentang praktik alkimiamu yang luar biasa kemarin. Ayo, Nak Luce... kamu pasti bisa."
Profesor Charlotte memberikan pujian untuk menyemangati Luce, meski ia sebenarnya sangat tahu bahwa di mata pelajarannya, kemampuan Luce nyaris selalu berada di bawah rata-rata. Hal itu justru terasa seperti beban tambahan di pundak Luce yang sudah terasa berat.
"Siap, Profesor..." jawab Luce pelan.
Ia mengambil ancang-ancang, menunjukkan jemarinya ke arah target yang bergerak di kejauhan. Luce menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kantuk yang menggelayuti kelopaknya, lalu memejamkan mata untuk berusaha mencapai fokus terdalamnya. beberapa murid di belakang masih terdengar terkekeh meremehkan.
"Baik... mulai!" seru Profesor Charlotte.
Luce menyentakkan matanya terbuka. Dengan satu gerakan tangan yang mantap, ia melepaskan tembakan energinya.
Dzing!
Satu kilatan energi berwarna kecoklatan khas elemen tanahnya melesat membelah udara.
Ctakk!
Tembakan itu menghantam telak tubuh boneka target. Seketika, tawa mengejek dari arah pepohonan senyap. Suasana lapangan menjadi sunyi senyap, digantikan oleh tatapan tak percaya dari para murid yang tadinya meremehkan.
"Bagus!! Teruskan!" seru Profesor Charlotte, suaranya naik satu nada karena kegembiraan yang tak bisa ia sembunyikan.
Luce tidak membuang waktu. Ia kembali memusatkan pikirannya, mengunci pergerakan boneka itu dalam benaknya.
Dzing! Dzing!
Dua tembakan berikutnya meluncur dengan sedikit jeda, namun keduanya mendarat dengan akurasi yang sempurna di titik yang sama.
"Luar biasa! Tiga kali tepat sasaran dalam dua puluh detik! Kembangkan lagi bakatmu, Nak!, sering-seringlah latihan, biar bisa makin cepat!" puji Profesor Charlotte dengan binar bangga di matanya sembari mencatat hasil tersebut. Ia kemudian memberikan isyarat agar Luce segera beristirahat.
Luce mengangguk sopan, lalu berjalan perlahan menuju keteduhan pohon. Di sana, Ursha’el dan yang lainnya sudah menunggu dengan senyum lega yang terpancar jelas di wajah mereka.
"Baik, cukup untuk pelajaran hari ini. Sampai jumpa minggu depan di kelas teori sihir. Selamat beristirahat, Anak-anak!" seru Profesor Charlotte dengan senyum lebar ramahnya yang khas.
"Baik, Profesor!" jawab para murid serempak.
Sang Professor Elf itu pun berbalik dan meninggalkan lapangan dengan langkah anggun. Beberapa murid mulai membubarkan diri, sementara sebagian lainnya memilih untuk tetap tinggal dan melepas lelah di bawah bayang-bayang pohon.
"Wah, wah... Luce mode serius, nih! Hahaha," celetuk Kenny dari tempat duduknya dibawah pohon, tampak sangat terhibur. "Tuh, kan? Dia itu sebenarnya berbakat. Iya, kan, Ursha’el?"
"Yaaa... begitulah, Ken," jawab Ursha’el sembari mengangguk mantap. "Memang sih, tembakan padatan energi itu sihir penyerang paling dasar yang bisa dilakukan semua penyihir. Tapi, tingkat konsentrasi Luce saat sedang serius itu yang luar biasa!" Ursha’el melanjutkan dengan nada bangga, ia teringat keseriusan dan konsentrasi Luce kemarin ketika praktik alkimia, Ursha'el kemudian menyikut pelan Vivi di sebelahnya. "Begitu kan, Vi?"
"Eh? Apa?" Vivi tersentak. Rupanya ia terlalu fokus memandangi Luce yang sedang berjalan ke arah mereka, sampai-sampai tidak menyadari obrolan di sampingnya. "Oh... iya, benar. Iya!" jawabnya gugup seadanya, berusaha menahan ekspresi wajahnya yang sedikit memerah.
"Wah, wah, wah... sial. Sepertinya ada yang sedang terpesona, nih!" goda Kenny sambil terkekeh halus, matanya melirik jenaka ke arah Vivi.
"Eh?! Tidak! Aku... aku biasa saja, kok!" sanggah Vivi cepat. Namun, telinga runcing elfnya berdenyut pelan dan rona merah di pipinya justru semakin jelas terlihat.
Ursha’el ikut tertawa pelan, menikmati kecanggungan sahabatnya itu. "Pergi saja yuk, Ken. Sepertinya keberadaan kita sudah tidak dianggap lagi di sini... Sampai-sampai obrolan kita tadi nggak dianggap dan lewat begitu saja," ucapnya dengan senyum jahil menggoda.
"Ursha’el! Jangan begitu dong... aku mendengarkan, kok! Aku dengar, sungguh!" ujar Vivi dengan nada nyaris merengek, yang malah membuat tawa Kenny dan Ursha’el pecah kembali.
Di tengah candaan itu, tiba-tiba Luce sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Ekspresi wajahnya sudah kembali ke "mode awal", sangat mengantuk dengan kelopak mata yang berat. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Vivi sedikit bergidik kaget, sementara Kenny dan Ursha’el hanya bisa melirik Luce dengan tatapan penuh arti yang jahil.
"Nah! Ini dia bintang kita hari ini... Hahaha! Aku saja sampai terpesona, lho," ujar Kenny menggoda dengan seringai jahil yang sengaja ditujukan untuk memancing reaksi Vivi. Vivi hanya bisa membalasnya dengan tatapan tajam yang seolah ingin menguliti Kenny hidup-hidup.
Luce tetap diam dengan ekspresi datarnya. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya kehilangan tenaga. Ia ambruk ke depan, membiarkan wajahnya kembali terbenam di hamparan rumput tepat di hadapan Vivi. Kejadian yang mendadak itu sempat membuat Vivi tersentak kaget, sementara yang lain sempat sedikit panik, jangan-jangan Luce terluka, sebelum menyadari apa yang terjadi.
"Aku mengantuk... badanku lemas sekali. Mana-ku habis total..." rengek Luce dengan nada manja seperti anak kecil, suaranya teredam oleh rerumputan.
Melihat tingkah konyol itu, Ursha’el dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala sembari kembali tersenyum lega. Ketegangan latihan tadi menguap begitu saja digantikan tawa tipis.
"Dih, baru begitu saja Mana-mu sudah habis? Cuma melakukan tembakan padatan energi 3 kali, loh!" cibir Vivi. Suaranya sedikit bergetar karena sisa kegugupan tadi, namun ia berusaha keras memasang nada meremehkan yang jelas tampak palsu.
"Mau bagaimana lagi... aku kan jarang sekali menggunakan sihir mantra...,nggak jago pula..," gumam Luce dari balik rumput. "Sudahlah, aku mau tidur dulu..." lanjut luce sembari membenamkan wajahnya makin dalam di rerumputan, membuat Vivi hanya tersenyum ringan, senyum ringan yang hangat yang bahkan membuat Kenny dan Ursha'el tersenyum salah tingkah seakan ikut merasakannya.